Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label prambanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prambanan. Tampilkan semua postingan

27 Oktober 2016

, , , , , , ,

THE GLOWING PRAMBANAN: EPSON VIDEO MAPPING


The beautiful Prambanan video mapping, photo by Setiyoko Agus
It's not my first time to Prambanan, and I'm sure it's not the last also. 


Setiap destinasi selalu memberikan pengalaman baru, menyaksikan dan merasakan sensasi berbeda dari destinasi yang sudah pernah kita kunjungi selalu mengasikkan. Begitu pula dengan kunjungan saya di bulan Oktober 2016 ini, "it's a whole different view for sure," ujar saya dalam hati saat mendengar bahwa Epson dan Sembilan Matahari akan menggelar video mapping, di Prambanan!

Each destination always provides a new experience, seeing and feeling different sensations of destinations we've visited are always exciting. So it is with my visit in October 2016, "it's a whole different view for sure," I said in my heart when I heard that Epson and Sembilan Matahari will hold a video mapping, in Prambanan!


Kompleks candi yang dibangun pada abad ke-9 Masehi ini memiliki tiga candi utama yang didedikasikan untuk tiga dewa utama dalam agama Hindu: Brahma, Wishnu dan Siwa. Tiga candi utama inilah yang menjadi "kanvas" proyeksi video.


The temple complex that was built in the 9th century AD has three main temples dedicated to the three main gods in Hinduism: Brahma, Vishnu and Shiva. These three main temple became the "canvas" of the video projection.
 


Playing with the projector :)
Sefiin also "painted"
Tidak mudah untuk menyiapkan video mapping di candi yang begitu besar dan masif, bahkan ini adalah video mapping di candi yang pertama di dunia. Setidaknya ada 20 proyektor, termasuk satu proyektor Epson berkekuatan 25.000 lumens untuk "melukis" candi di malam hari.


It's not easy to prepare video mapping in a temple that is so big and massive, and this is even the very first temple video mapping in the world. At least 20 projectors were used, including one 25,000 lumens Epson's projector to "paint" the temple in the evening.
 

Video mapping test before the show
Kami tiba di area panggung Ramayana Ballet di Kompleks Candi Prambanan. Panggung ini adalah area pertunjukkan teater Ramayana yang berlatar belakang Candi Prambanan. Kami duduk menanti dimulainya pertunjukkan.


We arrived at the stage area of Ramayana Ballet at Prambanan temple complex. This stage is the area of Ramayana theater with the background of Prambanan Temple. We sat waiting for the show to begin.


Video mapping Prambanan ini menggambungkan show dari cahaya projector dengan teater di panggung yang mengisahkan cerita rakyat mengenai terbentuknya candi, yaitu kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Yang menarik, cerita digabung dengan elemen modern, ada anak-anak SD yang nakal, dan mendapatkan nasihat untuk menjaga kelestarian candi. 


This Prambanan video mapping collaborates show of light projector with a theater stage which tells the folklore of the formation of the temple, the story Roro Jonggrang and Bandung Bondowoso. Interestingly, the story was combined with modern elements, there were primary school children who were naughty and got advises to preserve the temple.


Such a beautiful sight, photo by Setiyoko Agus
Projector tidak hanya mengarah ke candi, lantai panggung dan dinding belakang panggung pun menjadi kanvas projector, menghasilkan efek yang menarik selama pertunjukkan. Di masa klimaks cerita, Prambanan "dilukis" dengan cahaya projector, dengan gurat garis modern, pola unik dan artistik yang menjadi begitu indah berpadu dengan tekstur dan bentuk megah Prambanan.


The projector did not only projects to the temple, but also to the stage floor and the back wall of the stage which became a canvas projector, producing interesting effects during performances. In the climax of the story, Prambanan was "painted" with light projector, with modern lateral lines, unique and artistic patterns which made it into lovely textures and shapes combined with the magnificent Prambanan.

Tanpa terasa show berakhir, kami harus meninggalkan kompleks candi. It was a great experience, I'm hoping there will be more video mapping on Indonesia's countless heritage places.

Time passed fast and the show had ended, so we had to leave the temple complex. It was a great experience, I'm hoping there will be more video mapping on Indonesia's countless heritage places.

