Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

4 Desember 2012

, , , , , , , ,

Wisata Tambang? Seru!



Wisata tambang masih jadi istilah yang asing di telinga kita. Memang, ada beberapa tambang yang jadi lokasi wisata, misalnya tambang di Belitung Timur, namun area yang didatangi turis kebanyakan adalah tambang yang sudah tidak aktif.

Nah, bagaimana dengan tambang yang masih aktif, skala besar dan dioperasikan perusahaan besar pula? Tentunya banyak yang tidak menyangka kalau beberapa tambang aktif di Indonesia membuka diri mereka untuk didatangi turis, meski terbatas karena aturan dan kepentingan keselamatan.

Tambang Newmont Nusa Tenggara

Lokasi tambang yang saya datangi terletak di barat daya pulau Sumbawa, tepatnya di Kecamatan Jereweh dan Sekongkang di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Di area seluas 400 kilometer inilah lebih dari 600 ribu ton batuan digali setiap harinya, diproses hingga menjadi konsentrat tembaga dan emas.

Tambang Newmont Nusa Tenggara
Cerukan ini diameternya 1,5 kilometer
Lokasi yang jadi daya tarik utama di tambang Newmont Nusa Tenggara adalah lubang besar yang berbentuk seperti spiral terbalik. Area cerukan besar ini disebut pit batu hijau, dan disinilah batuan digali dan dibawa untuk diproses.

Dinamakan batu hijau karena di cerukan besar ini terdapat beberapa spot yang berwarna kehijauan dan muncul dari kandungan besi yang ada di pit. "Kandungan besi teroksidasi dengan air sehingga muncul warna hijau," ujar salah satu senior engineer di Newmont, Onny Paramitha, saat saya berkunjung ke pit batu hijau.

Tambang Newmont Nusa Tenggara
 
Tambang Newmont Nusa Tenggara
Onny Paramitha yang menemani saya ke area pit batu hijau

Cerukan ini sangat besar, jika ditarik garis lurus saja diameter pit batu hijau hingga tahun ini sepanjang 1,5 kilometer, dengan kedalaman 240 meter di bawah permukaan laut. Nah, estimasinya nanti saat semua material yang dihitung potensial menjadi konsentrat sudah habis, atau dengan kata lain di akhir pertambangan maka diameter pit batu hijau ini sudah sepanjang dua kilometer.

Aktivitas di cerukan berlangsung 24 jam, dengan pembagian shift pagi dan malam. Saat datang, ada satu area untuk memperhatikan cerukan dan aktivitas pertambangan. Disana kita bisa melihat truk truk besar yang dinamakan haul truck tampak kecil seperti truk mainan.

Haul truck Tambang Newmont Nusa Tenggara
Seperti liliput saat berfoto dengan haul truck Komatsu 830E
Padahal, haul truck ini tingginya sekitar 7 meter dan panjang 14 meter, sebesar rumah dan membuat saya merasa seperti liliput saat mendekati truk pengangkut material pertambangan ini.

Bayangkan saja, 600 ribu ton material digali setiap harinya, sehingga tidak mungkin dengan truk biasa mengangkutnya, tidak akan beres beres pastinya. haul truk ini bisa membawa beban 244 ton dalam satu kali angkut. Hmm, membayangkan menyetir haul truck ini pasti sulit sekali, seperti membawa rumah berjalan hihi.

Di pertambangan kita bisa berfoto dengan haul truck di area parkir haul truck, disini berjajar beberapa haul truck dan berjalan di antaranya membuat seperti berada di dunia raksasa :D

Tambang Newmont Nusa Tenggara
Edy Prasetya dan Willy Datus yang bersama saya mengunjungi tambang Newmont

Huge smile in front of this huge tire
Oya, untuk datang ke pertambangan mesti ingat aturan keselamatan, pastinya harus memakai perangkat pengaman seperti vest warna spotlight, helm, kacamata karena sangat berdebu dan boots, tapi tenang saja, justru perangkat pengaman itu membuat foto foto semakin keren ^^

@marischkaprue - a small person in this big travel opportunities 

Video lengkap dari wisata tambang di Newmont disini:



Thanks to:

- PT Newmont Nusa Tenggara

Notes:
- Wisata tambang Newmont terbuka untuk umum tapi jumlah dan waktu dibatasi karena kepentingan keamanan aktivitas tambang, bisa mengajukan permintaan tapi waktu akan diatur oleh Newmont.
- Untuk masuk ke area tambang tidak perlu bayar, tapi tentunya kalau sudah prosedur email permintaan kunjungan, disetujui dan diundang. Kebutuhan selama di tambang ditanggung, namun keperluan pribadi dan tiket biaya sendiri.
- Permintaan wisata ke Newmont via email ke: ptnnt.guest.relation@nnt.co.id
- Info lebih lengkap bisa tanya langsung ke Newmont lewat link ini


26 November 2012

, , , , , ,

Are These View Worth The Effort?


