Pages - Menu

30 Agustus 2013

Falling Fishes in Batu Bolong



Menyelam itu selalu menyenangkan bagi saya, bahkan berada di tengah tengah ikan yang "biasa" pun tetap menyenangkan meski sudah berkali kali menyelam. Sensasi ikan yang berseliweran begitu banyak dan terkadang mereka bergerak serempak selalu membuat saya kesenangan, bahkan disini ikan ikan berwarna warni ini bagaikan hujan yang turun.

Diving is always fun for me, even being in the middle of the fish which is usually found is still enjoyable despite how many dives I've been. The sensation of fishes milling about and sometimes they move together in a perfect direction always give me pleasure. And here, this colorful fishes are "falling" like rainfalls.



Batu Bolong adalah salah satu spot menyelam di area Taman Nasional Komodo, tepatnya di antara Pulau Komodo dan Pulau Tatawa Kecil. Area ini merupakan persimpangan arus dari laut Pasifik dan laut Hindia sehingga terkadang arus cukup kencang disini.

Batu Bolong is a diving spot in the area of ​​Komodo National Park, precisely in between the Komodo Island and Small Tatawa Island. This area is the intersection of ocean currents from the Pacific and the Indian ocean which sometimes flows quite fast here.

Busy day underwater
Namun arus jugalah yang membuat area ini ditumbuhi berbagai koral dan menjadi lokasi tempat tinggal yang padat bagi makhluk makhluk laut. Menyelam di Batu Bolong, anda akan merasa dikelilingi ikan ikan, terutama jenis anthias dan damselfish yang seakan akan ada dimana mana.

But the currents is also that make this area overgrown with corals and became a shelter for various sea creatures. Diving in Batu Bolong, you'll feel surrounded by fish, especially the variety of anthias and damselfishes which seemingly everywhere. 

Loggerhead sea turtle
Tidak hanya itu, ada pula penyu jenis loggerhead yang paruhnya lancip, serta penyu hijau yang bekeliaran di area ini. Sedangkan ikan jacks, threadfin butterflyfish dan six banded angelfish juga dapat ditemukan dengan mudah.

Not only that, here you can find a loggerhead and green sea turtles milling about in this area. While other sea animals such as jack fish, threadfin butterflyfish and six banded angelfish can also found easily.

Untuk merasakan sensasi ikan berjatuhan seperti "hujan ikan," see this video, because pictures speaks more than words, and video speaks even more:

To feel the sensation of falling fish which looks like "raining fish," see this video, Because pictures speaks more than words, and the video speaks even more: 


@marischkaprue - falling in love with undersea experience over and over again

 RELATED STORIES:

DIVING IN KOMODO, DIVE SPOTS:

28 Agustus 2013

Sunset di Bohe Silian



Terkadang beberapa tempat ditemukan tidak sengaja. Kadang kita berjalan menuju satu lokasi, tujuan kita, namun di tengah jalan kita berhenti karena menemukan sesuatu dan akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di lokasi yang bukan tujuan utama kita sebelumnya.

Sometimes we found some places accidentally. Sometimes when we walk to one location, on the way we stop because we found something interesting and eventually spend more time in a location that is not our primary goal earlier.



Jembatan ini adalah penghubung di Pulau Maratua, dari perjalanan saya dari Desa Payung Payung menuju Bohe Silian, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Tidak jauh dari Desa Bohe Silian, lokasi ini ternyata adalah tempat yang indah untuk menyaksikan momen kesukaan saya, sunset.

This bridge connects some areas in Maratua, in my journey from the Payung Payung village to Bohe Silian. Not far from the Bohe Silian village, the location turned out to be a wonderful place to watch my favorite moment, sunset.


So enjoy the photos from this place I found unintentionally :)

@marischkaprue - found a lot of things, people and stories in the middle of her trips

NOTES:
  • This bridge located in Maratua Island, you'll have to cross the bridge if you want to go to Bohe Silian from Payung Payung Village.
  • Come here during sunset and the view is quite astonishing :)
RELATED STORIES:

Met this bunch of local kids in the bridge, and also Lawing (on the left), the one from Dayak Village, Tumbit.

