Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

20 Juni 2012

Humanely emotional




Pernah merasakan marah yang meledak ledak? Kita tidak bisa menahannya dan akhirnya keluar begitu saja dalam hitungan detik?

Dan kemudian beberapa jam berlalu kita mulai menyesali amarah dan ledakan emosi tersebut, berharap kita melakukan hal yang lebih bijak dan membayangkan opsi opsi penanganan emosi yang lebih elegan di kepala kita. Namun, semua sudah terjadi, amarah dan emosi sudah keluar dan akan diingat oleh pihak yang ada saat itu.

Saya sendiri sering mengalami itu, entah karena memang saya tipe yang cukup emosional dengan hormon yang naik turun layaknya sebagian perempuan lain sehingga ada istilah "When hormones took over, no argument will win."

Artikel tentang menahan ledakan emosi ini sering berseliweran di majalah, website, apapun itu. Tips dan trik untuk melawan stimulasi emosi yang akan menguasai apa yang kita lakukan sudah berulang kali dibahas.

Ah, bagaimanapun juga kita manusia yang terus belajar, dari hal sekecil apapun, dan dari kesalahan sebesar apapun. Bayangkan dunia tanpa emosi, bayangkan semua orang dapat menghadapi masalah dan emosi dengan elegan, tanpa drama.

Saya selalu merasa setiap hal kecil dalam langkah saya adalah garis di perjalanan. Mungkin kadang garis itu sedikit berbelok, atau kita harus berputar balik. Ledakan emosi juga berguna untuk memberi kita ruang kelegaan, layaknya buang angin kalau ditahan terus juga tidak enak, meski kalau dikeluarkan bisa bikin yang ada di situ tutup hidung dan sebal.

Lalu analogi kentut ini jadi cukup nyambung. Bayangkan kita sudah ingin buang angin, layaknya emosi terpendam yang harus dikeluarkan. Solusinya, kembali ke analogi buang angin, lalukan di tempat yang "aman dan nyaman." Aman dalam arti tidak akan memberi konsekuensi yang berat bagi kita, lakukan di lokasi yang sedikit atau tidak ada orang, senyaman mungkin bagi anda mengekspresikan diri.

Jika di tengah keramaian tiba tiba ada masalah yang membuat anda ingin meledak ledak, cari wc terdekat, menangislah disana, kalau mau teriak, teriak disana saja, setidaknya yang kebingungan dan menatap aneh hanya yang ada di sana, istilahnya minimalisasi dampak.

Banyak manusia manusia elegan yang terlihat tidak punya emosi, selalu berupaya terlihat baik dan tidak mau menunjukkan amarah meski menurut saya mereka layak memperlihatkan emosi di situasi tertentu. Mungkin mereka memang diberkati kemampuan seperti itu, tapi menurut saya dengan adanya momen momen ledakan emosi kita jadi berpikir sejenak setelah emosi itu reda. Syukur syukur kalau kita bisa belajar dari hal itu.

Manusia tanpa emosi itu hampa, individu tanpa kesalahan itu surreal. Saya memilih untuk jadi manusia yang punya otak, punya hati dan kadang yang satu mendominasi yang lain secara bergantian.

From every step we've been through, there are footsteps to learn about.



@marischkaprue - emotionally active, emotionally learning.
, , , , , , ,

The Last Judgement, Karya Galau Michaelangelo

Hasil foto colongan pake handphone

Sistine Chapel atau Kapel Sistina. Bagi anda yang pernah membaca "Angels & Demons," nama ini sudah tidak asing lagi. Berlokasi di Vatikan, Italia, Sistine Chapel adalah area suci di lingkungan Istana Apolistik, yaitu kediaman resmi Paus di Vatikan.

Sistine Chapel dikenal karena bangunan ini menjadi kanvas bagi karya seniman seniman besar di masa Renaissance seperti Raphael, Sandro Botticelli hingga Michaelangelo.

Meski dibuka untuk publik dan turis, Sistine Chapel dijaga ketat dengan berbagai aturan. Sebelum masuk saya berharap dapat melihat ruangan terang dengan warna fresco (lukisan di dinding) karya besar Renaissance yang terlihat jelas. Namun saat masuk yang kami saksikan adalah ruangan dengan cahaya yang terbatas.

Di area Sistine Chapel mengambil gambar dilarang keras. Di berbagai sudut dan area kapel ini sejumlah petugas terus menegur turis yang terlihat akan mengambil foto dengan kamera pocket. Namun hal itu tidak menghentikan saya berupaya mengambil gambar karya besar Michaelangelo tersebut, diam diam saya ambil gambar dengan kamera telepon genggam. Kemudian saya langsung memandang ke atas, langit langit Sistine yang dihiasi karya Michaelangelo.

Di langit langit ini, Michaelangelo menggambarkan kisah kisah Perjanjian Lama di Alkitab. Fresco yang dibuat Michaelangelo di masa muda memperlihatkan kejelian, struktur yang rapi dan ketelitian dalam karya.

Namun, yang sangat mempesona saya adalah karya di dinding altar Sistine Chapel. Ketidakteraturan dan guratan emosional terlihat jelas dalam karya ini. Sejarah seni mencatat karya di altar ini, yaitu "The Last Judgement" sebagai karya besar dari seorang Michaelangelo, dan saya dapat memahami alasannya.

Perlu empat tahun pengerjaan tanpa henti oleh seorang maestro seni seperti Michaelangelo untuk menyelesaikan "The Last Judgement." Fresco ini memperlihatkan ratusan sosok manusia dalam posisi yang tidak teratur. Lukisan ini menggambarkan hari penghakiman terakhir atau hari kiamat. Sebagian ekspresi sosok dalam lukisan terlihat ketakutan, ada aura yang memperlihatkan sosok yang ada dalam kegelisahan, di hari penghakiman terakhir.

Di masanya, karya ini dikritik keras. "The Last Judgement" dipandang sebagai karya yang hanya memperlihatkan gaya personal Michaelangelo tanpa memberikan inti dari apa yang diharapkan pihak gereja saat itu.

Bagi saya, melihat "The Last Judgement" akan sangat menarik jika anda membandingkan dengan lukisan di langit langit yang juga dibuat oleh Michaelangelo. Lukisan di langit langit Sistine dibuat saat Michaelangelo masih muda. Saat itu ia masih melihat kehidupan sebagai rangkaian perjalanan yang indah. Keteraturan, keindahan adalah komponen utama mental dan visi Michaelangelo saat membuat karya pertamanya tersebut.

Namun kemudian Michaelangelo melihat dunia tidak bergerak layaknya keindahan seni. Perebutan kekuasaan, perang, hingga jatuhnya Roma di tahun 1527 berpengaruh besar bagi psikologis karya Michaelangelo.

"Dunia tidak seperti apa yang diharapkan, Michaelangelo melihat kelamnya sejarah, ia kecewa, ia gelisah," ujar tour guide saya, Carmella saat menemani saya berkeliling Vatican.

Saya dan Carmella berupaya menelaah sisi psikologis Michaelangelo hingga menghasilkan karya yang begitu fenomenal. Kami sampai pada kesimpulan bahwa Michaelangelo sangat emosional dalam pengerjaan "The Last Judgement," guratan garis, ekspresi sosok dalam karyanya hingga keseluruhan yang kelam secara implisit memperlihatkan kegelisahan Michaelangelo pada kenyataan dunia.

Pada akhirnya saya tidak mau banyak berspekulasi apakah Michaelangelo benar benar galau karena kenyataan peperangan atau situasi kehidupannya saat itu. Yang pasti, karya karya besar sepanjang masa selalu merupakan karya yang dibalut emosi. Satu hal yang saya percaya, pergolakan emosi selalu menstimulasi kreatifitas.

18 Juni 2012

, , , ,

Belajar dari Copenhagen



Saya sadar, membandingkan Jakarta dengan Copenhagen bagaikan membandingkan dua hal yang bertentangan. Tiba di Copenhagen, Denmark, satu hal yang pasti ditemui dimanapun, sepeda. Disaat masyarakat Jakarta berlomba membeli mobil, masyarakat Copenhagen puas dengan sepeda.

Meski bersepeda, kaum muda Copenhagen tetap bergaya. Melihat jalanan Copenhagen bagaikan melihat isi majalah fashion namun satu aksesoris yang sama, sepeda.

Kota ini resmi menjadi Ibukota Denmark sejak tahun 1417. Copenhagen adalah jembatan antara Laut Utara dengan Laut Baltik, menghubungkan Eropa dengan Skandinavia. Sejarah panjang mewarnai Ibukota Denmark ini dengan bangunan bersejarah, dan hingga kini deretan bangunan tua ini adalah kebanggaan warga Copenhagen.

Gaya bersepeda sudah sedemikian tertanam pada masyarakat Copenhagen dan bukan tanpa alasan, pemerintah memberlakukan aturan yang secara tidak langsung menumbuhkan gaya hidup bersepeda.

Menemukan area parkir mobil di beberapa lokasi di pusat kota Copenhagen sangat sulit. Selain itu, pajak kendaraan bermotor sangat tinggi. Berbagai aturan pemerintah akhirnya memaksa warga memilih transportasi lain yaitu sepeda.



Kompensasi dari pajak yang tinggi, berbagai fasilitas untuk kenyamanan bersepeda diberikan. Hampir setiap jalanan memiliki jalur khusus bagi pengendara sepeda. Jika anda bersepeda di kota ini, jangan takut dengan mobil karena sepeda selalu didahulukan oleh kendaraan bermotor.

Aturan yang diberlakukan terbukti efektif mendorong warga Copenhagen bersepeda. Total warga Copenhagen berkendara dengan sepeda sejauh 1,2 juta kilometer per tahunnya, atau setara dengan dua kali jarak bumi ke bulan. Kebiasaan bersepeda ini otomatis menurunkan emisi gas buang dan menghasilkan kualitas udara yang jauh lebih baik. Ditambah transportasi umum seperti bus dan kereta dengan sistem yang tertata baik.



Memang, jumlah warga di Copenhagen hanya sebanyak 549 ribu orang, atau kurang dari 5 persen populasi warga Jakarta. Mengatur Jakarta perlu upaya yang berbeda dengan mengatur Copenhagen.

Ah, namun saya berandai andai saja, jika calon pemimpin Jakarta nanti punya visi yang sedikit saja menyerupai misi pemimpin yang membentuk kota Copenhagen. Intinya, membuat aturan yang memberi kenyamanan. Jika pemerintah ingin mengurangi kendaraan pribadi, ciptakan sistem transportasi umum yang murah dan nyaman.

Kami penghuni Ibukota juga sudah jenuh dengan kemacetan, jika ada transportasi umum yang murah, aman, nyaman tentu kami akan beralih. Namun saat ini, katakan saja warga Jakarta tidak punya banyak pilihan, atau bahkan tidak punya pilihan.



**photos by Gandis Rahma**

17 Juni 2012

Believe and the magical Kowawa will Happen.





Ada seorang teman yang sangat perfeksionis. Hidupnya harus berupa rentetan kejadian yang sempurna seperti yang ia rencanakan, semua hal yang ia lakukan harus presisi seperti apa yang ia mau.

Saat ada kesalahan yang ia lakukan, entah karena situasi atau hal hal yang sangat manusiawi, seperti lupa atau apalah itu, ia langsung gelisah tak karuan, menyesali kesalahannya seakan akan keretakan kecil akan membuat seluruh gelasnya pecah berhamburan.

Saat ia ceritakan kesalahan "besar" nya itu, saya ceritakan kesalahan saya yang lebih parah dari yang ia lakukan, dan banyak kesalahan lain, sambil tertawa setiap menceritakan semua ketololan yang saya lakukan. She was kinda shock and ask "how could you survived all of that?" then, I said "I laugh about it"

Coba perhatikan sekeliling, orang orang bahagia di sekitar anda bukanlah orang yang hidupnya sempurna. Banyak yang terlihat sempurna di mata kita justru memperlihatkan dirinya tidak bahagia. We define our own happiness and what could be better to define other than just take this upside-downside world as a fun roller coaster ride?