 
Mendaki gunung itu seperti diving, perlu waktu dan niat, kalau untuk mendaki gunung komponen tambahannya perlu kesiapan fisik. Ada satu trek pendakian yang baik untuk pendaki pemula. Alasannya: trek tidak terlalu sulit dan akses lokasi gunung yang satu ini lebih mudah karena dekat dengan Jakarta.


Di gunung Gede Pangrango saya mulai mengalami apa yang namanya naik gunung. Untungnya, sebelum pendakian saya sudah latihan fisik sekitar dua minggu sebelum, jadi tidak terlalu payah di saat pendakian.

Summit attack sejak subuh
Dulu saya selalu berpikir ngapain sih naik gunung, cape cape, menyiksa diri. Hmm, pandangan itu buyar seketika saat saya summit, saat saya menapak puncak palsu, dan puncak sesungguhnya di Gunung Gede. Just see and decide, are these view worth the effort?

View dari Puncak Gunung Gede

Di atas awan :)
View di Puncak Palsu, disini masih harus mendaki lagi tapi viewnya udah keren :)





Saya di Puncak Gede :)

@marischkaprue - know there's gonna be summit after the hard work

24 November 2012

, , ,

Interview With The Dive Junkie Producer



Nama filmnya "Langit ke 7" tapi rupanya ada adegan laut. Absurd? Hmm ngga juga sih, buat divers macam saya itu justru yang menarik langkah kaki ini ke bioskop, meskipun saya bukan pecinta film.

Ah, saya memang penikmat diving, lihat video bawah laut dimanapun pasti langsung geregetan ingin pakai BCD, regulator, pasang tabung dan cus nyebur ke laut :)

Begitu pula dengan scene diving di Langit Ke 7, meski saya sudah pernah beberapa kali diving di Tulamben, melihat video alam bawah laut yang begitu ciamik rasanya ingin buru buru beli tiket lagi dan melipir kesana. Ah, dasar divers!

Diving ini memang kegiatan yang baru mulai populer setahun dua tahun belakangan, cukup dikenal dan diminati, meski kalangannya masih terbatas karena berbagai kesulitan untuk diving, satu: budget, dua: budget, tiga: budget dan waktu. Yap, diving kegiatan yang cukup menguras uang dan perlu waktu khusus untuk trip karena tidak bisa sekilas sebentar saja seperti kegiatan lain.


Nah, saat tahu di Langit Ke 7 ada scene diving, saya langsung berpikir ini pasti kerjaannya Kemal Arsjad, producer dan managing director Lynxfilms ini memang penggila diving. Ia bulak balik Jakarta - Bali dengan excitement seperti mau ketemu pacar sampe saya sebut dia kuncennya Tulamben sangking seringnya orang satu ini diving di Tulamben.

Ada kuncen Tulamben di tengah!

Membayangkan shooting film underwater saja sudah cukup ribet, apalagi untuk film dengan talent yang sebelumnya tidak bisa diving. Ternyata semua pemain khusus di latih selam hingga punya Open Water license. "Para pemain ini mengambil course ini pada saat Bulan Puasa, saya undang Instructor dari BIDP, Mas Avandy, Mas Menyun dan Bli Kade datang ke Jakarta utk memberikan sesi Kelas dan Kolam kepada para pemain beserta beberapa Crew, Production Design, Asisten Director dan yang pasti sutradaranya Rudi Soedjarwo.. hahahahaha," Kemal menjelaskan.

Rupanya juga Rudi Soedjarwo cukup anti air alias water resistant saat diajak diving, Kemal ngajak Rudi sudah dari tahun lalu tapi belum pernah berhasil hingga mau tidak mau karena ada scene diving di proyek bersama ini jadi akhirnya belajar diving dan nyebur ke laut juga, yes!

Penasaran saya ngga cukup sampai disitu, kenapa bikin scene diving, apa tujuannya, segimana ribetnya, pokoknya kalo soal diving saya mau tau. So, setelah memaksa Kemal buat jawab pertanyaan saya, ini dia chit chat kita:

Gimana bisa kepikiran buat ada scene diving di film Langit Ke 7?

