Ada teman saya yang kalau makan mesti itu itu aja, misalnya dia traveling ke satu kota yang jauh dari Jakarta, eh tapi untuk makan masih nyari fast food yang banyak di Jakarta. Hmm, buat saya itu rugi sih karena salah satu kenikmatan traveling itu mencoba makanan yang berbeda, entah cocok di lidah atau tidak, at least udah nyobain dan serunya kita bisa komparasi rasa dan tampilan makanan dengan daerah daerah lain.
Nah, di perjalanan saya ke Palembang, saya melipir ke rumah makan yang katanya asli Palembang dan enak banget, sering dikunjungin pejabat kalo dateng ke Palembang. Oke, sering dikunjungi pejabat belum tentu enak kan, jadi saya siap mencoba dan testing rasa di rumah makan ini.
Here comes the food frenzy:
Cumi saos pedes
Udang rebus
Lihat perbandingan ukuran udang ini dengan tangan :)
Ikan belida goreng khas Palembang
Ikan teri goreng, yummy!
Pepes ikan bumbu pedas
Patin kuah kuning
Udang cilik yang tidak kalah enak
sambel mangga
Daging giling yang dibalur telur terus digoreng
Srikaya pandan sebagai penutup :)
Favorit saya: ikan belida goreng khas Palembang, jangan khawatir karena tidak ada duri kecil jadi mudah makannya, pepes, udang, cumi, semuanya enak juga (dasar tukang makan). Yang ga boleh ketinggalan cicipi srikaya pandan ini juga, di tempat kecil, rasanya manis dan lembut, tidak kalah dengan dessert khas eropa :)
Di lantai dua konsep makannya lesehan
Furniture dengan ukiran Palembang mendominasi ruangan
Dari depan tampak seperti rumah makan biasa saja
Kalo makan disini, naik ke lantai atas karena konsepnya lesehan dan suasananya seperti di rumah, Pak Haji yang punya rumah makan rupanya senang mengkoleksi furniture dengan ukiran khas palembang dan gaya gaya mixed arab, seru untuk makan rame rame. Ada ruangan satu lagi yang khusus VIP dengan kursi kursi dan meja formal, ah tapi saya lebih suka di area lesehan saja.
Mari makan! :)
Kemanapun anda bepergian, cicipi masakan lokal. Memanjakan indra saat bepergian itu tidak cuma mata yang menatap tempat tempat baru, hidung yang mencium wangi laut saat berjalan di pantai, kaki yang merasakan pasir pantai, tangan yang menggenggam saat bersalaman dengan kenalan baru, namun juga lidah yang merasakan kekhasan dan excitement rasa rasa yang baru. Enjoy life, go travel and forget your frikkin' diet!
@marischkaprue - love love love love Indonesian food!
Notes:
Alamat rumah makan Mahkota Indah: Jalan Let. Iskandar 24 Ilir No 243, Palembang, gampang dicari kok rumah makannya, tapi kalau masih bingung cari jalan telp aja ke 0711-312236.
Kadangkala, hal hal yang paling diingat saat traveling
adalah hal hal tak terduga yang kita temui di perjalanan, atau di salah satu
spot tujuan.
Sebelum saya datang ke Tugu Nol Kilometer, sudah ada
beberapa teman yang bilang "nanti bakal ketemu babi jinak," nah, di
pikiran saya "oh, ada babi yang cukup ramah, ga takut atau galak sama
orang, bisa dideketin kali ya, that's it,"
tapi seberapa jinak sebenarnya babi ini, here's the story;
Tangga naik ke plakat tulisan nol kilometer
Saat ke Pulau Weh, ke Sabang, satu lokasi yang wajib
dikunjungi adalah Tugu Nol Kilometer. Mengapa? karena tugu ini penanda
geografis ujung paling barat Indonesia, ya memang secara real bukan paling barat, masih ada area lain di barat Tugu Nol
Kilometer, namun titik kilometer nol dihitung dari Tugu ini dan inilah mengapa ungkapan
"Dari Sabang sampai Merauke" sudah jadi kalimat yang umum di telinga
kita yang tinggal di Indonesia.
