Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label Kyoto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyoto. Tampilkan semua postingan

13 November 2018

, , , , , , , , , , , ,

KYOTO & AROUND IN TWO DAYS



Kyoto selalu jadi destinasi favorit saat ke Jepang di musim apapun. Jika selama ini kita berpikir tentang Fushimi Inari-taisha dan Arashiyama saat berkunjung ke Kyoto, ternyata masih banyak hal yang dapat dilakukan di Kyoto. Apa saja? ini dia

IN KYOTO CITY

FUSHIMI-INARI TAISHA



Salah satu shrine paling populer di Jepang ini terkenal dengan deretan torii gate berwarna oranye yang tersusun panjang hingga ke puncak Gunung Inari. Karena Fushimi Inari-taisha sangat populer, datanglah di pagi hari jika ingin mendapatkan suasana yang lebih tenang di shrine ini.

Nearest Station: JR Inari Station

YASAKA KOSHIN-DO

Temple yang berukuran kecil ini mudah terlewati, namun jika kita melihat gerbang kecil untuk masuk ke area temple, maka warna-warni "bola" yang digantung di banyak sisi sudah terlihat dari jauh.

Yasaka Koshin-do adalah salah satu temple paling berwarna-warni karena bola-bola berbagai warna yang digantung. Bola-bola ini merepresentasikan monyet yang dahulu didedikasikan untuk Shomen Kongo dan dipercaya dapat membebaskan manusia dari berbagai penyakit dan kesulitan. Pengunjung yang datang dapat menulis keinginan mereka di "colorful monkeys" yang kemudian digantung di beberapa sisi bangunan di Yasaka Koshin-do.

Nearest Station: JR Inari Station

KYOKOMACHI KIMONO RENTAL


Berkeliling Kyoto sambil menggunakan kimono selalu menyenangkan. Ada berbagai lokasi untuk menyewa kimono di Kyoto, salah satunya di Kyokomachi Kimono Rental. Saya sarankan untuk menyewa kimono seharian karena kita bisa berkeliling hingga sore hari sebelum mengembalikan kimono, jadi lebih puas.

Kyokomachi Kimono
104 Tatsumi-cho, Higashiyama-ku, Kyoto
opening hours: 9 AM - 8 PM
email: info@kyokomachi-kimono.com
Nearest Station: JR Kyoto Station, kemudian naik bus No. 206 ke Kiyomizu-michi bus stop

Rental price:
Start from 3000 yen (exclude tax) - 5000 yen, return on the same day latest at 6.30 PM
Jika mengembalikan di hari selanjutnya ada biaya tambahan 1000 yen (latest jam 4 sore keesokan harinya).

IN UJI CITY

Uji Station
BYODOIN TEMPLE

Buddhist temple dengan warna merah di Kota Uji ini merupakan karya arsitektur kebanggaan di periode Heian. Phoenix Hall (bangunan utama berwarna merah) ini adalah National Treasure di Jepang. Dengan bangunan yang sangat cantik dan danau persis di depan Phoenix Hall yang memberikan refleksi sempurna, bangunan ini menjadi primadona di Byodoin Temple.

Selain menikmati arsitektur berbagai bangunan di kompleks Byodoin, kita juga dapat mengetahui sejarah dan makna dari berbagai bentuk yang ada di temple di Hoshokan Museum. Bahkan ada sebagian patung asli, termasuk phoenix (yang kini replikanya ada di ujung atap Phoenix Hall) yang disimpan di Hoshokan Museum agar tetap dalam kondisi baik.

BYODOIN HISTORIC TEMPLE
Renge-116 Uji
Uji-shi, Kyoto

Nearest Station: JR Uji Station atau Keihan Uji Station

TSUEN TEA





Cafe serba matcha yang terletak di sisi sungai Uji di Kyoto ini sangat cocok untuk bersantai. Kami mencoba berbagai ice cream macha yang sangat lezat! Selain itu, kita juga dapat langsung menikmati matcha yang dibuat dengan cara tradisional langsung di depan kita!

Tsuen Tea
Higashiuchi-1, Uji-shi, Kyoto

Price start from 580 yen

TATSUMIYA MATCHA FOOD

Mungkin kita sudah familiar dengan macha, ice cream macha, chocolate macha dan berbagai kue macha, namun bagaimana dengan full set course dinner serba matcha? Kita dapat mencobanya di Tatsumiya yang berlokasi di Uji, Kyoto ini.