If you can laugh about your mistakes (of course we still have to learn from it also), imagine how happy you are about the success.  Bayangkan anda jatuh terpeleset di depan orang orang dan anda mukanya langsung cemberut karena malu maka reaksi orang akan campuran antara mentertawakan dengan kasihan, jika setelah anda jatuh anda tertawa maka yang melihat hanya akan ikut tertawa sambil berpikir anda hanya sial sedikit saja and see you as a strong fun person.

Ingat kata Kowawa yang berseliweran di twitter beberapa minggu terakhir? Untuk saya itu ekspresi kebahagiaan, lihat betapa twitter penuh aura kocak, tawa dan bahagia saat Kowawa berseliweran. Seperti di twitter, anda bisa ciptakanKowawa anda sendiri, bahkan saat sial, just to fix the mood. Next time saat saya membuat kesalahan, I will still laugh about it and wait for the Kowawa mood to happen.

Next time you make mistakes, next time you had a bad, jinxy day, just laugh about it and wait for the magical Kowawa to happen.. Kowawaaa!!

@marischkaprue - believe that on every bad things that happen to her, there will be kowawa in the end.



As published on Divemag Indonesia Vol 2 No. 024 February 2012

16 Juni 2012

, , ,

Lost and Survive



Ada satu hal yang membuat kita resah. Kehilangan. Kehilangan barang, uang, tujuan, apa saja, you name it. Pasti ada hal penting yang anda jaga baik baik agar tidak kehilangan, tapi pada akhirnya anda sadar anda tidak punya kuasa menentukan apa yang tetap ada dan apa yang datang dan hilang.

Untuk saya, kehilangan kepercayaan pada orang yang disayangi paling berat. Materi bisa dicari, kepercayaan dan orang yang kita sayangi, tumbuh dan datang dengan sendirinya. Bukan hal yang bisa kita labeli rumus A plus B sama dengan C, sehingga untuk dapat C kita tinggal cari komponen A dan B.

Kadangkala, kita sudah memberi kepercayaan begitu besar, melakukan apa saja untuk menjaga hal yang kita tidak ingin kehilangan. Tapi kadang, Tuhan justru mengambil apa yang paling kita jaga. Dan, saat kehilangan, kita berpikir, emosi, memandang kehilangan ini sebagai lelucon paling jelek yang dilakukan yang di atas.

Namun, dibanding merengek kesal, marah pada keadaan, saya berusaha mencari pembenaran. Kenapa kita harus mengalami kehilangan?

Pertama, saya anggap ini ujian. Yes, hidup tidak selalu lurus, kadang berliku liku, kita harus mengalami semua cobaan yang berbeda. Di soal ujian biasanya soal paling susah memerlukan waktu paling lama mengerjakannya, kehilangan hal yang kita sayangi perlu proses mencerna dan melewatinya.

Kedua, kadang bukan hilang tapi yang hilang itu adalah hal yang dipinjamkan pada kita dan waktu peminjaman itu sudah habis. Getting all what's best and all the memories is what we can do.

Ketiga, itu bukan milik kita. Apa yang kita pertahankan erat erat, yang kita cintai setengah mati, tidak digariskan untuk kita. Sometimes life seems unfair.
Sometimes it feels like God just slammed the door in front of you. You think and wondering. Then you realized it is not your door. Yours is bigger.

Satu satunya cara menghadapi kehilangan, klise memang, hanya ikhlas. Seringkali kita sendirilah yang membuat kehilangan itu begitu berat, mempertanyakan kepada diri sendiri terus menerus mengapa kita harus kehilangan, marah pada situasi dan mencurahkan semua fokus pada apa yang hilang, bukan apa yang bertahan.

Kalau selama ini ada counter Lost and Found. Mungkin, kita harus bikin counter Lost and Survive di kehidupan kita. For everything that's lose from us, we will survive. No matter what, no matter when, no matter why..

@marischkaprue - Lost the one she loved the most, and realized its not hers.


As published on Divemag Indonesia Vol 2 No 023 January 2012.

RELATED STORIES:

Those Without Sin May Cast The First Stone.



Pernah main truth or dare? Rasanya semua tahu permainan ini. Saat anda dapat giliran, kalau kena dare maka lakukan kegilaan sesuai keinginan teman, kalau kena truth maka lontarkan jawaban atas pertanyaan apapun.

Tapi rupanya kalau di permainan ini saya paling males, atau tepatnya takut kena truth. Kenapa? Simple, kalau kena dare "hanya" buat dosa (entah tiba tiba disuruh ciuman - intens tentunya- dengan random person, atau kegilaan lainnya), nah sedangkan kalau kena truth seringnya harus comes clean, alias "buka" catatan dosa. Jelas kan kalo bikin dosa itu lebih gampang daripada ngaku dosa.

Kita semua pasti punya catatan dosa, hal hal yang kita anggap perbuatan salah, mulai dari hal hal kecil, bohong bohong jinak ke pacar, sampai hal besar. You name it yourself. Coba gali ke belakang, pasti ada satu dosa yang anda ingat, anda simpan baik baik sampai tidak ada yang tahu. Saya suka menyebutnya dirty laundry, hal kotor yang kita simpan, sampai suatu saat kita berani untuk comes clean.

Pernah seseorang saat ngajak saya bikin dosa, bilang "what's right and wrong anyway?" bener juga sih. Apa coba batasan sesuatu disebut dosa? iya, agama, Tuhan, tapi yang membuat batasan persepsi kan anda sendiri. Ah, atau anggap saja statement itu hanyalah pembenaran untuk membuat dosa. Untuk jadi sinner.

Saya selalu merasa lebih gampang jadi sinners setelah menegak beberapa gelas wine dan sejenisnya. Saat hati bicara kalau sesuatu yang saya lakukan salah, at least I can blame the alcohol. As long as nobody know. Yap, dirty laundry bisa dibuka, kita bisa cerita ke teman, tapi pasti ada satu yang kita simpan jauh jauh di dalam karena kalau dibuka kita tidak siap konsekuensinya.

Biasanya kalau mesti comes clean, akhirnya dosa itu diakui, dengan berbagai alasan, cara saya ya salahkan alkohol. Ada teman yang menyalahkan situasi, ada yang menyalahkan yang ngajak bikin dosa, intinya semua fakta bisa diputar, digaris bawah bagian "penyebab" sehingga tampak dosa lah yang menghampiri kita, bukan kita yang menghampiri dosa.

