Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

15 Agustus 2013

, , , , , ,

Travel VS Beauty?



Ada beberapa pertanyaan yang selalu dilontarkan ke saya saat tahu bahwa saya sangat senang bepergian ke pantai. "Ga takut item?" "Kulit rusak dong?" "Perawatannya gimana? Pasti mahal?"

Rupanya matahari masih terus dianggap musuh bagi kecantikan. Sinar UV A dan UV B sepertinya harus selalu dihindari kalau ingin kulit cantik, dan anggapan kalau perempuan senang adventure pasti sulit untuk tetap punya kulit sehat, rambut indah, dan semua embel embel untuk cantik tersebut.


Jujur saja, saya pun harus melalui proses panjang hingga akhirnya bisa cuek berteman dengan matahari dan air laut. Tidak bisa disangkal juga kalau 90% perempuan Indonesia sepertinya tidak suka saat kulitnya menghitam, mungkin semua iklan kecantikan itu mengarahkan kita untuk punya kulit putih.

Saya pun dulu cukup repot kalau mau bepergian dan dijemur matahari. Saat itu matahari musuh saya, mulai dari payung, sunblock terus menerus, berusaha nongkrong di tempat yang adem. Tapi kok sepertinya repot ya? Mau menikmati pantai tapi bermusuhan dengan matahari, di kapal dengan pemandangan spektakuler tapi duduk di dalam karena panas, sepertinya sayang saja semua kesenangan itu dilewatkan karena takut hitam, takut jelek.

Semakin sering saya bepergian maka saya semakin cuek. Matahari bersinar panas sekali pun saya pakai kaus kutung, yang saya benci hanya kalau lengan saya belang di tengah karena kaus t-shirt sehingga saya lebih suka pakai kaus kutung sehingga kulit mencoklat rata di tangan.

Air laut juga memang membuat kering, kalau habis diving pasti kulit terasa kering dan rambut sepertinya kusut. Lama lama juga saya cuek dengan hal ini, namun cuek bukan berarti tidak ngapa ngapain dan pasrah total. Untuk jaga kondisi kulit dan rambut saya pun pakai perawatan, sederhana saja.

Nah, untuk yang bertanya atau mungkin berpikir tidak mau jalan jalan menikmati pantai karena panas dan takut tidak cantik, here's some tips, a bit effort without you have to consider sun and sea as enemy:

1. Takut Hitam

Sunblock memang tidak membuat kulit jadi tahan dan tetap pada level warna yang sama saat diterpa matahari, tapi sunblock penting supaya kulit tidak terbakar. Saya pernah lupa pakai sunblock saat naik perahu terbuka di panas terik, hasilnya kulit terbakar dan mengelupas yang - sumpah- perih banget. Jadi sunblock is still a must bring and use during your trip, jangan males pakai dan pakai ulang juga setelah beberapa jam. Saat ini sudah ada beberapa sunblock yang pemakaiannya disemprot jadi lebih mudah aplikasinya.

Kalau tentang kulit hitam? Well, I don't mind a bit of tan in my skin if I can see a lot of beautiful view like this :) 


Lagipula kulit mencoklat itu lama lama tidak masalah kok, its all in our mind, kadang kita mendefinisikan kita jelek sehingga tidak pede sendiri..

2. Kulit Kering

Matahari, air laut, beraktifitas di pantai, di gunung yang dingin memang membuat kulit kehilangan kelembaban dengan cepat. Cara menangkal ya dengan rajin perawatan kecil kecilan sendiri. Jangan lupa pakai lotion di kaki dan tangan, bawa saja lotion ukuran kecil kemanapun pergi, only need a small place in your bag.

Kalau untuk kulit muka memang saya cukup ekstra "rajin" merawatnya, saya selalu cuci muka saat sudah di rumah, atau di saat make up tidak diperlukan. Saya juga sering menghindari memakai bedak kalau hanya kegiatan kegiatan santai, biarkan kulit bernapas.

