Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label Baliem Valley Festival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baliem Valley Festival. Tampilkan semua postingan

8 Januari 2013

, , , , , , , , ,

Mumi Panglima Perang yang Menghidupi Keturunannya.



Thy soul set free from its flesh,

Wherewith blood stops running,

A form of life stand still..


Perihal kehidupan dan kematian selalu jadi misteri, manusia bisa mempersiapkan apapun untuk menghadapi kematian, membayangkan persepsi akan dunia setelah jiwa hilang dari raga, namun tidak ada yang bangkit dari kematian dan menceritakan bagaimana dunia setelah kematian itu sendiri.

Banyak peradaban mengasosiasikan raga sebagai media saat kematian datang, badan dianggap penting untuk dijaga , misalnya di Mesir Kuno dimana raga dianggap sebagai sarana yang penting setelah kehidupan di bumi ini hilang dari badan, sehingga jenazah tertentu diawetkan, dijadikan mumi.

Tidak hanya di Mesir, banyak masyarakat kuno mulai dari Amerika Selatan hingga Asia mempraktekan upaya mengawetkan badan manusia. Nah, jika anda ke ujung timur Indonesia, ada wilayah pegunungan dimana jenazah dahulu diawetkan dengan cara diasap, menghasilkan mumi yang menghitam dengan bagian kulit yang mengeras namun bertahan diterpa ratusan tahun masa berganti.

Mumi Wim Motok Mabel
Di Lembah Baliem, Jayawijaya ada enam mumi yang dikenal hingga kini. Namun ada satu yang paling menarik perhatian saya, karena si empunya raga ratusan tahun yang lalu adalah panglima perang, Wim Motok Mabel.

Nama Wim Motok Mabel pun menggambarkan siapa yang dahulu mengisi raga yang diawetkan ini. Wim berarti perang, Motok menggambarkan pemimpin, panglima, dan Mabel adalah nama panglima perang ini.

Sebagai sosok yang disegani, saat Wim Motok Mabel meninggal, jenazahnya diawetkan. Tujuannya agar sosok Wim Motok tidak hilang dari ingatan penduduk area Jiwika, agar keluarga panglima perang ini ingat betapa diseganinya Wim Motok di masa jayanya. Wim Motok Mabel juga meminta agar dirinya dijadikan mumi jika ia meninggal, dan kini ia tidak hanya menceritakan masa lalu namun menjadi penarik minat turis mengunjungi desa kecil di Distrik Kurulu, Wamena.

Usia mumi panglima perang ini sekitar 278 tahun, ini dihitung dari jumlah tali di lehernya yang ditambah setiap tahun berganti. Saya bisa melihat bagian bagian yang mulai rusak, kulit yang hitam mengeras di beberapa sudut siku mulai rusak dan memperlihatkan bagian tulang. Tidak hanya proses pengawetan, untuk menyimpan mumi pun perlu kondisi khusus agar dapat terus bertahan namun tentunya di Desa Jiwika, mumi hanya disimpan di honai, rumah tradisional di Papua.

Mumi di Desa Aikima
Wim diawetkan dalam posisi duduk, kaki merapat ke badan dan mulut menganga.
Mulut Wim menganga lebar, seakan akan menjerit menghadapi kematian. Kontras dengan mumi yang saya temui di Desa Aikima, dimana posisi mumi menunduk dengan ekspresi wajah seakan tertidur nyenyak.

Saya membayangkan bagaimana pembuatan mumi ini ratusan tahun yang lalu. Penduduk desa yang juga merupakan generasi ke tujuh dari Wim menjelaskan, proses panjang 200 hari pembuatan mumi.

Usai upacara setelah meninggalnya seseorang yang akan dijadikan mumi, jenazah dibawa ke honai yang lokasinya jauh dari desa. Kemudian dua orang yang dipilih secara khusus membuat api di dalam honai, dimana jenazah yang dibalur lemak babi, diletakkan di bagian langit langit honai. Asap dari api akan terus menerus mengenai jenazah selama 200 hari hingga tubuh mengering, mengeras dan menjadi mumi.

Setelah pengasapan selama 200 hari, upacara yang dinamakan "Ap Ako" akan menutup proses mumifikasi. Wim Motok Mabel yang telah diawetkan dibawa ke Desa Jiwika, disimpan dan dijaga oleh keluarga.

Bagian dalam honai

Saya memperhatikan Wim Motok Mabel
Bagi penduduk tradisional di Lembah Baliem, mumi dipercaya membawa kesembuhan, memberikan kesuksesan dan membantu memenangkan peperangan bagi keluarga dan desa yang menyimpan mumi, apalagi Wim Motok Mabel adalah panglima perang yang disegani sehingga mereka percaya Wim masih terus melindungi Jiwika.

