Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

11 Januari 2013

, , , , , , , , , , ,

Pesawat Perang Dunia II di Dasar Laut Morotai

Share


Bagi saya setiap penyelaman hampir selalu menarik, ada hal baru yang ditemukan meski terkadang ada beberapa penyelaman dimana saya merasa tidak puas dengan apa yang saya temui di bawah laut.

Namun lokasi yang akan saya ceritakan ini dijamin tidak akan membuat penyelam tidak puas. Mengapa? karena apa yang saya temui di kedalaman 40 meter di bawah laut adalah sepenggal bukti dan kisah sejarah Perang Dunia ke II.

Datanglah ke Morotai, pulau di ujung utara Maluku. Bagi saya perjalanan ke Morotai cukup panjang, dari Jakarta ke Ternate, menyebrang ke pulau Halmahera, menyeberang lagi ke Pulau Morotai. Meski Morotai memiliki tujuh landasan pesawat, namun penerbangan ke Morotai tidak selalu ada.

Meski panjang dan melelahkan karena semua peralatan selam yang kami bawa, perjalanan ini bagaikan ekspedisi yang selalu membuat kami bersemangat karena ada satu tujuan kami, mendata dan mengetahui persis jenis pesawat yang ada di dasar laut Morotai. Yap, bangkai pesawat adalah tujuan kami, dan bukan sembarang pesawat, burung besi yang kini menjadi penghuni laut Morotai adalah saksi sejarah Perang Dunia ke 2 di utara Maluku tersebut.

Karena letak strategisnya, Morotai pernah menjadi pangkalan pasukan Divisi VII Angkatan Perang Amerika Serikat yang tergabung dalam tentara Sekutu. Panglima Perang Pasifik AS saat itu, Jendral Douglas McArthur mengatur Morotai sebagai pangkalan militer terbesar di wilayah Pasifik. Tidak tanggung tanggung, tujuh landasan dibangun untuk mengakomodir 3.000 pesawat tempur yang bergantian datang untuk menyerang Jepang dengan target menguasai Filipina terlebih dahulu.

Di depan foto foto yang menunjukkan situasi Morotai saat PD II

Bekas truck militer ini ada di tengah kebun di banyak lokasi di Morotai
Usai perang, berbagai tank, truk, pesawat tempur dan bomber tergeletak di pulau mungil di ujung Maluku Utara ini. Waktu berlalu dan sebagian sisa sejarah ini dipereteli penduduk untuk diambil besinya, sementara, sebagian lagi terkubur di dasar laut. Inilah yang kami cari dalam ekspedisi saya di tahun 2010 lalu.

Penyelaman ke bangkai pesawat adalah penyelaman yang harus sangat direncanakan dengan baik. Mengingat kedalaman pesawat ada di 40 meter, maka waktu di bawah akan sangat terbatas. Firman, dive guide saya saat itu sudah membawa extra tabung untuk safety stop kami.

Saya dan Edy Pras
Sebelum menyelam
Menuruni tubir karang perlahan
Setelah perhitungan, kami hanya mempunyai waktu 9 menit saja jika sudah memasuki kedalaman 40 meter, waktu yang sangat singkat untuk mengamati semua pesawat, namun untuk prosedur keamanan maka kami setuju dengan batasan waktu tersebut.

Mengukur bagian kendaraan militer

Banyak sekali peluru berserakan
Sekitar 50 meter dari tubir karang kami mulai menyelam. Saya yang hanya membayangkan pesawat saja, langsung terpesona dengan apa yang saya dapatkan di kedalaman 15 meter. Ban kendaraan perang, kemudi truck, dan bahkan peluru berserakan di antara pasir dan karang, saya mengamati dan asik mencari perlahan sisa sisa peninggalan PD II tersebut.

Di Kedalaman 20 meter sudah ada beberapa truk militer

Bentuk truk ini masih terlihat jelas, bahkan ban pun masih melekat.
Kemudian kami semakin menuju ke dalam dan di 20 meter saya dapat melihat jelas truk militer yang masih dalam bentuk utuh, benar benar seru. Dan, di kedalaman 20 meter pula saya melihat samar samar bayangan hitam besar, bayangan pesawat! Saya langsung merasa seakan badan saya ditarik ke arah benda hitam tersebut, adrenalin rasanya langsung melonjak, saya tidak dapat menahan rasa penasaran saya untuk melihat lebih dekat.