Walaupun belum ke Merauke setidaknya sudah ke titik paling barat :)
Tugu Nol Kilometer juga jadi tujuan saya saat datang ke
Pulau Weh. Lokasi tugu tidak jauh dari lokasi saya menginap di area Iboih, jika
dihitung dari kota Sabang sekitar 45 menit perjalanan mobil untuk sampai ke
lokasi di Desa Iboih Ujong Ba'u, dimana Tugu Nol Kilometer berada.
Babi ini langsung mendekati saat saya turun dari mobil
Sesampainya di lokasi, saya langsung turun dari mobil dan
mengarah ke depan mobil, tidak menyadari kalau ada makhluk yang mendekati dari
arah kanan. Ternyata yang disebut sebut babi jinak itu datang dan memang benar
benar jinak :)
Jadi babi ini langsung mendatangi saya, dan saya langsung
ingin memegang kepalanya, ternyata dia mau lho dipegang, tapi cuma sebentar,
rupanya babi ini minta makanan. Abang yang mengantar saya langsung memberikan
kotak biskuit, saya langsung menyodorkan biskuit itu dan seperti anjing
peliharaan yang jinak, babi ini langsung mengambil biskuit dari tangan saya :D
Selama ada biskuit, babi ini mau di elus elus :)
Kera kera di sekitar Tugu Nol Kilometer, saya cuma berani foto dari jauh, mereka galak soalnya
Tapi selanjutnya saya lebih memilih melempar biskuit saja,
takut salah salah tangan saya tergigit hihi. Tapi beberapa biskuit ini diambil
kera kera di sekitar tugu yang pastinya jauh lebih gesit dibanding si babi
jinak.
Setelah main main dengan babi jinak, saya melihat lihat Tugu
Nol Kilometer, rupanya si babi jinak ini masih terus meminta makanan dari
pengunjung lain dengan berdiri diam di depan pengunjung yang sedang duduk,
persis cara doggy meminta makanan, lucu! :)
Memang cukup aneh mengetahui ada babi, di Aceh, yang jinak
dan meminta makan dari pengunjung tugu nol kilometer, tapi rupanya hal hal yang
tidak terduga ini justru yang kadangkala lebih diingat. Bagi saya juga,
pengalaman bertemu babi jinak ini lebih seru dibanding lokasinya itu sendiri,
bukannya karena titik nol kilometer tidak penting, tapi antara seru dan penting
itu berbeda kan :)
Usai lihat lihat tugu bisa nongkrong sambil liat pemandangan ini
Kalau mengunjungi Tugu Nol Kilometer, jangan lupa bawa
biskuit untuk si babi jinak supaya ia mendekati dan mau dielus elus (bagi yang
bisa dan boleh memegang babi) karena sibuk makan, tapi hati hati juga karena
bagaimanapun jenisnya tetap babi hutan yang besar dan kalau diseruduk atau
tergigit lumayan juga hihi..
@marischkaprue - animal encounter is her happy notes on the journey
Video "A note from a travel Junkie" ada video saat saya bertemu si Babi Jinak :)
Non-stop Party Island, mushroom and bikini festive. That was
what I heard about this small island on the northwestern tip of Lombok. So some
parts of the stories is true and some are beyond it.
For decades, Gili Trawangan has its own popularity as a
'Party Island.' Being the biggest island of three Gili Island; the others are
Gili Air and Gili Meno, Gili Trawangan offers a place to party hard and getaway
from all the chaotic senses of tourist destination.
It is quite easy to get into Gili Trawangan, no wonder it is
so crowded during the high season. You can get fast boat from Bali or the slow
boat from Padangbai and Senggigi. From other parts of Lombok you can cross from
Bangsal or Nare Harbour.
