Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label sulawesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sulawesi. Tampilkan semua postingan

1 Desember 2015

, , , , , , , , , , ,

Good Days in Tanjung Bira



Nama Tanjung Bira sudah sering saya dengar, destinasi bahari di ujung Sulawesi ini memang sudah cukup terkenal namun baru pada saat Funtastic Trip bersama Good Day akhirnya saya dapat mengunjungi area di Kabupaten Bulukumba ini.

Biasanya destinasi yang saya anggap "sudah ramai" kurang menarik perhatian saya, karena jujur saja, saya lebih senang pantai yang sepi dan kosong, dan Tanjung Bira dalam anggapan saya adalah destinasi yang ramai dengan pantai yang dipenuhi banyak orang.


Kami yang datang di weekdays disambut cuaca yang cerah, langit biru dan matahari yang menyapa dengan bersemangat, satu bonus lagi: area-area yang kami kunjungi ternyata sangat sepi! yeay!

So here's our HIGHLIGHT OF THE TRIP in Tanjung Bira:

PULAU KAMBING


Coral reefs in Kambing Islands
We can see it from the boat
Taken using Sony Action Cam FDR-X1000VR
Lagi-lagi saya dikejutkan oleh Tanjung Bira, selain area yang sepi di sekeliling Pulau Kambing, ternyata area koral di sini sangat padat. Gugusan koral berwarna-warni di salah satu sisi Pulau Kambing adalah salah satu spot terbaik untuk menikmati snorkeling atau sekadar berenang menikmati keindahan Tanjung Bira.

LIUKANG LOE

This area is a bit similar with Misool's Yapap nature swimming pool


Liukang Loe island
Area dengan pasir putih dengan beberapa karang menghiasi perairan dangkal ini sangat menyenangkan! Bahkan ada salah satu sisi di Liukang Loe yang mirip dengan "nature swimming pool" di Misool. Saat kapal merapat ke Liukang Loe, kami langsung terpana dengan warna turquoise dari pasir putih yang berpadu dengan air laut yang jernih dan tentunya ini adalah area "wajib basah" :)

BIRA BEACH SUNSET




Pantai Bira adalah gerbang untuk boat trip menuju pulau-pulau di Tanjung Bira sehingga kapal-kapal ini menjadi pemandangan yang memenuhi area pantai dengan berbagai kios dan tenda tempat makan di sisi pantai. Meski bukan pantai yang sepi, namun menikmati sunset sambil bersantai di tenda tempat makan sangat menyenangkan. Selama Funtastic Trip ini kami selalu mendapatkan sunset yang indah, bahkan di saat sebelumnya langit tidak terlihat akan menunjukkan sunset yang spektakuler, maybe this is how Tanjung Bira welcoming us :)


Liukang Loe island
view from Puncak Pua Janggo
I believe there are still more to enjoy from Tanjung Bira, saya belum mencoba menyelam di perairan Bulukumba ini, atau menikmati sisi-sisi lain pulau-pulau yang ada di Tanjung Bira. Biarlah "hutang" ini jadi alasan untuk kembali mengunjungi perairan cantik di Sulawesi Selatan ini.

@marischkaprue - she loves the colorful coral reef, and the white sands, and the sunsets, and more!

THANKS TO


Good Day for making this Funtastic Trip a BLAST! We had so much fun!
Also thanks to Harival Zayuka dan Asoka Remadja for making this trip such a pleasant journey! Check out their instagram feed to see more beautiful and stunning places!

**Funtastic Trip yang seharusnya berangkat ke Lombok diganti dengan destinasi Tanjung Bira karena jadwal trip adalah di saat bandara Lombok tutup karena erupsi Gunung Baru Jari (anak Gunung Rinjani), penggantian destinasi telah melalui diskusi terlebih dahulu dengan kami.

PS: 

Good Day sering membuat quiz dengan bermacam hadiah, termasuk jalan-jalan gratis ke berbagai destinasi, check out Good Day ID instagram account agar tidak ketinggalan event dan quiz menarik!

