Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

14 Oktober 2012

, , , , , , , , ,

Telaga Biru, Dangerously Beautiful Blue Lake



Telaga Biru Wamena

One day an old man said to me "What seems beautiful usually dangerous," well this is actually true in some ways and in nature. Lets not talk about how dangerous a beautiful woman is that she might took logic out of man's head, I'm talking about dangerously beautiful things in nature.

So in my trip to Wamena, Papua, we went to the beautiful lake in Maima District. I should’ve prepared my trekking shoes since the trek is not friendly for my flat shoes. It was muddy, we must carved a way though trees and coppices for about an hour.

Telaga Biru Wamena
This sight is just truly beautiful!


Then I saw a beautiful beautiful blue river. "We're not arrived yet," the guide said. I heard her but still, this view is just mesmerizing. A small bridge with blue water, it just perfectly combined frame.

Then we moved on, walking about 10 more minutes then we arrived. Light green bluish lake, surrounded by trees and hills as its background. This breath taking view stunned me for a while and then I saw the crystal clear blue water and washed my dirty feet there.

"I really wanna jump there right now" I said that while looking at the blue lake. But well, actually it was forbidden, even what I've done which was washing my feet is also forbidden. "Nobody swim there," the locals said.

Telaga Biru Wamena
The lake is more green than the river


"Telaga Biru" or the blue lake, that’s what the locals called this green lake, is a sacred place for people in Wamena. They believe this is where their ancestors came for the first time.

This kind of color on the lake usually came from algae, the green blue color came from cyanophyceae, one of the microscopic bacteria that are photosynthetic and occur naturally in the surface of water, make the water look green blue, as in Telaga Biru.

Telaga Biru Wamena


Well one thing I didn't aware is that these algae might be quite dangerous. Some species might produce toxin and can be dangerous when exposed to human body.

Then I tried to connect the dot with the local beliefs. It might be because of some local long time ago went swimming here and exposed to toxins, the locals with their lack of scientific knowledge would accept it as superstitious power that forbid the them to touch the water, then the lake became sacred.

It was my own theory; of course I won't debate the local beliefs. For me, traditional beliefs are as important as religion, it put people in order and sometimes, we should be scared then we can obey. Consider if they don't believe this lake is sacred, maybe a lot of people and tourist might swim and exposed to toxins.

Marischka Prudence Telaga Biru
The lake is behind me, okay, no better spot to pose I can find :)


Now I think too much and distract you from enjoying the true beauty. This lake is a perfect example of what the old man say. Beautiful but dangerous (might be, no further research as far as I know held in this place) and one more thing, my feet, despite had exposed to the water and algae, is fine until now :)

@marischkaprue - traveler with healthy explorer feet


Thanks to:
Ministry of Tourism and Creative Economy Republic of Indonesia for this amazing trip. 

NOTES:
  • Akan jauh lebih menarik jika mengunjungi Wamena dan sekitarnya di saat Festival Lembah Baliem. Tahun ini Festival Lembah Baliem dilakukan di tanggal 12 Agustus - 15 Agustus 2013.
  • It would be way more interesting to visit Wamena and Baliem during the Baliem Valley Festival. This year the festival will be held on 12 August until 15 August 2013.

RELATED STORIES:

13 Oktober 2012

, , , , , , , ,

Pasir Putih, Snow White on The Baliem Valley


Baliem Valley
Baliem Valley area
Papua is a land of exotic beauty. It took me long time to get to this land. I've wanted much to visit Papua since years ago and it seems God still separate Papua and me until this year.

Don't expect underwater beauty because the famous Raja Ampat wasn't the place I visited. I went to the center of Papua on the map, where true exotic culture and the untouch nature still exist and became a diamond for European tourist.

Baliem Valley Papua
Local woman holding the pig, actually Wamena came from the word pig there. "Wam" means pig, "Ena" means tame.

Baliem Valley lies on the mountainous area of Wamena. Here, the weather is cold all the time, so even though the sun is so bright, I mostly use my jacket during my Baliem valley visit.

Before it became an inhabitable land, Balliem was a large lake called Wio. Earthquake more than two hundred years ago turned Wio into a flat dry area. Then tribes are starting to rule the area, farmers, warriors and hunters living the green beauty of Baliem.

My first breath taking spot in Baliem is the white sandy rocky hills. Only about 20 minutes from the center of Wamena, you can find this amazing view just beside the long road. 