Untuk kulit muka bagi saya serum penting, terutama karena saya sangat sering berjemur. Saat trip dan setelah berjemur terasa kulit mengencang karena kering, nah karena ini pula saya jadi rajin pakai serum setiap hari. Memang terkadang kita sudah cape dan mengaplikasikan serum sepertinya malas sekali, namun anggap saja investasi karena untuk produk kecantikan itu kita harus rutin pakainya baru terasa hasilnya. Saat ini saya pakai serum Angelica Sublime Essence, series Angelica dari L'occitane, setiap pagi dan malam hari. Yang pasti serum ini harus kerja keras membuat kulit saya yang sering berteman dengan matahari dan air laut tetap sehat :D


Hasil memakai serum ini dengan rajin (ingat ya mesti rutin), kulit muka saya bisa dibilang tetap sehat walaupun selalu terjemur, banyak yang bingung kenapa muka saya tidak muncul bintik kemerahan karena sinar ultraviolet ataupun tidak jerawatan. Well, beside happy feeling (ha!) juga karena extra efforts rajin pakai pelembab dan serum itu.

Oya untuk make up juga kalau outdoor upayakan yang terlihat ringan. Aneh rasanya lihat make up tebal kalau di aktivitas di luar ruangan, apalagi di lokasi traveling seperti pantai. Untuk saya yang penting hanya mascara, blush on bagi yang kulitnya tipe warna pucat seperti saya dan lipbalm supaya bibir tidak kering.
Untuk kulit muka gunakan foundation yang sekaligus ada SPF nya, karena saya pakai serum L'occitane jadi foundationnya saya kombinasikan dengan series Angelica juga yaitu Angelica SublimeBeauty Cream yang ada SPF 30 nya. Hasilnya ringan jadi tidak terlihat pakai foundation dan yang pasti pilih warna yang tepat, jangan karena ingin putih jadi pilih warna yang jauh lebih putih nanti jadi tidak cocok dengan kulit.

3. Rambut Rusak

Air laut ini memang sepertinya bermusuhan dengan rambut. Setiap habis diving pasti rambut saya terasa kering dan kusut. Namun kesenangan diving tidak masalah dibanding sedikit rambut yang kering, lagipula untuk melawan rambut kering ini jurusnya sama: rajin.



Setiap keramas saya selalu pakai conditioner yang terpisah, masker rambut juga jadi rutinitas wajib setiap pulang dari trip, ditambah serum rambut sesekali.


Satu lagi, banyak minum air putih, banyak makan sayur dan buah. Klise memang, tapi kalau mau menikmati alam dan tetap sehat serta pede penampilan kita mesti lakukan usaha lebih. Lagipula kalau dilakukan secara rutin, yang tadinya terasa "harus" akhirnya jadi kebiasaan baik yang nantinya sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, atau bahkan lebih, akan kita syukuri.

@marischkaprue - travel blogger who loves make up and beauty products

13 Agustus 2013

, , , , , , ,

Feeling Spongebob at Kakaban Stingless Jellyfish Lake



"Ubur ubur itu lucu buat diliat aja," statement ini sangat benar kalau anda sering berenang atau menyelam di laut. Saya ingat beberapa kali menghindar dari rombongan ubur ubur, terutama yang berukuran kecil karena sulit dihindari. Saat kena, akhirnya pasrah tersengat dan pulang dengan "oleh oleh" luka luka memerah di badan.

 
"Jellyfish is only cute to see," this statement is totally true if you spend lots of time swimming in the sea or diving. 
I remember avoiding jellyfishes few times, especially the small ones since it is hard to see. When you got stung, we just gotta accept the fact to go home with a bit red wounds in our body.


Ubur ubur memiliki tubuh yang sangat halus, 96% komposisi tubuh ubur ubur adalah air dan makhluk ini tidak memiliki bagian keras di tubuh untuk melindungi diri sehingga untuk bertahan dari ancaman predator, ubur ubur memiliki sistem pertahanan berupa sengatan.
 
Jellyfish have a very smooth body, their body is 96% water and this creature has no hard shells to protect them self from predators. To survive, then jellyfish built a defense system, sting and toxic.