Tatsumiya berawal dari sebuah toko teh hijau di tahun 1840 yang kemudian menjadi restoran di tahun 1913. Konsep serba matcha membuat menu-menu yang ada di Tatsumiya sangat unik, mulai dari crab meat with matcha, fish egg dengan matcha dan lain-lain. Meski beberapa mungkin terasa berbeda di lidah, mencoba makan malam serba matcha ini tentu pengalaman yang unik!

Tatsumiya
3-7 Uji Tonokawa, Uji, Kyoto

Price: 6000 yen for full course dinner

ps: untuk dinner perlu reservasi terlebih dahulu, cek info lengkap di www.uji-tatsumiya.co.jp

HALAL EATS

AYAM-YA

Chicken soba di Ayam-ya sudah bersertifikasi halal, jadi tidak perlu khawatir saat menikmati soba yang gurih ini!

Opening hours:
11.30 - 14.30
18.00 - 22.00

Ayam-ya
2-1-11 Mikatakonyacho
Shimogyo- Kyoto

RYOKAN HIRASHIN

Kita dapat menikmati makanan Jepang dengan bahan bersertifikasi halal di Ryokan Hirashin di Kyoto. Daging yang digunakan sudah mendapatkan sertifikasi halal dari Halal Federations of Muslims Association in Brazil dan Halal Accreditation Muslim Australia. Favorit saya? Sukiyaki yang lezat ini, yumm!!

Ryokan Hirashin
604-8141 Kyōto-fu, Kyōto-shi
Nakagyō-ku, Senshōjichō

GETTING AROUND


Kita dapat menggunakan Kyoto-Osaka Sightseeing Pass untuk unlimited ride di semua jalur Keihan Railway dan Otokoyama Cable Line (lihat map)

Kyoto Osaka Sightseeing Pass Map (click to enlarge)

Harga Kyoto-Osaka Sightseeing Pass:
1 Day Pass: 800 yen
2 Day Pass: 1200 yen

premium car dari Uji Station ke Osaka, cukup menambah 500 yen dengan Kyoto Osaka Sightseeing Pass
STAY

KYOTO CENTURY HOTEL



Ukuran kamar di Kyoto Century Hotel cukup luas untuk ukuran kota di Jepang sehingga lebih nyaman untuk aktivitas dan menyimpan koper. Lokasi hotel ini juga persis di sisi Kyoto Station sehingga sangat ideal untuk kemudahan berkeliling.

Rate: Start from Rp. 2,1 juta/ malam

Kyoto Century Hotel
680 Higashishiokojicho, Shimogyo Ward
Kyoto, Kyoto Prefecture 600-8216

There are more places to explore from Kyoto, will surely share more to you later!

@marischkaprue - loves green tea, and green hair!

PS: Get the Osaka - Kansai Gourmet Food e-Map here


13 Agustus 2015

, , , , , , ,

It's Hard to be a Japanese: Kimono and Tea Ceremony Experience Kyoto



There's something about Kimono and me. Saya selalu suka dengan kimono, baik bentuk dan pola, hingga motif kimono (atau yukata) yang bervariasi. Bahkan di perjalanan saya di Jepang sebelumnya, saya khusus mencari kimono (yes, meskipun entah kapan saya akan memakainya) untuk dibawa pulang.


There’s something about Kimono and me. I always love kimono, not only the design but also the various patterns of kimono or yukata. On my previous trip to Japan, I even made a special time on my schedule for kimono-hunting (yes, though I had no idea about wearing it) to take it home.
Mungkin karena saya tumbuh dengan ditemani banyak kartun Jepang yang mengenalkan budaya Jepang sehingga banyak hal-hal yang menempel di benak saya, termasuk pakaian khas Jepang ini.

Growing up with those Japanese cartoons included the culture in my daily life, made me keep all in my memory, also this Japanese traditional clothes.
Kyoto adalah salah satu kota dimana dengan mudah kita dapat berpapasan dengan orang-orang yang mengenakan kimono, baik itu warga lokal Kyoto, turis domestik Jepang maupun turis mancanegara yang membeli atau menyewa kimono.

Kyoto is a city where we easily could see people wearing kimono, either the local people of Kyoto or Japanese domestic and foreign tourists who buy or rent kimono.



Untuk pengalaman yang berbeda saya mencoba kimono experience yang digabung dengan upacara minum teh ala Jepang di Wak Japan yang berada di daerah dekat Karasuma Oike. Di sini kita dapat mencoba menggunakan kimono yang kita pilih sendiri dan langsung ikut dalam upacara minum teh tradisional.


For the sake of having a new thing, I tried kimono experience which combined with traditional tea ceremony of Japan at Wak Japan, located near the Karasuma Oike area. Here we could try to wear kimono that chosen by ourselves and join the traditional tea ceremony.


