Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan

15 April 2014

, , , , , , , , , ,

Ijen: When You Think Your Life is Hard



Matahari belum muncul. Pagi-pagi sekali kami berangkat dari penginapan, semua sudah siap dengan sepatu kets atau sepatu trekking dan backpack. Jaket tebal membalut tubuh kami, tiba saatnya berjalan tiga kilometer di tengah pekatnya pagi yang masih gelap. 


Sun still hiding when we departed from the small inn where we stayed. Everybody ready with their sneakers and trekking shoes, also with the backpack. Thick jacket wrapped our body to keep us warm, and now it's time to walk about 3 kilometers in the dark before the sun appear.


almost sunrise and we can see the smoke
When the sun came, here's some of the view
Saya sudah lama tidak trekking sehingga berjalan pelan agar tidak kehabisan napas. Udara dingin tidak terasa saat trekking, badan bahkan terasa hangat karena tubuh terus bergerak. Dua jam kemudian kami tiba di puncak, blue fire terlihat di kejauhan di bawah dan kemudian perlaham matahari muncul.

It was quite some time since my last trekking session so I had to walk slowly to keep my breath stable. The cold weather didn't bother us at all, it was even felt warm due to our constant movement. Then, two hours later we arrived at the top with the blue fire visible downhill, and then slowly the sun came up.


and the crater
Warna kawah ijen kemudian membiru tosca, membuat kami sontak berdecak kagum dan kesenangan sendiri. Angin bertiup kencang di atas, saya mengeluarkan jas hujan untuk menahan angin dan masih kedinginan. Namun pemandangan yang saya lihat jauh lebih berarti, apalah artinya menahan dingin saat anda disuguhi pemandangan seperti ini..

The Ijen crater then turned turquoise, so beautiful and amazed us. At the top, wind blew so hard that I had to put on my raincoat and still felt freezing. But one thing for sure, this view is priceless, well I don't mind a bit (or more of) freezing when I can see this kind of view.



Kawah Gunung Ijen terletak di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur. Jarak tiga kilometer tidaklah seberapa dibanding apa yang didapat setelah berjalan dua jam. Kawah berwarna turquoise dengan asap sulfur yang membumbung di sisi danau sulfur ini, indah adalah kata yang merendahkan apa yang saya lihat. Terlalu indah mungkin, atau keterlaluan indahnya.


Ijen Mountain Crater is located on the border of Bondowoso and Banyuwangi, East Java. 3 kilometers distant was nothing compared to what you would see after that two hours walk. The turquoise-colored crater with the sulfur fumes rose alongside the sulfur-lake. Beautiful was a degrading word for this view. Maybe it’s too beautiful, or outrageously beautiful.




Ijen tidak hanya memberikan kenikmatan visual. Ada sisi hati yang sedikit sakit saat mengetahui mereka yang bekerja menyambung hidup dengan menambang ijen. Para penambang Ijen mesti melewati rute trekking dengan membawa beban 80 hingga 90 kilogram belerang.

Ijen not only satisfied you visually. It also like a stab in my heart, knowing how hard they work for living. These Ijen miners have to walk such a long hard route while carrying 80 to 90 kilograms of sulfur every day.

Kami bertemu turis asing berperawakan tinggi yang mencoba mengangkat keranjang berisi belerang tersebut namun sesenti pun tidak terangkat. "This is crazy, I can't imagine a human being can lift this and walk that far, few times every day," ujarnya.


We met a foreign tourist who look like someone who is strong and tall. He was about to lift the bucket of sulfur but the basket didn't move, not even a slight centimeter. “This is crazy, I can’t imagine a human being can lift this and walk that far, few times every day,” he said.

 


Hal yang akan membuat kita merasa sedih adalah bahwa penambang ini hanya dibayar 650 rupiah per kilogramnya. Setiap hari mereka harus melalui rute ini bulak balik dan hanya mendapat sekitar 50 ribu rupiah.

Thing that make me sad was the fact that these miner were only paid 2 cent,- per Pound. Each day they have to walk the route back and forth and only get less than 4 US Dollar.

"Cari duit susah banget ya"

“Getting money is not that easy, huh?”



Namun saya memperhatikan mereka, semua ramah, mereka berjalan sambil ngobrol dengan sesama penambang, menyapa kami saat kami berpapasan, bahkan memberi tahu agar berhati-hati saat berjalan menurun.

However, when I paid attention to them, they all are so friendly, they walk the route, carrying such heavy loads while having chit-chat with fellow miners, greeted us as we passed by and even told us to be careful walking down the hill.