Hampir semua jenis ubur ubur memiliki sengatan dengan nematocyst (semacam kapsul dengan racun yang saat bersentuhan akan memicu injeksi racun). Akibat sengatan inipun beragam, dari hanya sekedar gatal dan kemerahan, hingga kematian. Inilah sebabnya ubur ubur selalu dihindari saat bertemu dengan mereka di laut.

Almost all kinds of jellyfish sting with nematocyst (sort of capsule which will inject the venom which triggered when touched). The sting are vary, from just itching and redness, until death. This is why we always avoid jellyfish when we saw them in the sea. 

Kakaban Island
The beach in Kakaban
Namun ada lokasi di Kepulauan Derawan dimana anda dapat merasakan menjadi Spongebob yang dengan riang gembira tertawa meski dikelilingi ratusan ubur ubur.

But there are places in Derawan Islands where you can feel being Spongebob who happily laugh when surrounded by hundreds of jellyfishes.

Danau Kakaban adalah rumah bagi empat jenis ubur ubur yang tidak menyengat. Yap, danau ini terbentuk dari pergerakan lempeng bumi yang membuat bagian laut terangkat menjadi pulau atol (Pulau Kakaban) lengkap dengan danau dimana spesies ubur ubur terperangkap di dalamnya. Karena "terkurung" di dalam danau tanpa predator, ubur ubur ini kehilangan daya sengat. Secara fisik ubur ubur di Danau Kakaban persis seperti ubur ubur lainnya, hanya saja tidak menyengat.
 
Kakaban lake is home to four species of stingless jellyfish. This lake was formed from the movement of tectonic plates that make part of the sea became uplifted (Kakaban Island). This island is complete with lake where some species of jellyfish caught in. Since those jellyfishes "stuck" in the lake without predators, they lose their defense mechanism, the sting. In a glance, this jellyfish in Kakaban Lake are just like other jellyfishes, but they don't sting.

That's the lake!
Saya tidak sabar saat berjalan menyusuri tangga kayu menuju Danau Kakaban. Bayangan berenang di antara ubur ubur tidak menyengat adalah salah satu impian saya. Tiba di dermaga kita sudah dapat melihat ubur ubur berwarna krem merah muda berseliweran, semakin mengundang untuk masuk dan bermain dengan mereka.

I can't wait as I walked down the wooden staircase leading to Lake Kakaban. Swimming in the middle of stingless jellyfish is one of my dreams.  At the dock we can already see creamy pink colors jellyfishes milling about, inviting us to jump and play with them. 

Usually avoid them in the sea but in this lake, they're our friendly fellas!
Dive a bit and see the jellyfish with trees as background, beautiful!
Empat spesies yang ada disini adalah Aurelia Aurita yang berwarna bening dan bulat pipih, Tripedalia Cystophora yang berukuran kecil, Cassiopeia Ornata yang merupakan spesies khas di Kakaban karena selalu dalam posisi terbalik, serta Mastigias Papua yang jadi favorit saya karena bentuknya seperti ubur ubur di Bikini Bottom :)

Four jellyfish species here are Aurelia Aurita the round flat clear colored jellyfish, Tripedalia Cystophora which is small size, Cassiopeia Ornata which is a typical species in Kakaban because they are always in an inverted position, and the last is the Papua Mastigias which is my favorite because it looks like a jellyfish in Bikini Bottom :)

Danau Kakaban ini cukup besar, di area sekitar 20 meter dari dermaga, dasar danau sudah cukup dalam, lebih dari 25 meter. Namun di area tengah inilah anda bisa melihat ubur ubur berkumpul banyak sekali. Jika matahari sedang cerah, ubur ubur ini akan naik ke permukaan untuk berfotosintesa, namun sayangnya saat saya datang cuaca sedang mendung sehingga cukup sulit mendapatkan foto ubur ubur berkumpul di permukaan.

Kakaban lake is quite large, in the area about 20 meters from the pier, the depth is more than 25 meters. But in the middle of this area you can see a lot of jellyfish congregates. When the sun is bright, those jellyfish will rise to the surface to do the photosynthesis. Unfortunately when I arrived the weather was a bit gloomy so it is difficult to get a photo of  jellyfish congregate at the surface.