The first thing you will spot on this island is there are no
car at all. Take a bike and you can get around this Island in less than an
hour. But if you don't like pedalling then there are more relaxing way to get
from one place to another, which is cidomo - a small horsedrawn
carriage.
Cidomo
The local government forbids all motor
vehicles, that's the main reason you will never find noisy motorized vehicles
here. Whats more interesting is that even for Cidomo, there are some rules even
though rules are made to be broken - so does some might said. No more than 4
passengers for one cidomo and no more than 33 cidomo in Gili Trawangan, I don't
have time and will to count it anyway.
The other unique thing about Gili
Trawangan is also there are no police at all. If some problem occurs, local village
head will take care of the problems. But actually the only problem mostly
happening here is headache due to mixed up alcohol on those never ending party.
Gili Trawangan is developing fast in
the last 10 years. New hotels, resorts and bars are popping out like mushrooms
during rainy days. This fast growing tourist accomodation also gives the local
money earning opportunity. Local people in Gili Trawangan is about a thousand
and tourist came during high season can be about four times the number of the locals
every month.
But the crowd in Gili is in a different
sense with Bali. Since Gili is so small, we will find ourself going around and
meet the same people and going back to the same place before we even realize
it. With no motorized vehicles, I find myself having fun pedaling bicycle
around the beach even though it is quite a hard work on thick sands texture on
some tracks. Bike rentals are everywhere so no worries that you will not get
it, and it is safe to put your bike on the side of the streets, since nobody
will took it outside the island.
Besides feeling like you're between the
middle age with horse-drawn carriage everywhere but bars and pubs are easily
found and party calling every day, Gili Trawangan has two options, on budget
and on your choices of vacation.
If you're not the budget traveler and
want to have stylish accommodation, there are some villas on the other side of
the island. Of course you will have to take cidomo because it will spent around
20 minutes to get to the more serene zone of Gili Trawangan, away from the
collections of groovy beach bars and tourist crowds.
I found myself on Queen Villa, which is filled with
honeymoon lovebirds. Private white sandy beach and serene atmosphere. Here
tourist can have more spaces, I even feel like there is nobody else, and then
realize there are, only during breakfast and dinner.
Spa by the beach
My favourite relaxing moment and I'm sure most honeymoon
couples love it too is the Balinese Spa. They don't usualy provide spa right on
the beach but I managed to convince them to provide it and it worth the
persistence of my request. The key of massage and spa is the relax, serene and
tranquil moments and I always feels like it is best when you can see the blue
sea, hear the waves and feel the wind breezing.
But don't spend time only on the beach. Gili also famous for
its well-known friendly sea turtles, so grab your diving suit and pack your
fins. My diving guide promised that 99,9 percent I will meet the sea
turtles, and it became 100 percent since I met more than five friendly turtles
down the blue sea.
I get so close with the sea turtle :)
You can swim next to the sea turtle but don't touch them
I am so excited seeing the first turtle came. I saw this sea
turtle swimming right to me before actually switching direction in front of me,
seems like since they met human everyday so they don't really get annoyed or
scare to human. You can really chase them, moving and swimming right next to
the sea turtle and amazed on how close you can get with them.
But sea turle is not the only thing you can get. My diving
trip starts from coral fan garden, which is on the northern part of Gili
Trawangan, then going to the western part to the shark point. The spot from
Jackfish point to shark point is home for some moray eel.I saw three moray eel, from a size of a
bottle until about more than two meters long. My advice, better don't get too
close with them, I saw their sharp nasty teeth which can actually harm you if
they felt threatened by our sudden movement and also if we get too close. But
seeing this creature is always fascinating, how a moray eel moves, gliding on
the tip of the corals are like seeing National Geographic live on the sea
itself.