Ini berawal dari kecintaan gw terhadap dunia bawah Laut Indonesia, meskipun gw tergolong telat utk belajar diving.. gw baru mulai diving itu Juni 2011. setelah bisa diving gw hampir tiap bulan ke Bali utk diving, kenapa Bali? dengan rutinitas gw yg ga bisa "libur" lama, for me, Bali is a perfect place for "quicky" dive trip hahahahahahaah... bisa berangkat jumat malem, sabtu diving seharian, minggu pulang... :p. pernah ada satu moment, pas gw lagi duduk di pantai malem2 sambil denger suara pecahan ombak dan batu2 kerikil di tulamben... gw sempet ngayal, asik juga nih kalo disini dibikin "Love Scenes" :))))... selain itu juga, semenjak gw diving gw baru sadar, ternyata banyak banget orang Indonesia yg ga "ngeh" dengan kekayaan alam bawah Laut Indonesia, makanya gw sempet mikir, gimana supaya orang tau dan ngeh dengan kekayaan alam bawah laut Indonesia, sehingga mau utk ikut menjaga Laut Indonesia bukan malah buang sampah ke Laut... 

Tujuannya? Biar gambarnya keren? biar sekalian bisa diving pas shootingkah? (ha!)

hahahahahahaha gw yakin, pasti akan bisa dapet gambar bagus didalam Laut... kalo itu cuma "bonus" aja Prue... Tujuan gw adalah, supaya semakin banyak orang yg pengen nyoba untuk diving dan MENJAGA serta MENCINTAI Alam bawah laut Indonesia, karena kita ngga bisa mengandalkan pemerintah kita yg sudah tidak peduli, jadi kita sebagai warga Negara, wajib untuk ikut menjaga sesuai dengan batas kemampuan yang kita punya...

Seribet apakah shooting di dalem laut? Di darat kan sutradara dan produser bisa teriak teriak marah klo koordinasi kacau, kalo di laut?

Yang pasti ribet banget, karena kita semua belum pernah shooting scene diving, shoot di dive 1 lumayan "chaos" didalam, untungnya mas Avand, sang kameraman aktif untuk bergerak dan mengambil shoot2 yg memang kita butuhkan. sebelum shoot di dive kedua, akhirnya kami memutuskan utk melakukan "blocking" pemain didarat dan kita latihan dulu didarat termasuk camera movement. posisi para pemain di bantu oleh para Safety Diver dari BIDP Balidiving supaya udara para pemain bisa lebih irit. heheheheheheheheh.

Mimpi besar seorang Kemal tentang dunia diving di Indonesia?  

Diving di Indonesia bisa menjadi sebuah Industri Pariwisata yg solid, makin banyak orang yg mau diving dan bisa membuat orang Indonesia menjaga kekayaan Laut Indonesia, sehingga joke "buang ajee ke Laut" itu ngga ada lagi... :)))))

Next project? ada rencana bikin Laut Ke 7? (biar isinya diving terus hahay)

PENGEN BANGET....!!!!! gw pengen banget bisa bikin film kaya SANCTUM.... :)))) *ngayal bole yyee

Iyaa, boleh ngayal kok, next project mudah mudahan bisa selip selip atau bahkan makin banyak angkat dunia diving di Indonesia biar makin banyak yang tertarik nikmatin alam bawah laut kita yang ciamik banget :)

@marischkaprue - just start filming underwater world and excited to share the not-so-pro videos

RELATED STORIES:

23 November 2012

, , , , , ,

Dermaga Payo di Jailolo



Dua kali saya mengunjungi Jailolo, dan saya tidak pernah bosan mengunjungi lokasi yang sama di Halmahera Barat ini. Gilolo atau Jailolo bangga dengan keindahan bawah laut dan birunya bentangan air di pantai area teluk ini. Namun saya tidak perlu menyelam untuk menikmati ketenangan di dermaga yang satu ini.

Area Teluk Jailolo dilihat dari atas bukit di Gunung Manyasal
Pemandangan di tahun 2010 saat pertama saya datang ke Jailolo

Dermaga Payo sudah jadi tujuan wajib saya jika ke Jailolo. Alasannya? Disini saya merasa tenang, damai, bisa menikmati bentuk cekungan di teluk, jadi semacam teluk kecil di Teluk Jailolo.