Kimono yang ada ternyata sebagian besar merupakan koleksi pribadi Mieko Nomura, pemilik Wak Japan. "Ini diturunkan dari nenek saya langsung," ujar Mieko menunjuk koleksi kebanggaannya. "Kimono asli berbeda dari segi bahan, pola maupun motif, sekali melihat saya bisa langsung tahu kimono asli atau buatan Cina," ujar Mieko menambahkan. Rupanya kimono kw juga menginvasi Jepang :)


Most of kimonos are private collection of Mieko Nomura, owner of Wak Japan. “All of these are the heritage from my grandmother,” Mieko showed her collection proudly. “What makes the original kimono is different are the material, pattern, and design. In a blink of eye, I can tell which one is original or made in China. “ added Mieko. Apparently, dummy kimono also hit Japan :)
 




Saya memilih kimono biru dengan motif mencolok dan memadukannya dengan obi (semacam belt yang cukup lebar) berwarna merah. Rupanya memakai kimono tidak sederhana. Kita harus menggunakan kain dalaman, memasang dengan benar dan mengikatnya, baru kemudian dilapis dengan kimono dan obi. Rambut saya pun disanggul sederhana agar cocok dengan kimono yang saya kenakan.

I chose blue kimono with a contrast pattern and added a red obi (kind of a big belt). Wearing kimono was not that simple. We had to wear an inner clothes properly and tied it up, then covered it with kimono and obi. I also had my hair in a simple bun to make it match with my kimono.



Jika sudah terbiasa dengan pakaian modern, menggunakan kimono tidak terasa nyaman. Selain cukup berat, kimono dipasang sangat ketat dengan badan, terutama di bagian obi. Berjalan dengan kimono pun harus pelan-pelan jika belum terbiasa.


Those who are used to wearing modern clothes, surely would feel uncomfy with kimono because besides quite heavy, kimono was fitted so tight to our body, especially the obi. For newbie, walking with kimono also should be slowly and carefully.

Dengan memakai kimono, saya kemudian ikut upacara minum teh di ruangan tradisional Jepang dengan sekat-sekat pintu dan jendela yang terbuat dari kertas di depan taman yang menyenangkan. Dalam upacara minum teh seharusnya kami duduk bersila, namun karena kebanyakan turis tidak kuat duduk dengan posisi sila menggunakan kimono yang sangat ketat, mereka menyediakan kursi kecil untuk kami duduk selama upacara minum teh.
By wearing kimono, I joined tea ceremony in Japanese traditional room, which the partitions of door and window are made of paper, in front of a nice park. In the tea ceremony, we should sit in cross-legged position, but since most of the tourists can’t stand with that, due to the tight kimono, so they let us use a stool to sit during the tea ceremony.


Selain sejarah teh di Jepang, saya jadi tahu beberapa hal menarik saat upacara minum teh ini seperti gelas yang harus diputar setelah dituang, agar motif dalam gelas menghadap tamu, ini dilakukan untuk menghargai tamu yang akan meminum teh.

Not only about the tea history in Japan, but I also got some interesting knowledge while having tea ceremony, like a glass should be turned after filling so that the pattern inside the glass could face the guest, in order to respect the guest who was going to drink the tea.

Selain itu, bagi mereka yang menjadi tamu juga ada aturan tata krama, yaitu menyeruput teh dengan suara keras saat menghabiskan sisa teh. Tujuannya untuk memperlihatkan bahwa kita menyukai rasa teh yang disajikan. Hal yang unik karena di banyak negara lain, menyeruput dengan suara keras justru dianggap tidak sopan.

For the guests, there was also a rule concerning to the manners, which was sipping the tea loudly till the last sip. It was to tell them that we like the taste of the tea. Surely such a unique way to tell, since in many countries sipping loudly can be mistaken as a rude thing.


One thing I learn is things is not as simple as it may look and may not as comfortable as it might seems. But still, you gotta try the kimono and take some shots as a souvenir :)

@marischkaprue - she's more of a coffee person but won't say no to a nice ocha

NOTES
WHERE
Wak Japan, 761 Tenshu-cho, Nakagyo-ku, Kyoto 604-0812. T: 81(0)75-212-9993, email: welcome@wakjapan.com

HOW TO GET THERE
Stasiun terdekat adalah Karasuma Oike Station (Karasuma Line, Tozai Line) atau Marutamachi Station (Karasuma Line), bisa dilanjut dengan berjalan kaki atau naik taksi (¥700 - ¥800)


The nearest station is Karasuma Oike Station (Karasuma Line, Tozai Line) or Marutamachi Station (Karasuma Line), then taking a walk or get a cab (¥700-¥800)

PRICE
¥7.800 per orang, jika peserta dua orang atau lebih menjadi ¥5.800 per orang. Booking minimal satu hari sebelum melalui email atau telp.


¥7.800 per one person. Two persons or more, the price becomes ¥5.800 per one person.

Kindly have a booking in advance, at least one day, by email or phone.
Durasi/ Duration: 1 jam/ 1 hour

OTHER WAK JAPAN EXPERIENCE PRICES:
KOTO PLAYING: ¥7.600 (1 hour)
SAKE TASTING: ¥7.600 (45 minutes)

19 Juli 2015

, , , , , , , , ,

Green Therapy at Arashiyama Bamboo Groove, Kyoto



"Bamboo is flexible, bending with the wind but never breaking, capable of adapting to any circumstance. It suggests resilience, meaning that we have the ability to bounce back even from the most difficult times" - Ping Fu


Pohon bambu seringkali menjadi model untuk perumpamaan dalam pelajaran hidup. Bambu yang tampak rapuh karena tidak besar seperti pohon lain, justru sanggup menahan kerasnya angin yang dapat merubuhkan pohon. Bambu akan menunduk namun tidak patah saat dideru angin kencang.

Jika berkunjung ke Kyoto, Jepang, mampirlah ke lokasi dengan jalanan penuh tanaman bambu di sisi kiri dan kanan jalan. Tanaman bambu ini memenuhi area, dengan batang-batang hijau yang tumbuh tinggi seakan hendak meraih langit.



Nonomiya Shrine
Arashiyama Bamboo Groove atau Arashiyama Bamboo Forest merupakan area jalanan di antara Nonomiya Shrine dan Tenryu-ji di Arashiyama, Kyoto. Area ini mudah dicapai hanya dengan 10 menit berjalan kaki dari Stasiun Saga Arashiyama, Kyoto.




Saya dan Ferry datang di pagi hari. Langit hari itu putih dan mendung, namun saat kami memasuki Arashiyama Bamboo Groove, deretan pohon bambu yang memenuhi sisi jalanan tetap terlihat indah. Jalanan cukup menanjak, membelok dan di beberapa sisi menunjukkan seakan jalanan dengan bambu di sisi kiri dan kanan ini tidak akan pernah berhenti.





Meski area bambu ini tidak sepanjang yang saya bayangkan, this is one of the must visit in Kyoto. Dimana anda bisa menikmati berjalan dengan pemandangan magical yang terasa seperti dunia yang berbeda, namun begitu menenangkan.


Also, don't forget to learn from bamboo trees, they are strong but never hesitate to bend, simple but useful, small but never stop growing and they can endure so many seasons, good or bad.

@marischkaprue - learn to be strong like bamboo trees

Photo by Ferry Rusli 

Selfie at Kyoto Station before heading to Arashiyama, look at how sharp the image is, we took this pic only using Sony Xperia M4Aqua!
Here are some specs of Sony Xperia M4Aqua that you might wanna know:
  • Great camera. Front (selfie wow) camera is 5MP, back camera is 13MP Superior Auto
  • 2 Days battery (2400mAh), no need to carry heavy battery bank anymore!
  • 8GB internal memory (this makes me lazy to copy files from smartphone to my harddisk ha!), Octa Core processor first Sony phone and 2GB RAM
  • 5" HD720 Display, loving the display and seeing some HD video on this smartphone.
  • BEST THING: It's waterproof (YEAY!) IP65/68, you can put it underwater, 1,5 meters below the water for 30 minutes! Also no worries about the rain or splash, #ICan play in the water!

NOTES:


How to get there



Akses menuju Arashiyama cukup mudah, hanya sekitar 10 menit saja berjalan kaki dari Stasiun Saga Arashiyama.



Jika anda menginap di Osaka dan ingin one day trip ke Kyoto (dengan tujuan pertama Arashiyama), dari Osaka Station naik JR Special Rapid Service ke Kyoto (harga tiket 560 Yen, waktu tempuh 29 menit, biasanya pagi hari sudah ada jam 7.15 di Departure Track No.8, namun pastikan jadwal dan departure track terlebih dahulu karena mungkin akan berbeda). Dari Kyoto Station lanjut naik JR Sagano Line Rapid Service atau JR Sagano Line menuju Stasiun Sagaarashiyama dari departure track No. 32 atau 33. Waktu tempuh 12 menit (rapid) atau 17 menit (Sagano Line), harga tiket 240 Yen.


Price

Tidak ada entrance fee untuk masuk ke Arashiyama Bamboo Forest

***