A bit turbit down the lake, but we can still see jellyfishes everywhere
Curious fishes on the lake, they don't eat the Jellies though
Di area danau pengunjung tidak boleh memakai fin karena kibasan fin dapat melukai ubur ubur. Selain itu, jika ingin menyentuh ubur ubur ini lakukan dengan lembut, rasanya seperti memegang agar agar yang hidup, membuat saya tersenyum kesenangan.

In this lake area you cannot use fin since it can harm the jellyfish. Also, if you wanna touch those jellyfish, do it in a gentle way. It feels like holding a living pudding, makes me smile immediately.

Di dunia ini hanya ada beberapa lokasi yang memiliki danau dengan ubur ubur tidak menyengat, yaitu Palau di Mikronesia, Danau Kakaban dan Danau Haji Buang di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, serta salah satu danau di Raja Ampat yang belum didata secara resmi.
 
There are only a few locations that have lakes with stingless jellyfish in the world, the Palau in Micronesia, Kakaban Lake and Haji Buang Lake in Maratua Island, Derawan Islands, also the lake in Raja Ampat which is not stated officially.

Too bad Jellies in Kakaban isn't big enough to ride ha! Source image: interiormall
Dari empat lokasi itu rupanya Indonesia punya tiga danau dengan ubur ubur tidak menyengat. Tidak perlu paspor untuk sedikit merasakan menjadi Spongebob di Bikini Botton, do you agree Patrick?

Of the four sites apparently Indonesia has three lakes with stingless jellyfish. You don't need a passport to feel a bit of being Spongebob in Bikini Botton, do you agree Patrick?

@marischkaprue - sometimes traveling with Patrick

NOTES:
  • Danau Kakaban terletak di Pulau Kakaban, hanya sekitar 20 menit naik kapal dari Pulau Maratua di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.
  • Kakaban Lake located in Kakaban Island, only about 20 minutes boat ride from Maratua Island in the Islands of Derawan, East Borneo.
  • Waktu terbaik mengunjungi Maratua antara lain di bulan Maret hingga Mei, setelah bulan Agustus, awal bulan Oktober. Sementara di Akhir Oktober biasanya sudah memasuki masa sering turun hujan.
  • The best time to visit Maratua: March to May, after August, the beginning of October. While in Late October is usually already in the period of frequent rain.
  • Untuk pilihan penginapan lihat disini di bagian "NOTES"
  • For hotels or homestay options, see here on the "NOTES" part. 
 RELATED STORIES:
ALSO ABOUT JELLYFISH:

I visit this place with team from Keana, thanks guys! we had fun!

12 Agustus 2013

, , , , , , , ,

Payung Payung Village, Between Turtle and Tourist



Saya menaiki dermaga yang dikelilingi air laut yang biru, sebagian berwarna turquoise. Kepiting kecil berjalan di salah satu sisi kayu dermaga. Tiba tiba saya dipanggil untuk melihat ke sisi kanan, seekor penyu muncul sesaat sebelum kembali menyelam di area perairan Maratua ini.

 
I stepped into the dock surrounded by blue sea water, some in turquoise color. A small crab walking on one side of the wooden pier. Suddenly I hear someone calling, telling me to look to the right side, then a turtle appears a while before going back into the blue water in Maratua.



Mr. Crab
Look at the colors!
Melihat penyu di dermaga Payung Payung bukan hal eksklusif. Sangking banyaknya penyu yang berseliweran di area ini, saya sudah berhenti menghitung saat angka penyu yang timbul di area dermaga sudah lebih dari dua puluh. "Payung payung ini surganya penyu, snorkeling di dekat dermaga saja sudah bisa lihat banyak penyu," ujar Bang Mamat yang menemani kami di Derawan.
 