Sebagian akhirnya dengan cara berkelit bisa lolos dari konsekuensi berat ngaku (atau terpaksa ngaku) dosa. Kapok? Sebagian iya, sebagian tidak. Kalau saya sendiri tidak kapok, karena dirty laundry saya masih tersimpan aman, nobody knows. Tapi saya tidak berencana bikin dosa lagi. Kenapa? Too much dirty laundry is just too much to handle.

Dosa itu universal, semua orang pasti punya dosa. Entah dosa kecil atau besar, everyone is a sinner. Saya ingat satu cerita, ada pendosa, pelacur yang akan dihukum ramai ramai, semua warga sudah siap merajam. Tiba tiba ada seseorang yang bilang "Those who's without sin may cast the first stone," yang tidak berdosa boleh melempar batu pertama. Hasilnya, semua meletakkan batunya dan tidak ada satupun yang melempar.

Everyone is a sinner, but that's not the point. Clean is better than dirt, so I avoid too much dirty laundry. How bout you, sinners?

@marischkaprue - a silly sinner, who hates the fact that she have to carry her dirty laundry.


as published on Divemag Indonesia  Vol 2 No. 019 September 2011

Mission Un-impossible: Search, Find and Use God's Gift.



Orang tua ke anaknya pasti selalu membayangkan masa depan anaknya, bahkan dari anak itu kecil. Meski anaknya baru bisa jalan, orang tua nya sudah membayangkan anaknya jadi dokter, saat bisa lari dibilang jadi atlet, saat coret coret di tembok dibilang bakat jadi seniman, dan seterusnya.

Dan kemudian, puluhan tahun berlalu, si anak sudah jadi seseorang yang berbeda total dari apa yang orang tua mereka bayangkan. Yang dulu dibilang bakat jadi seniman sekarang kerja yang sangat teknis, atau mungkin ada yang kebetulan sama dengan apa yang dibayangkan orang tuanya, tapi ini jarang.

Saat kita lulus sekolah dan mengambil jurusan kuliah, kebanyakan berpikir satu hal, jurusan apa yang kerjanya gampang, jurusan apa yang mengakomodir kita untuk daat penghasilan, hidup layak. Dan titik, seringkali minat dikesampingkan dengan alasan itu.

Hasilnya, banyak yang pada akhirnya kerja di area yang benar benar berbeda dari kuliah mereka, mereka yang awalnya kerja sesuai jurusan lalu merasa passionnya tidak disitu dan banting setir.

Ada juga yang secara tidak sadar menemukan keasikan lain, mengerjakan sesuatu, dan setelah puluhan tahun baru sadar dia punya potensi itu. Misalnya di Masterchef, ada yang sudah jadi pengacara di law firm bagus, tapi baru sadar ia punya potensi masak yang mumpuni.

Kadang hal hal kecil yang kita anggap hobby remeh bisa jadi potensi kita sebenarnya, sering melucu bisa saja jadi stand up comedian beken, suka nulis kalau tidak berani publish tulisan ya cuma akan jadi potensi terpendam saja, masak, gambar, semuanya potensi potensi yang kalau kita sadar kita punya bakat - gift, talented - di area itu, bisa jadi hal yang merubah hidup kita selamanya..

Cuma saja, biasanya kita tidak punya keberanian untuk unjuk potensi itu, bahkan saat kita sadar punya bakat tertentu. Ada teman saya yang dari dulu senang menulis, tulisannya juga bagus, tapi tidak pernah dipublikasikan. Boro boro, bikin blog saja dia tidak mau. Tulisannya cuma dilihat orang orang dekatnya, and until now we never know what would happen if she publish her writings..

Potensinya dipendam dalam dalam karena tidak berani, tidak pede, takut ditolak, semua macam ketakutan itu.. My friend, ditolak itu biasa, jatuh itu belajar, berdiri setelah jatuh itu membuat kita lebih kuat.

Kalau kita sudah tahu potensi kita, saatnya berani menggunakannya, sayang kan kalau punya potensi tapi tidak digunakan, seperti punya smart phone paling canggih tapi cuma dipake sms dan telp, meski kalau pake smart phone canggih orang orang masih tau kita punya karena terlihat.

Kalau potensi harus digunakan, harus berani unjuk apa yang kita punya juga. If we want big, we should try big, we should fear small. Jika jalan menuju menemukan potensi dan menggali potensi itu berliku liku? Hey, life is an adventure, you can pick the shortest easy long straight road but still you'll never know what would happen in the middle of your journey.

What's worth fighting for is yourself. Go find it people!

@marischkaprue - showing half of her potential while still seeking for her half other potential.




as published on Divemag Indonesia magazine Vol 02 No. 022 December 2011

12 Mei 2012

, , ,

Jurnalisme dengan Hati


Setiap ada bencana atau kecelakaan, laporan jurnalis di lapangan menjadi sorotan utama. Informasi pertama tentunya dari mereka yang ada di lokasi. Di masa berkembangnya sosial media, tanggapan dan kritik keras dengan mudah mengalir dan langsung dapat disampaikan ke jurnalis yang bekerja.

Rata rata kritik yang disebutkan mulai dari pertanyaan yang standar dan sudah jadi keluhan semua orang yaitu "apa perasaan anda?" karena jelas jelas keluarga korban pasti sedih, intinya sedih atau shock dan melontarkan pertanyaan tersebut memang membuat kesal yang menonton. Memang, saat mewawancara jurnalis selalu ingin memancing kata kata yang menunjukkan emosi. Lirik emosional dari sosok keluarga selalu menarik, memancing sisi humanis dan empati kita.

Saya saat bertugas di lapangan dulu sering berkelit sedikit, intinya sama saja, saya ingin memancing yang diwawancara agar menceritakan detail perasaan mereka. Biasanya saya memulai dengan meminta keluarga korban menceritakan situasi saat mereka mendengar kabar buruk tersebut. Kemudian saya menyimpulkan sedikit dengan memberi komentar "anda pasti kaget dan sedih mendengar kabar itu, bisa ceritakan emosi anda saat ini?" ya, intinya sama saja, saya menanyakan perasaan mereka namun dengan kata kata yang sedikit berbeda.