NOTES:

Untuk pilihan trip ke Tanjung Bira dapat menghubungi: 
Ayip di nomor 081340501506
Tukang Jalan melalui email tuk4ng.jalan@gmail.com/ telp dan whatsapp di 08180689303/ 087808116852

Pada saat weekend Tanjung Bira sangat padat, untuk pengalaman serupa dengan pantai yang sepi datanglah pada saat weekdays (non holidays).

7 Oktober 2014

, , , , , , , ,

Remembering Sweet Memories: Wakatobi



In a few days I will revisit Wakatobi, an enchanting group of Islands in Southeast Celebes. Wakatobi is famous by its underwater paradise and I'm lucky enough to be able to visit that beautiful sea and beach a few times. 

Preps before dipping into underwater heaven
Super rich soft corals!
Wakatobi is beautiful!
It's going to be my third time visiting Wakatobi but I'm sure every trip feels different. At least that's what I felt when I revisit places and destinations. I'll visit Wakatobi with Terios7 Wonders Team and I'm more than sure that it will be great; I've booked diving sessions also so it's a guarantee for the whole experience.


No empty space, all covered with coral reef

:)
Before I revisit, let's just bring back all those good memories. Scrolling through photos always waking up sweet memories, and let me share these with you..

@marischkaprue - sea is a source of happiness for her

SEE MORE ABOUT WAKATOBI ON MY PREVIOUS BLOGPOST HERE:
Surga Bawah Laut Wakatobi 

11 Februari 2014

, , , , , ,

Lukisan Salvador Dali di Perairan Gorontalo



Gorontalo bukanlah nama yang populer. Di kalangan penyelam, Gorontalo cukup terkenal karena memiliki sponge coral yang unik dan hanya ada di Gorontalo. Namun jika saya menyebut nama Gorontalo kepada siapapun yang bukan penyelam, kebanyakan dari mereka tidak tahu dimana letak Gorontalo.

Gorontalo is not a popular name. Among divers, Gorontalo is quite famous for its unique sponge coral which only exist in Gorontalo. But if I mention Gorontalo to those who isn't a diver, mostly people don't even know where Gorontalo is.

L'enigma del Desiderio by Salvador Dali. Source: lefotogratis.it
Ada satu hal yang membuat penyelam dari seluruh dunia datang ke provinsi yang ada di Sulawesi Utara ini. Jika anda pernah melihat lukisan L'enigma del Desiderio, maka di perairan Gorontalo anda dapat menemukan bentuk di lukisan Salvador Dali tersebut dalam wujud nyata.
 
There is one thing that makes divers from around the world come to this province which located in North Sulawesi. If you've seen the L'enigma Del Desiderio paintings, then in Gorontalo you can find the similar shapes
in a real form when you dive here.


Karena bentuk yang mirip dengan lukisan Salvador Dali, maka sponge coral yang jadi ciri khas Gorontalo itu dinamakan Salvador Dali sponge. Bukan hanya karena bentuknya yang unik, koral ini juga berukuran besar. Bahkan, sebagian berukuran lebih besar dari manusia sehingga menghasilkan pemandangan yang spektakuler.

The similar pattern on the corals makes this sponge coral named as Salvador Dali Sponge. Not only because of the unique pattern, the Salvador Dali corals are mostly big in size. Some, are even bigger than human which makes a spectacular sight.

Can you see the similarities with Dali's paintings?
It's also beautiful underwater scenery

Perairan Gorontalo cenderung tenang dengan suhu sekitar 29° Celcius, kondisi yang nyaman untuk menyelami perairan dengan jarak pandang sekitar 20 meter ini. Waktu terbaik menyelami Gorontalo adalah di bulan Oktober hingga April setiap tahun. 

Gorontalo waters tend to be calm with temperatures around 29° Celsius, comfortable waters to explore and also with visibility of about 20 metersThe best time to dive in Gorontalo is around October to April every year.

Oceanic manta ray
Can't get the best shot but it's still awesome to see this beautiful creature
Di saat beruntung anda bahkan dapat bertemu dengan Oceanic Manta Ray dengan rentang sayap hingga 6 meter. Pari manta yang satu ini adalah pengelana lautan luas dan bepergian dari satu samudra ke lautan lain di dunia. Saya dan teman teman sangat beruntung dapat bertemu dengan pari manta yang bahkan sebelumnya belum teridentifikasi oleh Manta Trust.