@marischkaprue - never mind visiting same destinations over and over again ;)


NOTES:

Thanks to:  
Epson Indonesia dan Sembilan Matahari for inviting me to this event

You can see the whole video mapping here on youtube


4 Januari 2015

, , , , , , ,

Light Up The World Heritage: Prambanan



Kadang rumput tetangga terlihat lebih hijau, kalau berbicara peninggalan besar dunia mungkin sebagian dari kita akan lebih dahulu berpikir tentang The Great Wall di China, Angkor Wat di Kamboja, Acropolis di Athena dan berbagai peninggalan besar lainnya sebelum melihat apa yang kita miliki.

Indonesia punya 8 situs warisan dunia (The World Heritage) yang dicatat UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Bandingkan dengan Yordania yang "hanya" memiliki 4 situs, sama halnya dengan Nepal dan Filipina dengan 4 situs dan bahkan Mesir pun "hanya"memiliki 7 situs (saya baru tahu setelah melihat daftar situs warisan dunia ini dan cukup kaget bahwa kita memiliki situs lebih banyak dari Mesir).

Kompleks Candi Prambanan

Salah satu situs yang dimiliki Indonesia, Candi Prambanan memang sudah cukup dikenal. Sebagai kompleks candi yang dibangun pada abad ke 10 untuk tiga dewa utama Hindu yaitu Wisnu, Brahma dan Siwa, Candi Prambanan pada siang dan sore hari dipadati turis.


Candi Prambanan dipenuhi relief, sebagian menceritakan kisah epik Ramayana yang terukir indah di dinding candi. Melihat Candi Prambanan di siang hari memang menyenangkan, saya berharap punya lebih banyak waktu untuk melihat semua area ini.


Saya belum pernah melihat kompleks Candi Prambanan di malam hari sehingga saat Panasonic dengan UNESCO kembali bekerja sama dalam memperbaharui pencahayaan kompleks Candi Prambanan di malam hari, saya bersemangat untuk melihat bagaimana bentuk dan relief Candi Prambanan yang akan "bersinar."




Ada 16 proyektor lampu LED (Light emitting diode) yang mengarah ke berbagai candi di kompleks Candi Prambanan ini. Penggantian dengan lampu LED dari sebelumnya lampu halogen akan mengurangi konsumsi energi sekitar 30% dan juga lebih terang.

"First Switch" menandai kali pertama rangkaian proyektor lampu LED Panasonic ini dinyalakan untuk menerangi Prambanan. Kami yang hadir pada acara First Switch berada di area panggung yang menghadap ke tiga candi utama, dengan dinding-dinding panggung menutupi pemandangan ke tiga candi tersebut, untuk sementara hingga saatnya lampu dinyalakan.




Jelang jam 8 malam lampu menyala dan dinding yang menutupi area panggung digeser. Kami langsung melihat Candi Prambanan yang bercahaya kuning keemasan dan kemudian putih yang memperlihatkan relief cantiknya.


Semua langsung bersemangat mengambil foto indahnya Candi Prambanan. Tiga candi utama: Candi Siwa, Wisnu dan Brahma terlihat bercahaya di tengah langit yang pekat malam itu. Selanjutnya kami tidak sadar saat tiba-tiba sosok-sosok biru muncul di panggung dengan latar Candi Prambanan.



Selanjutnya area ini menjadi catwalk bagi model-model yang memperagakan karya Lulu Lutfi Labibi, desainer Yogyakarta yang terkenal dengan motif lurik. Karya-karya dengan taste tradisional yang berpadu dengan cutting modern ini sangat cocok diperagakan dengan latar belakang Candi Prambanan.

The models might be beautiful but Prambanan Temple surely glowing more than anybody that night :)

@marischkaprue - traveling light up her life

Photo by Ferry Rusli, except photo (1: Assawin), (2: sh) & (7: sh)

NOTES:
  • Kompleks Candi Prambanan terletak di Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sekitar 17 Kilometer dari Yogyakarta

Thanks to Panasonic Indonesia & UNESCO for inviting me to First Switch Prambanan


Me x Prambanan, captured by Ferry Rusli using multiple exposure directly from his camera, no edit, no photoshop ;)