Kamis, 27 Agustus 2015

Love Struck: Love Hills, Lembata (Bukit Cinta)



"Kenapa namanya bukit cinta?"

"Banyak yang pacaran di sini," ujar driver kami saat menyusuri jalanan panjang dengan pemandangan serba coklat kemanapun kami memandang.


Memang benar banyak muda-mudi pacaran di Bukit Cinta, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Namun kebanyakan dari mereka hanya nongkrong di atas motor di sisi jalan.



"Kalau saya yang pacaran, saya akan pilih tempat di situ," pikir saya sambil melihat area dengan pemandangan perbukitan coklat yang diliputi rumput yang mengering di musim panas.

  


Kami turun di salah satu sisi di Bukit Cinta, tepat di depan area dimana taman kecil masih dalam pembangunan. Namun saya justru lebih suka area yang masih tidak tersentuh bangunan sama sekali, area perbukitan yang tampak tidak ada habisnya.




Kami menyusuri jalan setapak kecil yang dipenuhi rumput kering. Pemandangan di Bukit Cinta, Lembata sangat mengingatkan saya akan pemandangan serupa di pulau-pulau di Taman Nasional Komodo, namun bedanya di sini mobil bisa masuk ke jalanan.




Saat hari semakin sore, sinar matahari semakin berwarna keemasan dan membuat Bukit Cinta semakin mempesona. Kombinasi perbukitan, gunung dan laut di kala sinar keemasan mewarnai pemandangan yang ada, such a beautiful view!

Satu hal yang pasti, saya jatuh cinta pada Bukit Cinta!

@marischkaprue - falling in love with Indonesia's awesome nature since 2009 (yes, it's too late for her to start travel but better than never started it)

Photos by Ferry Rusli & me

**Some photos taken using DSLR Camera, some with mirrorless camera and some only using Sony Xperia M4Aqua smartphone! Can you spot which using M4Aqua and which using DSLR? It's hard to spot isn't it? Smartphone camera definitely becoming better and better, especially this Sony Xperia M4Aqua with 13 MP Superior Auto camera and 5 MP front camera!


Bonus point: it also waterproof IP65/68, can handle 1,5 meters below the water for 30 minutes, splash and swimming is even more fun now!

NOTES:

·      Bukit Cinta ada di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Posisi Bukit Cinta terlihat dari berbagai sisi di Lembata, termasuk terlihat jelas dari Waijarang.
·      Lembata berada di Nusa Tenggara Timur, Pulau Lembata berada di sisi timur Pulau Flores, namun Kabupaten Lembata mencakup gugusan pulau di area tersebut.
·      Akses masuk ke Lembata paling mudah menggunakan pesawat masuk melalui Bandara Lewoleba di Lembata. Rute yang beroperasi dengan jalur Kupang - Lewoleba. Maskapai beroperasi setiap hari (namun tetap harus cek jadwal terlebih dahulu karena ada kemungkinan penerbangan dibatalkan) dengan jadwal: Kupang - Lewoleba pukul 8.30 pagi, Lewoleba - Kupang pukul 9.30 pagi. Waktu tempuh dengan pesawat sekitar 40 menit menggunakan pesawat baling-baling jenis Fokker 50 (untuk Trans Nusa).
·      Harga tiket pesawat Trans Nusa Kupang - Lewoleba rata-rata Rp. 650.000,- hingga Rp. 700.000,- one way, untuk PP sekitar Rp. 1,4 juta.
·      Penginapan terbaik di Lembata adalah Hotel Palm Indah Lewoleba, untuk saat ini booking baru dapat dilakukan melalui nomor +6285253913787. Kamar dan service sangat baik untuk kategori hotel di daerah, terdapat wifi di lobby dan area dekat lobby namun wifi sering down. Untuk sinyal internet dari provider ada di depan lobby (E) dan area dekat jalanan. Di bandara, dermaga dan beberapa area lain sinyal 3G. Hot water di kamar mandi kadang beroperasi dan kadang tidak beroperasi.

Selasa, 25 Agustus 2015

Perfection in Life


"Ngapain sih keliling terus non stop, apa sih yang dicari?"

"Perfection"

Karena pekerjaan saya memang traveling, jadi mungkin ungkapan "Kerja mulu, apa sih yang dicari" berganti menjadi "Keliling terus, apa yang dicari?"

Apakah saya merasa hidup saya sempurna? tentu belum, manusia akan terus mencari kesempurnaan, terus mencari hal baru dan terus menambah tolok ukur akan apa yang dianggap tepat, baik dan sempurna.

Sempurna itu apa?


Saat melihat sunset dari pantai, dengan langit yang berwarna-warni berubah perlahan dan kemudian berubah warna secara dramatis sebelum akhirnya sang surya pamit dan meninggalkan langit yang menjadi kelam. Perfection.


Saat bercengkrama dengan penduduk Indonesia, di mana pun, mereka selalu tersenyum bahagia menyambut siapapun yang datang dengan hati yang tulus. Saat melihat keceriaan anak-anak muda di daerah yang menikmati hidup dan kebahagiaan yang sederhana, tanpa polusi, tanpa campur tangan teknologi yang begitu merajai kehidupan kota. Simple, but it's perfect.


Laut yang membiru, koral yang berwarna-warni dan ratusan ikan yang bergerak ke berbagai penjuru di laut dalam seakan tidak perduli dengan keberadaan saya, manusia yang tidak bernapas dengan insang namun dikaruniai kesempatan untuk menikmati alam bawah laut dengan bantuan teknologi. Dunia biru dan berbeda yang memukau setiap kali saya membenamkan diri di lautan Indonesia. Perfection is not always on the surface, we could find it down below.


Hijaunya kebun teh, perbukitan yang menenangkan. Udara segar yang menyehatkan. Ujung daun teh yang masih kuncup, dipetik untuk diolah menjadi minuman yang menemani aktivitas kita. Silver needle #WhiteTea namanya, menggambarkan proses, menjelaskan bahwa ujung kecil daun yang seperti jarum itulah yang diproses.

Perfection kata yang tepat menjelaskan proses panjang ini. Kuncup daun dipetik sebelum matahari mulai terik agar antioksidan tetap tertahan di dalamnya, suhu dalam proses selanjutnya pun mesti dijaga hingga siap dalam kemasan #FiestaWhiteTea

Apakah kesempurnaan proses selalu menghasilkan hal yang sempurna?

Perfect place and perfect drink, this white tea blend with the surroundings :)
You know how good antioxidant is for your body. Antioksidan menangkal kerusakan sel, memperlambat penuaan, memberikan hal-hal baik yang dibutuhkan oleh tubuh kita, membuat kita sehat dan secara tidak langsung memberikan kebahagiaan dari tubuh yang sehat.

I know I want to be healthy while looking at those breath-taking sunset or when I dive into magnificent ocean. I know I want to bring smile as good as those people in many parts of Indonesia, I know I want to have more antioxidant so I can keep up to travel more, to be healty while doing that.

Want some perfection? It came in three forms:

One of them is lychee, can you guess the other two?
So, shall we continue living this (almost) perfect life?



@marischkaprue - her life might be absurd but she knows that she's in the perfect path

Selasa, 18 Agustus 2015

Photo Story: Sunset in Kalong Island, Flores



Saat LOB (live on board) atau tinggal di kapal dalam perjalanan kami menyusuri perairan Lombok hingga Taman Nasional Komodo, biasanya kapal akan merapat ke lokasi perairan yang tenang untuk memasang jangkar di malam hari sehingga kami dapat beristirahat tanpa mengalami banyak guncangan dari ombak.

Di hari ketiga kami telah menyusuri banyak lokasi dan sudah berada di area Taman Nasional Komodo di Flores. Menjelang senja kapal merapat ke dekat Pulau Kalong untuk perlahan memasang jangkar.



Tidak lama kami justru disuguhi pemandangan senja yang sangat indah di lokasi istirahat ini. Langit berubah perlahan dari biru menuju jingga,merah oranye hingga ungu, bahkan kamipun dapat melihat bulan sabit sudah muncul di langit sebelum gelap tiba.



Crescent moon in the middle of purple sky
Momen jadi semakin indah saat ada warga lokal dengan perahu kecil melintas, membentuk siluet cantik di tengah senja yang manis.

Sun is always saying good-bye in a nice way in this paradise

@marischkaprue - never get enough of sunset

NOTES
  • Having this trip with Tukang Jalan, dengan budget Rp. 1,9 juta per orang (sailing dari Lombok menuju Labuan Bajo, sudah include makan 3x sehari). Untuk info trip serupa hubungi Tukang Jalan di +6281 806898303/ 081315890191 atau email di tuk4ng.jalan@gmail.com
  • Untuk menuju ke Labuan Bajo dari Jakarta melalui penerbangan transit di Bali. Harga tiket Jakarta - Bali sekitar Rp. 600 ribu (one way), sementara harga tiket Bali - Labuan Bajo sekitar Rp. 1 juta (one way). Total tiket Jakarta - Labuan Bajo PP sekitar Rp. 3,2 juta.
  • Jika ikut trip sailing dari Lombok menuju Labuan Bajo maka tiket yang diperlukan dari Jakarta ke Lombok (sekitar Rp. 700 ribu) dan Labuan Bajo - Jakarta sehingga total budget tiket sekitar Rp. 2,3 juta
RELATED STORIES:
DIVING IN KOMODO:

Kamis, 13 Agustus 2015

It's Hard to be a Japanese: Kimono and Tea Ceremony Experience Kyoto



There's something about Kimono and me. Saya selalu suka dengan kimono, baik bentuk dan pola, hingga motif kimono (atau yukata) yang bervariasi. Bahkan di perjalanan saya di Jepang sebelumnya, saya khusus mencari kimono (yes, meskipun entah kapan saya akan memakainya) untuk dibawa pulang.

Mungkin karena saya tumbuh dengan ditemani banyak kartun Jepang yang mengenalkan budaya Jepang sehingga banyak hal-hal yang menempel di benak saya, termasuk pakaian khas Jepang ini.

Kyoto adalah salah satu kota dimana dengan mudah kita dapat berpapasan dengan orang-orang yang mengenakan kimono, baik itu warga lokal Kyoto, turis domestik Jepang maupun turis mancanegara yang membeli atau menyewa kimono.


Untuk pengalaman yang berbeda saya mencoba kimono experience yang digabung dengan upacara minum teh ala Jepang di Wak Japan yang berada di daerah dekat Karasuma Oike. Di sini kita dapat mencoba menggunakan kimono yang kita pilih sendiri dan langsung ikut dalam upacara minum teh tradisional.


Kimono yang ada ternyata sebagian besar merupakan koleksi pribadi Mieko Nomura, pemilik Wak Japan. "Ini diturunkan dari nenek saya langsung," ujar Mieko menunjuk koleksi kebanggaannya. "Kimono asli berbeda dari segi bahan, pola maupun motif, sekali melihat saya bisa langsung tahu kimono asli atau buatan Cina," ujar Mieko menambahkan. Rupanya kimono kw juga menginvasi Jepang :)



Saya memilih kimono biru dengan motif mencolok dan memadukannya dengan obi (semacam belt yang cukup lebar) berwarna merah. Rupanya memakai kimono tidak sederhana. Kita harus menggunakan kain dalaman, memasang dengan benar dan mengikatnya, baru kemudian dilapis dengan kimono dan obi. Rambut saya pun disanggul sederhana agar cocok dengan kimono yang saya kenakan.



Jika sudah terbiasa dengan pakaian modern, menggunakan kimono tidak terasa nyaman. Selain cukup berat, kimono dipasang sangat ketat dengan badan, terutama di bagian obi. Berjalan dengan kimono pun harus pelan-pelan jika belum terbiasa.


Dengan memakai kimono, saya kemudian ikut upacara minum teh di ruangan tradisional Jepang dengan sekat-sekat pintu dan jendela yang terbuat dari kertas di depan taman yang menyenangkan. Dalam upacara minum teh seharusnya kami duduk bersila, namun karena kebanyakan turis tidak kuat duduk dengan posisi sila menggunakan kimono yang sangat ketat, mereka menyediakan kursi kecil untuk kami duduk selama upacara minum teh.



Selain sejarah teh di Jepang, saya jadi tahu beberapa hal menarik saat upacara minum teh ini seperti gelas yang harus diputar setelah dituang, agar motif dalam gelas menghadap tamu, ini dilakukan untuk menghargai tamu yang akan meminum teh.



Selain itu, bagi mereka yang menjadi tamu juga ada aturan tata krama, yaitu menyeruput teh dengan suara keras saat menghabiskan sisa teh. Tujuannya untuk memperlihatkan bahwa kita menyukai rasa teh yang disajikan. Hal yang unik karena di banyak negara lain, menyeruput dengan suara keras justru dianggap tidak sopan.


One thing I learn is things is not as simple as it may look and may not as comfortable as it might seems. But still, you gotta try the kimono and take some shots as a souvenir :)

@marischkaprue - she's more of a coffee person but won't say no to a nice ocha

NOTES

Where
Wak Japan, 761 Tenshu-cho, Nakagyo-ku, Kyoto 604-0812. T: 81(0)75-212-9993, email: welcome@wakjapan.com

How to Get There
Stasiun terdekat adalah Karasuma Oike Station (Karasuma Line, Tozai Line) atau Marutamachi Station (Karasuma Line), bisa dilanjut dengan berjalan kaki atau naik taksi (¥700 - ¥800)

Price: ¥7.800 per orang, jika peserta dua orang atau lebih menjadi ¥5.800 per orang. Booking minimal satu hari sebelum melalui email atau telp.

Durasi: 1 jam
                   

Rabu, 12 Agustus 2015

Photo Story: Diving Banda Naira, The Coral Show



Diving di Kepulauan Banda itu cukup menyulitkan. Mengapa? Karena saat pulang dari Kepulauan Banda di Maluku, dan menyelam di lokasi lain, akan sulit menemukan destinasi yang sebanding dengan Kepulauan Banda, sebanding dalam segi keindahan tentunya.




Begitu pula saat kami menyelam di Pulau Kecil, nama titik penyelaman di dekat Pulau Hatta di Kepulauan Banda. Layaknya kebanyakan spot menyelam di Banda Naira, karakter Pulau Kecil adalah wall, dengan palung laut dalam yang entah berapa kedalamannya.






Kami menyusuri wall sambil terus menikmati rangkaian terumbu karang yang seakan diatur sempurna. Terumbu karang ini begitu padat dan sangat indah saat segerombolan ikan berbagai jenis melintas dan berputar-putar di sekeliling koral. Kami juga bertemu dengan penyu hijau di area ini.








Saya membayangkan menyelam sambil mendengar lagu-lagu klasik, atau mungkin jazzy yang cocok dengan pemandangan indah yang saya nikmati dari awal hingga akhir. Again, Banda Naira dan titik-titik penyelaman di sekitarnya adalah surga dengan permukaan laut sebagai pintu masuknya. You just have to dip in to see that.

@marischkaprue - salt water is her theraphy 

NOTES:
  •  Banda Naira terletak di Maluku, untuk menuju ke Banda Naira anda dapat mengambil penerbangan ke Ambon (harga tiket Jakarta-Ambon PP sekitar Rp. 2 hingga  Rp. 2,5 juta), dari Ambon dapat dilanjutkan dengan penerbangan ke Banda Naira dengan pesawat twin otter Aviastar berkapasitas 17 orang (harga tiket Ambon - Banda Naira Rp. 280.000,- one way) namun untuk mendapatkan tiket cukup sulit karena jumlah seat yang terbatas. Pesawat Aviastar dengan rute Ambon - Banda Naira hanya beroperasi seminggu 3x yaitu di hari Senin, Kamis dan Minggu.
  • Banda Naira is located at Maluku. You must take flight to Ambon (round-trip ticket price Jakarta-Ambon about  Rp 2 until Rp 2,5 millions), then continue taking flight to Banda Naira by twin otter plane Aviastar with 17 seat capacity (ticket price Ambon – Banda Naira is Rp 280.000,- one way). But it’s quite difficult to get ticket because of limited seat. Route Ambon – Banda Naira from Aviastar Airplane only available three times a week (Monday, Thursday, Sunday).  
  • Budget untuk trip di Banda Naira 5D/4N sekitar Rp. 4 juta (termasuk tiket pesawat Ambon - Banda Naira), jika berangkat dari Jakarta maka total budget Rp. 6,5 juta per orang, dengan catatan trip bersama (group). Untuk trip serupa hubungi Tukang Jalan di +6281 806898303/ 081315890191 atau email di tuk4ng.jalan@gmail.com
  • Budget for Banda Naira 5D/4N trip is about Rp 4 millions (included plane ticket Ambon – Banda Naira). If you depart from Jakarta, the total budget becomes Rp 6,5 millions per 1 person, but please note: only if you join in a group. Further info about this trip, contact Tukang Jalan at +6281 806898303 / 081315890191 or email at tuk4ng.jalan@gmail.com  
  • Budget di atas belum termasuk diving. Untuk diving di Banda Naira, ratenya adalah Rp. 400.000,- per dive, lebih baik pergi minimal 2 orang karena jika sendiri akan mahal di extra cost untuk bbm kapal. I dive with Naira Dive Resort, untuk booking hubungi Sasha di +62821 251 22202 
  • Diving cost is excluded from the transport details above. The rate for diving at Banda Naira is Rp 400.000,- per dive, better go with min 2 person to save the extra cost for boat. I dive with Naira Dive Resort, for booking please contact Sasha +62821 251 22202