27 Agustus 2013

Fosil di Gua Batu Cermin



Saat mendengar cermin kita pasti akan membayangkan hal yang merefleksikan, dapat melihat diri atau bayangan. Namun saat saya datang gua ini gelap total, pitch black, tapi dengan bantuan sedikit penerangan ada hal hal menarik yang bisa ditemukan disini.
 
When we hear "mirror", we would imagine things that reflects our shadows. But when I came to this cave, it was pitch black, but with a little help from a bit light there are some interesting to find here.

The way to the path, taken with Samsung NX2000
Nice atmosphere, taken with Samsung NX2000
Terletak di Kampung Wae Kesambi, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Gua Batu Cermin mudah dijangkau karena tidak jauh dari area pelabuhan di Labuan Bajo. Berkendara kurang dari setengah jam kami sudah sampai di depan plang tulisan Gua Batu Cermin dan tinggal menyusuri jalan setapak yang rata untuk menuju mulut gua.

Located in the village of Wae Kesambi, West Manggarai, Flores, East Nusa Tenggara, Batu Cermin Cave ("Batu" means rock, and "cermin" means mirror) are easy to access since it is not far from the harbor area of Labuan Bajo. Only less than half an hour driving and you'll get yourself in front of the Batu Cermin Cave gate post, just walk through the path to get into the entry of the cave.

Bamboo tunnel, taken with Samsung NX2000
The entrance, taken with Samsung NX2000
Sebagian jalan masuk menuju Gua Batu Cermin dipenuhi pohon bambu yang menunduk, seakan akan membuat semacam terowongan dari bambu. Tidak lama berjalan anda akan melihat tebing batu setinggi sekitar 70 meter dan pintu masuk ke Gua Cermin.

Most of the entrance to the Batu Cermin Cave filled with bamboo trees in a position which make sort of tunnel. Then, you'll see a rock cliff about 70 meters high and also the entrance to Batu Cermin Cave.

The main entrance to get inside the cave, taken with Samsung NX2000
Sudah ada tangga untuk menuju ke area dalam, jadi gua ini benar benar mudah untuk diakses. Gua Batu Cermin pertama kali ditemukan oleh arkeolog Belanda bernama Theodore Verhoven dan kini menjadi salah satu tujuan wisata yang selalu disebut jika anda mengunjungi Labuan Bajo di Flores.

There are already some stairs to get to the area, so the cave is actually really easy to access. Batu Cermin Cave was first discovered by a Dutch archaeologist named Theodore Verhoven and now has become one of the destinations you'll hear when you visit Labuan Bajo in Flores.
 
Looked like the form of corals, taken with Samsung NX2000
Nama Batu Cermin muncul karena fenomena yang terjadi di waktu waktu tertentu. Pada sekitar pukul 9 hingga 10 pagi, kemiringan cahaya matahari akan pas masuk ke area celah langit langit gua dan memantul ke dalam, dan direfleksikan oleh dinding gua yang berkarakter memantulkan kembali cahaya sehingga area dalam gua akan terang. Jika fenomena ini terjadi setelah hujan dan ada genangan maka bayangan akan terpantul sempurna sehingga dinamakan Gua Batu Cermin.
 
This cave called "Batu Cermin" or "mirror rock" due to the
phenomenon which occurs in a particular time period. At around 9 to 10 am, the slope of the sunlight will fit into the gap area of the ceiling and bounced into the cave, then the cave walls reflects the light inside. If this phenomenon occurs after rain, the puddle will make the shadow reflected perfectly, like a mirror.

I  don't wanna use flash, so I took the slow shutter but I don't bring my tripod so it's a bit blurry
Looking at the details, taken with Samsung NX2000
Sayangnya saya datang di sore hari sehingga tidak menemukan momen tersebut, namun gua ini tetap menarik di saat gelap. Dengan bantuan senter kami mengeksplorasi dalam gua. Dipercaya dahulu sebagian daratan flores berada di bawah laut dan terangkat ke permukaaan, Gua Batu Cermin memiliki bukti bukti tersebut.
 