Mungkin definisi kebahagiaan kita berbeda. Meski mungkin para penambang ini benar-benar bahagia, saya berharap mereka dapat dibayar lebih dari apa yang mereka kerjakan.

Maybe we have a different definition of happiness. Though these miners are truly happy, I still do hope they could get paid more from what they do now.

@marischkaprue - she knows life could be hard sometimes, but it will still beautiful

Photos by Ferry Rusli

NOTES:
  • You can help a bit! Beberapa penambang menjual belerang yang sudah dibentuk dan berukuran kecil, hanya Rp. 5000,- , buy 1 and pay like you buy 2 or 4. Kecil untuk kita tapi bayangkan hanya untuk mendapat 10 ribu rupiah biasanya mereka harus membawa 15 kilogram belerang.
  • You can help a bit! Some miners sell the shaped-sulfur in a small size with only 5.ooo rupiahs, buy 1 and pay like you buy 2 or 4. It is just a little thing for us but imagine that only to get Rp 10.000,- usually they have to carry about 15 kilograms sulfurs.
  • Terdapat Trip Organizer yang menyediakan open trip ke Ijen seperti Fun Adventure, 3 days trip termasuk Taman Nasional Baluran & Taman Nasional Meru Betiri biasanya dengan budget Rp. 899.000,-
  • There is Trip Organizer that provides open trip to Ijen like Fun Adventure, 3 days trip was included Taman Nasional Baluran & Taman Nasional Meru Betiri usually with Rp 899.000,-.
  • Contact Fun Adventure di +62 81 23410 5848 
  • Contact Fun Adventure at +62 81 23410 5848
First time trekking together!

6 Desember 2012

, , , , , , ,

Alun Alun Suryakencana, Surga Edelweiss


 
Edelweiss, Edelweiss Every morning you greet me.
Small and white, clean and bright.
You look happy to meet me..

I remember singing that song when I was a child, tanpa pernah melihat langsung edelweiss yang asli. Teman saya pernah membawakan edelweiss usai perjalanannya naik gunung (ini jangan diikuti ya, karena sebenarnya tidak boleh mengambil apapun di gunung), tapi melihat edelweiss langsung belum pernah, hingga saya pergi ke Gunung Gede.

Pemandangan saat menuju puncak Gede
Ingat cerita saya tentang Perjalanan ke puncak dan keindahan suasana di puncak Gede?  Hmm, keindahan itu masih berlanjut dan masih luar biasa.

Saya dan teman teman ada di puncak sekitar dua jam, kami foto foto, istirahat, makan nasi bungkus yang dijual di puncak, yes! di puncak ada lho yang jualan nasi bungkus, harganya 5 ribu pula! Tidak terbayang capai capai ke puncak lalu makanannya itu hanya dijual 5 ribu, kalaupun mas mas nya menjual 20 - 30 ribu masih saya beli, mengingat perjuangannya ke atas.


Loncat loncat di puncak Gede :)
Nah, dari puncak saya kembali turun, lewat rute yang berbeda. Melewati pepohonan dan bebatuan. Turun ini jauh lebih mudah dan cepat, tapi mesti hati hati kalau terpeleset dan menyeruduk batu bukan cuma lecet ceritanya.

Singkat cerita, kami sampai di area padang yang luas, diapit dua bukit. Sampai di lokasi saya langsung bilang Wow! (tapi tidak pakai koprol ya), luar biasa, benar benar indah banget.

Edelweiss memenuhi sisi sisi Alun alun Suryakencana


Padang di Alun alun tampak surreal sangking indahnya :)

Alun alun Suryakencana adalah padang seluas 50 hektar yang ada di ketinggian 2.750 m di atas permukaan laut, makanya di padang ini banyak bunga edelweiss. Jangan bayangkan bunga edelweis itu bunga biasa yang kecil kecil, tanaman edelweiss itu besar, bisa lebih tinggi dari orang, dan pastinya indah banget :)

Tenda kami di sisi alun alun Suryakencana
Di Alun alun Suryakencana kami mendirikan tenda. Saran saya, bangun tenda di area pinggir, karena kalau di area tengah lebih dingin karena angin melewati dua bukit sehingga sangat terasa aliran angin di tengah.



Bentangan padang dengan rumput kekuningan
Penuh edelweiss
Oya, di area Alun alun Suryakencana tidak ada wc, jadi kalau mau menuntaskan panggilan alam, edelweiss sangat membantu, karena banyak yang menyelesaikan perut mules dengan bersembunyi di tengah tengah edelweiss yang besar dan tinggi tinggi.

Hmm, mungkin juga karena itu edelweissnya subur subur hihi. Kalau berjalan di area itu mesti lihat lihat ke bawah jangan sampai menginjak "ranjau" tapi biasanya ditutupi tissue jadi anda sudah bisa lihat posisi ranjau. Haha kenapa jadi banyak ngomongin ini ya, merusak konten keindahan Alun alun Suryakencana.

Di luar masalah wc dan sampah, alun alun Suryakencana ini indahnya luar biasa. Saya membayangkan seandainya bawa dress panjang yang keren, terus foto foto di area ini pasti bakal seperti foto foto di majalah hihi.

My footsteps
Satu hal lagi, area Alun alun Suryakencana kalau sudah malam dinginnya pol, jadi siapkan baju dan peralatan untuk berperang dengan suhu dingin. Saya ingat sulit tidur karena kedinginan padahal sudah pakai jaket tebal, kaus kaki berlapis dan segala macam.

Pagi hari kami sempat mengecek suhu, ternyata sampai minus dua derajat celcius, pantas saja dinginnya luar biasa.


Laras, saya dan Fani di tengah edelweiss
Oya, satu lagi, malam hari biasanya kita pasang senter, nah coba senternya dimatikan sebentar dan lihat ke atas. Saya sampai melongo lihat bintang begitu banyak, langit dipenuhi bintang, romantis banget, sayangnya tidak sama jodoh kesana hihi.

Alun alun Suryakencana ini ada di area Taman Nasional Gede Pangrango, di wilayah tiga kabupaten yaitu Bogor, Cianjur dan Sukabumi, jadi dekat dari Jakarta dan bisa diakses saat weekend bagi anda yang kerja kantoran dan sulit ambil cuti libur.


Pengalaman yang seru banget!
Di perjalanan pulang, baterai kamera sudah habis jadi foto pake hp :)
Kalau kesini dijamin capenya ilang dan worth the effort, hasil foto foto juga pasti keren. Jadi next time, daripada nongkrong di mall menghabiskan seratus ribu untuk segelas martini, cobain deh naik gunung, sekali saja dan anda tentukan sendiri apakah ketagihan atau menyesal :)

@marischkaprue - her journey is like counting stars, endless.

Notes:
  • Kalau mau trip ke Gunung Gede biasanya penyedia jasanya sudah buat paket, misalnya sekian per orang, tergantung lama hari dan berapa banyak orang, makin rame rame makin murah pastinya.
  • Detail biaya bisa tanya ke Kang Emon di 081289485491/ 085723205179, jangan takut ngga kuat trekking karena ada bantuan porter :)

26 November 2012

, , , , , ,

Are These View Worth The Effort?


 
Mendaki gunung itu seperti diving, perlu waktu dan niat, kalau untuk mendaki gunung komponen tambahannya perlu kesiapan fisik. Ada satu trek pendakian yang baik untuk pendaki pemula. Alasannya: trek tidak terlalu sulit dan akses lokasi gunung yang satu ini lebih mudah karena dekat dengan Jakarta.


Di gunung Gede Pangrango saya mulai mengalami apa yang namanya naik gunung. Untungnya, sebelum pendakian saya sudah latihan fisik sekitar dua minggu sebelum, jadi tidak terlalu payah di saat pendakian.

Summit attack sejak subuh
Dulu saya selalu berpikir ngapain sih naik gunung, cape cape, menyiksa diri. Hmm, pandangan itu buyar seketika saat saya summit, saat saya menapak puncak palsu, dan puncak sesungguhnya di Gunung Gede. Just see and decide, are these view worth the effort?

View dari Puncak Gunung Gede

Di atas awan :)
View di Puncak Palsu, disini masih harus mendaki lagi tapi viewnya udah keren :)





Saya di Puncak Gede :)

@marischkaprue - know there's gonna be summit after the hard work

23 November 2012

, , , , , ,

Road To Peace


Hidup itu siklus. Ya, perputaran yang terus terjadi dan berkesinambungan, dan sayangnya kita manusia tidak punya kuasa untuk menentukan kemana arah putaran tersebut.

Seringkali putaran hidup itu seakan lelucon yang tidak lucu, kita sering memaki Tuhan karena memberikan posisi tidak enak, membuat kita galau tingkat dewa dan resah gelisah. Dua kata, tidak enak.

Kalau saya dan teman teman berkumpul, obrolan biasanya tidak jauh dari urusan kerjaan, gosip dan pria pria di kehidupan kami. Bagaikan siklus, sosok sosok yang keluar masuk dalam kehidupan ini selalu memberi atau bahkan mengambil bagian hati dan memori kita.

