Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label wisata adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata adventure. Tampilkan semua postingan

22 Februari 2013

, , , , , , , , , ,

Apau Ping, Desa Kecil di Pedalaman Kalimantan



Apa yang anda bayangkan saat mendengar kata desa di pedalaman? terbelakang, tanpa fasilitas, bentukan rumah tanpa kasur? Terkadang kita yang sudah dibuai fasilitas kota besar memandang pedalaman sebagai tempat yang tidak menyenangkan, harus hidup "sulit" dan sebagainya.

Tapi justru, di pedalaman inilah saya menemukan kesenangan, sensasi yang membuat saya ingin kembali dan kembali lagi. Dan, apa benar pedalaman itu terbelakang? I'm sharing the story, as you read it now..

Lokasi yang saya datangi adalah Desa Apau Ping, yang ada di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau. Untuk sampai ke Apau Ping, layaknya pedalaman, perlu upaya dan perjalanan panjang
Dari Tarakan ke Kota Malinau mesti ditimbang sebelum naik pesawat
Berat badan juga ditimbang sebelum naik pesawat Pilatus Porter
Pilatus Porter kapasitas maksimal hanya 800 kg saja.
Jika rutenya dijelaskan secara singkat, saya dari Jakarta naik pesawat ke Balikpapan, melanjutkan penerbangan ke Tarakan, lanjut lagi penerbangan ke Kota Malinau. Tapi ini belum selesai, masih ada satu penerbangan lagi, dengan pesawat yang lebih kecil dari Kota Malinau untuk sampai ke Kecamatan Bahau Hulu.
Lapangan udara di Bahau Hulu
Penerbangan dari Kota Malinau ke Bahau Hulu hanya dapat dilakukan dengan pesawat berkapasitas 9 penumpang. Pilatus Porter nama pesawat baling baling yang membawa kami mendarat di landasan tanah beralaskan rumput, banyak cerita pesawat yang tergelincir karena medan yang sulit, namun saat penerbangan semuanya berjalan dengan mulus dan menyenangkan, bahkan saya menikmati melihat hutan Kalimantan dari pesawat.

Nah, dari landasan inilah, perjalanan sesungguhnya dimulai. Kami menggunakan ketinting, sebutan untuk perahu kayu berukuran kecil dan memanjang yang menjadi satu satunya moda transportasi menuju pedalaman di Malinau. Area Bahau Hulu masih berupa hutan luas, sehingga satu satunya cara transportasi adalah menyusuri sungai Bahau dengan ketinting.

Di Perjalanan, melewati bebatuan :)
Menyusuri sungai Bahau

Saat melewati jeram
Perlu waktu berjam jam menuju ke Desa Apau Ping, perjalanan juga dilakukan dengan berulang kali naik turun ketinting, karena disaat melewati jeram kami harus turun dan berjalan melewati bebatuan, kemudian ketinting akan ditarik oleh orang lokal yang jadi pengemudi dan juru batu kapal.

Melewati hutan tidak tersentuh di pedalaman Kalimantan ini benar benar menyenangkan, rasanya tenang, damai, tanpa sinyal, tanpa keributan. Saya benar benar merasa berada-entah-dimana-namun-tidak-perduli, saya sangat menikmati melihat lihat sekeliling dan sensasi dikelilingi pepohonan rimbun sambil menyusuri sungai.

Penduduk Desa Apau Ping
Ini cara tradisional menggendong bayi di Bahau Hulu :)
Apau Ping berjarak tiga jam perjalanan dari landasan udara di Bahau Hulu. Jauh dari kota besar, kehidupan di desa ini cukup sulit, meski tenang. "Harga bahan bakar 20 ribu per liter," ujar Yusuf Apoe, kepala Desa Apau Ping.

Bahan bakar ini penting bagi desa karena untuk transportasi mereka menggunakan bahan bakar untuk ketinting, juga untuk listrik yang hanya dinyalakan dari jam 7 malam hingga jam 6 pagi. "Dulu masyarakat sini banyak yang pindah ke Malaysia," tambah Yusuf Apoe. Lokasi Apau Ping memang berbatasan dengan Malaysia. Dahulu banyak warga desa yang berjalan berhari hari melewati hutan untuk sampai dan menetap di Malaysia.

Saat ini warga yang tersisa berupaya bertahan, sebagian membuat kerajinan yang dijual ke Bahau Hulu, sementara kebutuhan sehari hari didapat dari bercocok tanam.

Yusuf Apoe menjelaskan pada saya sulitnya hidup di pedalaman dengan akses transportasi yang hanya satu, ketinting. Namun ia kemudian menegaskan pada saya, bahwa masyarakat disini bahagia, cuma ia menitip satu hal, agar dibuatkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), ujarnya berharap ada bantuan dari pemerintah.

Meski bercerita tentang kesulitan di desa, Yusuf Apoe langsung mengantar kami ke lapangan tengah di desa, dimana tarian masyarakat dengan baju adat Dayak menari menyambut kami.



Bersama warga Dayak Kenyah
"Ini tarian tunggal, kami dayak Kenyah lakukan ini biasanya untuk pesta syukuran nama anak, dimana bapak dan ibu menari," ujarnya menjelaskan. Tarian semacam ini sekarang tidak hanya untuk pesta syukuran saja, namun selalu dilakukan saat hari besar ataupun saat menyambut tamu.

Yang menarik tidak hanya tarian adat, ataupun pakaian suku dayak. Alat musiknya pun tradisional dan semuanya dibuat sendiri. Kemudian ada satu hal lagi yang mengusik saya, anting anting tradisional suku dayak Kenyah diikatkan ke tali rafia, tidak lagi ke telinga mereka. Saya memperhatikan bahwa tradisi memasang anting hingga membuat telinga mereka panjang sudah tidak ada lagi. "Dahulu kami dapat penyuluhan, bahwa itu (telinga panjang) tidak baik," ujar kepala desa. Saya kemudian menyadari bahwa banyak perempuan dayak yang berumur telinganya sudah dipotong, telinga mereka yang sebelumnya panjang karena anting anting dianggap tidak baik dan dipotong agar ukurannya kembali terlihat normal.

Warga desa tertawa melihat tingkah laku kami
Saya dengan baju adat dayak Kenyah, cocok tidak? :)
Kami diajak ikut menari, kemudian berfoto bersama. Masyarakat Desa Apau Ping tertawa melihat saya dan teman teman berinteraksi dengan mereka. Tawa bahagia dan hidup yang sederhana, maybe I should learn a lot from them, sincerity, that no matter where you came from, no matter how difficult their life might seems, but open hand and hospitality are everywhere in this country.

@marischkaprue - constant traveler

Photos by Reno Permana