Desa Payo berada di area barat Jailolo. Dari pusat kota Jailolo, saya harus melewati Desa Galala dan Bobanehena untuk sampai di Payo. Namun perjalanan tidak memakan waktu lama, dan pemandangan disini memang membuat waktu seakan melambat.

Tahun 2012, langit dan laut tampak lebih membiru
View dari ujung Dermaga Payo
Yang menarik, di Desa Payo terdapat sumber air panas. Jadi nama Payo pun berasal dari kata payau, karena di tepian dermaga, sumber air panas dan air laut bercampur dan menyebabkan air disana payau.

Kalau sudah disini malas kemana mana, betah :)
Ada beberapa sisi yang kalau anda pegang airnya cukup hangat, atau bahkan panas. Ah, tapi saya lebih suka menghabiskan waktu di ujung dermaga yang mengarah ke laut, untuk sekedar duduk, bengong, santai dan menikmati pemandangan indah Indonesia Timur ini :)


@marischkaprue - time always takes her traveling

Notes:
  • Jailolo ada di Halmahera Barat, untuk kesana ambil penerbangan ke Ternate, lalu dari tinggal menyeberang melalui pelabuhan Dufa Dufa di Ternate menuju ke Jailolo, sekitar 45 menit naik speed boat.
  • Setiap tahun selalu ada Festival Teluk Jailolo, sebaiknya datang di saat ada festival karena banyak acara adat dan cabaret on the sea yang seru dan menarik untuk wisatawan.

RELATED STORIES:
, , , , , ,

Road To Peace


Hidup itu siklus. Ya, perputaran yang terus terjadi dan berkesinambungan, dan sayangnya kita manusia tidak punya kuasa untuk menentukan kemana arah putaran tersebut.

Seringkali putaran hidup itu seakan lelucon yang tidak lucu, kita sering memaki Tuhan karena memberikan posisi tidak enak, membuat kita galau tingkat dewa dan resah gelisah. Dua kata, tidak enak.

Kalau saya dan teman teman berkumpul, obrolan biasanya tidak jauh dari urusan kerjaan, gosip dan pria pria di kehidupan kami. Bagaikan siklus, sosok sosok yang keluar masuk dalam kehidupan ini selalu memberi atau bahkan mengambil bagian hati dan memori kita.

Sebagian, keluar dari kehidupan kita dengan cara yang tidak enak, mengambil bagian dari hati, memberi sisa ruang kosong dan meninggalkan memori yang rasanya, pedih Jendral!

Nah kemudian kalau galau ini sudah bertahta, sulit sekali meruntuhkannya. Saya pernah mendengar seseorang berkata "Perlu waktu rata rata 17 bulan dan 26 hari untuk melewati galau karena mantan," saya bahkan menyimpan kata kata itu untuk menghitung berapa lama saya butuhkan untuk berhenti galau.

 
Dan ternyata proses itu memang panjang, saya melewati waktu dengan berbagai cara, tapi sepertinya selalu ada rasa seperti beban yang masih melekat. Kemudian saya semakin menyibukkan diri, berkelana dari satu daerah ke daerah lain, namun saat kembali ke Jakarta, same shit same story still there in my mind and heart.

Waktu bergulir, kemudian datang satu hal. Gunung. Yap, gunung dan pendakian. Sebelumnya saya sudah pernah cerita bagaimana saya akhirnya masuk dalam dunia pendakian, dan meski pemula namun saya bisa berkata saya sudah ke puncak beberapa gunung dengan upaya keras saat mendaki.

Lalu apa hubungannya gunung dengan galau? mungkin anda bertanya seperti itu saat ini. Hmm, let me say, mendaki itu penuh filosofi. Mungkin karena jalur mendaki begitu berat, summit attack atau saat menuju puncak itu penuh perjuangan.

Saat saya summit attack di pendakian terakhir, angin bertiup sangat kencang, rupanya badai (saya baru tahu saat sudah turun), badan rasanya mati rasa tapi saya terus melihat puncak dan terus bergerak naik. Yang ada di pikiran saya cuma satu, saya sudah memulai dan harus menyelesaikan ini.

Berjam jam kemudian saya ada di atas, sampai di puncak dan semua rasa lelah itu hilang. Kepuasan terbesar mendaki bagi saya bukan keindahan saat di atas meski memang luar biasa pemandangannya, tapi kepuasan melewati rintangan yang terkadang berat karena apa yang ada di pikiran kita.