If you're lucky, you can even meet the Oceanic Manta Ray with a wing span of up to 6 meters. The manta ray is a vast ocean wanderer and traveling from one ocean to another in the world. Me and friends are very fortunate to meet with this manta rays which haven't even been identified even by Manta Trust.


Salvador Dali and Oceanic Manta Ray, I love Gorontalo already!

@marischkaprue - have a surrealist feeling everytime she's underwater

15 Maret 2013

, , , , , , , , , , ,

Kete Kesu dan Kematian, Story from Toraja



Keunikan utama dari masyarakat Toraja adalah bagaimana mereka memandang kematian. Bagi penduduk Toraja, kematian bukanlah akhir, namun awal dari perjalanan di dunia setelah raga ditinggalkan.

Kepercayaan dan bagaimana masyarakat Toraja memandang kematian memberikan dampak yang besar dalam bagaimana mereka memperlakukan ritual kematian, katakan saja pemakaman. Bila bagi sebagian besar dari kita, kematian selalu beriringan dengan duka dan dilakukan secara sederhana, bagi masyarakat Toraja kematian dianggap sebagai “pesta” dan dilakukan secara besar besaran dalam upacara “Rambu Solo.”

Namun sebelum melihat upacara besar yang terus berlangsung hingga kini, mari menelisik sedikit ke belakang, ke masa ratusan tahun lalu saat seseorang yang bernama Panimba mengumpulkan saudara saudaranya, membangun rumah bersama dan menjadi satu kompleks rumah adat Toraja yang tertua .


Kete Kesu terletak di Toraja Utara. Ini adalah salah satu lokasi yang selalu jadi tempat turis datang jika berkunjung ke Toraja. “Rumah yang paling awal itu yang di ujung,” ujar Baso Rantekesu, penduduk yang tinggal di Kete Kesu.

“Dahulu Panimba jadi semacam kepala distrik, saudara dikumpulkan supaya kalau ada apa apa cepat berkumpul,” ujarnya menjelaskan awal mula rentetan Tongkonan (rumah adat Toraja) ini ada di Kete Kesu. Sebelum desa desa semacam ini bermunculan, masyarakat Toraja membangun rumahnya di area pegunungan, masa berganti dan mereka mulai membangun rumah di satu area, menjadi distrik distrik kecil dengan system kemasyarakatan.

Tongkonan menarik untuk diperhatikan. Bangunan dengan atap yang menjulang tinggi, dengan bermacam ukiran di berbagai elemen kayu. “Ayam melambangkan hakim, dahulu jika ada yang bersengketa maka mereka akan mengadu ayam, yang ayamnya menang, itu yang akan dimenangkan,” Baso Rantekesu menjelaskan pada saya mengapa ada symbol ayam di setiap dinding kayu di bagian atas bangunan. Hmm, memang mengadu ayam bukan cara terbaik mendapatkan keadilan hakim menurut logika saya, tapi mengetahui bagaimana penduduk Toraja bermasyarakat dahulu sangat menarik.


Saya dan Pak Baso Rantekesu
Di bawah ukiran ayam, selalu ada corak bulat, lingkaran. Ini melambangkan Ketuhanan bagi masyarakat Toraja. “Apapun kekuasaan manusia, Tuhan di atas,” tambah Baso Rantekesu.

Ada banyak sekali corak ukiran di Tongkonan dan semuanya memiliki arti, mulai dari lingkaran spiral yang ternyata melambangkan tanaman yang biasa mereka panen, hingga corak abstrak yang ternyata melambangkan kerbau.

Ah, bicara soal kerbau, jika anda perhatikan ada satu hal yang seringkali ada di tongkonan, yaitu deretan kepala kerbau di tiang bagian depan. Saya mendengar kepala kerbau yang dijajarkan ini melambangkan status social, semakin banyak maka semakin tinggi status sosial seseorang. “Ini berupa kenangan, sudah kebiasaan diletakkan seperti itu,” tambah Baso Rantekesu menunjuk jajaran kepala kerbau tersebut.