Hal lain yang biasanya dikritik keras adalah seringkali jurnalis lapangan tampil menyampaikan berita tanpa empati. Kata "mayat" seakan akan merendahkan jiwa yang telah hilang dari raga tersebut. Memang hanya persoalan kata, namun pemakaian kata mesti sangat hati hati dikala meliput bencana. Saat mengetahui puluhan atau bahkan ratusan nyawa diputus oleh takdir alam, penonton yang bahkan tidak memiliki ikatan hubungan langsung dengan korban menjadi sangat sensitif.

Saya punya pengalaman yang paling saya ingat. Pengalaman yang bagi saya sangat tidak membanggakan namun merupakan pelajaran terbaik. Saat itu saya ditugaskan meliput letusan gunung Merapi. Usai letusan, posisi saya adalah di rumah sakit di Magelang dimana banyak korban dilarikan ke rumah sakit tersebut.

Ada seorang ibu yang baru kehilangan anaknya. Saya sedang melakukan laporan langsung saat itu. Hati dan pikiran keras menolak untuk mendekati ibu itu, hati saya menahan, ingin membiarkan saja sang ibu yang sedang berduka dalam kesendirian menangisi kehilangannya. Namun, saat itu saya tidak berpikir panjang. Tuntutan memberikan laporan langsung yang menarik membuat saya mendekati ibu tersebut dan mewawancarainya.

Ibu itu menjawab pertanyaan saya, bercerita dengan sedikit terisak mengenai anaknya. Saya kembali membiarkan ibu itu dalam kesendirian dan melanjutkan laporan langsung saya. Saya tahu yang saya lakukan tidak bijak, namun saat itu saya tidak berpikir panjang.

Usai laporan langsung, di jeda iklan, ratusan status di twitter mengkritik keras. Dari sindiran halus hingga cercaan masuk bertubi tubi di alamatkan ke account saya. Saat itu saya terhentak, sadar apa yang saya lakukan salah dan benar benar salah. Secara jurnalistik itu tidak salah, namun kemana empati saya saat itu. Hilang tertutup keinginan memberikan materi yang menarik.

Saya sedih, bukan karena cercaan yang demikian keras, ejekan dan kata kata kasar yang dialamatkan kepada saya. Namun, saya sedih karena saya sadar saya salah. Hati ini sakit mengetahui apa yang saya lakukan tak ubahnya manusia yang tak punya hati. Saya menyesal, namun tak mampu mengubah apa yang sudah saya lakukan.

Saya kembali meneruskan laporan langsung, berkali kali. Saat laporan di area saya selesai, saya langsung mencari ibu yang tadi saya wawancara. Hanya satu hal di pikiran saya, meminta maaf. Masuk ke rumah sakit, saya temukan ibu itu sedang berjalan, saya langsung mendatangi dan meminta maaf. Saya rasa saat itu ia yang masih shock tidak mampu mencerna kata kata saya. Ia hanya diam dan mengangguk sambil langsung berlalu keluar dari rumah sakit.

Saat itu saya masih diliputi perasaan bersalah. Berulang kali saya meminta maaf di twitter karena telah melukai perasaan yang menonton, saya terima semua kritik dan memang saya akui saya salah. Kesalahan besar.

Namun kejadian tersebut adalah pelajaran terbesar bagi saya saat meliput kecelakaan atau bencana. Agar pikiran tidak putus dengan hati saat melakukan tugas jurnalistik, agar berani tidak melakukan sesuatu yang jauh dari empati meski secara content berita sangat "menarik"

Di area bencana, seringkali korban hanya jadi deretan angka. Kami mengingat jumlah korban, melaporkan nama mereka, tapi lupa jika mereka dulu punya jiwa dan hati, serta keluarga seperti kami. Usai kejadian itu, saya selalu ingatkan diri sendiri agar jangan melakukan sesuatu yang ditentang keras oleh hati. Agar tetap memelihara empati.

Jurnalisme itu memang berdasarkan fakta, namun saat bencana, saat kecelakaan, saat nyawa manusia meregang, tugas jurnalistik harus dilakukan dengan hati, dengan empati.

Semoga teman teman yang bertugas di kala bencana dapat belajar dari kesalahan saya. Dapat berani menolak apa yang hati sarankan untuk tidak dilakukan. Jurnalisme dengan empati, itu yang masih harus kita pelajari bersama, itu apa yang masih harus media upayakan bersama.

***

9 Februari 2012

, , ,

Mencari Ketenangan di sisi barat Bali.



Damai dan tenang. Perasaan yang langsung anda dapatkan saat tiba di resort seluas hampir 400 hektar yang berada di sisi barat Bali. Perjalanan ke The Menjangan resort memang cukup melelahkan, siapkan waktu sekitar 5 hingga 6 jam untuk sampai ke resort dari Bandara Ngurah Rai. Namun semua itu tidak sia sia saat anda melihat hutan dengan pepohonan yang mulai mengering.




Saat saya datang di periode akhir tahun memang saat dimana tanaman mulai mengering. Namun ini justru memberikan suasana yang berbeda, dahan dahan yang berwarna coklat memberikan sensasi sedang mengarungi hutan di Afrika. Dan, jika anda datang usai musim penghujan, suasana di resort akan jauh berbeda dengan seluruh tanaman yang hijau.

Mari kita mulai dari "Dimana saya?"
Resort dimana saya mencari ketenangan adalah resort yang berada di area Taman Nasional Bali Barat. Jika area Taman Nasional berukuran sekitar 19.000 Hektar, resort ini mengambil area 400 Hektar, area yang cukup luas dan tidak habis untuk ditelusuri, membuat perjalanan dari satu area, misalnya dari restoran ke area lain memerlukan kendaraan yang tentunya disediakan pengelola resort. Kendaraan yang dimodifikasi ini sangat tepat untuk berkeliling. Saran saya, ambil kursi terbaik yaitu di atas agar anda benar benar merasa sedang bersafari di tengah rimba Afrika.

