Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label Jelajah Bumi Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jelajah Bumi Papua. Tampilkan semua postingan

6 Agustus 2013

, , , , , , , , ,

Pulau Asei, Kerajinan dan Sejarah di Tengah Danau Sentani



Ada 21 pulau kecil yang tersebar di Danau Sentani, Danau terbesar di Papua dengan pemandangan spektakuler yang selalu membuat saya tercengang. Namun, saat datang disini ada satu pulau yang selalu dikunjungi karena keunikan kreatifitas lokal dan pecahan sejarah Perang Dunia ke II yang tersimpan di pulau tersebut.

There are 21 small islands scattered in Sentani Lake, the largest lake in Papua with spectacular view that always amaze me. However, there is one island which always visited because of its uniqueness of local creativity and a piece of story from World War II.

The beautiful Sentani Lake
The local child

Pulau Asei berdekatan dengan dermaga utama di Danau Sentani. Hanya perlu sekitar 5 menit naik kapal kayu untuk menyebrang ke Pulau Asei. Memasuki dermaga tidak lama saya langsung melihat beragam kulit kayu yang dilukis.

Asei island located near to the main pier in Lake Sentani. So close that you only need about 5 minutes to cross from the pier to Asei. I walk into the dock in Asei Island and immediately saw the variety of painted paper wood.

Kerajinan kulit kayu ini adalah kreatifitas khas di Sentani, menggunakan kayu khombouw yang diratakan, dihilangkan getahnya, dicuci dan dijemur hingga kayu ini menjadi bahan tipis seperti kertas. Kemudian, kulit kayu khombouw ini dilukis dengan pewarna alami dari alam, dengan motif yang memiliki makna tradisi.

This kind of painting is a unique craft in Sentani. Local people use khombouw wood which been flatened, removed the sap, washed and dried in the sun until the wood became so thin. Later on, this khombouw bark painted with natural dyes from nature, with variety of forms which have traditional meanings.


Ada bentuk bentuk tertentu yang melambangkan maskulinitas ataupun feminitas, lebih berupa bentuk abstrak. Sebagian lagi melambangkan masyarakat kecil, misalnya lambang ikan dan cicak. Memperhatikan pola pola dan motif kerajinan khombouw ini jauh lebih seru jika anda sambil mencari informasi arti dari setiap motif sehingga saat membelinya sesuaikan juga dengan arti yang anda cari.
 
Certain forms symbolize masculinity or femininity, when I saw I realize it's more of an abstract form. Some symbolize community, such as fish and lizard. Looking at these patterns at khombouw craft is much more exciting if you also know the meaning of each patterns and forms so when you buy it, you can find the one suits you well.
Mrs Delilah
Harga kerajinan ini bervariatif, mulai dari 50 ribu rupiah untuk yang berukuran kecil, hingga ratusan ribu. Masyarakat di Pulau Asei pun sudah terbiasa membuat kerajinan khombouw. Ibu Delilah yang menjual kerajinan ini menceritakan bahwa sejak kecil ia sudah memperhatikan cara pembuatan dilakukan oleh orang tuanya. "Sudah lama saya bikin, semua belajar dari kecil," ujar Ibu Delilah sambil memperlihatkan sejumlah kerajian khombouw dengan beragam motif.

The prices vary, ranging from 50 thousand rupiahs for a small craft, up to hundreds thousand rupiahs. This craftsmanship is already became a community skills. Delilah, whom selling this crafts told me that she can make khombouw craft since she was a little girl, learning from her parents. "I've been doing this long enough, learn it since I was a child," she said while showing a number of khombouw crafts she made.

Pigs everywhere

Tidak hanya kerajinan yang saya temui disini. Pulau Asei menyenangkan untuk berkeliling, melihat jajaran rumah yang dibangun di atas air danau dan babi babi yang berkeliaran di sekitar pulau.

In Asei, you'll find not only khombouw crafts. This island is actually a nice place to walk around, seeing houses built on top of the water and also pigs walking everywhere around the island.

The church

Dari jajaran rumah ada jalan yang menuju ke bagian atas pulau. Di ujung anda akan menemukan gereja tua dengan arsitektur sederhana. Yang menarik bagian mimbar tidak seperti mimbar gereja pada umumnya, ada bentuk sayap dari kayu yang melekat pada mimbar.

Near the houses, you'll see a path leading to the top of the island. Just walk around five minutes and you'll find yourself seeing an old church. The design is simple, but the interesting part is the pulpit, I saw a form of wooden wings attached to the pulpit and its not common.

Gereja di Pulau Asei sebelumnya berada di area bawah. Namun pada masa Perang Dunia ke II, Sentani dan Pulau Asei berada dalam jalur merah penyerangan sekutu. Warga dahulu sempat mengungsi di kala perang bergejolak dan kemudian usai PD ke II, gereja kembali dibangun di bagian atas Pulau Asei.

Previously, this church located in the different location. During World War II, Sentani and also Asei is in the red line area, meaning that the location is in the targeted area. During the war, local people leave the island for a while and came back after the war ended. The church is rebuilt in the top area of the island.



Layers of colors in the sky
Pulau ini akan membuat anda merasakan tenang. Selain jauh dari hingar bingar, di kala senja Pulau Asei punya lokasi indah untuk menikmati matahari turun perlahan. Persis di dermaga pulau ini anda dapat mengamati sunset dengan foreground rumah tradisional dan perahu yang sesekali melintas dan sudah terlihat sebagai siluet.

This island gave me a peaceful feeling. Away from the busy and loud noises of the city and when the sun prepare to set, Asei has one of the great place to enjoy the sun disappearing slowly. At the dock you can watch the sunset, plus traditional houses and boats passing by, building a perfect silhouette.


Jika duduk dan menikmati ketenangan Pulau Asei sulit rasanya membayangkan area ini dahulu masuk dalam jalur merah penyerangan dan dibombardir sekutu. Ah, saya hanya berharap tempat ini selalu damai. This is a beautiful place, to beautiful to be ruined by human.

When I sat and enjoy this tranquility, it's hard to imagine that this area formerly in the red zone and bombarded during the World War II. Oh well, I just hope this place is always peaceful. This is a beautiful place, to beautiful to be ruined by human.
 
@marischkaprue - its hard for her to stop looking at beautiful sunset

Photos taken by Samsung NX300

1 Juli 2013

, , , , , , , ,

Sentani, Hot Like Heaven



Saya percaya surga ada di muka bumi ini. Jika anda tidak setuju, pergilah sejenak dari kota besar dan menjelajahlah. Bumi ini penuh dengan lokasi lokasi fantastis yang selalu membuat saya berdecak kagum dan bersyukur.


I believe there is heaven on earth. If you don't agree, just take a moment away from the big city and go explore. This earth is full of fantastic locations which always makes me chuckle in, amazed and grateful.

Papua selalu memiliki eksotisme tersendiri. Wilayah yang memiliki setengah dari pulau kedua terbesar di dunia ini adalah destinasi impian pecinta petualangan dan pencari eksotisme budaya yang masih sangat kental disini.

Papua has always had its own exoticism. This half of the world's second biggest island is
the dream destination for adventure seekers and those who love exotic culture.

Jika anda ingat Raja Ampat dengan pulau pulau yang bermunculan dengan indahnya di hampir setiap foto perjalanan yang melancong kesana, pergilah ke arah timur laut Papua, tidak jauh dari Jayapura.

If you remember Raja Ampat islands which popping up beautifully in almost any travel photos from there, then go heading to the northeast of Papua, not far from Jayapura.
Totally an amazing view
Saya ingat berada di pesawat dan melihat ke bawah, ada sepotong surga kehijauan yang kontras dengan biru air dan langit, ditambah awan putih yang melewati langit dan membentuk bayangan indah.

I remember being on a plane, looking down then I saw a piece of heaven. Contrast with the greenish blue water and sky, also white clouds across the sky forming beautiful reflections.

Bukan gugusan pulau di laut, ini adalah danau terbesar di Papua. Dengan luas 9.360 hektar, Danau Sentani memanjang dari wilayah Borowai di area barat danau hingga Waena yang berdekatan dengan Abepura. Pemandangan disini begitu spektakuler karena gugusan pulau pulau yang hijau dan berlekuk. Total ada 21 pulau kecil yang tersebar di area danau ini, dengan Pulau Asei sebagai pulau yang paling terkenal karena kerajinan kulit kayu dan posisinya yang dekat dengan dermaga di area Gapote.

This ain't group of islands in the sea, this is the largest lake in Papua, Sentani lake. With an area of ​​9,360 acres, extends from Borowai region in the west of the lake, and to Waena on the east, just near Abepura. The scenery  is so spectacular thanks to the cluster of islands which is green with curves. In total, there are 21 small islands scattered in the lake area, with Asei Island as the most famous for leather wood crafts and since its location just near the Gapote quay area.



 

Untuk menikmati Sentani pilihlah kapal kayu kecil, saya hanya perlu membayar sepuluh ribu rupiah untuk menyeberang, atau menambah ekstra sepuluh ribu lagi untuk mendapatkan "short tour" di tengah teriknya matahari Papua yang semakin menyilaukan air danau dan membuat kontras warna semakin membuat area ini picture perfect.
 
To enjoy Sentani, get into the small wooden boat, I only have to pay ten thousand rupiahs for crossing the lake to the islands, or just add an extra ten thousand more to get the "short tour" in the heat of the sun which amazingly making the water more dazzling  and contrast. This is a picture perfect area.