Seeing turtles in the dock of Payung Payung Village is not a luxury. There are lots and lots of sea turtles milling in this area. I myself stopped counting when it already more than 20 sea turtles appeared. "Payung Payung is a paradise for turtles, you just have to snorkel a bit and you'll see a lot of sea turtles everywhere around here," said Mamat who accompanied us in Derawan.

Too blue to be true

Dermaga surga para penyu ini adalah pintu masuk ke area Desa Payung Payung di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Ada empat desa yang dihuni di Pulau Maratua, termasuk desa Payung Payung yang berdekatan dengan Maratua Paradise Resort dan sering dihampiri turis untuk sekedar snorkeling atau diving di area ini.

This turtle's paradise dock is the entrance to the Payung Payung Village in Maratua Island, Derawan Islands, East Borneo. There are four inhabited villages in Maratua, including Payung Payung Village which located not far from Maratua Paradise Resort and often visited by tourists for snorkeling or diving in this area.



Namun meski berdekatan dengan resort besar yang jadi langganan turis asing, Desa Payung Payung tidak berkembang layaknya area wisata. Saya tidak melihat warung warung makanan untuk turis, ataupun toko yang berjualan souvenir. Sepertinya hampir tidak ada kemajuan ekonomi dari pariwisata yang dirasakan Desa Payung Payung.

However, although Payung Payung located near the famous resort, the village seems not developing as well as the tourist area should develop. I didn't see any food stalls or small shops selling souvenirs. Seems like almost no economic progress came from tourism which can contribute to the villagers.


Saya mungkin hanya melihat sekilas saja, saat ini memang sudah ada homestay di rumah warga desa yang dapat digunakan dengan harga sekitar 200 ribu rupiah per harinya, namun informasi ini terbatas sekali, tidak ada di internet dan sulit jika tidak punya kenalan di area Maratua atau Derawan.

I might just see in a glimpse of it. There is a homestay in the village which can be used by paying about 200 thousand rupiahs per day, but the information about it is very limited, it's hard to look for it on the internet and the best way to book for those homestay is when you have a direct contact with people here in Maratua or Derawan.

Ducks strolling around the beach
Happy faces
Padahal Payung Payung adalah desa yang menyenangkan. Rumah rumah warga di pesisir, bebek bebek yang berjalan rapi di area pantai ataupun jalanan pasir, hingga tawa renyah anak anak kecil Desa Payung Payung. Warga disini sangat ramah, ideal untuk jadi tempat berkembangnya pariwisata.

Despite the lack of facilities, Payung Payung Village is a very nice place. Traditional houses in the coastal areas, ducks walking in sand beach or the sandy streets, the laugh and smile from the children in Payung Payung are a few things that will make you smile. Also, people in Payung Payung are very friendly, ideal for tourist destination.

Slept here and I got a nice nap
Got a friend here
Saya numpang tidur siang di rumah salah satu warga, menatap dinding rumah kayu mereka dan membayangkan homestay kecil yang menyenangkan, yang bisa jadi pilihan backpacker saat bertandang ke surga di Derawan ini. 

I took  a nap in one local house near the coastline. Staring at the wooden walls, I imagine a nice homestay, will be a great options for backpacker who wish to visit this heaven in Derawan.