Area di resort dibagi menjadi beberapa bagian, anda bisa memilih tempat menginap yang sesuai kebutuhan dan budget tentunya. Yang cukup bersahabat adalah harga Monsoon Deluxe room, dengan ruangan yang belakangnya langsung menghadap hutan dan keluar kamar anda dapat langsung menemukan kolam renang dan whirl pool untuk bersantai. Ada 12 kamar yang disusun berhadapan, namun jangan khawatir privacy terganggu karena area disusun sedemikian rupa. Namun, jika anda mau pergi ke pantai harus menggunakan kendaraan karena Moonson Deluxe area berada di tengah hutan konservasi.



Bagi pecinta pantai seperti saya, tentu Beach Villa merupakan pilihan utama, karena anda dapat langsung melihat pantai begitu membuka pintu kaca yang ada di kamar. Seperti memiliki pantai pribadi sendiri, namun tentunya anda harus merogoh kocek lebih dalam untuk menginap disini.

Pilihan lain bagi keluarga yang datang beramai ramai, ada The Menjangan Residence, dengan 3 kamar, kolam renang tersendiri, dan bangunan yang langsung menghadap laut dan benar benar berada di area tersendiri sehingga tepat untuk mengadakan pesta pribadi, atau liburan dengan keluarga dengan privasi yang tinggi.

Berikut daftar harga
Tipe Akomodasi
Jumlah Kamar
Harga Domestik per malam
Moonson Deluxe
1
Rp. 1.100.000 ++
Beach Villa
1
Rp. 1.950.000 ++
Residence
3
Rp. 3.950.000 ++

Saat memutuskan menikmati liburan di Menjangan, sebaiknya anda menyadari bahwa ini adalah lokasi untuk benar benar pergi dari hingar bingar. Anda tidak akan menemukan lokasi untuk berpesta, atau keramaian. Bahkan ada turis asing yang saat datang tidak menyangka akan tiba di lokasi yang benar benar jauh dari keramaian sehingga memutuskan untuk membatalkan reservasi dan kembali ke Kuta.



Sepi bukan berarti anda tidak dapat menikmati liburan yang menyenangkan. Ada berbagai pilihan aktivitas yang bisa anda nikmati, mulai dari mengamati burung di pagi hari sambil berjalan kaki menyusuri sebagian sisi Taman Nasional Bali Barat, bersepeda dan berkuda hingga ke garis pantai sambil menunggu matahari terbenam. Pemandangan indah yang pasti membuat anda terhenyak.




Penikmat suasana laut dapat menikmati berbagai pilihan aktivitas. Mulai dari snorkeling, dan bagi anda yang tidak bisa berenang, tenang saja, ada rompi penyelamat yang membantu anda mengambang di air, sambil tetap bisa melihat biota laut, berbagai karang dan ikan di laut Menjangan. Bagi yang malas basah bisa memilih kayaking, yaitu naik perahu sambil mengayuh dayung, jangan takut karena perahu ini sangat stabil dan tidak akan terbalik.



Namun, aktivitas terbaik disini tentunya adalah menyelam. Ada beberapa titik penyelaman di Menjangan. Saya memilih "sandy slopes" dan "garden eel." Titik penyelaman pertama, sesuai namanya, anda akan menemukan area yang jernih dengan berbagai biota laut, dimana pasir putih terlihat di dasar. Hanya di kedalaman hingga 12 meter anda sudah bisa melihat berbagai spesies menarik, misalnya scorpion fish, parrot fish dan berbagai ikan dengan warna warna cerah.



Sementara di titik selanjutnya anda akan melihat banyak belut laut yang tampak seperti batang batang kayu yang turun naik di liangnya masing masing. Di area ini juga banyak terdapat kuda laut, bahkan ada yang berukuran panjang yang disebut pipe horsesea.

Untuk menyelam tentunya anda harus mempersiapkan peralatan menyelam, lebih baik membawa alat alat dasar sendiri, karena sewa alat dihitung dengan rate dolar, yaitu 10 USD untuk fins, boots dan snorkel, serta 5 USD untuk sewa wetsuit.

Di luar semua aktivitas tadi, berkeliling di area hutan resort sendiri sudah merupakan pengalaman yang menyenangkan. Setiap berkeliling dengan kendaraan, saya selalu dapat melihat kumpulan kera dan bahkan kadang mereka berkumpul sangat banyak hingga puluhan ekor, selain itu juga ada berbagai spesies burung hingga ayam hutan yang sering melintas.




Namun, jangan lupa untuk datang ke area pantai dimana pada sore hari sejumlah rusa jenis menjangan datang ke pantai untuk mendapatkan rumput segar di area pantai. Bayangkan, anda bisa duduk di pantai sambil melihat beberapa menjangan melintas di depan anda. Saya bahkan mendekati mereka untuk memfoto, dan mereka cenderung terbiasa dengan kehadiran manusia meski tetap menjaga jarak.

Liburan ke resort di Menjangan adalah pilihan bagi anda yang ingin ketenangan dan menjauh dari hingar bingar. Nikmati pengalaman relaksasi di tengah hutan konservasi dan jangan lupa bawa kamera anda untuk mengabadikan momen menyenangkan tersebut.

Have fun, enjoy life, start traveling!


TIPS:
·      Siapkan dana lebih karena untuk setiap aktivitas anda harus membayar sesuai dengan rate yang berlaku, tanyakan semua harga sebelum reservasi dan sewa mobil untuk menjemput dari bandara ke resort.
·      Saat reservasi usahakan dapat harga paket karena dapat menekan budget, ada beberapa paket dengan harga Rp. 2.300.000,- untuk 3 malam.

Yang Perlu Dibawa:
·      Obat obatan pribadi karena jarak lokasi yang jauh dari apotik
·      Baju renang, peralatan menyelam dan sunblock
·      Kamera video karena seringkali kera berkumpul ramai ramai saat melintas dengan kendaraan dan tingkah laku mereka menarik untuk diamati.


informasi harga: www.themenjangan.com



17 Januari 2012

I tweet therefore I'm powerful


Cobalah menyobek kertas di buku macam yellow pages. Gampang bukan? Nah, sekarang coba anda tumpuk kertas dari dua buku, selipkan kertas dengan kertas lain satu persatu. Tidak perlu banyak, sedikit saja. Lalu coba lagi menyobeknya. Sulit. Hal yang sama berlaku untuk benda lain, yang tampak rapuh, kalau disatukan jadi kuat. Nah, manusia juga begitu.

Semua revolusi itu cuma akan jadi wacana kalau tidak ada sekian banyak manusia yang mendukungnya. Hosni Mubarak tidak akan turun jika jutaan orang tidak turun ke jalan, tidak menduduki Tahrir Square.

Di jaman social media, menggerakan massa menjadi sedemikian mudah. Juga, bermain isu. Amarah, rasa kaget, keterlibatan dapat dengan mudah diarahkan dengan melempar isu. Kadang, kita seringkali tidak perduli dari mana informasi berasal, benar atau tidak. Saat mayoritas yang kita lihat berseru A, maka kita kan ikut menyerukan A.

Di ranah sosial media lagi, sebagian orang yang di kehidupan nyata mungkin tidak berpengaruh, mereka bukan tokoh politik, bukan aktivis, tapi dengan modal jempol dan statement statement yang menarik, katakan saja di twitter, mereka didengar puluhan ribu atau bahkan jutaan orang. Keterikatan follower dengan tokoh twitter ini terkadang bisa sangat tinggi. Apa yang dilontarkan mereka dianggap satu kebenaran oleh followersnya, maka wajar saja saat ada perang twit, biasanya berlanjut dengan perang followers.

Bayangkan saat seseorang yang followersnya sekian banyak, melakukan provokasi, bermain isu dan menggerakan opini dan massa. Mungkin terdengar terlalu berteori konspirasi, tapi ada lho account account tertentu yang memang dibuat untuk bermain isu.

Mungkin anda sulit membayangkan 140 karakter dapat mengubah dunia. Tapi tulisan dan gambar dapat menggerakan massa. Satu statement dapat berimplikasi besar saat direspon sedemikian rupa oleh jutaan orang. Deretan huruf dapat berubah jadi kekuatan besar, hanya dan jika dipersepsi sedemikian rupa oleh massa.

People power? I can say twitter power now. Sama saja sebenarnya, people power yang diakomodir, let say, new way of socialize. Karena itu pula, tidak tanggung tanggung CIA - Central Intelligence Agency- memonitor jutaan tweets yang beredar.

Tapi tak usahlah berpikir konspirasi teori semacam itu. Hal sederhana saja, sekarang banyak yang merasa punya kekuatan karena merasa punya massa. Atau merasa kuat saat berlindung di balik social media, karena tidak perlu menghadapi langsung konsekuensi yang ada kalau berhadapan langsung di dunia nyata.

Twitter is powerful, but still, it is a world beneath the real world. Either you have power in social media, or in real life, as Spiderman's famous quote "With great power comes great responsibility," so use it wisely. Not the twitter I meant, but the power. Saya dan anda masih bebas menyampah di twitter kok.

Lagipula, dunia nyata ini sudah penuh dengan keseriusan, why don't we spead some laugh and joy in twitter. Let the twitter bird sing with joy, cause it'll produce a nice timeline. Keep twitting, folks!

@marischkaprue - having power over her twitter account, not over her followers.


As published on Divemag Indonesia Vol. 2 No. 021 Nov 2011


31 Desember 2011

Booyah 2012! #power2domore next year!

Here comes again, the last day of the year, another new year to come. People are busy preparing, celebrating the upcoming new things, new year, new whatever they might say, and of course, the resolutions.

People been tweeting, and some are asking, blame @aviantumengkol who asked me over and over again about my new year's resolution. I'm sorry Avian, I'm so lame on making new year's resolution. Then after few days Avian been asking me everyday, now comes the last day of the year. I am thinking hard, what kind of resolutions I can write, and I found.. None.

So I said to myself, okay here comes the last day of the year, but it is just another new day for me, maybe for a month I'll always write "2011" every time I have to write the schedule, then on month two we'll get used to write "2012"

Back to the so called resolutions, most people usually having resolutions, something they wanna achieve next year, some are still having the same as last year's. It's a neo-over and over again. Not that I don't like it, nor that I am skeptic of it, its just I don't have. I am having goals, targets in my life, but not as a new years resolutions..

So in this very last day of the year, I'm just looking back, seeing what been happening in 2011. Then I said, wow, damn- a lot! This year been a roller coaster ride, as in experiences terms, and some changing in life has happened.. Well, maybe 2010 also brought a lot of life changing experiences, but looking back like this, having a flash of a year - 2011 on my mind, it is amazing.

So you might have the not so good year, you might lose someone you love, you might having bad experiences this year, but then, look again how many good things happening, look how many time you've laughed on 2011? I bet you - and I cannot count. So I said, my new year's resolution.. Err, no, no new year, I'll just gonna make it a last-day of the year resolution of mine is spending the last of this year with a smile, maybe a lot of laugh. I'll enjoy the day and date changing moments with cherishing all I have, what I've been through all this 2011.

And on 31 December 2011, at the very 23:59 I'll say "Hey 2011, you rocks!" then we'll scream "Bring it on 2012!" because, just because.. Life is an uncertain journey, what will happen, let it be, just embrace the sweet-sour-spicy kind of life, and I challenge 2012 to gimme the surprises. Lets! Booyah people!!!!

@marischkaprue
Crazy happy over her 2011, still crazy on 2012- I bet.

29 Desember 2011

Target to Achieve

Manusia punya rencana, Tuhan yang menentukan. Terkadang kalimat ini dipersepsi dengan cara yang memicu kita untuk kurang berusaha, karena akhirnya dibuai kata pasrah pada nasib yang digariskan di atas.

Ada satu cara yang ampuh membuat kita berani mendorong diri untuk berusaha lebih. Target. Yap, tujuan, goals, target, apa yang di pikiran kita ingin kita capai selalu membuat kita berusaha bekerja lebih, berupaya lebih.

Saya sendiri, meski termasuk orang yang cuek, selalu go with the flow whatever life might take me to, kini selalu membuat target. Tidak perlu muluk muluk, biasanya target saya hanya seputar rencana jangka panjang, apa yang ingin saya capai dalam periode berapa waktu ke depan. Bisa setahun, dua atau tiga tahun, limitnya anda sendiri yang paling tahu.

Saya biasanya menargetkan perubahan, harus ada perubahan yang dicapai setelah periode tertentu. Alasannya? To make me not too enjoy in the comfort zone, to change, to move. Comfort zone itu menyenangkan tapi biasanya tidak membawa kita maju. Memang anda sendiri yang tahu kebutuhan dan keinginan anda, ingin tetap di comfort zone? Tidak masalah kok, tapi jangan keenakan juga nanti bayangkan sepuluh tahun ke depan kita berpikir "seandainya.. Seandainya"

If you want something, you need #power2domore, and one strong way to get it is by having target in your life. 

Target to achieve, achieve for life is worth fighting for.

14 Desember 2011

Do with passion and You shall have power



Do with passion and you shall have power.
That’s the statement that keeps me running on this shoes, running these job I’m having, running the life I’m living.

Some people work for money, work to keep filling the plate with food, but sometimes, that is not enough.
Yes, some people say they don’t have options, they cannot choose and what they’re doing is what they have to do.

Sometimes we are afraid of losing what we have so we don’t have guts to take a risk.
Sometimes we choose to stick in a line even though the diamond we want is just across the line. Simply just because we are afraid, since inside the line is our comfort zone.

Comfort might give you peace but you aren’t achieving more.
Risks are worth taking, since life always give you options, then the question is are you willing to take it.

How can you have power to do more
If you do not give more effort, more passion?

#power2domore


Butterfly




God told me not to play with butterfly
When I got butterfly in my stomach
And a zing zing came into my brain
Get me blushin for whole day
When I told myself that was it
Now here I go, hurt again

Butterfly please go away
before this discomfort become comforting
and the moment u leave
I can only see an empty space

Sometimes he go, sometimes he came back
But the feeling on my stomach still the same
Will butterfly stays at the end
When I told myself that was it
Now here I go, hurt again..


28 September 2011

Falling

my friend said to me..
why people have to call it falling..
why don't we just call that flying, she said..
cause she wants to be in control
control the heights, when to move up, add more height.. or when to get a bit lower, and to be back to the ground as she controls it..

but my dear, when u can control, that's not it..
it called falling cause mostly it hurts.., I said..
but we can't resist that.. it also feels like gravity took you down.. a force of nature, unexplainable.. even Einstein can't describe the right equation for this falling events..

but it depends.. will u fall into a soft-feather like-ground.. smooth.. and the land just embrace you well.. Just a right place to fall..
or might be.. we have to fall into the real hard ground..and it hurts.. so much..
but, again, time will heal.. bruises will fade..
and we'll stand up again,
even though I'll never forget which places took me down, got me fallen..
I just can't wait for my next fall..

cause.. the adrenaline rush, the chaotic on my cerebrum, my subliminal dreams, stomach discomfort, spontaneous blush, the dizzy dance..

all fabulous

I'm ready.. surprise me

20 September 2011

Slow waiting, Fast life


Apa pekerjaan wartawan? Melaporkan berita, menyampaikan fakta di lapangan? Yes. Tapi sebenarnya formula kerjaan kita yang paling besar porsinya itu menunggu. Yap, menunggu. Saat ada kasus besar, Dang, memang kekacauan, intensi adrenalin yang tinggi misalnya saat ada bom atau teroris digerebek, wartawan langsung gerubukan ke lokasi dan melakukan apa yang anda lihat di televisi, melaporkan kejadian.

Namun, saat saat lain, berdasarkan analisis sotoy saya, sekitar 70% waktu untuk menunggu. Menunggu hasil Rapat Dengar Pendapat di DPR, menunggu narasumber yang lagi meeting sebelum bisa di SOT (Sound on Tape) – istilah kita untuk statement yang direkam, menunggu pihak yang akan diperiksa KPK – dan bahkan- setelah yang akan diperiksa itu datang kita kembali menunggu doi selesai diperiksa, menunggu statement dari pimpinan atau jubir KPK tentang pemeriksaan, menunggu sidang yang kadang ngga jelas kapan mulainya, dan bahkan menunggu narasumber dandan sebelum dia mau di wawancara (yes, saya pernah mengalami menunggu narsum cantik yang ngga pede kalo ngga dandan tebel sebelom diwawancara).

Jadi jangan salahkan kami para pekerja pers kalau punya kebiasaan selonjoran seenaknya dimanapun kapanpun. Di KPK misalnya, kalau anda pernah kesana pasti liat pasukan newsperson ini pada duduk duduk di kursi, sebagian duduk di lantai bawah depan lobby tempat mobil lewat. Kalau masuk lebih ke dalam, sebagian sudah dalam posisi lebih nyaman lagi menunggunya, dari duduk miring sampai tiduran di lantai. Hal yang sama berlaku di DPR, Mabes Polri, dan lokasi lokasi lain, dimanapun kami harus menunggu.

Jujur aja, siapa sih yang seneng nunggu? Ngga ada kan, nungguin temen yang dateng janjian telat aja malesin banget, apalagi nunggu berjam jam untuk sesuatu yang kadang kita ngga tau pasti juga. Saya paling sebel nunggu “kemungkinan.” Misalnya, kemungkinan si anu dateng kesini, kemungkinan si anu ada di rumahnya, kemungkinan si anu bakal kasih statement penting, kemungkinan presiden kasih statement heboh.. dan ternyata hasilnya ngga layak dijadiin berita alias ngga penting. Tapi ya namanya juga itu porsi kerjaan wartawan. Lama lama badan ama otak ama mood ini beradaptasi sama tugas mulia menunggu itu, ciri cirinya jadi bisa membuat posisi enak dimanapun, ngobrol dari a ampe z ama temen temen wartawan lain supaya ngga bosen, ngutik bb dan twitteran (I sure does kill time for me), sampe kebiasaan masukin perkakas yang banyak banget ke tas supaya banyak “peralatan” atau gadget menunggu.
\
Untuk statement seseorang yang tayang semenit, kadang perlu seharian – atau bahkan lebih mengejar ybs sampai pita suaranya mau berbaik hati keluarin vokal di depan mike atau recorder wartawan. Jadi bayangkan berapa banyak waktu yang dihabiskan buat menunggu tiap harinya. Hmm.. pastinya lamaaaaaa…..

#ihateslow