Pasir Putih Wamena
"Pasir Putih" or "White Sands"

"Pasir Putih" or "White Sands" is what the local called this place. We will instantly understand since it is a place full of white sands and what makes it special is that Baliem is in the mountain area, so its not the typical white sands you'll find on the beach.

According to the local legend, this is a place where Noah's ark* stopped for a while, and that is why white sands lies on those hills of Baliem. 
Pasir Putih Wamena
Pasir Putih located at the Aikima Village, not far from the center of Wamena.
I, myself enjoying the amazing view. Sands combined with hills and big rocks, the view is just amazing and unique. But actually the sands here are different from the usual sands on the beach. The texture of the sands are more soft, and when I touched or stepped on it, it turned grey for a while, then became white again after the sun dried it up again.

Well nothing much to think on this place, what you gotta do is just see and enjoy the scenery since thats what I do here. 

Pasir Putih Wamena
Amazing view of this white sands.
Pasir Putih Wamena
A must pose place :)
*Noah's ark is a story on the bible when the major flood covered the earth and Noah saved creatures on earth by putting it on the ark.

Thanks to:

Ministry of Tourism and Creative Economy Republic of Indonesia for this amazing trip. 

NOTES:
  • Akan jauh lebih menarik jika mengunjungi Wamena dan sekitarnya di saat Festival Lembah Baliem. Tahun ini Festival Lembah Baliem dilakukan di tanggal 12 Agustus - 15 Agustus 2013.
  • It would be way more interesting to visit Wamena and Baliem during the Baliem Valley Festival. This year the festival will be held on 12 August until 15 August 2013.

RELATED STORIES:
     

11 Oktober 2012

, , , , , , , , , , ,

Hamshi, The Little Girl From Kabul



Kabul Afghanistan
Suasana di Kabul, Afghanistan


Hampir lima tahun hidup saya berubah dari manusia normal yang tinggal di kota besar menjadi seseorang yang punya kesempatan berkeliling melihat banyak lokasi, banyak masyarakat, melihat dari berbagai sisi kehidupan.

Sejak bekerja sebagai jurnalis, saya memang banyak berkeliling, mulai dari liputan di tempat mewah, ketemu pejabat hingga pemulung, masuk hotel bintang lima hingga ke daerah kumuh.

Seringkali ada beberapa momen yang menyentil hati saya, membuat saya sadar untuk terus mensyukuri hidup, menyadari berapa beruntungnya saya sebagai manusia dan masih banyak yang kehidupannya tidak dapat kita bayangkan jika harus kita alami.

Tahun 2011. Saya dan tim dari Metro Tv melakukan peliputan ke Afghanistan, tidak lama, hanya sekitar dua minggu kami berkeliling area Kabul, Ibukota Afghanistan. Akan cukup lama jika saya menceritakan kondisi disana saat itu, mari langsung ke satu daerah yang berjarak sekitar enam kilometer dari pusat kota Kabul.

Char-i-Kambar
Rumah rumah pengungsian dari material seadanya


Afghanistan
Anak anak di Afghanistan

Char-i-Kambar adalah area pengungsian di pinggiran kota Kabul. Disini bernaung sekitar 900 keluarga dengan fasilitas seadanya. Sebagian besar pengungsi berasal dari daerah rawan di bagian selatan Afghanistan, mereka memilih hidup di pengungsian karena khawatir dengan konflik yang terus terjadi di daerah asal mereka. Saat saya masuk ke area ini, puluhan anak kecil langsung mengerubuti kami, meminta uang. Fixer* kami saat itu, Qadir, langsung mengusir anak anak tersebut dalam bahasa lokal.

Mata saya langsung melihat area yang seperti tertutup pasir, bangunan yang ada benar benar dibuat dari pasir dan tanah seadanya. Mereka bahkan tidak menggunakan semen untuk membuat bangunan disana. Wajar saja, semen darimana, dan kalau adapun harganya pasti mahal.

Kami berkeliling sambil terus mencari tahu berbagai hal, dengan Qadir sebagai penerjemah kami. Nah, di satu "rumah" pengungsian, saya masuk, sudah ada Qadir di dalamnya. 