Amazing feeling being on top of Rinjani
Saat saya di puncak gunung saya berkata kepada diri saya sendiri "I can get through this, I can get through anything else, bring it on God," Dan saya pulang ke Jakarta dengan rasa lega, mungkin saya sudah bisa berdamai dengan diri sendiri.

Saya bercerita ini bukan berarti kalau galau obatnya naik gunung, mungkin bagi orang lain malah semakin galau. Namun, hal hal baru dalam kehidupan bisa memberikan kita pandangan yang berbeda, mengobati apa yang tidak selesai dengan rutinitas.

So please, if you're feeling down, go out, do something new, find where your heart belong and just embrace it.

@marischkaprue - found happiness after successfully make peace with herself on top of the mountain.

*As published on Divemag Indonesia Vol. 3 No 031, October 2012

RELATED STORIES:
   

20 November 2012

, , , , , ,

Takdir dan Langit Ke 7


 
"Kamu Percaya Takdir?" Hmmm kalau ditanya itu, saya percaya takdir saya untuk kembali dan kembali menelusuri laut di Indonesia. Hubungan saya dengan diving bagaikan jatuh cinta, tidak direncanakan, mengalir dan bagaikan takdir :)

Saya bukan penggemar film, sering ketinggalan film film terbaru dan paling tidak berpengetahuan soal perfilman. Satu hal yang membuat saya curious dengan Langit Ke 7, diving. Yap, scene bawah laut yang membuat saya penasaran ingin melihat bagaimana sensasi dan keindahan bawah laut diangkat ke layar lebar, dengan kemasan film komedi romantis.

Langit Ke 7 bercerita tentang persahabatan perempuan perempuan berambut indah, yes karena ada produk shampoo yang bekerjasama di film ini. Di awal awal cerita saya tidak tergugah, karakter tokoh kurang terbangun, memang ada tokoh ribet, ada tokoh yang galau diselingkuhin pacarnya, tapi penokohan kurang terbangun.

Lalu kemudian kita membayangkan, yada yada yada nanti si tokoh utama, Dania, akan jatuh cinta dan bla bla bla. Kemudian adegan tabrakan terjadi. 

Dania masih hidup, koma, bergantung pada alat bantu pernapasan dan infus untuk tetap ada di dunia ini. Ia ada, bahkan bisa berjalan, melihat, mendengar namun tidak ada yang bisa melihat dan mendengarnya, kecuali satu, Takdir.

Denan adalah tokoh yang menarik. Awalnya saya hanya berpikir, kenapa sih pemeran yang satu ini melotot melotot terus, namun lama lama, karakter Denan membuai, dengan ekspresinya, kekonyolannya, saya harus bilang, rasa komedi romantis di film ini terbentuk karena Denan.

Ada satu hal terkait takdir di film ini. Takdir itu memang sudah digariskan, namun manusia harus terus berusaha, ada momen dimana Denan memutuskan untuk tidak menyerah, dan berusaha mengubah situasi. Takdir dan jatuh cinta justru semakin terbangun saat karakter ini bekerjasama mengubah situasi, mereka menolak pasrah dan mencari kemungkinan takdir yang lain.

Lalu soal diving? Scene diving di Langit Ke 7 sangat mempesona, kualitas gambar bisa disetarakan dengan channel dokumenter luar. Sayangnya, mata dibuai hanya sebentar saja melalui adegan diving ini. Saya mengerti, di dalam laut tidak ada naskah yang bisa diucap, cerita harus kembali mengalir di darat.

Satu hal yang saya pikirkan, judul "Langit Ke 7" ini adalah kata kata yang membuat kita mencari arti. Setahu saya langit ke 7 menunjukkan tingkatan atas, paling luar di lapisan langit, ini pengertian secara religi karena sebagian percaya setelah lapisan langit ke 7, maka disitulah Tuhan berada.

Mungkin, hanya mungkin, Langit ke 7 menunjukkan sisi dimana kita ada di tengah antara menuju tempat Tuhan, keabadian kekal, dengan just simply being mortal as human. Kondisi koma adalah situasi di tengah itu, antara hidup dan mati, saat nadi masih berdenyut namun jiwa siap ditarik dari raga.

Satu hal yang bisa menarik kita dari Langit ke 7, entah ke atas, ke tujuan akhir semua manusia setelah jiwa ditarik dari raga, atau ke bawah, kembali menapak di bumi dan menjalani hidup, berumur, menua dan menunggu waktu. Satu hal itu adalah Takdir, sehebat apapun teknologi kedokteran tak sanggup memutus takdir bila sudah digariskan, saya percaya itu.

Di Langit Ke 7, Denan adalah takdir Dania, ia adalah rantai yang mengikat Dania tetap ke bumi. Belum saatnya bagi Dania untuk menembus bagian atas Langit Ke 7, belum hingga Takdir mempertemukannya dengan cinta.

Saya rasa takdir saya untuk terus bersentuhan dengan alam :)
Kalau ditanya "Kamu Percaya Takdir?" saya akan jawab saya percaya Takdir, namun apa yang kita anggap takdir belum tentu adalah Takdir yang sesungguhnya, hingga kita berusaha dan tersadar apa yang Tuhan gariskan untuk kita.

@marischkaprue - percaya bahwa ia harus mengarungi Laut ke 7 baru kemudian bisa menuju Langit ke 7


Notes:
·     Habis nonton Langit Ke 7, jangan langsung meninggalkan kursi karena video diving yang mengiringi credit title akhir film luar biasa indah, nanti lihat ada ikan pipih (namanya Mola Mola) sedang cleaning station (membersihkan diri dimana ikan ikan kecil di sekeliling Mola Mola membersihkan ia dari jamur dan parasit).

RELATED STORIES:
 

19 November 2012

, , , , , ,

Altare Della Patria - White Beauty in Rome




Berkeliling kota Roma adalah momen memanjakan mata, terutama bagi anda pecinta arsitektur klasik. Yang menarik, setiap bangunan klasik di kota ini memiliki sejarah dan ciri tersendiri.

Saya berkeliling Roma disaat udara cukup dingin, perlu jaket tebal dan sepatu boots agar nyaman berkeliling Roma, yang sebagian besar aksesnya adalah dengan berjalan kaki. Di sela sela langkah kaki saya di kota ini, ada satu bangunan yang menarik perhatian saya. Bangunan ini bukanlah Colosseum yang terkenal, bukan juga Trevi fountain yang sering terlihat di profil Roma, namun sebuah monumen.

Ya, monumen yang kadangkala membosankan bagi saya, namun monumen ini punya daya tarik, keindahan yang membuat saya senang dan menikmati menatap warna putih tertimpa sinar matahari yang menyelubungi keseluruhan bangunan.

Tidak boleh duduk di tangga ini
Bangunan semuanya dari marmer putih
 


Tepat di depan pertigaan di Piazza Venezia terdapat satu bangunan besar berwarna putih. Arsitektur yang keseluruhannya dibangun dengan marmer putih ini lebih tepat disebut monumen, namun tentunya dengan ciri Italia.

Altare Della Patria artinya altar dari ibu bagi tanah air, namun monumen ini lebih sering disebut Monumento Nazionale a Vittorio Emanuele II yaitu monumen yang dibuat untuk mengenang Victor Emmanuel, Raja pertama yang memimpin Italia bersatu.

Victor Emanuelle II, Raja Pertama yang memimpin Italia bersatu


Lokasi wajib pose di depan kamera
Pemandangan di depan monumen
Monumen ini dirancang oleh Giuseppe Sacconi di tahun 1885 dan merupakan salah satu bangunan yang terbilang muda di kota Roma. Saran saya datanglah ke Altare Della Patria di pertengahan menuju sore hari sehingga dapat menyaksikan pergantian pasukan penjaga api abadi yang berada di tengah altar yang terbuka. Selain itu, tangga yang memanjang hingga ke altar dipadu patung besar yang merepserentasikan Victor Emmanuel serta dua sosok dewi Victoria yang semuanya dibuat dari marmer putih mempesona mata saya.

Namun di monumen ini juga ada beberapa aturan, tidak boleh berisik dan tidak boleh duduk. Beberapa kali saya melihat petugas menegur turis yang duduk di marmer putih dingin yang menutupi keseluruhan bangunan.

Masuk ke area monumen lewat pintu pagar ini :)
Altare Della Patria hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari Colosseum. Jadi, jika anda mengunjungi Roma, tidak ada salahnya berjalan sedikit ke monumen ini, melihat dan menikmati keindahan bangunan putih ini.

@marischkaprue - fascinated by Rome great history

*A piece of "When In Rome" as published on Elle Magazine Indonesia, October 2012*

Elle Magazine, October 2012
Wanna see videos from a bit of Rome?Re here some from Trevi fountain & Altare Della Patria:

 RELATED STORIES: