Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

11 Agustus 2015

, , , , , , , , , ,

When Life Gave You Flowers: Nabana No Sato Flower Park in Japan



Karena datang di saat musim yang paling "buruk" untuk menikmati taman bunga ini, saya memang tidak punya banyak ekspektasi saat datang ke Nabana No Sato di Kuwana, Mie Prefecture, Jepang.



Musim yang jadi favorit untuk berkunjung ke taman ini adalah di saat musim dingin karena saat itulah Nabana No Sato "berkilauan" dari jutaan lampu dalam winter illumination. Musim terbaik lainnya adalah saat musim semi dan musim gugur, dengan taman yang penuh dengan bunga yang bermekaran, deretan tulip yang berwarna-warni dan pemandangan bunga bermekaran di banyak area taman.


Rose garden but not yet all blooming


Saat musim panas memang sebagian bunga tetap mekar, namun tidak banyak. Taman bunga mawar juga hanya sebagian saja yang dihiasi mawar yang sedang merekah. Namun semuanya berbeda saat masuk ke dalam Green House Begonia Garden dimana sepanjang tahun kita dapat melihat bunga begonia memenuhi area ini.





Sejak awal masuk saya sudah langsung terbelalak melihat warna-warni begonia memenuhi rumah kaca ini. Semua sisi tertutup pot-pot bunga, di bagian langit-langit juga dipenuhi bunga, pemandangan yang sangat cantik. Begonia merupakan jenis bunga dengan banyak varietas. Di Begonia Garden ini kita dapat melihat berbagai jenis begonia, mulai dari "Angel Wings" hingga Double Picotee begonia berukuran besar yang ditanam di pot-pot yang disusun rapi di sisi-sisi rumah kaca ini.





Suhu di dalam rumah kaca diatur sedemikian rupa sehingga ideal untuk berkembangnya tanaman begonia. Selain itu, karakter begonia yang mekar tanpa batasan musim membuat Begonia Garden ini memberikan pemandangan yang serupa sepanjang tahun pula.





Ada dua rumah kaca dalam areal Begonia Garden yang terpisah. Di salah satu rumah kaca terdapat area dengan meja dan kursi untuk sekadar bersantai, atau memesan kopi dan makanan di kafe yang ada di dalam rumah kaca ini, such a perfect place to enjoy those flowers!


All yellow!

Sebenarnya banyak sekali area yang dapat dinikmati di Nabana No Sato, namun sangat bergantung pada musim, misalnya jika ingin menikmati tulip garden maka kita harus datang di musim semi.



Wanna jump into the "UFO"?

View from the top
Area lain yang dapat dicoba adalah Spa House, dengan sumber air panas untuk sekadar merendam kaki, atau menikmati Nabana No Sato dari atas dengan naik "UFO" di area Island Fuji.



Meski datang di musim yang paling "buruk" ternyata saya tetap mendapatkan pemandangan yang sangat indah. Well, when you think that life will give you lemon, it gave you flowers instead!

@marischkaprue - her life is even more colorful than those flowers

Photo by Ferry Rusli

NOTES:

Where
Nabana No Sato terletak di 270 Urushibata, Komae, Nagashima-cho, Kuwana City, Mie Prefecture 511-1144. Telp: 0594-41-0787

Opening Hours
9 AM - 9 PM

Budget
Harga tiket masuk ke Nabana No Sato berbeda setiap musimnya dengan detail sebagai berikut:
  • Summer ¥1000 (Termasuk shopping voucher ¥1000 yang dapat digunakan di berbagai toko di Nabana No Sato)
  • Spring & Autumn ¥1600 (Termasuk shopping voucher ¥1000 yang dapat digunakan di berbagai toko di Nabana No Sato)
Best time to visit this place is during Winter Illumination
  • Winter (Selama masa Winter Illumination) ¥2100 ((Termasuk shopping voucher ¥1000 yang dapat digunakan di berbagai toko di Nabana No Sato).
PS: Untuk masuk ke Begonia Garden anda harus membayar extra ¥1000 (atau dengan menukarkan shopping voucher yang diberikan saat pembelian tiket masuk Nabana No Sato)

How to Get There
  • Dari: Nagoya naik kereta ke Kuwana Station (Dari Nagoya Station naik JR Kansai Line Local ke Kuwana Station, waktu tempuh 28-32 menit, harga tiket ¥350, naik dari Departure Track No. 12, ada di jam 7.04 dan 9.10 pagi)
  • Dari Kuwana Station keluar di East Exit pada area JR, kemudian menuju Kuwana Station Bus Rotary (di depan Sangi Nishi-Kuwana Station). Naik Bus Sanko di Bus Stop No. 2 yang menuju Nagashima Onsen (waktu tempuh 10 menit, turun di Nabana No Sato Bus Stop, harga tiket ¥240 one way).
***

10 Agustus 2015

, , , , , , , , , , ,

In the Middle of Manta's Party: Manta Point, Nusa Penida



Sejujurnya Nusa Penida, Bali bukanlah destinasi yang nyaman, terutama di bulan-bulan dengan ombak tinggi. Perjalanan ke titik penyelaman di Nusa Penida adalah perjalanan yang bumpy karena ombak dan menghabiskan waktu untuk menunggu jarak waktu antar penyelaman adalah satu jam yang membuat pusing dan mual karena ombak yang tinggi.




Namun saat menyelam semua itu terlupakan, jam-jam mual dan pusing menunggu tiba-tiba hilang saat bertatapan dengan pari manta besar yang berseliweran di depan manta. Sejak awal turun menyelam di Manta Spot, Nusa Penida, kami sudah melihat dua manta yang mendekat dan melewati kami, disusul beberapa manta lain yang seakan tidak perduli ada lebih dari sepuluh diver yang membuat banyak gelembung udara di dalam laut Bali ini.




Kondisi saat menyelam cukup keruh dan biasanya memang di tempat yang cenderung keruh dan berarus seperti ini manta akan berkumpul untuk mencari makan. Meski berukuran besar, pari manta tidak memiliki gigi dan tidak memakan binatang laut yang berukuran besar pula. Pari manta justru memakan organisme yang berukuran sangat kecil seperti plankton, ikan-ikan kecil dan beberapa jenis udang yang juga berukuran sangat kecil. Mereka berkeliling dengan mulut yang terbuka dan "menyaring" makanan mereka.




Berhadapan dengan pari manta sangat menyenangkan, meski besar mereka sangat elegan, berenang dengan tenang menggunakan "sayap" mereka, dengan gerakan gemulai seperti tarian. Saya tidak pernah bosan dan berhenti kagum saat menyaksikan pari manta ini.




Arus di Manta Point saat kami menyelam bergerak kiri dan kanan, depan dan belakang, arus bulak-balik yang memang cukup terasa namun lebih nyaman karena arus ini tidak menarik kami ke lokasi yang berbeda, jadi hanya diayun ke kiri dan kanan atau depan belakang, sambil kami dapat terus mengejar-ngejar pari manta yang sedang berseliweran ini.



Di awal penyelaman saya sudah lupa betapa dinginnya laut di Nusa Penida pada bulan Agustus, namun setelah berturut-turut tidak habisnya bertemu manta, tangan saya mulai terasa sangat dingin. Meski oksigen di tabung masih cukup banyak, saya memilih naik terlebih dahulu bersama beberapa teman yang sudah hendak naik.



Puluhan pari manta masih terus aktif berkeliling dan saya harus sekali lagi mengucapkan selamat tinggal pada makhluk mempesona ini. See you next time manta ray, I'll join another party someday.

@marischkaprue - she prefer warm water party

NOTES:
  • Manta Point adalah titik penyelaman di Nusa Penida, Bali
  • Titik-titik penyelaman di Nusa Penida adalah penyelaman dengan kondisi berarus, bahkan di beberapa lokasi (seperti Crystal Bay) cukup berbahaya dengan arus yang sulit diprediksi. Jika belum berpengalaman saya tidak merekomendasikan titik-titik penyelaman di Nusa Penida. Ingat untuk selalu memperhatikan kedalaman, kondisi arus dan tentunya ikuti arahan dari instruktur.
  • Have fun but be careful folks, you can't get extra life by switching some gold coins like in those video games!

7 Agustus 2015

, , , , , , , , , ,

Still Standing Strong: Belgica Fortress, Banda Naira



Terkadang sulit untuk menemukan bangunan-bangunan besar peninggalan sejarah yang telah melewati berbagai masa peperangan namun masih tetap utuh dengan kondisi yang bagus. Di Pulau Naira, Kepulauan Banda, ada satu benteng yang terlihat dari beberapa sisi utama pulau. Benteng ini merupakan benteng strategis dengan lima menara yang mengarah ke berbagai area di Pulau Naira, termasuk ke pulau lain yang berada di sekeliling Pulau Naira.




Benteng Belgica dibangun pada abad 16 pada masa pendudukan Portugis. Namun di masa VOC, Gubernur Jendral Pieter Both yang saat itu memimpin pasukan di Kepulauan Banda, Maluku memerintahkan untuk memperbesar benteng yang berada di lokasi strategis itu.





Benteng yang telah melewati berbagai masa peperangan ini hancur di masa Jepang menguasai, namun restorasi yang dilakukan di tahun 1991 membuat Benteng Belgica kembali ke bentuk aslinya, dengan menara-menara pantau dan meriam tidak aktif yang dipugar dan diletakkan di posisi aslinya.



Sunset spot

Mengunjungi Belgica di masa kini kontras dengan masa lalu. Jika dahulu benteng ini identik dengan peperangan, berfungsi untuk pertahanan dan memantau musuh, Belgica masa kini adalah areal benteng yang dikelilingi tanaman bunga dengan pemandangan Kepulauan Banda yang indah, dan tentunya senja yang menenangkan.




Saya ingat datang ke Benteng Belgica di saat beberapa teman sedang bernyanyi sambil bermain gitar di sisi menara, menunggu senja sambil bersenda gurau di atas benteng, sangat menyenangkan.

Selfie spot :)

Kuat tidak berarti mesti berfungsi untuk menyerang, saya lebih suka Benteng Belgica masa kini, yang meski masih memiliki meriam, namun lebih cocok untuk lokasi bersantai, duduk-duduk melihat indahnya Kepulauan Banda dan menikmati angin laut dan senja yang cantik.

@marischkaprue - just an ordinary girl in such wonderful country

NOTES:
  • Banda Naira terletak di Maluku, untuk menuju ke Banda Naira anda dapat mengambil penerbangan ke Ambon (harga tiket Jakarta-Ambon PP sekitar Rp. 2 hingga  Rp. 2,5 juta), dari Ambon dapat dilanjutkan dengan penerbangan ke Banda Naira dengan pesawat twin otter Aviastar berkapasitas 17 orang (harga tiket Ambon - Banda Naira Rp. 280.000,- one way) namun untuk mendapatkan tiket cukup sulit karena jumlah seat yang terbatas. Pesawat Aviastar dengan rute Ambon - Banda Naira hanya beroperasi seminggu 3x yaitu di hari Senin, Kamis dan Minggu.
  • Banda Naira is located at Maluku. You must take flight to Ambon (round-trip ticket price Jakarta-Ambon about  Rp 2 until Rp 2,5 millions), then continue taking flight to Banda Naira by twin otter plane Aviastar with 17 seat capacity (ticket price Ambon – Banda Naira is Rp 280.000,- one way). But it’s quite difficult to get ticket because of limited seat. Route Ambon – Banda Naira from Aviastar Airplane only available three times a week (Monday, Thursday, Sunday).  
  • Budget untuk trip di Banda Naira 5D/4N sekitar Rp. 4 juta (termasuk tiket pesawat Ambon - Banda Naira), jika berangkat dari Jakarta maka total budget Rp. 6,5 juta per orang, dengan catatan trip bersama (group). Untuk trip serupa hubungi Tukang Jalan di +6281 806898303/ 081315890191 atau email di tuk4ng.jalan@gmail.com
  • Budget for Banda Naira 5D/4N trip is about Rp 4 millions (included plane ticket Ambon – Banda Naira). If you depart from Jakarta, the total budget becomes Rp 6,5 millions per 1 person, but please note: only if you join in a group. Further info about this trip, contact Tukang Jalan at +6281 806898303 / 081315890191 or email at tuk4ng.jalan@gmail.com  
  • Budget di atas belum termasuk diving. Untuk diving di Banda Naira, ratenya adalah Rp. 400.000,- per dive, lebih baik pergi minimal 2 orang karena jika sendiri akan mahal di extra cost untuk bbm kapal. I dive with Banda Sea Hobbits (dahulu bernama Naira Dive), untuk booking hubungi Sasha di +62821 251 22202 
  • Diving cost is excluded from the transport details above. The rate for diving at Banda Naira is Rp 400.000,- per dive, better go with min 2 person to save the extra cost for boat. I dive with Banda Sea Hobbits, for booking please contact Sasha +62821 251 22202 
RELATED STORIES:
DIVING
LAND AND ISLAND HOPPING IN BANDA ISLANDS