Bangunan ini tidak seperti rumah, hanya tembok dari pasir setinggi dua meter, dan di dalamnya ada ruangan kecil seperti gua, tanpa pintu dan hanya ditutup kain. Di ruangan inilah mereka tidur dan beraktivitas.

Ada satu anak perempuan, Hamshi, umurnya sekitar 6 tahun. Saya minta Qadir bertanya pada dia, apa yang ia harapkan mengingat situasi yang masih cukup tegang di Afghanistan. "Tidak ada" hanya itu jawaban dari anak bermata biru tersebut.

Saya yang tidak puas dengan jawabannya kembali meminta Qadir bertanya. Hamshi menjawab panjang, saya harus menunggu Qadir menerjemahkannya untuk saya. Dan apa yang dikatakan Qadir kemudian sangat menyentuh hati saya.

Hamshi, dalam enam tahun hidupnya, tidak pernah keluar dari pagar rumahnya. Kalau saya hitung, ia hanya bisa bergerak di area seluas 3 x 5 meter. Tidak pernah tahu apa yang ada di luar, bahkan di luar rumahnya, bahkan untuk bertemu sesama pengungsi yang ada di tempat yang sama.

Di Afghanistan, masih ada beberapa orang yang melakukan aturan yang bagi saya sangat menyiksa Hamshi. Karena ia adalah anak perempuan, ia tidak boleh keluar dari rumahnya. Sejak lahir ia terus ada disitu, hanya berinteraksi dengan keluarganya, hanya bisa memandang langit yang kadang biru, kadang mendung, kadang berawan dan kadang hujan. Ia tidak tahu ada jalanan yang beraspal, ada mobil di luar sana, ada birunya sungai dan hijaunya pohon.

Pantas saja ia menjawab "tidak ada" untuk pertanyaan saya. Bagi Hamshi, hidup memang seperti itu, sejak lahir. Ia tidak tahu ada sesuatu di luar sana, dan jika ia tidak tahu tentu ia tidak bisa menginginkan sesuatu yang ia tidak ketahui.

Saya benar benar tidak dapat membayangkan hidup seperti itu. Apa yang ia lakukan setiap hari? menatap langit? sampai kapan? Tuhan memberi keindahan yang luar biasa, dan ia hanya bisa melihat di ukuran 3 x 5 meter dengan dinding pasir. Ingin rasanya saya protes pada Tuhan, kenapa anak ini bisa punya kehidupan seperti ini, ia tidak salah apa apa dan harus hidup di dalam kotak.

Namun, bagi Hamshi, kehidupan yang ia jalani bukan kehidupan yang ia keluhkan. Baginya, hidup normal seperti itu, ia bisa tersenyum, bercanda dengan keluarganya meski dari kacamata kita, hidupnya sangat menderita.

Sedih rasanya tidak bisa melakukan apapun untuk gadis kecil ini. Kami hanya bisa memberi uang seadanya yang menurut saya juga tidak akan berpengaruh bagi kehidupannya.

Saat saya ada disana saya sedih dan kesal. Namun, ini mungkin satu momen untuk membuka pikiran, untuk menyadari. Betapa beruntungnya saya sebagai manusia, bisa melihat dunia, bisa berkeliling, bisa tahu lebih dari apa yang ada di dalam kotak.

Afghanistan team
Pak Tohir (driver di Kabul), saya, Desi Fitriani dan Qadir

Setiap saya mengalami masa buruk di hidup saya, I realized that Hamshi experienced worse than me. Memang di atas gunung masih ada langit, agar kita terus punya tujuan, namun di bawah bumi yang kita pijak, ada sisi lain di bawahnya. Dengan melihat apa yang terjadi dan dialami manusia lain, kita diingatkan untuk terus bersyukur, memiliki nasib yang lebih baik, dilahirkan dengan kondisi dan keadaan yang lebih baik, dan terutama bersyukur karena masih punya pilihan dalam hidup.

@marischkaprue - trully blessed


You can see our coverage video here, but no story and pictures of Hamshi:

 

 The refugees in Afghanistan, reporter: Marischka Prudence, cameraperson: Sadudin Mukhlis


*Fixer adalah orang lokal yang kami sewa jasanya untuk membantu kami dalam peliputan, juga sebagai penerjemah

, ,

To Pay Or Not To Pay


LifeIsAnAbsurdJourney


Suka dapat penawaran ngga jelas yang ujung ujungnya bayar? Misalnya nih, dulu di mall suka ada yang sering tiba tiba ngedatengin kita, bilang kita dapet sesuatu yang gratis, sepik sepik, kasih barangnya ke kita dan ternyata kita harus mengisi sesuatu yang ujung ujungnya menjebak untuk membeli sesuatu dan mengeluarkan uang.