One more fascinating under sea creature I encountered is the
most graceful cephalopoda, the octopus. With their two eyes and four
pairs of arms, moving under water for an octopus is like flying with no gravity
involved on their movements. Octopus actually have jet propulsion mechanism, they
can make water passing their body so the movement is always head first with
arms trailing behind. You can see the video here:
Seeing the octopus changing colors and
textures are also make your eyes widen and you don't even wanna miss a blink
since they are moving fast and easily away from our sight when they hide into
the hard corals. There are also more options for diving
around Gili Meno and Gili Air, and the best thing is you don't have to spend a
lot of time on the boat. These three Gili islands are so close to each other
and small so it only need less than 15 minutes if you want to dive in the
southern part of Gili Air.
If you just wanna wander around Gili Trawangan, you can get from
slope, coral fan garden, jackfish and even if you have the divers lucky gene,
you might find some blacktip shark during your dive, and don't worry since they
are quite friendly too.
For a newbie sea explorer, diving courses are everywhere on
this small island. You can find it both on the resorts or just around the
crowded zone near the entrance dock. On my five minutes of walking on those
areas, at least I can found two dive centre which offers a lot of diving
courses, from discover dive for the very beginner sea explorer, until
specialized skills for divers.
So Gili Trawangan is an option other than Bali, or maybe
after your Bali visit. I've done the more serene and private vacation and
planning to invite my friends to do the party option later next time. One thing
for sure, whatever your vacation option on Gili Trawangan, don't miss the
diving moment.
Ada yang pernah bilang ke saya, biasanya divers pemula itu
senang melihat ikan ikan besar yang berwarna warni, koral yang beraneka ragam,
suasana bawah laut yang intinya secara jelas terlihat indah menurut sebagian
besar orang.
Namun, semakin sering seseorang diving, maka biasanya
minatnya makin pada hal hal unik, binatang binatang aneh, bentuknya ngga jelas
dan binatang binatang makro alias kecil banget yang untuk menemukannya pun
perlu mata setajam silet, begitu pula untuk memfotonya.
Ah, tapi hidup di atas permukaan pun tidak jauh beda dengan
analogi minat divers pemula dan yang sudah lama. Kita kita yang baru segar
segarnya menjalani hidup, belum banyak pengalaman, biasanya penuh hasrat yang
besar. Saat kerja mau posisi anu, gaji itu, fasilitas wah, pokoknya semua yang
tampak luar biasa. Begitu pula saat mencari pasangan, mau yang cakep atau
cantik bak model di majalah, pinter, humoris, kaya, pokoknya semua all in one.
Saat waktu bergulir, kita manusia mencicipi pengalaman demi
pengalaman. Mendapatkan pasangan yang tampaknya ih waw, tapi ternyata tidak
sreg di hati, atau simply tidak cocok. Sebagian mempertahankan hanya demi
gengsi memiliki pasangan yang tampak hebat, namun tidak bahagia.
Manusia itu begitu kompleks, kadang kita mendefinisikan
bahagia dari kacamata orang lain, mendefinisikan cinta dari kata kata
mayoritas. Dan, setelah waktu bergulir panjang akhirnya kesadaran itu baru
timbul. Banyak hal hal kecil yang tidak kita syukuri namun membawa kebahagiaan.
Tidak perlu memutar otak, cukup hitung apa yang anda miliki
hingga saat ini, berapa kali anda beruntung bulan kemarin, tidak mungkin
jumlahnya nol. Bahagia itu sederhana namun kompleks. Sederhana karena hal hal
kecil yang luput dari daftar mimpi besar anda adalah yang sebenarnya membawa
kebahagian, kompleks karena rumus bahagia setiap orang berbeda seperti DNA kita
yang unik.
Bukan berarti kita tidak boleh punya mimpi besar, namun
diselang mimpi kita harus terus sadar, ada waktu bangun, terjaga dan mensyukuri
apa yang kita miliki.
Jadi, tulis rumus bahagia anda, it's you who define, no one
else.
@marischkaprue - always super happy when seeing the tiny
tiny cute little pygmy seahorse
As Published on Divemag Indonesia Vol. 3 No.028 RELATED STORIES:
Belitung Timur belum jadi tujuan utama wisata bawah laut,
informasi mengenai spot spot diving dan referensi apa saja yang bisa ditemukan
saat menyelam sangat minim.
Saat saya melakukan perjalanan ke Belitung Timur, saya tidak
punya ekspektasi tinggi akan wisata bawah lautnya meski saya sudah persiapkan
alat selam dasar.
Di hari penyelaman, cuaca kurang bersahabat. Dari Manggar
saya menggunakan kapal kayu menuju lokasi penyelaman. Goncangan saat menuju
pulau Siadong terasa di kapal, saya memilih posisi di depan, meski goncangan
lebih terasa namun pemandangan indah laut membuat saya tidak memperdulikan
kapal yang berguncang.
Usai persiapan, kami langsung turun di lokasi dekat pulau
Siadong yang berada di area timur Kecamatan Manggar. Karena cuaca mendung, kami
memutuskan untuk menyelam di kedalaman 10 hingga 15 meter saja untuk
mendapatkan visualisasi yang jelas.
Ternyata kondisi coral di area ini sangat baik. Sekitar 80%
area yang saya selami tertutup hard coral
beraneka jenis, ditambah visibility (jarak
pandang) yang baik sekitar 15 meter, meski cuaca sedang mendung.
Table coral
mendominasi banyak area, diselingi dengan rentetan brancing coral, brain coral dan berbagai jenis acropora lainnya. Gugusan terumbu karang di area Siadong cenderung flat, dengan slope jika menginginkan kedalaman yang lebih.
Namun area penyelaman saya cukup minim soft coral, kami hanya menemui sedikit soft coral di area yang didominasi coral jenis brain dan branching.
Juvenile Clam
Red and Black anemone fish
Spotted sweetlips yang satu ini terus menerus menghindari saya :)
Saya menemui kima
(kerang) berwarna biru di tengah great
star coral, spotted sweetlips yang beberapa kali kabur menghindari bidikan
kamera saya, dan satu red and black
anemone fish di antara bubble tip
anemone. Berbagai ikan jenis glassfish,
yellow tail memenuhi sebagian area gugusan terumbu karang.
Satu spot yang saya selami ini ternyata cukup baik dan
menarik, memang belum ada endemik khusus yang ada di Belitung Timur, mungkin
perlu ada pengumpulan data terlebih dahulu, apalagi spot spot diving yang ada
belum dikumpulkan dan di release untuk turis dengan tujuan wisata bawah laut.
soft coral
Saya masih sibuk ambil gambar sebelum naik ke permukaan :)
Bagi divers pemula, saat masuk ke area penyelaman di
Siadong, turun ke kedalaman harus dilakukan perlahan, karena area bawah penuh
tertutup coral agar tidak merusak karang yang yang ada. Namun, visibility,
kekayaan coral dan warna warni bawah laut Belitung Timur layak dicoba untuk
diselami :)
Saya berharap pengelolaan wisata bawah laut area Belitung
Timur diberi perhatian lebih, dive center perlu dibangun, kelengkapan alat
mesti tersedia, prosedur dan dive guide juga mesti jadi perhatian untuk
mengangkat wisata bawah laut. Sayang keindahan seperti ini kalau tidak bisa
dinikmati banyak pecinta laut :)
Btw, kalau mau lebih nikmatin suasana bawah laut Belitung Timur ada di video ini, enjoy!
@marischkaprue - a human with a pair of fins and a heart for the underwater world
Thanks to:
- Pemda Belitung Timur for inviting me, saya tunggu realisasi komitmen untuk mengembangkan wisata bawah laut yaaaa
- Mas Adi Guna yang sudah jadi dive guide plus temen ngobrol saya di Beltim.
