Pages - Menu

12 Mei 2012

Jurnalisme dengan Hati


Setiap ada bencana atau kecelakaan, laporan jurnalis di lapangan menjadi sorotan utama. Informasi pertama tentunya dari mereka yang ada di lokasi. Di masa berkembangnya sosial media, tanggapan dan kritik keras dengan mudah mengalir dan langsung dapat disampaikan ke jurnalis yang bekerja.

Rata rata kritik yang disebutkan mulai dari pertanyaan yang standar dan sudah jadi keluhan semua orang yaitu "apa perasaan anda?" karena jelas jelas keluarga korban pasti sedih, intinya sedih atau shock dan melontarkan pertanyaan tersebut memang membuat kesal yang menonton. Memang, saat mewawancara jurnalis selalu ingin memancing kata kata yang menunjukkan emosi. Lirik emosional dari sosok keluarga selalu menarik, memancing sisi humanis dan empati kita.

Saya saat bertugas di lapangan dulu sering berkelit sedikit, intinya sama saja, saya ingin memancing yang diwawancara agar menceritakan detail perasaan mereka. Biasanya saya memulai dengan meminta keluarga korban menceritakan situasi saat mereka mendengar kabar buruk tersebut. Kemudian saya menyimpulkan sedikit dengan memberi komentar "anda pasti kaget dan sedih mendengar kabar itu, bisa ceritakan emosi anda saat ini?" ya, intinya sama saja, saya menanyakan perasaan mereka namun dengan kata kata yang sedikit berbeda.

Hal lain yang biasanya dikritik keras adalah seringkali jurnalis lapangan tampil menyampaikan berita tanpa empati. Kata "mayat" seakan akan merendahkan jiwa yang telah hilang dari raga tersebut. Memang hanya persoalan kata, namun pemakaian kata mesti sangat hati hati dikala meliput bencana. Saat mengetahui puluhan atau bahkan ratusan nyawa diputus oleh takdir alam, penonton yang bahkan tidak memiliki ikatan hubungan langsung dengan korban menjadi sangat sensitif.

Saya punya pengalaman yang paling saya ingat. Pengalaman yang bagi saya sangat tidak membanggakan namun merupakan pelajaran terbaik. Saat itu saya ditugaskan meliput letusan gunung Merapi. Usai letusan, posisi saya adalah di rumah sakit di Magelang dimana banyak korban dilarikan ke rumah sakit tersebut.

Ada seorang ibu yang baru kehilangan anaknya. Saya sedang melakukan laporan langsung saat itu. Hati dan pikiran keras menolak untuk mendekati ibu itu, hati saya menahan, ingin membiarkan saja sang ibu yang sedang berduka dalam kesendirian menangisi kehilangannya. Namun, saat itu saya tidak berpikir panjang. Tuntutan memberikan laporan langsung yang menarik membuat saya mendekati ibu tersebut dan mewawancarainya.

Ibu itu menjawab pertanyaan saya, bercerita dengan sedikit terisak mengenai anaknya. Saya kembali membiarkan ibu itu dalam kesendirian dan melanjutkan laporan langsung saya. Saya tahu yang saya lakukan tidak bijak, namun saat itu saya tidak berpikir panjang.

Usai laporan langsung, di jeda iklan, ratusan status di twitter mengkritik keras. Dari sindiran halus hingga cercaan masuk bertubi tubi di alamatkan ke account saya. Saat itu saya terhentak, sadar apa yang saya lakukan salah dan benar benar salah. Secara jurnalistik itu tidak salah, namun kemana empati saya saat itu. Hilang tertutup keinginan memberikan materi yang menarik.

Saya sedih, bukan karena cercaan yang demikian keras, ejekan dan kata kata kasar yang dialamatkan kepada saya. Namun, saya sedih karena saya sadar saya salah. Hati ini sakit mengetahui apa yang saya lakukan tak ubahnya manusia yang tak punya hati. Saya menyesal, namun tak mampu mengubah apa yang sudah saya lakukan.

Saya kembali meneruskan laporan langsung, berkali kali. Saat laporan di area saya selesai, saya langsung mencari ibu yang tadi saya wawancara. Hanya satu hal di pikiran saya, meminta maaf. Masuk ke rumah sakit, saya temukan ibu itu sedang berjalan, saya langsung mendatangi dan meminta maaf. Saya rasa saat itu ia yang masih shock tidak mampu mencerna kata kata saya. Ia hanya diam dan mengangguk sambil langsung berlalu keluar dari rumah sakit.

Saat itu saya masih diliputi perasaan bersalah. Berulang kali saya meminta maaf di twitter karena telah melukai perasaan yang menonton, saya terima semua kritik dan memang saya akui saya salah. Kesalahan besar.

Namun kejadian tersebut adalah pelajaran terbesar bagi saya saat meliput kecelakaan atau bencana. Agar pikiran tidak putus dengan hati saat melakukan tugas jurnalistik, agar berani tidak melakukan sesuatu yang jauh dari empati meski secara content berita sangat "menarik"

Di area bencana, seringkali korban hanya jadi deretan angka. Kami mengingat jumlah korban, melaporkan nama mereka, tapi lupa jika mereka dulu punya jiwa dan hati, serta keluarga seperti kami. Usai kejadian itu, saya selalu ingatkan diri sendiri agar jangan melakukan sesuatu yang ditentang keras oleh hati. Agar tetap memelihara empati.

Jurnalisme itu memang berdasarkan fakta, namun saat bencana, saat kecelakaan, saat nyawa manusia meregang, tugas jurnalistik harus dilakukan dengan hati, dengan empati.

Semoga teman teman yang bertugas di kala bencana dapat belajar dari kesalahan saya. Dapat berani menolak apa yang hati sarankan untuk tidak dilakukan. Jurnalisme dengan empati, itu yang masih harus kita pelajari bersama, itu apa yang masih harus media upayakan bersama.

***