Ada teman saya yang bilang "di dunia ini yang ngga perlu dibayar cuma dendam, lainnya mesti bayar" alamak segitunyakah kita jadi manusia? bukannya ingin gratisan, tapi benarkah semuanya harus dikonversikan jadi materi atau pembayaran lainnya? tidak adakah ketulusan yang bersisa?

Hmm, mungkin sebenarnya masih ada, tapi saya sulit mencari cari yang murni. Bukan harus berarti materi, namun biasanya kalau kita mendapatkan sesuatu dari seseorang biasanya harus ada timbal balik, ada konsekuensinya yang harus dibayar meski tidak dengan uang.

LifeIsAnAbsurdJourney


Namun lagi, sebenarnya kebiasaan membayar itu justru positif lho. Dengan tidak biasa gratis, kita akan berusaha lebih. Bayangkan kalau segala sesuatu bisa diperoleh dengan mudah, tanpa perlu bayar tanpa perlu usaha, murni gratis, pasti akhirnya kita kurang menghargai juga.

Saya analogikan hal ini dengan mendapat pasangan. Biasanya kalau pasangan kita dapatkan dengan "membayar" perjuangan untuk mendapatkannya maka kita akan lebih menghargai, lebih merasa sesuatu ini benar benar ada harganya. Beda dengan pasangan yang kita dapatkan dengan sangat mudah seolah olah barang gratisan, maka nilainya juga kurang.

Ada beberapa hal di dunia yang memang tidak dapat diukur dengan materi, priceless, namun mendapatkan sesuatu dengan membayar, dengan usaha dan perjuangan kita sendiri itu rasanya.. priceless.

Pay for what you want and get the priceless feeling, no, I'm not talking about the so called credit card..



@marischkaprue - pay her own bills and in a process of fighting to pay for her dream future.

(As published on Divemag Indonesia Vol 3 No. 029, July 2012)

8 Oktober 2012

, ,

Where Love Defined, Wiwaha Wedding Chapel



Wiwaha Bali
 

Have you ever wondered walking on the aisle on a chapel by the beach, see your so-called soulmate smiling with blue sea and sky as background? Seems perfect right?

Some might said a perfect wedding doesn’t defined perfect marriage. Well it is bluntly true. No matter how much money you spend, how great your wedding was, if its not working well it is not. But then again, who doesn't want a dream wedding?

This small chapel will only fit 40 guests max, but when the world is for two, who needs crowd anyway? :)

So here's some photos I took while they're preparing for a wedding for the next day

Wiwaha Bali
Roses everywhere


Wiwaha Bali
Wiwaha wedding chapel
So basically the wedding package rate here is around US$ 2200 until US$ 3100. That will include private use of Wiwaha chapel for one hour. Yes, only one hour. Besides that you'll get flower arrangements, ceremonial certificate and priest or celebrant etc.

If you want more budget wedding here, choose the basic package, it'll save a lot of money. You can use only the chapel and have your party on the cheaper place since it'll quite expensive if you want to have dinner party on Nikko, unless you don't mind the budget.



Wiwaha Bali


Wiwaha Bali
They can remove the cross for non Christian wedding



Thanks to:
Wiwaha Bali

For further infos contact http://www.wiwahabali.com/

, , , , , , , , , ,

Night Dive, Don't be Afraid!



 

Okay, mungkin selama ini saya selalu mendeklarasikan diri sebagai seorang diver yang ketagihan dengan dunia bawah laut. Saya mulai diving bulan April tahun 2010, masih cukup baru bagi seorang divers, namun cukup waktu untuk berkeliling dan menikmati alam bawah laut Indonesia.

Saya cukup beruntung memiliki pekerjaan yang memungkinkan saya untuk berkeliling ke area pesisir dan tentunya juga diving di banyak lokasi di Indonesia, dan setelah pekerjaan saya bergantipun saya masih diberi keberuntungan untuk tetap bisa mengakomodir kecintaan saya pada indahnya biru dan ragam makhluk laut.

Nah, kalau kita biasa sebut jam terbang, mungkin lebih cocok disebut jam selam, biasanya disebut log dive, berapa banyak anda diving, biasanya juga menentukan skill dan bouyancy (keseimbangan di dalam air). Kalau saya, sekitar 61 kali dive (saya mencatat di buku setiap kali pulang dari trip diving).

Hmm, jumlah itu mungkin terlihat cukup banyak, tapi hingga sekarang dive license saya masih Open Water, itu license paling rendah atau paling awal dalam dunia penyelaman, ingin rasanya mengambil level advance tapi belum terlaksana hingga sekarang.

Usai diving di Morotai

Dalam pengalaman penyelaman saya selama dua tahun, sebelumnya saya belum pernah sekalipun melakukan night dive. Yap, sesuai namanya, night dive dilakukan malam hari. Bayangkan anda menyelam di laut saat gelap, kebanyakan yang saya ceritakan pasti nanya satu hal "ngga serem tuh?"

Bulan September kemarin saya trip ke Tulamben, lokasi diving yang dikenal karena ada wreck kapal USS Liberty. Usai dua kali penyelaman siang dan sore, saya diajak ikut night dive di Tulamben. Saya langsung excited, selama ini saya belum pernah melakukan night dive, meski sudah ada kesempatan namun harus saya lewatkan karena alasan harus shooting pagi sekali keesokan harinya.

Kali ini saya langsung mengiyakan dengan antusias. Dive guide saya langsung memberi briefing, ada ketentuan keselamatan selama night dive. Pertama yang pasti ditanyakan semua orang adalah tentang gelapnya laut. Nah, untuk itu sebelum dive ada dua senter yang disiapkan, satu untuk digunakan, satu lagi cadangan jika senter pertama bermasalah. Kalau dua duanya bermasalah? pinjam senter cadangan buddy (pasangan dive) anda.

Setelah briefing selesai, saya langsung menyiapkan alat dan menuju ke laut. Di Tulamben masuk melalui pantai, beach entry, dan saat saya masuk ke air suhunya hangat jadi langsung nyaman.

Senter sudah kami nyalakan sejak masuk pantai, kemudian kami menyelam perlahan. Menyelam malam hari ini beda dengan yang saya bayangkan, rasanya justru tenang sekali, karena yang kita lihat hanya area area yang terkena sorotan lampu senter.

Saya menyelam berjajar dan kadangkala berada di belakang dive guide saya. Satu hal lagi tentang penyelaman, stick with your buddy, jangan asik sendiri dan hilang sendiri, apalagi malam hari karena kalau ada masalah yang pertama bisa menolong kita adalah buddy.

Masuk ke area wreck sangat seru, cahaya senter membuat besi besi dan bagian kapal terlihat, kadangkala ada ikan yang melintas dan terlihat bercahaya terkena sorotan senter. 

Coleman shrimp courtesy of Indonesia Dive Directory

Dive guide saya, Cuplis beberapa kali memberi kode untuk berhenti untuk melihat makhluk laut yang aktif di malam hari. Udang udangan biasanya terlihat di malam hari, namun makhluk yang satu ini kecilnya minta ampun, sulit terlihat kalau tidak jeli.

Spanish Dancer
Spanish dancer sebelum bergerak "menari"

Satu yang paling mempesona saya yaitu spanish dancer, nama ini diberikan pada jenis nudibranch yang berukuran besar karena jika merasa terancam spanish dancer akan melarikan diri dengan bergerak ke atas dan bagian tubuhnya akan terlihat seperti rok penari flamenco. Saya yang membawa kamera langsung merekam gerakan yang indah dari spanish dancer yang bergerak ke atas. Kalau membayangkan sulit, bisa lihat video yang saya rekam disini:



Usai melihat spanish dancer, saya dan dive guide saya kembali berkeliling, ia menunjukkan frog fish yang diam di soft coral. Frog fish ini unik karena tidak berenang namun bergerak dengan memompakan air ke bagian di bawah sirip bawah yang terlihat seperti kaki. Bentuk ikan ini seperti katak yang sedang duduk sehingga disebut frog fish. 