Sebagian, keluar dari kehidupan kita dengan cara yang tidak enak, mengambil bagian dari hati, memberi sisa ruang kosong dan meninggalkan memori yang rasanya, pedih Jendral!

Nah kemudian kalau galau ini sudah bertahta, sulit sekali meruntuhkannya. Saya pernah mendengar seseorang berkata "Perlu waktu rata rata 17 bulan dan 26 hari untuk melewati galau karena mantan," saya bahkan menyimpan kata kata itu untuk menghitung berapa lama saya butuhkan untuk berhenti galau.

 
Dan ternyata proses itu memang panjang, saya melewati waktu dengan berbagai cara, tapi sepertinya selalu ada rasa seperti beban yang masih melekat. Kemudian saya semakin menyibukkan diri, berkelana dari satu daerah ke daerah lain, namun saat kembali ke Jakarta, same shit same story still there in my mind and heart.

Waktu bergulir, kemudian datang satu hal. Gunung. Yap, gunung dan pendakian. Sebelumnya saya sudah pernah cerita bagaimana saya akhirnya masuk dalam dunia pendakian, dan meski pemula namun saya bisa berkata saya sudah ke puncak beberapa gunung dengan upaya keras saat mendaki.

Lalu apa hubungannya gunung dengan galau? mungkin anda bertanya seperti itu saat ini. Hmm, let me say, mendaki itu penuh filosofi. Mungkin karena jalur mendaki begitu berat, summit attack atau saat menuju puncak itu penuh perjuangan.

Saat saya summit attack di pendakian terakhir, angin bertiup sangat kencang, rupanya badai (saya baru tahu saat sudah turun), badan rasanya mati rasa tapi saya terus melihat puncak dan terus bergerak naik. Yang ada di pikiran saya cuma satu, saya sudah memulai dan harus menyelesaikan ini.

Berjam jam kemudian saya ada di atas, sampai di puncak dan semua rasa lelah itu hilang. Kepuasan terbesar mendaki bagi saya bukan keindahan saat di atas meski memang luar biasa pemandangannya, tapi kepuasan melewati rintangan yang terkadang berat karena apa yang ada di pikiran kita.

Amazing feeling being on top of Rinjani
Saat saya di puncak gunung saya berkata kepada diri saya sendiri "I can get through this, I can get through anything else, bring it on God," Dan saya pulang ke Jakarta dengan rasa lega, mungkin saya sudah bisa berdamai dengan diri sendiri.

Saya bercerita ini bukan berarti kalau galau obatnya naik gunung, mungkin bagi orang lain malah semakin galau. Namun, hal hal baru dalam kehidupan bisa memberikan kita pandangan yang berbeda, mengobati apa yang tidak selesai dengan rutinitas.

So please, if you're feeling down, go out, do something new, find where your heart belong and just embrace it.

@marischkaprue - found happiness after successfully make peace with herself on top of the mountain.

*As published on Divemag Indonesia Vol. 3 No 031, October 2012

RELATED STORIES:
   

14 November 2012

, , , , ,

Step by Step


Dua bulan yang lalu saya selalu mendeklarasikan diri saya sebagai pecinta laut, divers yang senang di lautan biru, merasa nikmat di semilir angin pantai dan selalu pulang ke Jakarta dengan proud tan (cara saya menyebut gosong akibat main di pantai dan laut).

Ada beberapa teman saya yang senang naik gunung. Dahulu, saya selalu bertanya pada mereka "ngapain sih capek capek naik gunung sampai berhari hari menderita gitu." Dan kemudian, dua bulan yang lalu hubungan saya dengan gunung dimulai.

Tim di tempat kerja saya memulai misi naik gunung, tujuan kita salah satu gunung yang masuk dalam daftar 7 summit. Maka, saya yang belum pernah naik gunung ini mulai di training: treadmill, jogging, naik turun tangga kantor yang 7 lantai sampai betis berkonde dan berbagai latihan fisik lain.

Dan mulailah kami mendaki, mulai dari Gunung Gede, kemudian selang dua minggu kami lanjut mendaki Gunung Rinjani. Dari dua lokasi ini, terutama yang terakhir saya menemukan keasikan tersendiri. Memang, mendaki itu capainya minta ampun, dari segi kenyamanan anggap saja hilang.

Yang paling utama adalah summit attack, saat saya dan teman teman menuju ke titik puncak sejak dini hari. Perjuangan panjang melewati medan yang cukup sulit ditambah angin kencang dan udara dingin terasa tidak ada habisnya.

Namun akhirnya saya sampai di atas, langsung disambut pendaki lain yang sudah ada disana. Semua yang dikatakan setiap pendaki yang saya temui memang benar "Saat di atas semua rasa lelah itu hilang," saya menikmati dengan sangat saat momen berada di atas.

Namun, bukan hanya pemandangan yang luar biasa yang membuat berada di puncak itu sedemikian nikmat. Jika tidak ada perjuangan, maka keindahan di puncak hanya keindahan yang dinikmati mata. Jika tidak bersulit sulit dahulu mendaki maka saya hanya akan merasa "Wow keren banget," dan bukannya "Luar biasa, ini hasilnya."



Mendaki gunung itu bagaikan filosofi hidup, untuk mendapatkan sesuatu yang besar, untuk menuju puncak kita harus berjuang, harus mau sulit dan melewati semua proses itu, maka saat berada di puncak kita akan lebih merasa puas dan selalu ingat perjuangan untuk ke atas, tidak takabur.

Saya bayangkan jika saya ke atas dengan instan, katakan saja jika memungkinkan memakai helikopter, kurang dari setengah jam sudah di puncak, lihat lihat lokasi dan sudah, tidak merasakan sebagai hal yang luar biasa, tidak akan menghargai perjuangan.

Bukannya saya apatis dengan kesuksesan instan, namun my dear, hasil yang diperoleh dengan bekerja selangkah demi selangkah itu saya percaya akan lebih bertahan lama, akan membentuk mental dan membuat kita sadar diri akan jalan yang telah kita tempuh.

Di laut saya diajarkan untuk sadar sebagai bagian kecil dari semesta yang luar biasa indah, di gunung saya diajarkan bahwa di atas bukan berarti bisa takabur, bahwa semua ada prosesnya, dan kita tidak bisa tinggal di puncak gunung selamanya.

As deep as ocean can be, as high as mountain to hike, we are human meant to live on the ground with Mother Nature. Go deep, aim high and never forget where we start. Godspeed!

@marischkaprue - not yet on top of her roller coaster life.


As published on Divemag Indonesia Vol 3 No 030, August-Sept 2012 


A piece of what happened during summit attack, here in this video:



RELATED STORIES:

16 September 2012

, , , , , ,

Rinjani, album of love

Tetiba saya rindu dengan Rinjani. Keindahan, pesona dan suasana mistis yang tidak ada habisnya, menjejaki Rinjani dan alam sekitarnya adalah pengalaman yang akan saya ingat selalu. Rindu ini akan selalu datang, dan mungkin baru tahun depan saya bisa datang mengunjungi gunung terindah ini.

Jatuh cinta pada Rinjani bukan rasa yang timbul sejak pertama melihat. Dari jauh tampak seperti gunung lain, namun perjalanan menapakinya is simply breath taking

Jangan tanya kenapa saya begitu jatuh cinta, lihatlah saksi dalam bentuk bytes yang terukir dalam frame ini..

Rinjani dilihat dari Sembalun Lawang, Not falling in love, yet
Perjalanan dari Sembalun Lawang menuju Pos 1 melewati savana.
Semakin mendekati Plawangan 2 (Plawangan Sembalun), sudah berada di atas awan :)

Senja di Plawangan 2
Tiba di Plawangan 2 jauh lebih lama dari jadwal tapi justru dapat best sunset time.
Day 2 mendaki sejak subuh.
Stunning view during summit attack.
Rinjani Mountain
Puncak masih jauh sekali dari sini :)
Rinjani Mountain
Selama mendaki di kanan view Danau Segara Anak.
On top of Rinjani Mountain
Puncak, after 7 hours of trekking.
On top of Rinjani Mountain
3726 meter di atas permukaan laut, awesome!

Stunning mystical view around Rinjani
Pintu awan yang terlihat saat turun dari Plawangan 2 menuju Danau Segara Anak.
Mystical land, di sisi Danau Segara Anak.
View di Plawangan 1 (Plawangan Senaru), 2641 meter di atas permukaan laut. Daratan ditutupi awan.
Dari Plawangan 1 menuju Mondokan lolak.
Almost sunset, this view made us stop, stunned by the greatness of nature.
My promise to myself, since I fell in love, I wanna do it again and again.. next trip will be as breath taking and remind me how small I am, hot great is He and how blessed we are to have this..

@marischkaprue - silly lucky traveler


RELATED STORIES: