Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label Kabul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabul. Tampilkan semua postingan

4 September 2013

, , ,

These Things also Happen in Afghanistan



Konflik, perang, kerusakan, ekstrimis, semua hal yang buruk seakan melekat pada nama negara yang satu ini. Saya memang tidak menghabiskan banyak waktu di wilayah ini, namun ada banyak hal yang cukup normal dan juga ada di Afghanistan. Here we go..

Conflict, war, destruction, extremist, all the bad things attached to the name of this country. I didn't spend much time in the region, but there are a lot of things which quite normal in Afghanistan. Here we go ..

1. Santa Claus


Bukan Santa Klaus pada umumnya, a moslem "Santa Claus" tapi saya tetap suka :)

Well, not the usual Santa, a moslem "Santa Claus" but I still like him :)

2. Gym


Bahkan disaat dunia seakan kacau balau dan perang terjadi di sekeliling, anda masih dapat membentuk tubuh dan bahkan menelepon pelatih pribadi saat dibutuhkan.

You know even when the world turned upside down and maybe war happen in your neighborhood, you still gotta get some shape on your body. You can call your personal trainer also.

3. American Soda

We all know it is Sprite

Cola in arabic
Coca Cola, Sprite and Fanta. Tidak beralkohol dan halal.

Coca Cola, Sprite and Fanta. It's non alcoholic and halal.

4. Breast Cream


Display ini saya temukan di Bush Market di Kota Kabul, tidak tersembunyi dan diletakkan di pojok namun semua dapat melihat ini dari dekat.

Found these display on Bush Market in Kabul, not hide on the corner, you can see this from the outside.

5. Afghan Fried Chicken


Tidak yakin bahwa ini sehat tapi memang lezat.

I'm not sure if it is healthy but it is tasty!

6. Jas Jus


Dikirim jauh dari Indonesia dan rupanya masyarakat Afghanistan menyukai minuman ini juga.

Shipped a long way from Indonesia, and people in Afghan loves it too.


7. Youtube


Bukan Youtube yang anda tahu tapi siapa perduli? Saat di Kabul semua hal tampak menarik bagi saya.

Well, not the typical Youtube, but who cares? When I'm in Kabul, everything seems interesting


8. Elvis



Saya memanggilnya Elvis dan ia tampak menyukainya. So Elvis had left the building and became a Kabul citizen.

I called him Elvis and he seems to like it. So Elvis had left the building and became a Kabul citizen.

9. Male model


Petugas di sebelah saya berpose jauh lebih baik dan saya berasumsi ia adalah model (atau setidaknya punya potensi berkarir di dunia modeling)

The officer do the pose better than me so I assumed he is (or at least have the potential to be) a model.

The view on the outskirts of Kabul, Aghanistan
Afghanistan memiliki kontur dan landscape pegunungan yang indah, semoga suatu saat saya dapat kembali kesana untuk mengeksplorasi bagian bagian lain dari negeri ini, tentu saja disaat situasi jauh lebih baik. Let's say Amen!

Actually Afghanistan is a nice place with beautiful scenic mountain, hopefully one day I'll explore more, of course when the situation is way better. Let's say Amen!

 @marischkaprue - spent only two weeks in Afghanistan, not as hardcore as you think.

RELATED STORIES:

4 Juli 2013

, , , , ,

Istana Darul Aman, Saksi Perang di Afghanistan



Ironi adalah saat nama dan kenyataan bertentangan. "Darul Aman" artinya "tempat tinggal yang damai," namun Istana Darul Aman justru menjadi saksi konflik tiada henti yang terus terjadi di Afghanistan.


It's irony when the name and reality is far way different. "Darul Aman" means "peaceful place to live," but the Darul Aman Palace became a witness of endless conflict that continues to happen in Afghanistan. 
You can see the neo classic european style on its pillars and window


Dibangun di tahun 1920 oleh Raja Amanullah Khan, Istana Darul Aman mengadopsi gaya neo klasik eropa. Bangunan yang terletak sekitar 16 kilometer dari kota Kabul, Afghanistan ini adalah bagian dari cita cita Raja Amanullah Khan, atau yang juga disebut Amannallahan untuk memodernisasi Afghanistan dimana Istana ini seharusnya menjadi pusat parlemen yang direncanakan oleh Raja Amanullah Khan.

Built in the 1920s by King Amanullah Khan, Darul Aman Palace adopt neo-classical European style. Located about 16 kilometers from the city of Kabul, Darul Aman Palace is a part of King Amanullah Khan's dream to modernize Afghanistan. The palace is supposed to be the center of the planned parliament by King Amanullah Khan whom also called Amanallahan.
 