Warty frog fish courtesy of Indonesia Dive Directory
Another frog fish courtesy of Agata Melisa


Namun ukuran frog fish ini rata rata kecil sekali, yang saya lihat di night dive ini berukuran sebesar kuku jempol saya, untuk difoto pun tidak bisa karena kamera saya tidak bisa untuk ukuran makro :(

Asik melihat soft coral, sea fan dan apapun untuk menemukan binatang binatang laut berukuran kecil yang biasanya disebut macro, saya tidak fokus melihat suasana. Tiba tiba Cuplis menunjuk ke kejauhan sambil mengarahkan senternya. Sosok ikan besar terlihat bergerak perlahan, semakin saya dekati makin terasa ukurannya yang besar, bahkan lebih besar dari badan saya kalau saya berjajar di sebelah ikan ikan yang disebut bumphead ini. Mereka simply disebut bumphead karena memang kepalanya seperti bengkak, saat saya cerita tentang bumphead, pasangan saya malah kirim foto orang afrika yang kepalanya bengkak besar akibat kejedot (-___-) yah itu juga masuk kategori bumphead.

Bumphead parrot fish courtesy of Agata Melisa

Yang membuat lebih menarik lagi, bumphead ini berjajar banyak sekali dan bergerak perlahan. Melihat ikan besar di gelapnya malam benar benar seru, saya berusaha mengambil gambar, namun lagi lagi keterbatasan kamera dan skill fotografi saya sehingga untuk gambaran bumphead saya pinjam foto punya Agata Melisa yang sering diving dan foto foto di bawah laut.

Diving di malam hari memang seru, namun dive guide saya bilang, biasanya kalau dari awal tidak merasa nyaman, saat diving kurang menikmati. Hmm, saya sangat menikmati keseruan ini karena sejak awal masuk ke laut rasanya tenang sekali, dan sama sekali tidak mengerikan seperti yang dibayangkan kebanyakan orang kok. Kuncinya tenang, tidak panik dan nikmati saja keseruan diving hanya dengan cahaya senter.

Oya, satu lagi yang paling menarik. Di satu tempat, dive guide saya menutup cahaya senternya dan meminta saya melakukan hal serupa. Suasana tiba tiba gelap total, kemudian ia mengibaskan tangannya. Yang terjadi kemudian seperti di film film fiksi, muncul titik titik terang berkilauan, namun ini benar benar terjadi. Saya melakukan hal serupa dan cukup bengong terpesona dengan titik titik cahaya yang muncul tiba tiba seperti debu berkilauan saat saya mengibaskan tangan.

Rupanya, plankton tertentu bisa mengeluarkan cahaya saat bergerak atau bergesekan akibat gerakan tangan kita. Ini rasanya seru dan menyenangkan sekali, you will feel like you're in some kind of fairytale world, waving your hands and then fairy dust glittery gold just blinking. Seru abis!

Kami menghabiskan waktu sekitar 45 menit penyelaman malam, dan rasanya, sumpah, I just wanna do it again, soon! Omagah you should, I meant you MUST try, it is amazing! :D



@marischkaprue - always super excited underwater, esp at night.



Thanks to BIDP Bali Diving for this amazing trip!

If you wanna dive in Tulamben, you can contact BIDP Bali Diving bookings:
(62-361) 270759, 285065 or info@bidp-balidiving.com
http://www.bidp-balidiving.com



, , , , , , , , ,

Bahoi, Mimpi Wisata Mandiri di Tengah Gempuran Investor

Bahoi


Bahoi memang belum terkenal, telinga terasa asing saat mendengar nama desa
di wilayah utara Minahasa ini. Desa Bahoi dapat ditempuh dengan berkendara
sekitar satu setengah jam dari Manado, tepatnya di Kecamatan Likupang Barat.

Turun di desa anda tidak akan menyangka potensi yang dimiliki desa pesisir ini.
Saya bersama tim Travelista dan jurnalis Sulawesi Utara, Ronny Buol, langsung
disambut dengan ramah.

Kami memulai perjalanan dengan menyusuri laut Bahoi. Langit yang biru
berpadu dengan laut yang berwarna biru kehijauan dan sangat jernih. Indahnya
laut Bahoi adalah hasil perjuangan masayarakat desa. Beberapa tahun yang lalu,
area coral di wilayah ini sudah mulai rusak. Masyarakat berupaya merehabilitasi
karang dan ekosistem dengan peraturan desa seperti aturan lokasi tertentu
sebagai area terlarang untuk menangkap ikan.

Bahoi
Jernihnya laut di Bahoi

"Ini juga sebagai bank ikan, ketika ikan banyak akan keluar dari area ini, jadi
populasi akan terus disuplai," ujar Sonny Tasidjawa dari WCS-IP Marine Sulut
yang ikut mendampingi kami.



Bahoi
Bintang laut saat air laut surut

Bahoi
Hutan mangrove di area Bahoi

 Usai berkeliling dan juga mengamati hutan Mangrove, saya diajak untuk
menyelam di area ini. Saya cukup terkejut saat warga menunjukkan alat alat
diving lengkap yang mereka sediakan, mulai dari baju selam, fin, BCD, tabung,
semua kebutuhan menyelam ada disini. Kadangkala sulit untuk menemukan
dive centre di area desa yang belum jadi destinasi wisata utama sehingga
kelengkapan peralatan ini cukup mengejutkan. Namun satu hal, masyarakat
Bahoi sadar alam bawah laut mereka adalah potensi wisata dan punya mimpi
untuk mengembangkan wilayah mereka.

"Kadangkala ada turis yang datang, tapi tidak banyak karena mereka belum
tahu kami, banyak tamu resort asing yang datang untuk menyelam tapi warga
desa sini tidak mendapat apa apa, mereka datang dengan perahu kemudian
menyelam dan pergi," ujar salah satu warga desa yang akrab dipanggil "Opa
Gaul."

Setelah mempersiapkan alat kami langsung menyelam. Kami turun di area yang
kedalamannya sangat rendah dan berpasir putih, baru kemudian mengitari
area tersebut. Sonny sebelumnya mengatakan bahwa area ini pernah rusak,
namun di area penyelaman ini tanda kerusakan sudah pudar. Coral kaya warna
dengan ekosistem laut yang beragam menemani penyelaman kami. Berbagai
nudibranch ragam warna juga terus menerus saya temui. Sayangnya saya tidak
mempersiapkan kamera bawah laut yang memadai.


Bahoi
Alam bawah laut Bahoi

Bahkan, area Bahoi ini adalah area yang sering dikunjungi dugong. Sayangnya
kami menyelam di waktu yang tidak tepat sehingga tidak dapat melihat makhluk
laut yang selalu mempesona penyelam tersebut.



Marischka Prudence
Bersama Sonny Tasidjawa usai menyelam

Yang menarik dari Bahoi adalah kegigihan masyarakat untuk mengelola wisata. Mereka sadar mereka punya potensi, namun enggan menjadi penonton. Saat investor besar bermain di kancah pariwisata, seringkali penduduk asli terpinggirkan, menjadi penonton aliran dana pariwisata yang besar atau hanya sebagai karyawan kecil yang menikmati gaji dari investor.

Marischka Prudence
Shen, saya dan Opa Gaul di desa Bahoi
 
Untuk bertahan dengan dana terbatas, memang perlu waktu lebih lama. Harapan saya, Bahoi dapat menjadi modul, inspirasi bagi masyarakat lain untuk sadar potensi wisata dan gigih mengelola secara mandiri. Semoga saat saya datang lagi nanti, desa ini sudah terkenal, dikunjungi turis dan Opa Gaul dapat dengan bangga mengatakan bahwa desanya tidak kalah dengan resort yang dikelola asing.



@marischkaprue - curious traveler


Thanks to:

Ronny Buol, Pemred Cyber Sulut
Sonny Tasidjawa dan WCS IP Marine Sulut

NOTES:
  • If you wanna dive in Bahoi, just contact Opa Gaul +6285298753917 or Marhaen +62852 40762872 for further infos about price and facilities. 
  • Harga paket diving di Bahoi: Rp. 485.000,- (2x dive, include lunch & boat), Rp. 1.050.000,- (Paket 2D/1N 4x dive, lunch, boat, homestay & breakfast)
  • Harga snorkeling: Rp. 250.000,- per orang

1 Oktober 2012

, , , , , , ,

Air Mancur Trevi, Harapan di Lemparan Koin


Trevi Fountain
Trevi fountain yang megah di tengah kota Roma

Roma, ibu kota Provinsi Roma yang terletak di hilir sungai Tiber, dengan catatan sejarah ribuan tahun. Roma adalah kota yang penuh pesona karya seni dan keindahan pergerakan seni dari masa ke masa.

Rome, the capital of the Roman province located in the downstream of Tiber river, with history from thousands of years ago, Rome is a city full of charm and beauty, the fascinating art works and art movements from time to time.
 
Mengunjungi Roma tidak lengkap tanpa melempar koin di air mancur Trevi, atau yang biasa disebut Fontana di Trevi. Air mancur paling ikonik di dunia ini menjadi salah satu penanda keagungan seni di masa baroque. Simbol legenda seperti sosok Triton, putra dari Poseidon sang dewa dan Oceanus menjadi sosok yang memberi keindahan pada Trevi.

Visiting Rome won't be complete without throwing a coin into the Trevi fountain which commonly called the Fontana di Trevi. This most iconic fountain in the world becoming one of the markers in the art of baroque grandeur. Symbols such as the figure legends Triton, son of Poseidon, the Oceanus became elements that brings beauty and elegance to this fountain.

Trevi tidak hanya menyuguhkan air mancur, perhatian pertama anda akan langsung tertuju pada bangunan besar di belakang derasnya air, serta sosok patung mitologi romawi. Trevi adalah air mancur yang dibangun dari rentang tahun 1732 hingga 1762. Karya seni dengan lebar 20 meter dan tinggi 26 meter ini sempat mengalami beberapa perubahan desain karena ditangani arsitek yang berbeda, mulai dari pematung terkenal Italia, Gian Lorenzo Bernini, hingga Nicola Salvi yang meninggal sebelum air mancur ini selesai.

Standing here, you'll immediately drawn to see the large building behind the water, with sculpture of Roman mythology figures. Trevi fountain was built from 1732 to 1762. This 20 meters wide and 26 meters high Roman building had gone through several design changes since being handled by different architects, ranging from well-known Italian sculptor, Gian Lorenzo Bernini, to Nicola Salvi, who died before the fountain was completed.

Keindahan Trevi adalah daya tarik bagi ribuan turis yang datang setiap harinya ke lokasi ini. Namun anda tidak hanya akan terpana menyaksikan lekuk kebesaran seni barogue disini. Siapkan koin saat anda berkunjung karena itulah yang dilakukan turis setiap berkunjung ke Roma.

Trevi's beauty attract thousands of tourists to come every day. But you will not only be struck by the greatness of art barogue dent here. Prepare coins when you visit because that's what every tourist do when visiting Rome. 

Trevi Fountain at night
Suasana di malam hari, lebih dipenuhi turis :)
Ada mitos tiga koin di air mancur Trevi. Pertama, lemparlah koin jika anda ingin kembali ke Roma. Syaratnya, anda harus melempar koin dari tangan kanan hingga koin melewati bahu kiri dan masuk ke kolam. Sementara tambahkan satu koin lagi untuk romansa dan cinta, hingga koin ketiga yang dipercaya akan melanggengkan anda ke pernikahan.

There is a myth about three coins in the Trevi fountain. First, tossed a coin if you want to go back to Rome. Also there are some rules here, you have to flip a coin on the right hand until the coin passes your left shoulder and fell into the pond. You can add one more coins for romance and love, or tossed the third coin that believed will brings you to the marriage life.

Melempar koin di air mancur Trevi bukanlah kepercayaan baku, melainkan aksi yang direpetisi hingga menjadi kebiasaan bagi mereka yang datang ke Roma, apapun latar belakang anda, apapun kepercayaan anda. Bagi saya, selagi anda punya kesempatan mengunjungi Roma, tidak ada salahnya menyisihkan beberapa cent mata uang Euro untuk dilempar.

Tossing coins in Trevi fountain isn't a major believe. This is acts which is repeated over and over again until it became a habit for those who came to Rome, whatever your background, whatever your beliefs. For me, while you had the chance to step in this city, nothting wrong about tossing a few Euro cents to be thrown.

Trevi Fountain
Setelah melempar dua koin di Trevi fountain.
Percaya ataupun tidak dengan mitos tiga koin, setidaknya 3000 Euro dikumpulkan dari dasar kolam air mancur Trevi setiap harinya. Salah satunya bisa saja dilempar dari tangan anda.

Either you believe it or not, at least 3,000 euros collected from the bottom of the Trevi fountain each day. One of them could have been thrown out of your hands.
Have Fun, Enjoy Life, Start Traveling!

Yang mau lihat video mengenai air mancur Trevi, bisa lihat disini:
If you want to see the video about Trevi, see here: