Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

20 Juni 2012

, , , , , , ,

The Last Judgement, Karya Galau Michaelangelo

Share
Hasil foto colongan pake handphone

Sistine Chapel atau Kapel Sistina. Bagi anda yang pernah membaca "Angels & Demons," nama ini sudah tidak asing lagi. Berlokasi di Vatikan, Italia, Sistine Chapel adalah area suci di lingkungan Istana Apolistik, yaitu kediaman resmi Paus di Vatikan.

Sistine Chapel dikenal karena bangunan ini menjadi kanvas bagi karya seniman seniman besar di masa Renaissance seperti Raphael, Sandro Botticelli hingga Michaelangelo.

Meski dibuka untuk publik dan turis, Sistine Chapel dijaga ketat dengan berbagai aturan. Sebelum masuk saya berharap dapat melihat ruangan terang dengan warna fresco (lukisan di dinding) karya besar Renaissance yang terlihat jelas. Namun saat masuk yang kami saksikan adalah ruangan dengan cahaya yang terbatas.

Di area Sistine Chapel mengambil gambar dilarang keras. Di berbagai sudut dan area kapel ini sejumlah petugas terus menegur turis yang terlihat akan mengambil foto dengan kamera pocket. Namun hal itu tidak menghentikan saya berupaya mengambil gambar karya besar Michaelangelo tersebut, diam diam saya ambil gambar dengan kamera telepon genggam. Kemudian saya langsung memandang ke atas, langit langit Sistine yang dihiasi karya Michaelangelo.

Di langit langit ini, Michaelangelo menggambarkan kisah kisah Perjanjian Lama di Alkitab. Fresco yang dibuat Michaelangelo di masa muda memperlihatkan kejelian, struktur yang rapi dan ketelitian dalam karya.

Namun, yang sangat mempesona saya adalah karya di dinding altar Sistine Chapel. Ketidakteraturan dan guratan emosional terlihat jelas dalam karya ini. Sejarah seni mencatat karya di altar ini, yaitu "The Last Judgement" sebagai karya besar dari seorang Michaelangelo, dan saya dapat memahami alasannya.

Perlu empat tahun pengerjaan tanpa henti oleh seorang maestro seni seperti Michaelangelo untuk menyelesaikan "The Last Judgement." Fresco ini memperlihatkan ratusan sosok manusia dalam posisi yang tidak teratur. Lukisan ini menggambarkan hari penghakiman terakhir atau hari kiamat. Sebagian ekspresi sosok dalam lukisan terlihat ketakutan, ada aura yang memperlihatkan sosok yang ada dalam kegelisahan, di hari penghakiman terakhir.

Di masanya, karya ini dikritik keras. "The Last Judgement" dipandang sebagai karya yang hanya memperlihatkan gaya personal Michaelangelo tanpa memberikan inti dari apa yang diharapkan pihak gereja saat itu.

Bagi saya, melihat "The Last Judgement" akan sangat menarik jika anda membandingkan dengan lukisan di langit langit yang juga dibuat oleh Michaelangelo. Lukisan di langit langit Sistine dibuat saat Michaelangelo masih muda. Saat itu ia masih melihat kehidupan sebagai rangkaian perjalanan yang indah. Keteraturan, keindahan adalah komponen utama mental dan visi Michaelangelo saat membuat karya pertamanya tersebut.

Namun kemudian Michaelangelo melihat dunia tidak bergerak layaknya keindahan seni. Perebutan kekuasaan, perang, hingga jatuhnya Roma di tahun 1527 berpengaruh besar bagi psikologis karya Michaelangelo.

"Dunia tidak seperti apa yang diharapkan, Michaelangelo melihat kelamnya sejarah, ia kecewa, ia gelisah," ujar tour guide saya, Carmella saat menemani saya berkeliling Vatican.

Saya dan Carmella berupaya menelaah sisi psikologis Michaelangelo hingga menghasilkan karya yang begitu fenomenal. Kami sampai pada kesimpulan bahwa Michaelangelo sangat emosional dalam pengerjaan "The Last Judgement," guratan garis, ekspresi sosok dalam karyanya hingga keseluruhan yang kelam secara implisit memperlihatkan kegelisahan Michaelangelo pada kenyataan dunia.

Pada akhirnya saya tidak mau banyak berspekulasi apakah Michaelangelo benar benar galau karena kenyataan peperangan atau situasi kehidupannya saat itu. Yang pasti, karya karya besar sepanjang masa selalu merupakan karya yang dibalut emosi. Satu hal yang saya percaya, pergolakan emosi selalu menstimulasi kreatifitas.

1 comments:

Anonim mengatakan...

oh cinta...