Salah satu keluarga generasi ke tujuh dari Wim berkelakar "Kami percaya Wim bawa kesuksesan, buktinya Wim bawa turis dan uang ke desa ini," kami pun tertawa, ada benarnya juga perkataan mereka. Penduduk Desa Jiwika kini mengandalkan uang dari turis yang datang, untuk satu group turis saja bisa diharuskan membayar 300 ribu rupiah dan kami dapat sepuasnya melihat dan mengambil gambar Wim Motok Mabel.

Wim Motok Mabel, panglima yang senang berperang kini terkenal jauh melebihi daerah ia berperang. Ia tidak perlu menghabiskan nyawa musuhnya, tidak perlu bepergian, ia hanya duduk sambil memperlihatkan mulutnya yang mengerang. Wim kini "bekerja" untuk kehidupan keturunannya, menghasilkan uang bagi generasi dan generasi usai ia tidak lagi sanggup berperang.

@marischkaprue - never overthink about death

NOTES:
  • Akan jauh lebih menarik jika mengunjungi Wamena dan sekitarnya di saat Festival Lembah Baliem. Tahun ini Festival Lembah Baliem dilakukan di tanggal 12 Agustus - 15 Agustus 2013.
  • It would be way more interesting to visit Wamena and Baliem during the Baliem Valley Festival. This year the festival will be held on 12 August until 15 August 2013.

 RELATED STORIES:


23 Desember 2012

, , , , ,

Misteri Panjang Gua Lokale

gua lokale


Bayangkan anda memasuki gua, berjalan lebih dari 24 jam dan sama sekali belum menemukan ujung gua tersebut. Pertanyaan "dimana jalan keluar? sampai berapa panjang lagi gua ini? atau setidaknya ada ujung buntu dari gua ini?" selalu ditanyakan saat memasuki gua yang ada di Desa Wosilimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua ini.

Memasuki Gua Lokale, bukan hal yang sulit, dengan catatan: untuk awal perjalanan memasuki gua. Saya tidak punya banyak waktu untuk menelusuri gua ini, jadi saya hanya menghabiskan waktu tidak sampai satu jam di area gua Lokale.

Melewati hutan pinus sebelum pintu masuk Gua Lokale


gua lokale
Pintu masuk Gua Lokale

Untuk sampai ke pintu masuk gua, hanya dengan berjalan lima menit dari perhentian mobil. Saya melewati hutan pinus terlebih dahulu, dengan jalan setapak yang mempermudah perjalanan.

Pintu masuk Gua Lokale sudah berbentuk pintu, jika pengawas gua tidak ada maka pintu ini digembok agar tidak ada yang sembarangan masuk.

Saya menyalakan senter dan memasuki celah sempit yang jadi areal masuk gua, berjalan hanya tiga meter dan saya harus menunduk menuruni tangga untuk semakin memasuki gua ini.

gua lokale
Masih banyak celah masuk sinar matahari di area awal

gua lokale

gua lokale
Struktur di dinding Gua Lokale

Gua Lokale dipercaya sebagai salah satu gua terpanjang di dunia. Alasannya? Karena belum pernah ada satu orangpun yang berhasil mencapai ujung gua ini. "Dulu ada ahli dari Amerika yang datang di tahun 1996, mereka masuk pukul 6 pagi, dan besoknya pukul 6 sore mereka keluar," ujar Pak Boas yang menemani saya berkeliling Gua Lokale.

Pak Boas pun dengan semangat meneruskan, ia bercerita kalau rombongan peneliti dari Amerika tersebut tidak menemukan ujung dari Gua ini, dan akhirnya keluar karena merasa tidak memungkinkan untuk mencapai ujung Gua Lokale yang belum pernah dicapai hingga kini.

Sejauh ini, menurut Pak Boa, data perjalanan memasuki Gua Lokale yang paling jauh adalah hingga tiga kilometer, dan itupun belum mencapai ujung sama sekali. Sayangnya saya hanya punya waktu sebentar untuk menikmati Gua Lokale, padahal Pak Boas menerangkan jika dapat memasuki hingga panjang sekitar 850 meter, terdapat aula besar di dalam gua. Bahkan, jika punya waktu lebih banyak dan sanggup berjalan dua kilometer ada aula kedua di Gua Lokale yang jauh lebih luas.

gua lokale
Laras, the cameraperson serius shooting

gua lokale
 
Meski tidak sampai ke dua aula itu, memasuki Gua Lokale jadi perjalanan yang menyenangkan. Seperti gua pada umumnya, terdapat banyak stalagtit dan stalagmit di berbagai sisi dan langit langit gua, ada beberapa dinding yang seakan akan diukir dan indah saat anda lihat, apalagi melihat bagian bagian gua menggunakan cahaya senter menimbulkan perasaan yang menyenangkan, seakan akan sedang mengeksplorasi hal baru.

Ada juga satu bagian dinding gua yang memiliki rongga, sehingga saat diketuk halus dengan jari, menimbulkan suara seperti gendang yang kemudian bergema lembut karena struktur dinding Gua Lokale.

gua lokale
 
Gua Lokale memang belum punya catatan resmi keterangan panjang, ataupun catatan ilmiah lain. Ah, namun saya membayangkan mengeksplorasi gua ini, berapa hari kita bisa berjalan memasuki gua dengan perbekalan? berapa lama kita bisa bertahan memasuki dan tinggal di gua hanya dengan cahaya senter dan udara yang semakin pengap saat masuk?

Mungkin, hanya mungkin, Gua Lokale memang akan terus jadi misteri, apakah memang terpanjang di dunia. Ah, Papua dan semua misteri indahnya. Amazing, a place worth exploring..

@marischkaprue - Hope for her next visit to Papua

Yang ingin merasakan sepenggal Gua Lokale, ada di video ini:



NOTES:
  • Akan jauh lebih menarik jika mengunjungi Wamena dan sekitarnya di saat Festival Lembah Baliem. Tahun ini Festival Lembah Baliem dilakukan di tanggal 12 Agustus - 15 Agustus 2013.
  • It would be way more interesting to visit Wamena and Baliem during the Baliem Valley Festival. This year the festival will be held on 12 August until 15 August 2013.

RELATED STORIES:

15 November 2012

, , , , , , ,

Avatar World in Wamena



The first time I saw this place, I just stunned. Red leaves covered the surface, branches, trees and everything look like a dreamland. So we called it avatar world since it feels like being in Avatar world when you're in the middle of all this.

But not as hard to reach as in the movie, this breath taking view is only 5 minutes walking from your car drop off in Wosilimo Village, Wamena, Papua.

The beautiful red leaves scenery is right in front of Lokale Cave entrance. So it's beautiful inside and outside :)

Ah, don't let me write too much, here, enjoy the pictures..

Am I the only one who think this is like a scene in Avatar?
Red leaves everywhere
the forest
inside Locale Cave, believed as one of the longest cave in the world.
One more thing, don't, I meant never, never ever forget to take photos with this background! :)

Wisnu, Laras, me and Ferry, strike a pose!
 
@marischkaprue - never enough walking in her life.

NOTES:
  • Akan jauh lebih menarik jika mengunjungi Wamena dan sekitarnya di saat Festival Lembah Baliem. Tahun ini Festival Lembah Baliem dilakukan di tanggal 12 Agustus - 15 Agustus 2013.
  • It would be way more interesting to visit Wamena and Baliem during the Baliem Valley Festival. This year the festival will be held on 12 August until 15 August 2013.

RELATED STORIES:

14 Oktober 2012

, , , , , , , , ,

Telaga Biru, Dangerously Beautiful Blue Lake



Telaga Biru Wamena

One day an old man said to me "What seems beautiful usually dangerous," well this is actually true in some ways and in nature. Lets not talk about how dangerous a beautiful woman is that she might took logic out of man's head, I'm talking about dangerously beautiful things in nature.

So in my trip to Wamena, Papua, we went to the beautiful lake in Maima District. I should’ve prepared my trekking shoes since the trek is not friendly for my flat shoes. It was muddy, we must carved a way though trees and coppices for about an hour.

Telaga Biru Wamena
This sight is just truly beautiful!


Then I saw a beautiful beautiful blue river. "We're not arrived yet," the guide said. I heard her but still, this view is just mesmerizing. A small bridge with blue water, it just perfectly combined frame.

Then we moved on, walking about 10 more minutes then we arrived. Light green bluish lake, surrounded by trees and hills as its background. This breath taking view stunned me for a while and then I saw the crystal clear blue water and washed my dirty feet there.

"I really wanna jump there right now" I said that while looking at the blue lake. But well, actually it was forbidden, even what I've done which was washing my feet is also forbidden. "Nobody swim there," the locals said.

Telaga Biru Wamena
The lake is more green than the river


"Telaga Biru" or the blue lake, that’s what the locals called this green lake, is a sacred place for people in Wamena. They believe this is where their ancestors came for the first time.

This kind of color on the lake usually came from algae, the green blue color came from cyanophyceae, one of the microscopic bacteria that are photosynthetic and occur naturally in the surface of water, make the water look green blue, as in Telaga Biru.

Telaga Biru Wamena


Well one thing I didn't aware is that these algae might be quite dangerous. Some species might produce toxin and can be dangerous when exposed to human body.

Then I tried to connect the dot with the local beliefs. It might be because of some local long time ago went swimming here and exposed to toxins, the locals with their lack of scientific knowledge would accept it as superstitious power that forbid the them to touch the water, then the lake became sacred.

It was my own theory; of course I won't debate the local beliefs. For me, traditional beliefs are as important as religion, it put people in order and sometimes, we should be scared then we can obey. Consider if they don't believe this lake is sacred, maybe a lot of people and tourist might swim and exposed to toxins.

Marischka Prudence Telaga Biru
The lake is behind me, okay, no better spot to pose I can find :)


Now I think too much and distract you from enjoying the true beauty. This lake is a perfect example of what the old man say. Beautiful but dangerous (might be, no further research as far as I know held in this place) and one more thing, my feet, despite had exposed to the water and algae, is fine until now :)

@marischkaprue - traveler with healthy explorer feet


Thanks to:
Ministry of Tourism and Creative Economy Republic of Indonesia for this amazing trip. 

NOTES:
  • Akan jauh lebih menarik jika mengunjungi Wamena dan sekitarnya di saat Festival Lembah Baliem. Tahun ini Festival Lembah Baliem dilakukan di tanggal 12 Agustus - 15 Agustus 2013.
  • It would be way more interesting to visit Wamena and Baliem during the Baliem Valley Festival. This year the festival will be held on 12 August until 15 August 2013.

RELATED STORIES:

13 Oktober 2012

, , , , , , , ,

Pasir Putih, Snow White on The Baliem Valley


Baliem Valley
Baliem Valley area
Papua is a land of exotic beauty. It took me long time to get to this land. I've wanted much to visit Papua since years ago and it seems God still separate Papua and me until this year.

Don't expect underwater beauty because the famous Raja Ampat wasn't the place I visited. I went to the center of Papua on the map, where true exotic culture and the untouch nature still exist and became a diamond for European tourist.

Baliem Valley Papua
Local woman holding the pig, actually Wamena came from the word pig there. "Wam" means pig, "Ena" means tame.

Baliem Valley lies on the mountainous area of Wamena. Here, the weather is cold all the time, so even though the sun is so bright, I mostly use my jacket during my Baliem valley visit.

Before it became an inhabitable land, Balliem was a large lake called Wio. Earthquake more than two hundred years ago turned Wio into a flat dry area. Then tribes are starting to rule the area, farmers, warriors and hunters living the green beauty of Baliem.

My first breath taking spot in Baliem is the white sandy rocky hills. Only about 20 minutes from the center of Wamena, you can find this amazing view just beside the long road. 

Pasir Putih Wamena
"Pasir Putih" or "White Sands"

"Pasir Putih" or "White Sands" is what the local called this place. We will instantly understand since it is a place full of white sands and what makes it special is that Baliem is in the mountain area, so its not the typical white sands you'll find on the beach.

According to the local legend, this is a place where Noah's ark* stopped for a while, and that is why white sands lies on those hills of Baliem. 
Pasir Putih Wamena
Pasir Putih located at the Aikima Village, not far from the center of Wamena.
I, myself enjoying the amazing view. Sands combined with hills and big rocks, the view is just amazing and unique. But actually the sands here are different from the usual sands on the beach. The texture of the sands are more soft, and when I touched or stepped on it, it turned grey for a while, then became white again after the sun dried it up again.

Well nothing much to think on this place, what you gotta do is just see and enjoy the scenery since thats what I do here. 

Pasir Putih Wamena
Amazing view of this white sands.
Pasir Putih Wamena
A must pose place :)
*Noah's ark is a story on the bible when the major flood covered the earth and Noah saved creatures on earth by putting it on the ark.

Thanks to:

Ministry of Tourism and Creative Economy Republic of Indonesia for this amazing trip. 

NOTES:
  • Akan jauh lebih menarik jika mengunjungi Wamena dan sekitarnya di saat Festival Lembah Baliem. Tahun ini Festival Lembah Baliem dilakukan di tanggal 12 Agustus - 15 Agustus 2013.
  • It would be way more interesting to visit Wamena and Baliem during the Baliem Valley Festival. This year the festival will be held on 12 August until 15 August 2013.

RELATED STORIES: