Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

13 Agustus 2015

, , , , , , ,

It's Hard to be a Japanese: Kimono and Tea Ceremony Experience Kyoto

Share


There's something about Kimono and me. Saya selalu suka dengan kimono, baik bentuk dan pola, hingga motif kimono (atau yukata) yang bervariasi. Bahkan di perjalanan saya di Jepang sebelumnya, saya khusus mencari kimono (yes, meskipun entah kapan saya akan memakainya) untuk dibawa pulang.


There’s something about Kimono and me. I always love kimono, not only the design but also the various patterns of kimono or yukata. On my previous trip to Japan, I even made a special time on my schedule for kimono-hunting (yes, though I had no idea about wearing it) to take it home.
Mungkin karena saya tumbuh dengan ditemani banyak kartun Jepang yang mengenalkan budaya Jepang sehingga banyak hal-hal yang menempel di benak saya, termasuk pakaian khas Jepang ini.

Growing up with those Japanese cartoons included the culture in my daily life, made me keep all in my memory, also this Japanese traditional clothes.
Kyoto adalah salah satu kota dimana dengan mudah kita dapat berpapasan dengan orang-orang yang mengenakan kimono, baik itu warga lokal Kyoto, turis domestik Jepang maupun turis mancanegara yang membeli atau menyewa kimono.

Kyoto is a city where we easily could see people wearing kimono, either the local people of Kyoto or Japanese domestic and foreign tourists who buy or rent kimono.


Untuk pengalaman yang berbeda saya mencoba kimono experience yang digabung dengan upacara minum teh ala Jepang di Wak Japan yang berada di daerah dekat Karasuma Oike. Di sini kita dapat mencoba menggunakan kimono yang kita pilih sendiri dan langsung ikut dalam upacara minum teh tradisional.


For the sake of having a new thing, I tried kimono experience which combined with traditional tea ceremony of Japan at Wak Japan, located near the Karasuma Oike area. Here we could try to wear kimono that chosen by ourselves and join the traditional tea ceremony.
 


Kimono yang ada ternyata sebagian besar merupakan koleksi pribadi Mieko Nomura, pemilik Wak Japan. "Ini diturunkan dari nenek saya langsung," ujar Mieko menunjuk koleksi kebanggaannya. "Kimono asli berbeda dari segi bahan, pola maupun motif, sekali melihat saya bisa langsung tahu kimono asli atau buatan Cina," ujar Mieko menambahkan. Rupanya kimono kw juga menginvasi Jepang :)


Most of kimonos are private collection of Mieko Nomura, owner of Wak Japan. “All of these are the heritage from my grandmother,” Mieko showed her collection proudly. “What makes the original kimono is different are the material, pattern, and design. In a blink of eye, I can tell which one is original or made in China. “ added Mieko. Apparently, dummy kimono also hit Japan :)
 




Saya memilih kimono biru dengan motif mencolok dan memadukannya dengan obi (semacam belt yang cukup lebar) berwarna merah. Rupanya memakai kimono tidak sederhana. Kita harus menggunakan kain dalaman, memasang dengan benar dan mengikatnya, baru kemudian dilapis dengan kimono dan obi. Rambut saya pun disanggul sederhana agar cocok dengan kimono yang saya kenakan.

I chose blue kimono with a contrast pattern and added a red obi (kind of a big belt). Wearing kimono was not that simple. We had to wear an inner clothes properly and tied it up, then covered it with kimono and obi. I also had my hair in a simple bun to make it match with my kimono.



Jika sudah terbiasa dengan pakaian modern, menggunakan kimono tidak terasa nyaman. Selain cukup berat, kimono dipasang sangat ketat dengan badan, terutama di bagian obi. Berjalan dengan kimono pun harus pelan-pelan jika belum terbiasa.


Those who are used to wearing modern clothes, surely would feel uncomfy with kimono because besides quite heavy, kimono was fitted so tight to our body, especially the obi. For newbie, walking with kimono also should be slowly and carefully.

Dengan memakai kimono, saya kemudian ikut upacara minum teh di ruangan tradisional Jepang dengan sekat-sekat pintu dan jendela yang terbuat dari kertas di depan taman yang menyenangkan. Dalam upacara minum teh seharusnya kami duduk bersila, namun karena kebanyakan turis tidak kuat duduk dengan posisi sila menggunakan kimono yang sangat ketat, mereka menyediakan kursi kecil untuk kami duduk selama upacara minum teh.
By wearing kimono, I joined tea ceremony in Japanese traditional room, which the partitions of door and window are made of paper, in front of a nice park. In the tea ceremony, we should sit in cross-legged position, but since most of the tourists can’t stand with that, due to the tight kimono, so they let us use a stool to sit during the tea ceremony.


Selain sejarah teh di Jepang, saya jadi tahu beberapa hal menarik saat upacara minum teh ini seperti gelas yang harus diputar setelah dituang, agar motif dalam gelas menghadap tamu, ini dilakukan untuk menghargai tamu yang akan meminum teh.

Not only about the tea history in Japan, but I also got some interesting knowledge while having tea ceremony, like a glass should be turned after filling so that the pattern inside the glass could face the guest, in order to respect the guest who was going to drink the tea.

Selain itu, bagi mereka yang menjadi tamu juga ada aturan tata krama, yaitu menyeruput teh dengan suara keras saat menghabiskan sisa teh. Tujuannya untuk memperlihatkan bahwa kita menyukai rasa teh yang disajikan. Hal yang unik karena di banyak negara lain, menyeruput dengan suara keras justru dianggap tidak sopan.

For the guests, there was also a rule concerning to the manners, which was sipping the tea loudly till the last sip. It was to tell them that we like the taste of the tea. Surely such a unique way to tell, since in many countries sipping loudly can be mistaken as a rude thing.


One thing I learn is things is not as simple as it may look and may not as comfortable as it might seems. But still, you gotta try the kimono and take some shots as a souvenir :)

@marischkaprue - she's more of a coffee person but won't say no to a nice ocha
NOTES
Where
Wak Japan, 761 Tenshu-cho, Nakagyo-ku, Kyoto 604-0812. T: 81(0)75-212-9993, email: welcome@wakjapan.com

How to Get There
Stasiun terdekat adalah Karasuma Oike Station (Karasuma Line, Tozai Line) atau Marutamachi Station (Karasuma Line), bisa dilanjut dengan berjalan kaki atau naik taksi (¥700 - ¥800)


The nearest station is Karasuma Oike Station (Karasuma Line, Tozai Line) or Marutamachi Station (Karasuma Line), then taking a walk or get a cab (¥700-¥800)

Price
¥7.800 per orang, jika peserta dua orang atau lebih menjadi ¥5.800 per orang. Booking minimal satu hari sebelum melalui email atau telp.


¥7.800 per one person. Two persons or more, the price becomes ¥5.800 per one person.
Kindly have a booking in advance, at least one day, by email or phone.
Durasi/ Duration: 1 jam/ 1 hour

4 comments:

Tetty Hermawati mengatakan...

omaygad,, kapan aku kesanaaaa...

fanny fristhika nila mengatakan...

dan selama ini aku pikir pake kimono itu nyaman krn terlihat longgar ;p..ga nyangka makenya serumit itu ;D

Afrizal Abdi mengatakan...

Pernah liat juga sih betapa ribetnya pake kimono, ga bisa dibayangin pas pake di musim dingin tatkala kainnya lebih tebel dari yukata ._.

JalanBareng mengatakan...

Ribet juga ya mau minum teh mesti upacara dulu, gak bisa pake gula sama es pula..
Masukin wishlist ah..