@marischkaprue - one of her dream is to have an eco resort in paradise

NOTES:
  • Pulau Maratua terletak di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Ada dua cara akses ke Derawan, pertama ke Balikpapan terlebih dahulu, kemudian mengambil penerbangan lanjutan ke Berau atau ke Tarakan. Kemudian dari Tarakan atau Berau ke Kepulauan Derawan dengan menggunakan speed boat. Tarif speed boat dari pelabuhan Tanjung Batu, Berau ke Pulau Maratua Rp. 1.500.000,- (one way, kapasitas 10 hingga 13 orang). Lebih baik sewa untuk PP (diantar dan dijemput kembali, dengan harga Rp. 3.000.000,-)
  • Maratua located in Derawan Islands, East Kalimantan. There are two ways to access Derawan, first to Balikpapan first, then take connecting flight to Berau or Tarakan. Then from Tarakan or Berau to Derawan Islands by speed boat. Speed boat price from the port of Tanjung Batu, Berau to Maratua is Rp. 1.500.000, - (one way, the capacity of 10 to 13 people). Better rent two way trip (delivered and picked up again, with the price of Rp. 3.000.000, -)
  • Dari bandara Tanjung Redep Berau ke Pelabuhan Tanjung Batu, jika beramai ramai bisa sewa mobil, PP (diantar dan dijemput saat kembali) tarif sekitar Rp. 800.000,- untuk mobil kapasitas 6 orang.
  •  For transportation from Tanjung Redep Airport in Berau to Tanjung Batu Port, you can rent a car. Rate about Rp. 800.000,- for two way trip (car capacity about 6 person)
  •  Waktu terbaik mengunjungi Maratua antara lain di bulan Maret hingga Mei, setelah bulan Agustus, awal bulan Oktober. Sementara di Akhir Oktober biasanya sudah memasuki masa sering turun hujan.
  • The best time to visit Maratua: March to May, after August, the beginning of October. While in Late October is usually already in the period of frequent rain.
  • Alternatif penginapan murah di Pulau Maratua: Ananda Hotel dengan rate: Rp. 200.000,- per kamar (tanpa AC) dan Rp. 300.000,- per kamar AC. Ananda Hotel terletak sekitar 15 menit perjalanan naik motor dari Maratua Paradise Resort. Tapi view di Ananda sangat berbeda dengan di Maratua Paradise. Saya sarankan setidaknya menginap satu hari saja di Maratua Paradise Resort.
  • For alternative, there is a cheaper hotel in Maratua: Ananda Hotel with rate: Rp. 200.000, - per room per day (no air conditioning) and Rp. 300.000, - per room AC. Ananda Hotel is located approximately 15 minutes away by motor bike from Maratua Paradise Resort. But the view is very different with Maratua Paradise Resort. I recommend you stay at Maratua Paradise at least one day.
 RELATED STORIES:

10 Agustus 2013

, , , ,

Basilica of San Francesco d' Assisi


Mengunjungi tempat ibadah bukan berarti harus memeluk agama tertentu atau khusus untuk beribadah. Banyak lokasi tempat ibadah yang berkaitan dengan sejarah dan menunjukkan ciri arsitektur masa ke masa.


Visiting a place of worship doesn't mean that you have to embrace a particular religion or specifically for worship. Many places of worship relates to the history and shows how architecture changing over time.
Doors to the Lower Church

Di perbukitan area barat Asissi, Italia, ada satu gereja yang menjadi lokasi penting peziarah Katolik. Basilica of San Francesco d' Assisi adalah gereja induk dalam sejarah Katolik Roma di ordo Fransiskan. Hal ini dikarenakan Santo Fransiskus, penggagas ordo Fransiskan dalam agama Katolik Roma di Italia, lahir dan meninggal di Assisi. 

In the hill at the west side of Assisi, you can find an important church, especially for Christian pilgrimage. Basilica of San Francesco d'Assisi is the mother church in the history of the Roman Catholic Franciscan order. That's because St. Francis, the originator of the Franciscan order in the Roman Catholic religion in Italy, was born and died in Assisi.
 


The frescoes
Yang menarik, Basilica of San Francesco d' Assisi merupakan contoh bangunan dengan perpaduan dua gaya arsitektur yang terpisah di area atas dan bawah. Bagian bawah bangunan ini lebih bergaya romatis, atau yang biasa disebut gaya Romanesque. Bagian bawah dipenuhi kubah bergaris yang dipenuhi lukisan di dinding, frescoes, hingga ke langit langit. 

The interesting part, Basilica of San Francesco d' Assisi is a perfect example of two buildings with a mix of architectural styles that separate the upper and lower areas. The lower part of the building is more a romantic style, or commonly called the Romanesque style, filled with low semi circular ribbed cross vaults with paintings on the walls, frescoes, up to the ceiling.