I don't mind a sunny hot day here
Panas matahari sangat terik, membuat salah satu teman saya, Bayu, menganalogikan bahwa neraka seakan sedang bocor dan hawa panas masuk ke bumi Papua ini. Ah, sepanas apapun, namun jika melihat pemandangan seperti ini bagi saya ini adalah surga dunia, meski harus bercucuran keringat.

The sun is shining hard, even one of my friend, Bayu analogized the weather as "seems like hell is leaking and the heat came into the earth." Oh well, whatever heat and hot it may, if you stare at this extravagant view, for me this is heaven on earth, even when I have to sweat all the time here.

@marischkaprue - don't mind getting tan skin as long as she can meets the heavens

Photos taken by Samsung NX300, except (7) and (9) by Raiyani Muharramah

NOTES:
  • Ambil penerbangan Ke Bandara Sentani, Jayapura. Danau Sentani persis ada di selatan bandara dan tidak perlu waktu lama untuk berkendara ke area Danau Sentani.
  • Untuk kemeriahan lebih datanglah saat waktu Festival Danau Sentani yang biasanya dilakukan di pertengahan hingga akhir bulan Juni, biasanya berkisar dari setelah tanggal 20 Juni.
  • Thanks to Adira Faces of Indonesia dan semua tim Jelajah Bumi Papua. Anda dapat melihat cerita cerita dari seluruh Indonesia di website Adira FOI disini.

RELATED STORIES

28 Juni 2013

, , , , , , , , , ,

Fell in Love with The Habema Lake.



Hari masih gelap. Waktu menunjukkan pukul 3 subuh, kami bergerak dari Wamena dengan kendaraan 4 wheel drive menuju lokasi danau dengan pemandangan yang selalu disebut sebut spektakuler.

It was still dark. At 3 am in the morning, we moved from Wamena with 4 wheel drive vehicle to the location where a so called beautiful lake been described over and over again as a spectacular view. 

Dua jam lebih berkendara, perut kami diaduk terus menerus sejak melewati Sinama dan area Napua, jalanan aspal berubah menjadi jalanan yang hanya terbentuk dari hamparan kerikil dan batu, serta kontur yang tidak beraturan.

On our two hours drive the paved road ends after Sinama and Napua, the road began more shaky, only formed by stretch of gravel and stones and different contours, It felt like being in a blender, shaken all the time.

Suasana masih gelap sehingga kami tidak dapat melihat sekeliling, hanya sorotan lampu mobil yang menerangi jalanan. Mendekati terbitnya matahari kami sampai di salah satu titik yang terbaik untuk memperhatikan Danau Habema. Saya turun dari mobil dan langsung disambut dingin yang menusuk. Meski sudah dibalut jaket berlapis, sarung tangan, wind breaker, saya masih menggigil. Suhu rata rata pada pagi dan malam hari di Habema sekitar 8 derajat celcius, membuat saya yang terbiasa dengan udara panas Jakarta sontak kedinginan.

It was so dark that we can't look around, just beam headlights illuminate the road. Then, nearly sunrise we got one of the best place to observe Habema lake. I got out of the car and was immediately freezing. Though I've prepared padded jackets, gloves and wind breaker, I was still shivering. Average temperature in the morning and evening at Habema around 8 degrees Celsius, which makes me who familiar with Jakarta's weather hard to adapt.

Semburat pagi di Danau Habema
Puncak Trikora setinggi 4.750 mdpl terlihat jelas

Pagi itu gerimis turun perlahan, menambah dingin dan menutup semburat matahari yang terbit. Kami saat itu ada di ketinggian sekitar 3.300 meter di atas permukaan laut, kemudian tidak lama cuaca seakan langsung menyambut kami. Matahari semakin bersinar dan kami dapat melihat jelas Danau Habema, dengan puncak gunung Trikora yang diliputi salju.

The morning drizzle rain came slowly, adding a tinge of cold and made the rising sun blurry. We were at an altitude of about 3,300 meters above sea level, then not long the weather seems suddenly welcoming us friendly. The sun suddenly shine so we can see Habema lake clearly, with the background of mountain peaks, covered with snow, the Trikora mountain.

Danau Habema berada di ketinggian 3.125 mdp. Sebagian menyebut danau ini ada di ketinggian 3.225 mdpl namun dari pengukuran, batas air Danau Habema ada di ketinggian yang berselisih 100 mdpl dengan keterangan di papan.

Habema Lake located at an altitude of 3,125 meters above sea level. Some say this lake at a height of 3,225 meters above sea level, but from the measurements, Habema Lake watershed at an altitude of 3,125 meters above sea level which is at different with the statement on the board.



Dahulu danau ini disebut Yuginopa, sebagian penduduk masih menyebut danau ini dengan nama asalnya. Nama Habema kemudian muncul dari nama seorang perwira dari Belanda, Letnan D Habbema. Ia mengawali ekspedisi yang dipimpin H.A Lorentz di kawasan tersebut pada tahun 1909. Dari Lorentz dan Habbema maka beberapa lokasi mendapat nama mereka. Danau Habema berada di area Taman Nasional Lorentz, dengan luas 2,4 juta hektar area.

The lake formerly called Yuginopa, most people still call it by the native name of this lake. term "Habema" then appeared from the name of a Dutch officer, Lieutenant D Habbema. He started the expedition led by HA Lorentz in the region in 1909. From Lorentz and Habbema then some locations got their names. Habema lake are in the Lorentz National Park area, which spread around ​​2.4 million hectare area.


Area ini adalah lokasi yang spektakuler, dengan landscape Papua dan vegetasi yang sangat beragam. Dahulu di area Danau Habema banyak terdapat anggrek hitam yang langka. Saat ini sudah sangat sulit menemui tanaman ini akibat eksploitasi ilegal yang membawa anggrek anggrek ini ke kota kota besar di Indonesia untuk dijual. 

This area has a spectacular view, with Papua landscape and very diverse vegetation. Long time ago in the area of Lake Habema we can find many rare black orchid. It's been very difficult to meet this crop due to the illegal exploitation of orchids for commercial use.




Meski Habema dikatakan telah berubah jauh sejak 104 tahun lalu kala H.A Lorentz memulai ekspedisinya di area Jayawijaya, Papua, landscape Danau Habema tetap spektakuler bagi saya. Rentangan danau biru pekat seluas 224 hektar dengan salju abadi yang menutupi puncak Trikora adalah berlian di mata pecinta alam dan ekspedisi.

Although Habema said to have changed a lot  since 104 years ago when HA Lorentz start his expedition in the area of Jayawijaya, Papua, the Habema landscape still amazed me. Range of deep blue lake covering 224 acres with perennial snow covered the Trikora peaks is a diamond in the eyes of nature and expedition lovers.

Saya sempat terperosok ke lumpur

Saat matahari semakin naik, suhu pun semakin bersahabat. Saya dan tim dari Jelajah Bumi Papua kemudian bergerak dengan mobil ke titik 3.225 mdpl untuk memulai trekking menurun ke arah danau. Area ini dipenuhi padang rumput dan rawa rawa. Ketinggian dan suhu dingin membuat lumut berkembang baik di area ini, beberapa kali kami harus memilih dengan seksama jalur berjalan agar tidak terperosok di lumpur.

When the sun reach higher, the temperature became more friendly. Me and Jelajah Bumi Papua (Papua Exploration Team, presented by Adira) team then drove to the 3,225 meters above sea level point to start trekking down to the lake. This area is filled by meadow and swamp marsh. Altitude and cold temperatures make moss grow well in this area, even sometimes we have to choose carefully to avoid stepping into mud hole.


Namun semua itu terbayar dengan cepat. Di pos terakhir tepat di depan Danau Habema kami mendapatkan pemandangan luas, dengan biru kontras dari danau, langit dan putihnya awan, ditambah pepohonan di sekitar danau. A magnificent God's creation.

But every effort is worth. On the last rest hut, Habema lake lies in front of us. We got dazing view to the lake. It is so beautiful. A contrast of blue lake, blue skies, white clouds and the green brown trees surround the lake. A magnificent God's creation.

This is one of the place that time stood still, and you'll realize how small you are, and how great is His creation..

@marischkaprue - Will be on top of Trikora mountain, one day and someday.

All photos, except  (7) and (13) are taken by Samsung NX 300.

See also the video from this trip, here:



NOTES:
  • Siapkan baju hangat jika ingin berkunjung ke Danau Habema. Jaket, Wind Breaker, Sarung Tangan dan trekking pole jika diperlukan.
  • Waktu menuju Danau Habema dari Wamena sekitar 2 jam berkendara dengan kendaraan 4 wheel drive.
  • Untuk perjalanan serupa dapat menghubungi Putra Papua Tours, harga dapat bervariasi tergantung kebutuhan lama perjalanan dan pilihan paket wisata, hubungi +62 96931540 atau +62 96931900 untuk keterangan harga dan bookings.
  • Menuju ke Wamena, ambil penerbangan menuju Jayapura dan dilanjut dengan penerbangan dengan pesawat Trigana menuju Wamena dengan harga rata rata Rp. 900.000,- di saat low season.
  • Thanks to Adira Faces of Indonesia dan semua tim Jelajah Bumi Papua. Anda dapat melihat cerita cerita dari seluruh Indonesia di website Adira FOI disini.
 RELATED STORIES: