Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

13 November 2012

, , , , , , , , ,

Babi Jinak di Nol Kilometer

Share



Kadangkala, hal hal yang paling diingat saat traveling adalah hal hal tak terduga yang kita temui di perjalanan, atau di salah satu spot tujuan.

Sebelum saya datang ke Tugu Nol Kilometer, sudah ada beberapa teman yang bilang "nanti bakal ketemu babi jinak," nah, di pikiran saya "oh, ada babi yang cukup ramah, ga takut atau galak sama orang, bisa dideketin kali ya, that's it," tapi seberapa jinak sebenarnya babi ini, here's the story;

Tangga naik ke plakat tulisan nol kilometer
Saat ke Pulau Weh, ke Sabang, satu lokasi yang wajib dikunjungi adalah Tugu Nol Kilometer. Mengapa? karena tugu ini penanda geografis ujung paling barat Indonesia, ya memang secara real bukan paling barat, masih ada area lain di barat Tugu Nol Kilometer, namun titik kilometer nol dihitung dari Tugu ini dan inilah mengapa ungkapan "Dari Sabang sampai Merauke" sudah jadi kalimat yang umum di telinga kita yang tinggal di Indonesia.

Walaupun belum ke Merauke setidaknya sudah ke titik paling barat :)

Tugu Nol Kilometer juga jadi tujuan saya saat datang ke Pulau Weh. Lokasi tugu tidak jauh dari lokasi saya menginap di area Iboih, jika dihitung dari kota Sabang sekitar 45 menit perjalanan mobil untuk sampai ke lokasi di Desa Iboih Ujong Ba'u, dimana Tugu Nol Kilometer berada.

Babi ini langsung mendekati saat saya turun dari mobil
Sesampainya di lokasi, saya langsung turun dari mobil dan mengarah ke depan mobil, tidak menyadari kalau ada makhluk yang mendekati dari arah kanan. Ternyata yang disebut sebut babi jinak itu datang dan memang benar benar jinak :)

Jadi babi ini langsung mendatangi saya, dan saya langsung ingin memegang kepalanya, ternyata dia mau lho dipegang, tapi cuma sebentar, rupanya babi ini minta makanan. Abang yang mengantar saya langsung memberikan kotak biskuit, saya langsung menyodorkan biskuit itu dan seperti anjing peliharaan yang jinak, babi ini langsung mengambil biskuit dari tangan saya :D

Selama ada biskuit, babi ini mau di elus elus :)
Kera kera di sekitar Tugu Nol Kilometer, saya cuma berani foto dari jauh, mereka galak soalnya
Tapi selanjutnya saya lebih memilih melempar biskuit saja, takut salah salah tangan saya tergigit hihi. Tapi beberapa biskuit ini diambil kera kera di sekitar tugu yang pastinya jauh lebih gesit dibanding si babi jinak.

Setelah main main dengan babi jinak, saya melihat lihat Tugu Nol Kilometer, rupanya si babi jinak ini masih terus meminta makanan dari pengunjung lain dengan berdiri diam di depan pengunjung yang sedang duduk, persis cara doggy meminta makanan, lucu! :)

Memang cukup aneh mengetahui ada babi, di Aceh, yang jinak dan meminta makan dari pengunjung tugu nol kilometer, tapi rupanya hal hal yang tidak terduga ini justru yang kadangkala lebih diingat. Bagi saya juga, pengalaman bertemu babi jinak ini lebih seru dibanding lokasinya itu sendiri, bukannya karena titik nol kilometer tidak penting, tapi antara seru dan penting itu berbeda kan :)


Usai lihat lihat tugu bisa nongkrong sambil liat pemandangan ini

 Kalau mengunjungi Tugu Nol Kilometer, jangan lupa bawa biskuit untuk si babi jinak supaya ia mendekati dan mau dielus elus (bagi yang bisa dan boleh memegang babi) karena sibuk makan, tapi hati hati juga karena bagaimanapun jenisnya tetap babi hutan yang besar dan kalau diseruduk atau tergigit lumayan juga hihi..


@marischkaprue - animal encounter is her happy notes on the journey

Video "A note from a travel Junkie" ada video saat saya bertemu si Babi Jinak :)


RELATED STORIES:
 


17 comments:

Pachrur Huda mengatakan...

dan mba sudah bikin saya kepengen menemui si babi itu..:)

marischkaprudence mengatakan...

lucu banget :D

illumi mengatakan...

Keren.

Semoga pas saya kesana suatu hari nanti, masih bisa lihat si babi jinak.

Herisa mengatakan...

Kalo Beruntung Bukan Hanya Babi JInak Loh, Sobat Illimi, di Kapal Penyeberangan kita juga dimanjakan Oleh Lumba Luma Yang Ber Atraksi Memperlihatkan Kebolehannya, dan Satu lagi Yang Penting Jaga Kerbersihan di Lokasi Lokasi Tujuang Anda ...Selamat Datang Di Sabang Nantinya..

muklis mengatakan...

enak ea di sabang kakak

Jesiskahalim mengatakan...

cowok-cowok jaman sekarang kalah jinak ya kak prue :)) (@jessicabajay)

Wahyu Kus mengatakan...

bukan babi biasa :))
@wahyoe_kus

Deby Choirur R mengatakan...

babi yang itu binatangnya asik yah, :D ,dia suka biskuit rasa apa aja kak? kalo pas ke sana ketemu dia, biar bisa elus-elus juga :P

@debyCR

akhda mengatakan...

Eh, masih bisa bikin sertifikat tanda kalo udah abis berkunjung di nol kilometer nggak sih mbak?
Agak nggak penting sih sebenarnya sertifikat-sertifikatannya itu, tapi pinter juga, lumayan buat promosi :))
@afifluqmana

rizki kalgasi mengatakan...

babi yg jinaknya banyak tau cuma satu aja mba?

@kalgasi

NOS @neonsen mengatakan...

Seru ya kesana dpt smuanya dr tugu sampe babi Ɣªήğ jinak..kapan ka prue ajak kita jalan2 sambil nikamti indahnya Indonesia ^_~
Btw temen sy baru2 ini prnh ke aceh katanya kopi s***buck itu mank didatangkan dari aceh.

Anonim mengatakan...

Saya sudah baca Weh Island juga seru, tapi di sini babi jinak mengingatkan saya perjalanan ke Lampung Timur di penangkaran badak cula dua. Di sana ada sepasang babi hutan, yg jinak. Setiap hari sepasang babi hutan ini datang ke basecamp para petugas dan mereka sudah nampak terbiasa dengan kehadiran manusia, hingga akhirnya sepasang babi ini diberi nama Surti dan Tejo, yang diadopsi dari judul sebuah lagu dari band Jamrud yang fenomenal pada masanya.
Sayangnya dikali kedua saya mengunjungi lokasi itu setelah 10 tahun berikutnya, Tejo sudah tak pernah menampakkan batang(baca: moncong)hidungnya. Diceritakan suatu hari Surti kesengsem dengan babi hutan jantan lain yang lebih gagah.
Aaah... Happy travelling... :D poor Tejo. (@willyharrison)

IRMN mengatakan...

Bisaaaa aja si Babi :D dan gue rasa si monyet itu betina,makanya agak jutek. *komengawur*

Btw @sofacozy

Hafid mengatakan...

Ini babi non-mainstream ya. Jinak. Biasanya babi yang jenis itu liar abis. Beringas. @mhafida

Jemmy Putro mengatakan...

WSatu2nya babi hutan di dunia yang sejinak itu benar2 Babi absurd .....:) @jemmzz_

farisa ulfa mengatakan...

UWAW! itu kata yang pertama kali aku ekspresikan kak. Sabang itu kan Aceh? yang wanitanya harus pake kerudung itu kan? bahkan ada razia nya razia yang gak pake kerudung. tapi hei, Babi? Babi hutan pula! babi? yang kalo kena jilatannya harus nyuci pake tanah 7 kali kan? yang salah satunya pake tanah?

Tapi ini bukti, kalau negara kita ini memang harus bertoleransi :) babi (dan penduduk) di 0 kilometer ini ngajarin kita hal yang selama ini kita lupain. toleransi.
atau kita justru bertingkahlaku seperti monyet itu. memilih cara yang salah: galak untuk merebut makanan. Bukan memilih cara yang benar: jinak untuk diberi makanan.
aku juga takut monyet :(
waktu di Bali dia ambil sandal temanku, swallow orens dikiranya makanan. Waktu di Rinjani monyet-monyet itu nungguin makanan yg lagi kita makan *jadi gak enak diliatin. tapi makan bareng juga ogah*

tapi baru tau juga babi suka biskuit. haha. karbovora? *pemakan karbo* haha maksa :D
thanks for sharing, can't wait dipertemukan Tuhan dengan waktu yg pas untuk kesana :)

@farisaulfa

Givendra Bravontho Saragih mengatakan...

Sepertinya babi itu akan semakin terkenal karena blog kak Prue. Dan baru aja gue cari "babi nol kilometer", blog entri ini yang jadi hasil pertama. Cuma, ada yang jadi pertanyaan: bagaimana babi hutan itu bisa ada di sana? Apakah dia sendiri/jomblo? Apakah ada yang jadi pemiliknya? Apakah ada yang jadi penjual biskuit di daeerah itu khusus untuk menjadi makanan si babi hutan? Eh, dia punya nama gak sih, kak Prue?