Lukisan dan ornamen memenuhi kubah membuat saya seakan tidak ada habisnya mendongak ke atas saat berada di dalam Basilica. Sejumlah nama pelukis di abad pertengahan seperti Giotto, Simone Martini, Pietro Lorenzetti dan Cimabue mengisi kubah Basilica of San Francesco d' Assisi hingga menjadi seperti apa yang dapat anda saksikan saat ini.
 
Paintings and ornaments filled the domes. I spend all my time looking up in this basilica. Some of the names of medieval painters like Giotto, Simone Martini, Pietro Lorenzetti and Cimabue are those who painted the dome of Basilica of San Francesco d 'Assisi to became what you can see today.


St Francis tomb
Upper church
Di bagian bawah juga terdapat makam Santo Fransiskus dari Assisi, salah satu tujuan para peziarah. Namun jika beranjak ke bagian atas gereja anda akan menemukan suasana yang berbeda. Bagian atas disebut juga Upper Church, disini gaya Gothic yang berkembang di masa puncak dan akhir abad pertengahan menjadi ciri utama arsitektur gereja. Bagian atas bukan lagi kubah yang penuh dengan fresco, melainkan langit langit yang tinggi dengan desain gothic.
 
At the bottom you can go see the tomb of St. Francis of Assisi, this is one of the main goals of the pilgrims. But if you went to the upper side of the church you will find a different atmosphere. The upper part is called the Upper Church, a Gothic style which developed during the high and the late medieval. The top of the dome is no longer filled with fresco, but a high ceiling with gothic design.


Meski bukan pengamat seni ataupun pecinta arsitektur, memasuki gereja dengan desain yang indah sambil mendengarkan latar belakang sejarah suatu lokasi membuat apa yang kita saksikan menjadi jauh lebih menarik. This is one of those.

Although I'm not an expert about art or architecture, getting inside the church with beautiful design while listening to the background history of this location makes what eyes see became much more interesting. This is one of those.



@marischkaprue - she's more into modern design, but always love to visit old buildings

6 Agustus 2013

, , , , , , , , ,

Pulau Asei, Kerajinan dan Sejarah di Tengah Danau Sentani



Ada 21 pulau kecil yang tersebar di Danau Sentani, Danau terbesar di Papua dengan pemandangan spektakuler yang selalu membuat saya tercengang. Namun, saat datang disini ada satu pulau yang selalu dikunjungi karena keunikan kreatifitas lokal dan pecahan sejarah Perang Dunia ke II yang tersimpan di pulau tersebut.

There are 21 small islands scattered in Sentani Lake, the largest lake in Papua with spectacular view that always amaze me. However, there is one island which always visited because of its uniqueness of local creativity and a piece of story from World War II.

The beautiful Sentani Lake
The local child

Pulau Asei berdekatan dengan dermaga utama di Danau Sentani. Hanya perlu sekitar 5 menit naik kapal kayu untuk menyebrang ke Pulau Asei. Memasuki dermaga tidak lama saya langsung melihat beragam kulit kayu yang dilukis.

Asei island located near to the main pier in Lake Sentani. So close that you only need about 5 minutes to cross from the pier to Asei. I walk into the dock in Asei Island and immediately saw the variety of painted paper wood.

Kerajinan kulit kayu ini adalah kreatifitas khas di Sentani, menggunakan kayu khombouw yang diratakan, dihilangkan getahnya, dicuci dan dijemur hingga kayu ini menjadi bahan tipis seperti kertas. Kemudian, kulit kayu khombouw ini dilukis dengan pewarna alami dari alam, dengan motif yang memiliki makna tradisi.

This kind of painting is a unique craft in Sentani. Local people use khombouw wood which been flatened, removed the sap, washed and dried in the sun until the wood became so thin. Later on, this khombouw bark painted with natural dyes from nature, with variety of forms which have traditional meanings.


Ada bentuk bentuk tertentu yang melambangkan maskulinitas ataupun feminitas, lebih berupa bentuk abstrak. Sebagian lagi melambangkan masyarakat kecil, misalnya lambang ikan dan cicak. Memperhatikan pola pola dan motif kerajinan khombouw ini jauh lebih seru jika anda sambil mencari informasi arti dari setiap motif sehingga saat membelinya sesuaikan juga dengan arti yang anda cari.
 
