Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

18 Juni 2012

, , , ,

Belajar dari Copenhagen

Share


Saya sadar, membandingkan Jakarta dengan Copenhagen bagaikan membandingkan dua hal yang bertentangan. Tiba di Copenhagen, Denmark, satu hal yang pasti ditemui dimanapun, sepeda. Disaat masyarakat Jakarta berlomba membeli mobil, masyarakat Copenhagen puas dengan sepeda.

Meski bersepeda, kaum muda Copenhagen tetap bergaya. Melihat jalanan Copenhagen bagaikan melihat isi majalah fashion namun satu aksesoris yang sama, sepeda.

Kota ini resmi menjadi Ibukota Denmark sejak tahun 1417. Copenhagen adalah jembatan antara Laut Utara dengan Laut Baltik, menghubungkan Eropa dengan Skandinavia. Sejarah panjang mewarnai Ibukota Denmark ini dengan bangunan bersejarah, dan hingga kini deretan bangunan tua ini adalah kebanggaan warga Copenhagen.

Gaya bersepeda sudah sedemikian tertanam pada masyarakat Copenhagen dan bukan tanpa alasan, pemerintah memberlakukan aturan yang secara tidak langsung menumbuhkan gaya hidup bersepeda.

Menemukan area parkir mobil di beberapa lokasi di pusat kota Copenhagen sangat sulit. Selain itu, pajak kendaraan bermotor sangat tinggi. Berbagai aturan pemerintah akhirnya memaksa warga memilih transportasi lain yaitu sepeda.



Kompensasi dari pajak yang tinggi, berbagai fasilitas untuk kenyamanan bersepeda diberikan. Hampir setiap jalanan memiliki jalur khusus bagi pengendara sepeda. Jika anda bersepeda di kota ini, jangan takut dengan mobil karena sepeda selalu didahulukan oleh kendaraan bermotor.

Aturan yang diberlakukan terbukti efektif mendorong warga Copenhagen bersepeda. Total warga Copenhagen berkendara dengan sepeda sejauh 1,2 juta kilometer per tahunnya, atau setara dengan dua kali jarak bumi ke bulan. Kebiasaan bersepeda ini otomatis menurunkan emisi gas buang dan menghasilkan kualitas udara yang jauh lebih baik. Ditambah transportasi umum seperti bus dan kereta dengan sistem yang tertata baik.



Memang, jumlah warga di Copenhagen hanya sebanyak 549 ribu orang, atau kurang dari 5 persen populasi warga Jakarta. Mengatur Jakarta perlu upaya yang berbeda dengan mengatur Copenhagen.

Ah, namun saya berandai andai saja, jika calon pemimpin Jakarta nanti punya visi yang sedikit saja menyerupai misi pemimpin yang membentuk kota Copenhagen. Intinya, membuat aturan yang memberi kenyamanan. Jika pemerintah ingin mengurangi kendaraan pribadi, ciptakan sistem transportasi umum yang murah dan nyaman.

Kami penghuni Ibukota juga sudah jenuh dengan kemacetan, jika ada transportasi umum yang murah, aman, nyaman tentu kami akan beralih. Namun saat ini, katakan saja warga Jakarta tidak punya banyak pilihan, atau bahkan tidak punya pilihan.



**photos by Gandis Rahma**

1 comments:

Givendra Bravontho Saragih mengatakan...

rasanya tak akan ada pemimpin Jakarta yang punya visi untuk mengurangi kendaraan pribadi. ada banyak orang yang mendapatkan keuntungan dengan banyaknya (dan semakin bertambahnya) kendaraan di Jakarta yang pasti menghalangi.