Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

4 November 2015

, , , , , , ,

WHERE TO GO IN TAKAYAMA: Katsute Cafe



Takayama adalah kota yang kecil di Prefektur Gifu sehingga berkeliling Takayama dapat dilakukan dengan mudah, entah dengan berjalan kaki atau bersepeda. Ada satu distrik yang menjadi favorit kami di Takayama yaitu old town area dengan bangunan-bangunan kayu klasik di jalanan panjang.





Kami berhenti di depan bangunan kayu dengan tulisan-tulisan Jepang di bagian luar. Papan tulis hitam pun bertuliskan Jepang sehingga kami tidak menyangka bahwa ini adalah cafe.





Masuk ke dalam bangunan di sore hari sangat menyenangkan. Suasana sangat cantik dimana matahari sore masuk dari sela-sela elemen garis di jendela. Berbagai karya grafis pun terpajang apik di jendela.


Match sticks collections!
Mr. Watanabe, the owner

Cozy area
Pemilik Kissako Katsute Café adalah seorang desainer grafis, ia menggabungkan beberapa karya sebagai elemen dalam interior café ini yang tetap klasik dan bernuansa Jepang. Berbagai plakat penghargaan dalam bidang desain grafis telah ia dapatkan dan kini menjadi bagian interior Katsute Cafe.


Bagian atas cafe adalah tempat "lesehan" dengan area yang kecil namun menyenangkan dan terasa sangat Jepang.




Café ini menyediakan berbagai minuman modern yang dikombinasi dengan taste Jepang seperti "Amagasane" yang terdiri dari sirup gula merah, tepung dari kacang kedelai hingga es krim green tea khas Jepang yang ditambahkan rice cake, yummy! Surely one place to stop at Takayama!

@marischkaprue - won't say no to ice cream

Photo by Ferry Rusli

NOTES:

WHERE
Kissako Katsute
92 Kamisannocho, Takayama, Jepang

***

3 November 2015

, , , , , , , ,

Cruising The Black River: Tanjung Puting



"Lebih dari tiga ribu hektar area di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah terbakar"

Kebakaran yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan membuat tahun 2015 menjadi tahun terburuk kebakaran dan kabut asap. Dalam lebih dari empat bulan, warga di beberapa pulau utama di Indonesia tidak dapat melihat langit biru, di sebagian tempat bahkan kualitas udara sudah dalam level berbahaya.


Sontak saya teringat perjalanan saya di bulan Januari 2015 saat mengunjungi "rumah" orangutan yang terkenal, Tanjung Puting.





Kala itu langit berwarna biru, kami sangat bersemangat saat mulai naik perahu untuk menyusuri Sungai Sekonyer. Air sungai berwarna coklat dan pada awal perjalanan sungai masih luas dengan beberapa rambu-rambu sungai (seperti halnya di jalanan) sebagai penunjuk arah.


Sungai yang dapat diakses dengan mudah dari Pangkalan Bun ini merupakan pintu masuk menuju area Taman Nasional Tanjung Puting yang terkenal sebagai area konservasi orangutan. Saya sudah beberapa kali melihat langsung orangutan, namun biasanya di kebun binatang atau area nature park buatan sehingga melihat mereka di habitat aslinya merupakan hal yang saya tunggu-tunggu.





Ternyata menyusuri Sungai Sekonyer pun tidak kalah seru. Salah satu momen seru adalah saat kami memasuki area "Black River" yaitu sungai dengan air berwarna hitam. Yang menarik perpindahan dari air sungai yang coklat ke air sungai berwarna hitam ini sangat jelas. Kedua warna ini tidak menyatu pelan-pelan melainkan benar-benar memiliki garis batas yang jelas, seperti awal mengaduk kopi dengan susu sehingga berwarna coklat dan hitam.


Konon warna hitam ini disebabkan akar pepohonan di area black river, namun air tidak berbahaya dan kita tetap dapat menggunakan air untuk mandi. Di area black river inilah kita dapat merasakan the best of Tanjung Puting scenery, langit biru dan awan putih yang terpantul sempurna pada refleksi di permukaan sungai, hingga pepohonan di sekeliling, feels like going into the amazon!



Selama menyusuri black river kami berhenti di beberapa area untuk melihat langsung orangutan yang ternyata sudah terbiasa dengan keberadaan manusia sehingga kami dapat melihat dari dekat. Bahkan di Camp Leakey, salah satu orangutan menunggu dengan manis di sisi dermaga (see more detail story: here).



Menyusuri Tanjung Puting adalah pengalaman yang mesti dicoba jika anda tinggal di Indonesia, melihat langsung hutan Borneo, paru-paru dunia hingga bercengkrama dengan orangutan yang memiliki kesamaan DNA hingga 96,4% dengan kita, manusia.

Photo via Dylan Thev Welmart, source click here
Kini paru-paru dunia sedang sakit, empat bulan lebih dan entah berapa banyak manusia yang menderita, binatang yang kehilangan tempat tinggal dan alam yang rusak.

"When the last tree is cut down, the last river poisoned, the last fish caught then only will men discover that we cannot eat money" - Cree Indian Prophecy

@marischkaprue - can't imagine a world without blue sky and clear sea water.

NOTES:
  • Taman Nasional Tanjung Puting terletak di Kalimantan Tengah. Untuk menuju ke TN Tanjung Puting, ambil penerbangan menuju Pangkalan Bun (harga tiket Jakarta - Pangkalan Bun berkisar Rp. 1,2 juta PP), kemudian menuju Pelabuhan Kumai (dengan mobil/ motor sekitar 30 menit perjalanan dari Bandara) dan dilanjutkan dengan naik kapal.
  • Tanjung Puting National Park is located in Central Borneo, to reach the National Park you can take a flight to Pangkalan Bun (Jakarta - Pangkalan Bun return flight is about IDR 1.200.000,-), then continue to Kumai Port (it's about 30 minutes car ride from the airport), then continue by boat (river cruise)
  • Budget untuk menikmati 3 hari river cruise di Taman Nasional Tanjung Puting sekitar Rp. 3.700.000,- all in (t termasuk tiket pesawat), untuk mendapatkan kisaran budget tersebut sebaiknya pergi bersama-sama atau ikut open trip sehingga biaya lebih murah. Untuk trip river cruise ke Tanjung Puting, hubungi Tukang Jalan ,via email: tuk4ang.jalan@gmail.com atau telp +62 813158 09191
  • The budget for 3 Days river cruise in Tanjung Puting National Park is around IDR 3.700.000,- all in (include plane ticket), to get this price with proper facilities, you can join open trip so the cost is cheaper. Contact Tukang Jalan for the trip to Tanjung Puting National Park: tuk4ng.jalan@gmail.com or phone +62 813158 09191 

#MELAWANASAP
WE CAN DO SOMETHING

Kabut asap tahun 2015 sudah mulai mereda namun jangan dilupakan. Tanpa menyebut nama, ada beberapa perusahaan yang dicurigai sengaja membakar area milik mereka untuk membuka lahan baru, tentunya untuk menanam sawit (beberapa pihak di lapangan bahkan telah melihat tanaman sawit "baru" di tengah lahan yang telah terbakar.

WHAT WE CAN DO?

Kurangi pemakaian produk sawit, I know it's hard because mainly most products that we use daily have oil palm refined products. Semakin banyak kita menggunakan produk-produk berbasis minyak sawit, semakin banyak lahan yang mesti "dibakar" untuk membuka lahan.

Googling jenis-jenis produk turunan sawit dan kurangi perlahan pemakaiannya, googling nama-nama perusahaan yang dicurigai, bahkan sudah ada beberapa link berita yang menyebutkan (tanpa langsung menuding nama perusahaan), kita bisa cari dengan link yang terkait produk yang ditarik dari beberapa supermarket di negara tetangga sebagai bentuk protes atas kabut asap 2015. Dari nama perusahaan tersebut kita dapat cari nama-nama produk mereka, dan ganti produk serupa dari perusahaan lain.

For crime against nature and humanity, never forget and never forgive..

***

31 Oktober 2015

, , , , , , ,

Who Wants to be a Pilot? Malaysia Airlines Flight Simulator



Saya ingat masa kecil generasi saya dimana kita sering mendapat pertanyaan profesi apa yang kita inginkan di masa depan dan “pilot” adalah salah satu jawaban favorit sebagian anak laki-laki.

Profesi pilot terlihat fancy, dengan gaji besar dan gengsi yang tinggi. It surely looks cool and great, but do you know the effort behind it? 

Kunjungan saya ke Malaysia Airlines Training Center di Kuala Lumpur memberikan sedikit pengalaman menjadi pilot. Untuk mendapatkan titel pilot, perlu waktu bertahun-tahun lamanya, mulai dari sekolah, berbagai pelatihan hingga syarat flight hours sesuai dengan kategori masing-masing. Setelah seorang pilot memiliki sertifikasi (license), bukan berarti ia dapat menggunakan selamanya. Pilot harus memperbaharui license yang ia punya setiap 6 bulan sekali dengan kembali mengikuti training dan berbagai test untuk menunjukkan kapasitas ia membawa pesawat.



Di Malaysia Airlines Training Center terdapat 7 flight simulator atau mesin simulasi pesawat terbang untuk pelatihan dan test pilot. Meski berupa simulasi, namun perangkat di dalam kokpit benar-benar dibuat seperti aslinya dan selain itu, tampilan screen juga menampilkan pemandangan yang benar-benar mirip dengan situasi saat penerbangan dengan berbagai skenario yang dapat terjadi.




Kami cukup beruntung saat datang karena dapat mencoba simulator Airbus A380-800 yang biasanya selalu digunakan untuk pelatihan dan test pilot. Saat datang kami beruntung dapat masuk ke dalam kokpit dan mencoba langsung simulator, tentunya dengan bantuan dari real pilot yang ada sehingga kami hanya perlu melakukan beberapa steps yang sudah diinstruksikan seperti mengatur urutan flap wings untuk take of dan landing, mengatur gerakan pesawat di landasan dengan tuas kaki (bentuknya seperti tuas untuk gas dan rem pada mobil matic), hingga gerakan saat terbang dengan handle di bagian sisi pilot dan co-pilot.


Berada di kursi pilot ini benar-benar menyenangkan, dengan simulasi yang dilakukan memberikan sensasi terbang dengan pesawat dimana gerakan simulator sesuai dengan situasi yang ada, mulai dari take off hingga landing yang diatur dengan perangkat hidrolik di kaki-kaki simulator. Simulator yang baru bahkan menggunakan perangkat gerak elektrik.



Mencoba simulator juga membuat saya menyadari betapa kompleksnya elemen-elemen dalam penerbangan, dan tentunya membuat kita lebih menghargai profesi pilot. So, who wants to be a pilot?

@marischkaprue - prefer a passenger seat but she won't say no to an offer of front view during flight

NOTES
  • Thanks to Malaysia Airlines for the invitation to see their training center facilities
  • They also have lots of airfare promo, check out here

25 Oktober 2015

, , , , , , , , ,

Mesmerizing Narai Juku



Terletak di wilayah di antara Kyoto dan Tokyo (dahulu bernama Edo), area dengan rumah-rumah kayu tradisional yang sangat menarik ini dahulu merupakan jalur utama yang menghubungkan dua kota tersebut di Zaman Edo (1603-1868).




Two Hundred Jizos

Hingga kini kita masih dapat menemukan jalur yang dahulu merupakan rute bagi para peziarah yang berkelana dari Kyoto menuju Edo ataupun sebaliknya. Di area pejalan dengan pepohonan besar ini kita dapat menemukan bangunan rumah yang unik, kuil hingga bangunan dengan dua ratus patung Buddha yaitu Two Hundred Jizos yang merupakan makam bagi pengelana di masa lampau yang tidak memiliki sanak saudara.







Area utama di Narai Juku ini adalah jalanan panjang dengan sedikit berbelok dimana di kiri dan kanan jalan dipenuhi dengan rumah-rumah tradisional Jepang yang terbuat dari kayu.





Bentuk utama rumah-rumah di Narai Juku masih dipertahankan dalam bentuk asli, hanya ada beberapa perubahan seperti penggunaan atap yang lebih tahan terpaan berbagai cuaca.




Menikmati Narai Juku di pagi hari sangat menyenangkan, terutama di saat suasana masih sepi dan terasa sangat tenang, terutama karena lokasi Narai Juku yang diapit perbukitan hijau. Menyusuri Narai Juku memang terasa seperti kembali ke masa lalu.

@marischkaprue - she walk towards the future

Photos by Ferry Rusli

NOTES




WHERE
Narai Juku
Narai, Shiojiri, Nagano Prefecture, Japan

HOW TO GET THERE
Dari Matsumoto Station naik JR Chuo Line ke Narai Station (
¥580), waktu tempuh sekitar 45 - 60 menit. (jadwal kereta di pukul 7:41, 10:24, 12:18, 13:24, cek jadwal lebih lengkap terlebih dahulu).
Dari Narai Station kita tinggal berjalan kaki menyusuri Narai Juku

OUTFIT


I'm wearing: non-brand hat (bought it in Dotombori - Osaka) around ¥1.000, non-brand top (bought it in a Factory Outlet in Bandung for less than Rp. 100.000,-), Zara black pants, Vans shoes.
ps: the white sweater (pic 11) is Wrangler.

***