Certain forms symbolize masculinity or femininity, when I saw I realize it's more of an abstract form. Some symbolize community, such as fish and lizard. Looking at these patterns at khombouw craft is much more exciting if you also know the meaning of each patterns and forms so when you buy it, you can find the one suits you well.
Mrs Delilah
Harga kerajinan ini bervariatif, mulai dari 50 ribu rupiah untuk yang berukuran kecil, hingga ratusan ribu. Masyarakat di Pulau Asei pun sudah terbiasa membuat kerajinan khombouw. Ibu Delilah yang menjual kerajinan ini menceritakan bahwa sejak kecil ia sudah memperhatikan cara pembuatan dilakukan oleh orang tuanya. "Sudah lama saya bikin, semua belajar dari kecil," ujar Ibu Delilah sambil memperlihatkan sejumlah kerajian khombouw dengan beragam motif.

The prices vary, ranging from 50 thousand rupiahs for a small craft, up to hundreds thousand rupiahs. This craftsmanship is already became a community skills. Delilah, whom selling this crafts told me that she can make khombouw craft since she was a little girl, learning from her parents. "I've been doing this long enough, learn it since I was a child," she said while showing a number of khombouw crafts she made.

Pigs everywhere

Tidak hanya kerajinan yang saya temui disini. Pulau Asei menyenangkan untuk berkeliling, melihat jajaran rumah yang dibangun di atas air danau dan babi babi yang berkeliaran di sekitar pulau.

In Asei, you'll find not only khombouw crafts. This island is actually a nice place to walk around, seeing houses built on top of the water and also pigs walking everywhere around the island.

The church

Dari jajaran rumah ada jalan yang menuju ke bagian atas pulau. Di ujung anda akan menemukan gereja tua dengan arsitektur sederhana. Yang menarik bagian mimbar tidak seperti mimbar gereja pada umumnya, ada bentuk sayap dari kayu yang melekat pada mimbar.

Near the houses, you'll see a path leading to the top of the island. Just walk around five minutes and you'll find yourself seeing an old church. The design is simple, but the interesting part is the pulpit, I saw a form of wooden wings attached to the pulpit and its not common.

Gereja di Pulau Asei sebelumnya berada di area bawah. Namun pada masa Perang Dunia ke II, Sentani dan Pulau Asei berada dalam jalur merah penyerangan sekutu. Warga dahulu sempat mengungsi di kala perang bergejolak dan kemudian usai PD ke II, gereja kembali dibangun di bagian atas Pulau Asei.

Previously, this church located in the different location. During World War II, Sentani and also Asei is in the red line area, meaning that the location is in the targeted area. During the war, local people leave the island for a while and came back after the war ended. The church is rebuilt in the top area of the island.



Layers of colors in the sky
Pulau ini akan membuat anda merasakan tenang. Selain jauh dari hingar bingar, di kala senja Pulau Asei punya lokasi indah untuk menikmati matahari turun perlahan. Persis di dermaga pulau ini anda dapat mengamati sunset dengan foreground rumah tradisional dan perahu yang sesekali melintas dan sudah terlihat sebagai siluet.

This island gave me a peaceful feeling. Away from the busy and loud noises of the city and when the sun prepare to set, Asei has one of the great place to enjoy the sun disappearing slowly. At the dock you can watch the sunset, plus traditional houses and boats passing by, building a perfect silhouette.


Jika duduk dan menikmati ketenangan Pulau Asei sulit rasanya membayangkan area ini dahulu masuk dalam jalur merah penyerangan dan dibombardir sekutu. Ah, saya hanya berharap tempat ini selalu damai. This is a beautiful place, to beautiful to be ruined by human.

When I sat and enjoy this tranquility, it's hard to imagine that this area formerly in the red zone and bombarded during the World War II. Oh well, I just hope this place is always peaceful. This is a beautiful place, to beautiful to be ruined by human.
 
@marischkaprue - its hard for her to stop looking at beautiful sunset

Photos taken by Samsung NX300