Unfortunately I came in the afternoon so I didn't get the moment, but strolling around the cave is still interesting, even in the dark. With the help from flashlights we explored the cave. Some people believe that part of Flores land were lies under the sea long time ago, then lifted to the surface and this Batu Cermin Cave has the proof.

see the trip & the sea turtle fossil on this video:
video shootings using Samsung NX2000
High walls and perfect for photo, taken with Samsung NX2000
Ada beberapa fosil binatang laut yang masih jelas menempel di dinding gua, mulai dari ikan hingga penyu laut yang menempel di bagian dalam atas dinding gua. Meski tidak dapat "bercermin" namun gua ini dapat membuat kita merefleksi sedikit, membayangkan struktur batuan dan dinding gua ini saat masih berada di dalam laut, membuat saya semakin ingin menyelami gua, cave diving..

There are few fossils of marine animals that you can still see the form on the walls, ranging from fish to sea turtles this fossils attached in the cave walls. Although I'm not be able to "reflect" but this cave make me reflect a little, imagine the structure of rocks and cave walls while still in the sea, makes me want to dive into the cave, cave diving ..
 

@marischkaprue - See her own reflection as a lucky human being

All photos taken by Samsung NX2000
A stylish small camera, esp for women :)

Also, this camera has wifi, so transferring data is easy. Use this mode on your camera.
First go to Wifi mode, click Mobile Link, select transfer method (smartphone or camera), turn on the wifi on your mobile phone, connect to Samsung NX2000, open Samsung Smart App in your mobile phone and choose which photos you want to transfer to your phone. Yes, life is easier now :)

Choose the Mobile Link for easy transfer

RELATED STORIES:
 

26 Agustus 2013

Shark "Hunt" in Crystal Rock & Castle Rock



Bagi divers, bertemu hiu adalah suatu kesenangan. Binatang yang terancam karena maraknya pemburuan sirip hiu ini tidak mudah ditemui di sebagian besar perairan Indonesia. Bertemu satu ataupun dua hiu sudah merupakan keberuntungan dan kesenangan bagi saya selama ini. Namun disini saya bisa bertemu sekitar selusin hiu yang berseliweran seakan tidak perduli dengan kami, para divers. This sharks encounter is a wonderful feeling here, in Komodo.

For divers, seeing shark during diving is a pleasure. This animal are threatened due to rampant shark fin hunting, and now seeing shark isn't that easy anymore since the population is decreasing a lot. Seeing one or two sharks consider a fortune and big pleasure for me so far. But in here I saw about a dozen sharks milling about as, also these sharks seems not care at all. This shark encounter is a wonderful feeling here, in Komodo.

Beautiful Flores sea
Crystal Rock dan Castle Rock adalah dua spot diving di area perairan Flores dimana hingga saat ini bertemu hiu adalah jaminan 100% saat menyelam. Kedua spot menyelam ini letaknya berdekatan, yaitu di area timur laut pulau Komodo, Flores, dekat dengan Gili Lawa Laut dan Gili Lawa Darat.

Crystal Rock and Castle Rock are two diving spots in the Flores sea where guarantee 100% that you will meet sharks during diving. This two diving spots located not far away to each other, and lies in the northeast area of the Komodo island in Flores, close to Gili Lawa Laut and Gili Lawa Darat.
 
White tip reef shark
Schools of longfin bannerfish
Kedua spot ini cukup berarus sehingga entry dilakukan dengan cara negative entry (masuk ke laut dan langsung turun tanpa berkumpul di permukaan terlebih dahulu), tidak lama menyusuri coral slope maka kita sudah dapat melihat white tip reef shark berseliweran di area arus, bahkan saat di Castle Rock kami langsung menemukan hiu saat turun.

Both spots have strong currents so we have to do the negative entry by emptying the air in our BCD (Buoyancy Control Device). Miling down the coral slope we can already see white tip reef sharks around. Also even in the Castle Rock, we immediately found the shark when we first descend.

Giant Trevally
Netfin Grouper
This Napoleon wrasse is about 1,3 meters long
Selain white tip reef shark yang ditandai dengan warna putih di bagian sirip atasnya, di kedua spot ini juga banyak terdapat ikan besar lainnya, mulai dari Napoleon wrasse, Grouper berbagai jenis dan Giant Trevally. 

Beside white tip reef shark which is marked with white on the top of the fin, in both diving spot there are also many other large fish, ranging from Napoleon wrasse, different types of Grouper and Giant Trevally.