Patane dengan Tau Tau di bagian depan
Namun bagian paling menarik dari Kete Kesu bukan terletak di depan, namun anda mesti berjalan ke area belakang, ke arah tebing batu yang hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari area Tongkonan.

Di area ini ada banyak makam, baik dari segi ragam ataupun jumlah makam. Makam modern di Toraja sudah berupa bangunan, ini dinamakan Patane. Biasanya di depan Patane terdapat boneka yang dibentuk mirip dengan almarhum. Boneka ini dinamakan Tau Tau dan menjadi ciri makam Toraja.

Erong
Erong
Namun sebelum masyarakat Toraja membangun makam dalam bentuk Patane, jenazah dahulu diletakkan di peti kayu dan kemudian peti kayu ini diletakkan di dinding batu yang telah dilubangi terlebih dahulu. Makam dengan peti kayu ini dimanamakan Erong, dan merupakan bentuk makam paling awal, bahkan sebelum liang pahat.

Alasan jenazah diletakkan di dinding batu adalah untuk menjaga barang barang berharga yang biasanya diletakkan bersama dengan jenazah di peti kayu, serta diletakkan di lubang di tebing batu agar sulit diambil. Ini berlaku untuk mencegah pencuri ataupun binatang liar yang seringkali merusak makam.


Banyak tulang belulang berserakan disini

Di area makam Kete Kesu, banyak sekali tulang belulang dan tengkorak yang seakan akan berserakan. Sebagian jenazah dahulu juga diletakkan begitu saja, hingga menjadi tulang.

Ada satu hal lagi yang menarik disini, anda akan menemukan satu ruangan yang dibatasi teralis besi. Di dalam ruangan itu terdapat banyak Tau Tau, boneka yang merepresentasikan jenazah.

Tau Tau Toraja
Tau Tau
Marischka Prudence
Saya di depan ruangan berteralis tempat Tau Tau disimpan
Saya melihat boneka berderet di dalam ruangan tersebut. Meski teralis digembok, saya dapat memperhatikan Tau Tau mulai dari yang terlihat sangat tua karena belum berbentuk bagus, masih pahatan tradisional sekali, hingga Tau Tau yang wajahnya benar benar menyerupai orang.

Rupanya beberapa kali Tau Tau ini dicuri, dibawa keluar negeri dan dijual. Inilah yang menyebabkan masyarakat Kete Kesu mesti memproteksi Tau Tau yang ada dengan meletakkan di dalam ruangan berteralis.

Bagi mereka Tau Tau adalah kenangan, representasi dari keluarga yang telah meninggal. Kadangkala di saat saat tertentu, baju yang dipakai Tau Tau ini diganti dengan yang baru, Tau Tau dirawat layaknya keluarga.

Saya membayangkan apa rasanya jika kenangan akan keluarga yang meninggal dicuri orang. Mungkin bagi kita yang awam, Tau Tau hanya boneka, karena itulah banyak tangan tangan jahil yang mengambil seenaknya, mencuri untuk dijual karena bagi beberapa kolektor Tau Tau bisa dihargai cukup mahal. Namun, apakah harga sebanding dengan memori? They said memory is priceless, a glimpse of sweet past is something you can’t trade with money. Semoga kita bisa lebih menghargai adat, budaya dan apa yang dipercaya masyarakat yang hidup dengan cara yang cukup berbeda dari kita.

Marischka Prudence
Experiences is also priceless!
@marischkaprue – will travel a lot before the death coming

2 Maret 2013

, , , , , , , , ,

Surga Bawah Laut Wakatobi


Wakatobi

 
 
" Wakatobi is the most beautiful dive sites in the world” -  Jacques Cousteau

Ungkapan itu bukan hanya keluar dari seseorang yang baru saja menyelami alam bawah laut Wakatobi, dan hanya Wakatobi saja. Bahkan peneliti dan penyelam bawah laut paling terkemuka di abad 20, seorang Jacques Cousteau mencatat Wakatobi sebagai lokasi penyelaman paling indah.

Kenapa paling indah? Visibility atau jarak pandang yang memanjakan mata, ditambah kekayaan koral yang tidak habis dihitung di surga bawah laut ini. Di luar kontroversi kebenarannya, Wakatobi dicatat sebagai lokasi dengan spesies terumbu karang terbanyak di dunia dan ini selalu menarik minat semua penyelam untuk datang.

Wakatobi

 
Penelitian yang tergabung dalam nama operasi Wallacea menyebut Wakatobi memiliki 750 jenis terumbu karang. Jumlah yang sangat fantastis bila kita bandingkan dengan lokasi lain di dunia. Untuk gambaran, Kepulauan Karibia di Benua Amerika hanya punya 70 jenis terumbu karang, jadi kekayaan koral Wakatobi lebih dari 10 kali laut Karibia.

Saat ini nama Wakatobi sudah diketahui banyak orang. Wakatobi identik dengan diving, karena kepulauan di area Sulawesi Tenggara ini memang modal utamanya adalah bawah laut. Mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu masih banyak yang belum tahu tentang Wakatobi. Nama ini terdengar aneh dan janggal. Wakatobi sebenarnya adalah singkatan dari nama empat pulau utama di gugusan dengan total 31 pulau. Keempat pulau itu adalah Wangi Wangi, Kaleidupa, Tomia dan Binongko, disingkat Wakatobi.

Wakatobi
Warna perairan Wakatobi
 
Namun tidak hanya di pulau pulau utama saja Wakatobi menarik untuk dieksplorasi. Ada sekurangnya 30 lokasi penyelaman di area Wakatobi, mulai dari Waha Coremap area pulau Wangi Wangi, Sombu, Wanci Gate, Teluk Maya di area pulau Lintea, Teluk Waitii di dekat Tomia, Coral Garden di area pulau Hoga, hingga yang paling terkenal yaitu situs Mari Mabuk.

Untuk menyelami seluruh situs penyelaman tentunya perlu waktu dan dana yang besar. Saya memilih lokasi penyelaman yang juga merupakan salah satu tempat favorit penyelam. Di bulan Juni hingga Agustus, pulau Hoga biasanya dipenuhi wisatawan, terutama mahasiswa dari Eropa dan Amerika yang meneliti biota laut. Ada lebih dari 200 unit penginapan di pulau Hoga, jadi akomodasi bukan masalah, meski bukan tipe hotel berbintang.

Pulau Hoga
Dermaga di Pulau Hoga


 
Ada beberapa titik penyelaman di dekat pulau Hoga antara lain Buoy, Coral Garden dan Outer Pinnacle dan Rich One, namun tentunya dengan karakteristik Wakatobi.

Saya memulai penyelaman di area Rich One, ditemani Jufri, penjaga pulau sekaligus dive guide saya. Menuju area pertama hanya perlu menggunakan speed boat sekitar 10 menit dan entry dengan cara backroll.

Wakatobi

 
Satu hal yang langsung terasa saat masuk ke laut Wakatobi adalah jarak pandang yang sangat baik. Laut bening seperti kaca dan anda akan langsung merasa nyaman di bawah laut.

Di area ini kami bergerak mengikuti kontur wall. Banyak tubir tubir curam di laut Wakatobi. Perbedaan kontur inilah, dari dangkal dan secara drastis berubah dalam dengan wall yang menyebabkan jika kita melihat laut Wakatobi dari atas maka warnanya akan belang belang, hijau tosca, biru muda dan biru tua.

Wakatobi
Sea fans dan lemon damselfish
 
Wall dan sea fan adalah karakteristik utama Wakatobi. Wall yang terjal ini selalu dihiasi sea fans dengan ukuran yang besar. Berada di segitiga karang dunia, perairan Wakatobi dipenuhi nutrisi, suplai makanan bagi berbagai organisme di bawah laut yang dibawa oleh arus. Tidak heran, sea fans di area Wakatobi berukuran besar besar, ada yang membentang hingga lebih dari dua meter.

Saya cukup bergerak mengikuti wall sambil terus melihat beragam jenis coral yang menutupi wall. Di satu lokasi, kami bertemu dengan penyu sisik yang sedang asik mencari makanan di area wall. Penyu seringkali mudah didekati, mereka biasanya akan bergerak saat kita mendatangi pelan pelan, namun berenang pelan sehingga kita bisa persis mengiringi mereka.