The view from the Palace
Namun kekuasaan Amanullah Khan tidak bertahan lama, pihak konservatif Afghanistan menggulingkan Amanullah dari kekuasaannya dan tidak lama berselang Istana Darul Aman terbakar di tahun 1969. Upaya rekonstruksi dilakukan di tahun 1970 namun di masa pendudukan komunis Istana Darul Aman kembali dilahap api.

But the power of Amanullah Khan didn't last long, Afghanistan conservatives overthrew Amanullah from power and not long after Darul Aman Palace burned in 1969. Reconstruction efforts carried out in 1970 but during the communist occupation, Darul Aman palace caught on fire again.

Darul Aman Palace is badly damaged now

Its in the end of winter days so I still have to wear warm jacket
Kerusakan bangunan ini kembali meluas saat gempuran Mujahiddin di tahun 1990 dalam upaya merebut Kota Kabul, dan di tahun 2012 oleh serangan Taliban. 

The damage widespread when the onslaught of Mujahideen happened in 1990 in an effort to seize Kabul City, and also again in 2012 by Taliban attacks.



Kini, Istana Darul Aman luluh lantak. Yang tersisa adalah bangunan yang terlihat rusak hampir di seluruh sisi. Namun bentuk utama bangunan yang bergaya klasik eropa ini masih terlihat. Lengkungan dan pilar pilar masih bertahan meski rentetan lubang serangan peluru memenuhi dinding dinding bangunan.
 
Now, Darul Aman Palace was badly destroyed. What remains is a building which looks damaged in almost every side. However, the main form of classical European-style buildings are still visible. Arches and pillars still survived even though you can see bullets holes covered the walls.

Bullets hole are everywhere in this building
Di bagian dalam pun tangga menuju ke lantai atas sudah tidak dapat diakses, sebagian lantai atas bangunan runtuh dan sudah tidak stabil. Meski tidak berfungsi lagi, tentara Afghanistan masih terus menjaga lokasi ini agar tidak menjadi tempat persembunyian Taliban. 

Inside the building, the staircase leading to the upper floor isn't accessible anymore, some floors of the building collapsed and isn't stable. Although Darul Aman Palace isn't functional anymore, the Afghan army continues to guard this location to prevent this location from being a Taliban hideout.
 


They are actually nice
Istana Darul Aman kini jadi bukti sejarah perang dan konflik menahun yang terus terjadi di Afghanistan, entah hingga kapan.

Now Darul Aman Palace became historical evidence of  last long chronic wars and conflicts in Afghanistan, and who knows when it's gonna be over.

@marischkaprue - her abode of peace is everywhere in this earth, everywhere she goes during her trip.

 See the video from Darul Aman Palace here:



RELATED STORIES:

11 Oktober 2012

, , , , , , , , , , ,

Hamshi, The Little Girl From Kabul



Kabul Afghanistan
Suasana di Kabul, Afghanistan


Hampir lima tahun hidup saya berubah dari manusia normal yang tinggal di kota besar menjadi seseorang yang punya kesempatan berkeliling melihat banyak lokasi, banyak masyarakat, melihat dari berbagai sisi kehidupan.

Sejak bekerja sebagai jurnalis, saya memang banyak berkeliling, mulai dari liputan di tempat mewah, ketemu pejabat hingga pemulung, masuk hotel bintang lima hingga ke daerah kumuh.

Seringkali ada beberapa momen yang menyentil hati saya, membuat saya sadar untuk terus mensyukuri hidup, menyadari berapa beruntungnya saya sebagai manusia dan masih banyak yang kehidupannya tidak dapat kita bayangkan jika harus kita alami.

Tahun 2011. Saya dan tim dari Metro Tv melakukan peliputan ke Afghanistan, tidak lama, hanya sekitar dua minggu kami berkeliling area Kabul, Ibukota Afghanistan. Akan cukup lama jika saya menceritakan kondisi disana saat itu, mari langsung ke satu daerah yang berjarak sekitar enam kilometer dari pusat kota Kabul.

Char-i-Kambar
Rumah rumah pengungsian dari material seadanya


Afghanistan
Anak anak di Afghanistan

Char-i-Kambar adalah area pengungsian di pinggiran kota Kabul. Disini bernaung sekitar 900 keluarga dengan fasilitas seadanya. Sebagian besar pengungsi berasal dari daerah rawan di bagian selatan Afghanistan, mereka memilih hidup di pengungsian karena khawatir dengan konflik yang terus terjadi di daerah asal mereka. Saat saya masuk ke area ini, puluhan anak kecil langsung mengerubuti kami, meminta uang. Fixer* kami saat itu, Qadir, langsung mengusir anak anak tersebut dalam bahasa lokal.

Mata saya langsung melihat area yang seperti tertutup pasir, bangunan yang ada benar benar dibuat dari pasir dan tanah seadanya. Mereka bahkan tidak menggunakan semen untuk membuat bangunan disana. Wajar saja, semen darimana, dan kalau adapun harganya pasti mahal.

Kami berkeliling sambil terus mencari tahu berbagai hal, dengan Qadir sebagai penerjemah kami. Nah, di satu "rumah" pengungsian, saya masuk, sudah ada Qadir di dalamnya. 



Bangunan ini tidak seperti rumah, hanya tembok dari pasir setinggi dua meter, dan di dalamnya ada ruangan kecil seperti gua, tanpa pintu dan hanya ditutup kain. Di ruangan inilah mereka tidur dan beraktivitas.

Ada satu anak perempuan, Hamshi, umurnya sekitar 6 tahun. Saya minta Qadir bertanya pada dia, apa yang ia harapkan mengingat situasi yang masih cukup tegang di Afghanistan. "Tidak ada" hanya itu jawaban dari anak bermata biru tersebut.

Saya yang tidak puas dengan jawabannya kembali meminta Qadir bertanya. Hamshi menjawab panjang, saya harus menunggu Qadir menerjemahkannya untuk saya. Dan apa yang dikatakan Qadir kemudian sangat menyentuh hati saya.

Hamshi, dalam enam tahun hidupnya, tidak pernah keluar dari pagar rumahnya. Kalau saya hitung, ia hanya bisa bergerak di area seluas 3 x 5 meter. Tidak pernah tahu apa yang ada di luar, bahkan di luar rumahnya, bahkan untuk bertemu sesama pengungsi yang ada di tempat yang sama.

Di Afghanistan, masih ada beberapa orang yang melakukan aturan yang bagi saya sangat menyiksa Hamshi. Karena ia adalah anak perempuan, ia tidak boleh keluar dari rumahnya. Sejak lahir ia terus ada disitu, hanya berinteraksi dengan keluarganya, hanya bisa memandang langit yang kadang biru, kadang mendung, kadang berawan dan kadang hujan. Ia tidak tahu ada jalanan yang beraspal, ada mobil di luar sana, ada birunya sungai dan hijaunya pohon.

Pantas saja ia menjawab "tidak ada" untuk pertanyaan saya. Bagi Hamshi, hidup memang seperti itu, sejak lahir. Ia tidak tahu ada sesuatu di luar sana, dan jika ia tidak tahu tentu ia tidak bisa menginginkan sesuatu yang ia tidak ketahui.

Saya benar benar tidak dapat membayangkan hidup seperti itu. Apa yang ia lakukan setiap hari? menatap langit? sampai kapan? Tuhan memberi keindahan yang luar biasa, dan ia hanya bisa melihat di ukuran 3 x 5 meter dengan dinding pasir. Ingin rasanya saya protes pada Tuhan, kenapa anak ini bisa punya kehidupan seperti ini, ia tidak salah apa apa dan harus hidup di dalam kotak.

Namun, bagi Hamshi, kehidupan yang ia jalani bukan kehidupan yang ia keluhkan. Baginya, hidup normal seperti itu, ia bisa tersenyum, bercanda dengan keluarganya meski dari kacamata kita, hidupnya sangat menderita.

Sedih rasanya tidak bisa melakukan apapun untuk gadis kecil ini. Kami hanya bisa memberi uang seadanya yang menurut saya juga tidak akan berpengaruh bagi kehidupannya.

Saat saya ada disana saya sedih dan kesal. Namun, ini mungkin satu momen untuk membuka pikiran, untuk menyadari. Betapa beruntungnya saya sebagai manusia, bisa melihat dunia, bisa berkeliling, bisa tahu lebih dari apa yang ada di dalam kotak.

Afghanistan team
Pak Tohir (driver di Kabul), saya, Desi Fitriani dan Qadir

Setiap saya mengalami masa buruk di hidup saya, I realized that Hamshi experienced worse than me. Memang di atas gunung masih ada langit, agar kita terus punya tujuan, namun di bawah bumi yang kita pijak, ada sisi lain di bawahnya. Dengan melihat apa yang terjadi dan dialami manusia lain, kita diingatkan untuk terus bersyukur, memiliki nasib yang lebih baik, dilahirkan dengan kondisi dan keadaan yang lebih baik, dan terutama bersyukur karena masih punya pilihan dalam hidup.

@marischkaprue - trully blessed


You can see our coverage video here, but no story and pictures of Hamshi:

 

 The refugees in Afghanistan, reporter: Marischka Prudence, cameraperson: Sadudin Mukhlis


*Fixer adalah orang lokal yang kami sewa jasanya untuk membantu kami dalam peliputan, juga sebagai penerjemah