Di antara bangkai peralatan militer PD II

Badan dan sayap pesawat terlihat jelas
Semakin dekat, saya bisa semakin melihat jelas. Meski posisi pesawat terbalik, terlihat jelas badan dan sayap pesawat dengan kondisi yang cukup utuh. Firman memberi kode ke Edy Pras yang bersama saya saat itu. Mereka langsung mengukur rentang sayap dan panjang badan pesawat. Kami hanya punya 9 menit untuk mengambil gambar sekaligus mengambil data pesawat.

Terlihat besarnya pesawat, foto courtesy Indonesia Dive Directory
Rentang sayap pesawat sekitar 20 meter, dan panjang badan 14 meter. Berdasarkan ukuran ini, kami meyakini kalau pesawat yang kami ukur adalah jenis Bristol Beufort, pesawat pengebom Australia yang dahulu digunakan untuk menyerang kapal perang Jepang saat PD II.

Tidak hanya satu kapal, di kedalaman kami menyaksikan beberapa pesawat bertumpuk, memang perlu beberapa saat untuk menyadari bentuk pesawat yang bertumpuk tersebut. Saran saya, diamlah di satu titik dahulu untuk melihat jelas bentuk pesawat secara lebar, baru mulai berkeliling bangkai pesawat untuk melihat detail struktur saksi perang dunia kedua itu, dijamin jadi pengalaman yang sangat luar biasa :)

Usai diving, makin tan kulit saya :)
@marischkaprue - make a journey, not war

***All photos by Edy Prasetya***

Thanks to:
  • Firman, the emotional diver yang seru dan lucu abis :)
  • Edy Prasetya, mentor saya yang banyak banget ilmunya, thanks udah banyak kasih info berupa cerita yang menarik.
  • Popo Nurachman, underwater camera person yang tenaganya ngga pernah abis abis.
  • Kang Adit yang seru pisan euy!
PS:
  • Jangan pernah mengambil apapun yang kamu temukan di laut ke darat, peluru yang banyak banget itu jangan diambil satupun, jika satu divers mengambil satu peluru nanti lama lama habis dan keseruan diving di Morotai akan berkurang, artinya kita merusak potensi wisata selam disana, jadi please jadi diver yang bijak :)
  • Yang mau trip juga ke Morotai bisa hubungi Adita Agoes untuk nanya budget dan cara kesana, lewat account twitternya @kaleumm

10 comments:

Jojo mengatakan...

exploring didasar laut ada berasa semacam angker ngga seperti halnya di darat, secara melihat dari jarak dekat sisa2 perang dunia II,,,, terus merinding bulu kuduknya gimana ya?!

Apriell coll mengatakan...

Wow

Taufiq mengatakan...

wow kerenn banget tuh...

edypras mengatakan...

Penyelaman paling menarik yg pernah gw lakukan.

yusliana mengatakan...

Gila kereb banget sumpahhhhhhhh

Ninno Emanuel mengatakan...

Wih keren banget nih, bisa eksplorasi bawah laut morotai yang melegenda itu
Kapan yah baru bisa menyelam di Morotai dan lihat sisa-sisa perang dunia II disitu?

kediriers over seas mengatakan...

wow koordinat berapa nih sist... dive wreck terakhirku di sultra 2 tahun lalu...kapal IJN 1939

kediriers over seas mengatakan...

wow koordinat berapa nih sist... dive wreck terakhirku di sultra 2 tahun lalu...kapal IJN 1939

SPAC mengatakan...

ka bagi itinerary dong, kek'a tertarik dh ke sana, ato sama kontak kawan2 di sana,
bisa kirim email ke baiyie.scot@gmail.com

BELAJAR BAHASA mengatakan...

Morotai Maluku adalah bekas Pangkalan Udara Jepang saat perang dunia kedua