Satu hal, meski penyu terlihat ramah dan mau didekati, jangan pernah memegang mereka di dalam laut sama sekali. Satu elusan yang bagi kita hanya manifestasi gemas, dapat membuat mereka stress dan kabur, sayang juga momen berenang dengan penyu ini bisa buyar hanya karena anda tidak tahan ingin memegang.

Wakatobi


Wakatobi

 
Jika ingin mendapatkan pemandangan yang lebih bagus, cukup bermain di kedalaman 15 meter. Disini sinar matahari masih masuk dan membuat terumbu karang terlihat sangat berwarna warni, dengan banyak ikan jenis damsel, surgeonfish, hingga pyramid butterflyfish yang sangat banyak memenuhi area karang.

Wakatobi

 
Jika tidak arus dan menjaga di area yang tidak terlalu dalam, penyelaman bisa dilakukan sangat lama dan bisa puas mengeksplorasi keindahan kontur dan koral.

Usai penyelaman di Rich One, ada satu area lagi yang direkomendasikan oleh Pak Jufrie, yaitu Coral Garden. Sesuai namanya, area ini seperti taman yang dipenuhi koral, jadi tidak bergerak mengikuti wall lagi karena area lebih dangkal.

clown fish
Tiga clown fish ini memperhatikan saya yang mendatangi mereka :)
garden eel
Spotted garden eel

Di Coral Garden, saya puas menikmati hamparan soft koral yang berwarna warni, diselingi clown fish yang bersembunyi di anemon. Menyelam di area Coral Garden adalah penyelaman yang sangat rekreasional, memang tidak banyak makhluk laut spesifik yang bisa ditemui disini, kami hanya menemui crocodile fish yang asik berkamuflase, hingga spotted garden eel yang bersembunyi saat kami bergerak terlalu dekat.

Wakatobi
Soft coral jadi "karpet" di Coral Garden
Marischka Prudence
Sebelum penyelaman pertama
 
Wakatobi memang surga penyelaman. Saya rasa siapapun yang menyelam di Wakatobi tidak akan tidak setuju dengan ungkapan itu. Dunia bawah laut yang terlalu kaya akan koral dan laut berwarna warni yang membuat saya jatuh cinta di detik pertama saya melihatnya.

@marischkaprue - in love with anything in that world coral triangle.

NOTES:
  • Yang mau diving di Pulau Hoga bisa contact Pak Jufrie 085395303993 untuk informasi paket harga diving. Rata rata biaya diving Rp. 300 ribu per orang per dive.
  • Menuju ke Wakatobi bisa diakses dengan penerbangan ke Pulau Wangi Wangi, sudah ada maskapai yang menyediakan penerbangan, cek jadwal terlebih dahulu.
  • Dari Wangi Wangi ke pulau Hoga dapat diakses dengan ikut kapal kayu yang menuju Kaleidupa, dan minta diturunkan (nanti dijemput oleh Pak Jufri) di antara Kaleidupa dan Hoga.
  • Penginapan di Pulau Hoga sangat murah, dihitung Rp. 50 ribu per orang per hari dengan sistem share room. Harga tergantung musim, cek terlebih dahulu dengan Pak Jufrie. 

Giveaways! Again!

Hi there! Thanks for visiting my blog, the one thing I love the most about blogging is I can write about how much I love traveling and diving, without any boundaries.

There is only one gift, but I promise it will be a very nice gift. 

Please write in the comments sections down here, answering my question:

"If you were born as animal in the sea, what would you wanna be and why?" 

I myself would answer hmm.. will tell you later.

The one with the most interesting answer will get a secret gift ^^

And anyway, please write your name & twitter account on the comment also :)

I will announce the result at the end of April 2013.


YAY! Terimakasih yang sudah komen :D

Semuanya jawab dengan unik unik banget, sulit nyari yg paling unik hehe, 

Tapi akhirnya pemenang dari quiz ini adalah @Melizagilbert! CONGRATS!

Hadiahnya: Masker Diving akan dikirim segera :)

Thanks dan nantikan quiz quiz berikutnya :D