Note:
- Untuk yang mau diving, bisa dibantu sementara oleh Pemda di 0719-92200063 untuk informasi dive guide, alat dan boat atau email ke disbudparbeltim@yahoo.co.id
- Untuk ke Belitung Timur dari Jakarta ambil tiket Jakarta - Tanjung Pandan, lalu sewa transportasi ke Manggar (perjalanan hanya sekitar satu jam), dari Manggar silahkan berkeliling, anda sudah ada di pusat wisata Beltim :)
- Harga tiket variasi tergantung musim, tapi kalo ke Tanjung Pandan pastinya jauh lebih murah dibanding ke Indonesia Timur, harga sewa transport dll bisa contact langsung ke penyedia jasa
- Bantuan travel agent ada beberapa pilihan: Mandiri Anie Sejahtera 0719-91615, Atim 0719-91041, Wisata Afat 0719-91062, Barokah 0719-91493, www.belitungisland.com cp: 0719-22890.
Belitung Timur punya lima pantai yang mereka banggakan:
Pantai Punai, Pantai Bukit Batu, Pantai Burung Mandi, Pantai Nyiur Melambai dan
Pantai Serdang. Dari lima pantai saya memilih tiga pantai yang saya suka,
ketiganya memiliki karakter yang cukup berbeda, namun kesamaannya: sepi sekali
saat saya datang, dan saya yakin faktor sepi ini paling menyenangkan, pantai
terasa milik anda sendiri :)
Nah ini dia tiga pantai yang membuat saya jatuh cinta pada
Belitung Timur, enjoy!
Pantai Punai
Bebatuan di area bibir Pantai Punai
Pantai Punai berada di bagian selatan Pulau Belitung, di
Kecamatan Simpang Pesak. Perlu waktu hampir dua jam dari pusat Belitung Timur,
Manggar, untuk sampai ke Punai. Untungnya saya berhasil mengejar matahari
sebelum tenggelam, jadi dapat saat masih terang dan sunset di Pantai ini :)
Perbedaan warna air laut di Punai membuat view semakin cantik :)
Menjelang sunset, saya langsung menuju batu besar yang ada pohonnya.
Di Punai terdapat batu besar dimana terdapat satu pohon
kecil di batu tersebut. Saya memanjat batu ini dan bersantai melihat sunset di
atas batu. Berbagai batuan beragam ukuran juga ada di pesisir pantai, memberi
pemandangan yang indah.
Ini view dari atas batu, pas garis lurus ke arah sunset.
Jajaran batu di area barat pantai, airnya juga jernih.
Pantai Burung Mandi
Pesisir Pantai Burung Mandi
Pesisir Pantai Burung Mandi cukup panjang, sekitar 1,5
kilometer. Di area timur pantai banyak perahu nelayan berjajar, namun pantai
ini juga sangat sepi di hari kerja.
Gagal memfoto burung akhirnya saya foto doggy ini saja :)
Tiga burung asik nongkrong di tonggak kayu
Selama saya berkeliling pantai, beberapa kali saya melihat
burung di bibir pantai, sayangnya mereka cukup gesit dan kabur sebelum saya
sukses memotret. Namun yang menarik lagi tonggak tonggak kayu yang sepertinya
bekas dermaga lama, yang kini sering dihinggapi burung :)
Ini bukan merenung galau lho :)
Pantai Bukit Batu
Bebatuan granit di beberapa area di perairan Pantai Bukit Batu
Batu besar ini dekat sekali dari bibir pantai.
Bagi saya, ini pantai terbaik di Belitung Timur, karena
sesuai namanya, di pantai ini terdapat banyak batu granit beragam ukuran. Yang
menarik lagi, pantai ini seakan akan terbagi menjadi beberapa pantai terpisah
karena bebatuan dan pepohonan yang memisahkan bagian bagian pesisir pantai,
sehingga semakin terasa seperti private beach.
Air laut disini super jernih
Pantai Bukit Batu tidak terlalu jauh dari Kota Manggar, namun pantai ini jarang dikunjungi sehingga sepi dan bersih sekali :)