Schools of blackspot snapper
Di Castle Rock saya menemukan rombongan ikan Blackspot snapper dengan hiu white tip yang mondar mandir di dekat schooling tersebut, pemandangan yang sangat seru.

In Castle Rock I found the group of Blackspot snapper with white tip sharks back and forth near the schooling, incredibly exciting.

Spotted sweetlips with a group of Lattice soldierfish
Kedalaman maksimum untuk penyelaman di dua area ini sekitar 20 hingga 25 meter, di area 20 meter biasanya hiu sudah dapat dengan mudah ditemui. Saya bertemu hiu terus menerus hingga saya sudah berhenti menghitung saat lebih dari sepuluh hiu yang saya temui.

The maximum depth for diving in these two areas about 20 to 25 meters, in the depth of 20 meters usually sharks can be found easily.
I met sharks continuously until I've stopped counting when more than ten sharks that came across.


Jauh dari kesan akibat film "Jaws," hiu bukanlah binatang yang agresif terhadap manusia. Hiu yang kami temui di area ini bahkan tampak cuek dan beberapa kali menjauh saat saya dekati untuk mengambil foto. Kali ini saya yang jauh lebih bersemangat dari si hiu dalam segi berburu foto. So this is a fun shark photo hunt! :)

Far from its bad reputation due to "Jaws" movie, sharks are not aggressive to humans. Those sharks we encountered in this area even seems ignorant to us and some time swam away as I approached to take photos of them. This time I was much more excited than the shark in terms of hunting photos. So this is a fun shark hunt photo! :)

@marischkaprue - wish to swim like dolphin, but friends with sharks

NOTES:
  • Area penyelaman Crystal Rock dan Castle Rock cukup berarus, lebih disarankan bagi advance divers namun pemegang sertifikasi Open Water pun dapat menikmati area ini dengan pengawasan instruktur. Ikuti arahan dive master/ instruktur dan jangan melewati area penyelaman yang disarankan.
  • Crystal Rock and Castle Rock are fast-current area, more recommended for advanced divers but Open Water certification divers can also enjoy this area with the supervision of an instructor. Follow the direction of the dive master / instructor and do not pass the recommended diving area.
  • Saat bertemu hiu dekati dengan santai, biasanya hiu akan menjauh tapi akan berbalik arah dan berputar putar di area yang sama. It's fun seeing them! 
  • When seeing sharks, relax and approach them if you want. The shark will usually swim away but will reverse its direction and turning in the same area. It's fun seeing them! 
  • Selalu cek sisa udara di tabung. Penyelaman berarus cenderung lebih membuat kita boros konsumsi udara di tabung.
  • Always check the remaining oxygen. Dive in the strong current make you consume more air.
  • I dive with Komodo Cruise, cek info harga untuk paket live aboard (LOB) dan diving di info@komodocruises.com
  • I dive with Komodo Cruise, for live aboard (LOB) and dive in Komodo, contact info@komodocruises.com

RELATED STORIES:

DIVING IN KOMODO, DIVE SPOTS:

21 Agustus 2013

Remembering Selasar Sunaryo



Saya bepergian ke berbagai tempat, khususnya di Indonesia. Namun terkadang kita lebih penasaran akan apa yang ada di luar dibanding apa yang ada di sekeliling kita. So this time, I'm posting a nice place in my hometown, Bandung!

I traveled to many places, especially in Indonesia. But sometimes we are more curious about what lies beyond than what is around us. So this time, I'm posting a nice place in my hometown, Bandung!

Entry to the art space, taken with Samsung NX2000
Saya ingat saat kuliah sering bersantai di tempat ini, melihat pameran karena saya juga kuliah di Seni Rupa, dan menikmati makanan sambil bersantai menyeruput kopi ditemani pemandangan alam perbukitan tinggi di Bandung.
 
I remember during my college time, I often relax in this place, seeing art exhibitions since I studied Fine Arts also in Bandung, and just to enjoy a relaxing meal while sipping coffee, accompanied by Bandung high hills landscapes.

One of Sunaryo's sculpture, taken with Samsung NX2000
Selasar Sunaryo awalnya dibuat untuk menjadi tempat bagi karya karya seniman kenamaan Bandung, Sunaryo. Namun Selasar ini juga menjadi semacam lokasi tempat pameran dan kebudayaan dalam skala kecil, pameran bermacam seniman mulai dari seniman baru ataupun yang sudah terkenal rutin diadakan di beberapa ruangan pameran di Selasar Sunaryo.

Selasar Sunaryo originally built to become a place for the works of famous Bandung artist, Sunaryo. As time goes by, this place is also become an art space for various artist, from freshly art graduate, into well known artist.

The unique art shop, taken with Samsung NX2000
You can see the mini open theater, taken with Samsung NX2000
Namun jika anda bukan pecinta seni, nikmati saja bersantai di Kopi Selasar yang menghadap hijaunya pepohonan dan pemandangan Bandung. Di area terbuka setelah area cafe juga terdapat ruang teater terbukan untuk pertunjukkan seni.

But if you're not so fond of art, just enjoy your coffee at Kopi Selasar, a cafe with green trees and hills as an open view from where you sip you coffee. In front of the cafe, there is an open space for art performance.

Ginger lemon grass tea, taken with Samsung NX2000
Peach & blueberry sauce on vanilla ice cream, my fav! taken with Samsung NX2000
Selasar ini mulai dibuka tahun 1998 dan menjadi tempat yang nyaman tidak hanya bagi seniman. Datang ke tempat ini membuat saya mengingat saat kuliah, lihat pameran, nongkrong dan bersantai. Ruangan dan kursi kursi disini tidak banyak berubah. Still a comfy place to relax and enjoy Bandung nice weather.

Selasar Sunaryo opened in 1998 and became a comfortable place not only for the artist. Came into this place makes me remember my time back in college, see art exhibitions, hanging out and relaxing. The room and the interior here hasn't changed much. Still a comfy place to relax and enjoy nice Bandung weather.

@marischkaprue - born and raised in Bandung

All photos taken by Samsung NX2000
A stylish small camera, esp for women :)

NOTES:
  • Selasar Sunaryo terletak di Bukit Pakar Timur No. 100, Bandung
  • Selasar Sunaryo located in Bukit Pakar Timur No. 100, Bandung, West Java

15 Agustus 2013

Travel VS Beauty?



Ada beberapa pertanyaan yang selalu dilontarkan ke saya saat tahu bahwa saya sangat senang bepergian ke pantai. "Ga takut item?" "Kulit rusak dong?" "Perawatannya gimana? Pasti mahal?"

Rupanya matahari masih terus dianggap musuh bagi kecantikan. Sinar UV A dan UV B sepertinya harus selalu dihindari kalau ingin kulit cantik, dan anggapan kalau perempuan senang adventure pasti sulit untuk tetap punya kulit sehat, rambut indah, dan semua embel embel untuk cantik tersebut.


Jujur saja, saya pun harus melalui proses panjang hingga akhirnya bisa cuek berteman dengan matahari dan air laut. Tidak bisa disangkal juga kalau 90% perempuan Indonesia sepertinya tidak suka saat kulitnya menghitam, mungkin semua iklan kecantikan itu mengarahkan kita untuk punya kulit putih.

Saya pun dulu cukup repot kalau mau bepergian dan dijemur matahari. Saat itu matahari musuh saya, mulai dari payung, sunblock terus menerus, berusaha nongkrong di tempat yang adem. Tapi kok sepertinya repot ya? Mau menikmati pantai tapi bermusuhan dengan matahari, di kapal dengan pemandangan spektakuler tapi duduk di dalam karena panas, sepertinya sayang saja semua kesenangan itu dilewatkan karena takut hitam, takut jelek.

Semakin sering saya bepergian maka saya semakin cuek. Matahari bersinar panas sekali pun saya pakai kaus kutung, yang saya benci hanya kalau lengan saya belang di tengah karena kaus t-shirt sehingga saya lebih suka pakai kaus kutung sehingga kulit mencoklat rata di tangan.

Air laut juga memang membuat kering, kalau habis diving pasti kulit terasa kering dan rambut sepertinya kusut. Lama lama juga saya cuek dengan hal ini, namun cuek bukan berarti tidak ngapa ngapain dan pasrah total. Untuk jaga kondisi kulit dan rambut saya pun pakai perawatan, sederhana saja.

Nah, untuk yang bertanya atau mungkin berpikir tidak mau jalan jalan menikmati pantai karena panas dan takut tidak cantik, here's some tips, a bit effort without you have to consider sun and sea as enemy:

1. Takut Hitam

Sunblock memang tidak membuat kulit jadi tahan dan tetap pada level warna yang sama saat diterpa matahari, tapi sunblock penting supaya kulit tidak terbakar. Saya pernah lupa pakai sunblock saat naik perahu terbuka di panas terik, hasilnya kulit terbakar dan mengelupas yang - sumpah- perih banget. Jadi sunblock is still a must bring and use during your trip, jangan males pakai dan pakai ulang juga setelah beberapa jam. Saat ini sudah ada beberapa sunblock yang pemakaiannya disemprot jadi lebih mudah aplikasinya.

Kalau tentang kulit hitam? Well, I don't mind a bit of tan in my skin if I can see a lot of beautiful view like this :) 


Lagipula kulit mencoklat itu lama lama tidak masalah kok, its all in our mind, kadang kita mendefinisikan kita jelek sehingga tidak pede sendiri..

2. Kulit Kering

Matahari, air laut, beraktifitas di pantai, di gunung yang dingin memang membuat kulit kehilangan kelembaban dengan cepat. Cara menangkal ya dengan rajin perawatan kecil kecilan sendiri. Jangan lupa pakai lotion di kaki dan tangan, bawa saja lotion ukuran kecil kemanapun pergi, only need a small place in your bag.

Kalau untuk kulit muka memang saya cukup ekstra "rajin" merawatnya, saya selalu cuci muka saat sudah di rumah, atau di saat make up tidak diperlukan. Saya juga sering menghindari memakai bedak kalau hanya kegiatan kegiatan santai, biarkan kulit bernapas.

Untuk kulit muka bagi saya serum penting, terutama karena saya sangat sering berjemur. Saat trip dan setelah berjemur terasa kulit mengencang karena kering, nah karena ini pula saya jadi rajin pakai serum setiap hari. Memang terkadang kita sudah cape dan mengaplikasikan serum sepertinya malas sekali, namun anggap saja investasi karena untuk produk kecantikan itu kita harus rutin pakainya baru terasa hasilnya. Saat ini saya pakai serum Angelica Sublime Essence, series Angelica dari L'occitane, setiap pagi dan malam hari. Yang pasti serum ini harus kerja keras membuat kulit saya yang sering berteman dengan matahari dan air laut tetap sehat :D


Hasil memakai serum ini dengan rajin (ingat ya mesti rutin), kulit muka saya bisa dibilang tetap sehat walaupun selalu terjemur, banyak yang bingung kenapa muka saya tidak muncul bintik kemerahan karena sinar ultraviolet ataupun tidak jerawatan. Well, beside happy feeling (ha!) juga karena extra efforts rajin pakai pelembab dan serum itu.

Oya untuk make up juga kalau outdoor upayakan yang terlihat ringan. Aneh rasanya lihat make up tebal kalau di aktivitas di luar ruangan, apalagi di lokasi traveling seperti pantai. Untuk saya yang penting hanya mascara, blush on bagi yang kulitnya tipe warna pucat seperti saya dan lipbalm supaya bibir tidak kering.
Untuk kulit muka gunakan foundation yang sekaligus ada SPF nya, karena saya pakai serum L'occitane jadi foundationnya saya kombinasikan dengan series Angelica juga yaitu Angelica SublimeBeauty Cream yang ada SPF 30 nya. Hasilnya ringan jadi tidak terlihat pakai foundation dan yang pasti pilih warna yang tepat, jangan karena ingin putih jadi pilih warna yang jauh lebih putih nanti jadi tidak cocok dengan kulit.

3. Rambut Rusak

Air laut ini memang sepertinya bermusuhan dengan rambut. Setiap habis diving pasti rambut saya terasa kering dan kusut. Namun kesenangan diving tidak masalah dibanding sedikit rambut yang kering, lagipula untuk melawan rambut kering ini jurusnya sama: rajin.



Setiap keramas saya selalu pakai conditioner yang terpisah, masker rambut juga jadi rutinitas wajib setiap pulang dari trip, ditambah serum rambut sesekali.


Satu lagi, banyak minum air putih, banyak makan sayur dan buah. Klise memang, tapi kalau mau menikmati alam dan tetap sehat serta pede penampilan kita mesti lakukan usaha lebih. Lagipula kalau dilakukan secara rutin, yang tadinya terasa "harus" akhirnya jadi kebiasaan baik yang nantinya sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, atau bahkan lebih, akan kita syukuri.

@marischkaprue - travel blogger who loves make up and beauty products

13 Agustus 2013

Feeling Spongebob at Kakaban Stingless Jellyfish Lake



"Ubur ubur itu lucu buat diliat aja," statement ini sangat benar kalau anda sering berenang atau menyelam di laut. Saya ingat beberapa kali menghindar dari rombongan ubur ubur, terutama yang berukuran kecil karena sulit dihindari. Saat kena, akhirnya pasrah tersengat dan pulang dengan "oleh oleh" luka luka memerah di badan.

 
"Jellyfish is only cute to see," this statement is totally true if you spend lots of time swimming in the sea or diving. 
I remember avoiding jellyfishes few times, especially the small ones since it is hard to see. When you got stung, we just gotta accept the fact to go home with a bit red wounds in our body.


Ubur ubur memiliki tubuh yang sangat halus, 96% komposisi tubuh ubur ubur adalah air dan makhluk ini tidak memiliki bagian keras di tubuh untuk melindungi diri sehingga untuk bertahan dari ancaman predator, ubur ubur memiliki sistem pertahanan berupa sengatan.
 
Jellyfish have a very smooth body, their body is 96% water and this creature has no hard shells to protect them self from predators. To survive, then jellyfish built a defense system, sting and toxic.

Hampir semua jenis ubur ubur memiliki sengatan dengan nematocyst (semacam kapsul dengan racun yang saat bersentuhan akan memicu injeksi racun). Akibat sengatan inipun beragam, dari hanya sekedar gatal dan kemerahan, hingga kematian. Inilah sebabnya ubur ubur selalu dihindari saat bertemu dengan mereka di laut.

Almost all kinds of jellyfish sting with nematocyst (sort of capsule which will inject the venom which triggered when touched). The sting are vary, from just itching and redness, until death. This is why we always avoid jellyfish when we saw them in the sea. 

Kakaban Island
The beach in Kakaban
Namun ada lokasi di Kepulauan Derawan dimana anda dapat merasakan menjadi Spongebob yang dengan riang gembira tertawa meski dikelilingi ratusan ubur ubur.

But there are places in Derawan Islands where you can feel being Spongebob who happily laugh when surrounded by hundreds of jellyfishes.

Danau Kakaban adalah rumah bagi empat jenis ubur ubur yang tidak menyengat. Yap, danau ini terbentuk dari pergerakan lempeng bumi yang membuat bagian laut terangkat menjadi pulau atol (Pulau Kakaban) lengkap dengan danau dimana spesies ubur ubur terperangkap di dalamnya. Karena "terkurung" di dalam danau tanpa predator, ubur ubur ini kehilangan daya sengat. Secara fisik ubur ubur di Danau Kakaban persis seperti ubur ubur lainnya, hanya saja tidak menyengat.
 
Kakaban lake is home to four species of stingless jellyfish. This lake was formed from the movement of tectonic plates that make part of the sea became uplifted (Kakaban Island). This island is complete with lake where some species of jellyfish caught in. Since those jellyfishes "stuck" in the lake without predators, they lose their defense mechanism, the sting. In a glance, this jellyfish in Kakaban Lake are just like other jellyfishes, but they don't sting.

That's the lake!
Saya tidak sabar saat berjalan menyusuri tangga kayu menuju Danau Kakaban. Bayangan berenang di antara ubur ubur tidak menyengat adalah salah satu impian saya. Tiba di dermaga kita sudah dapat melihat ubur ubur berwarna krem merah muda berseliweran, semakin mengundang untuk masuk dan bermain dengan mereka.

I can't wait as I walked down the wooden staircase leading to Lake Kakaban. Swimming in the middle of stingless jellyfish is one of my dreams.  At the dock we can already see creamy pink colors jellyfishes milling about, inviting us to jump and play with them. 

Usually avoid them in the sea but in this lake, they're our friendly fellas!
Dive a bit and see the jellyfish with trees as background, beautiful!
Empat spesies yang ada disini adalah Aurelia Aurita yang berwarna bening dan bulat pipih, Tripedalia Cystophora yang berukuran kecil, Cassiopeia Ornata yang merupakan spesies khas di Kakaban karena selalu dalam posisi terbalik, serta Mastigias Papua yang jadi favorit saya karena bentuknya seperti ubur ubur di Bikini Bottom :)

Four jellyfish species here are Aurelia Aurita the round flat clear colored jellyfish, Tripedalia Cystophora which is small size, Cassiopeia Ornata which is a typical species in Kakaban because they are always in an inverted position, and the last is the Papua Mastigias which is my favorite because it looks like a jellyfish in Bikini Bottom :)

Danau Kakaban ini cukup besar, di area sekitar 20 meter dari dermaga, dasar danau sudah cukup dalam, lebih dari 25 meter. Namun di area tengah inilah anda bisa melihat ubur ubur berkumpul banyak sekali. Jika matahari sedang cerah, ubur ubur ini akan naik ke permukaan untuk berfotosintesa, namun sayangnya saat saya datang cuaca sedang mendung sehingga cukup sulit mendapatkan foto ubur ubur berkumpul di permukaan.

Kakaban lake is quite large, in the area about 20 meters from the pier, the depth is more than 25 meters. But in the middle of this area you can see a lot of jellyfish congregates. When the sun is bright, those jellyfish will rise to the surface to do the photosynthesis. Unfortunately when I arrived the weather was a bit gloomy so it is difficult to get a photo of  jellyfish congregate at the surface.

A bit turbit down the lake, but we can still see jellyfishes everywhere
Curious fishes on the lake, they don't eat the Jellies though
Di area danau pengunjung tidak boleh memakai fin karena kibasan fin dapat melukai ubur ubur. Selain itu, jika ingin menyentuh ubur ubur ini lakukan dengan lembut, rasanya seperti memegang agar agar yang hidup, membuat saya tersenyum kesenangan.

In this lake area you cannot use fin since it can harm the jellyfish. Also, if you wanna touch those jellyfish, do it in a gentle way. It feels like holding a living pudding, makes me smile immediately.

Di dunia ini hanya ada beberapa lokasi yang memiliki danau dengan ubur ubur tidak menyengat, yaitu Palau di Mikronesia, Danau Kakaban dan Danau Haji Buang di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, serta salah satu danau di Raja Ampat yang belum didata secara resmi.
 
There are only a few locations that have lakes with stingless jellyfish in the world, the Palau in Micronesia, Kakaban Lake and Haji Buang Lake in Maratua Island, Derawan Islands, also the lake in Raja Ampat which is not stated officially.

Too bad Jellies in Kakaban isn't big enough to ride ha! Source image: interiormall
Dari empat lokasi itu rupanya Indonesia punya tiga danau dengan ubur ubur tidak menyengat. Tidak perlu paspor untuk sedikit merasakan menjadi Spongebob di Bikini Botton, do you agree Patrick?

Of the four sites apparently Indonesia has three lakes with stingless jellyfish. You don't need a passport to feel a bit of being Spongebob in Bikini Botton, do you agree Patrick?

@marischkaprue - sometimes traveling with Patrick

NOTES:
  • Danau Kakaban terletak di Pulau Kakaban, hanya sekitar 20 menit naik kapal dari Pulau Maratua di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.
  • Kakaban Lake located in Kakaban Island, only about 20 minutes boat ride from Maratua Island in the Islands of Derawan, East Borneo.
  • Waktu terbaik mengunjungi Maratua antara lain di bulan Maret hingga Mei, setelah bulan Agustus, awal bulan Oktober. Sementara di Akhir Oktober biasanya sudah memasuki masa sering turun hujan.
  • The best time to visit Maratua: March to May, after August, the beginning of October. While in Late October is usually already in the period of frequent rain.
  • Untuk pilihan penginapan lihat disini di bagian "NOTES"
  • For hotels or homestay options, see here on the "NOTES" part. 
 RELATED STORIES:
ALSO ABOUT JELLYFISH:

I visit this place with team from Keana, thanks guys! we had fun!