Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

17 April 2013

, , , , , , , , ,

Snowplanet, My Learning Planet



Tinggal di negara tropis, salju adalah hal yang masuk kategori luxury bagi saya. Di Indonesia, kita harus mendaki gunung tertinggi di Timur Indonesia untuk merasakan salju. Saya ingat bermain ke mall terbesar di Bandung dan mereka menyajikan pameran salju selama satu bulan. Hasilnya? Ribuan orang datang ke ruangan yang bagi saya kurang besar untuk menghadirkan suasana bersalju selama sebulan, setiap hari lokasi itu padat sekali dan yang saya rasakan adalah berkumpul dengan jaket tebal di antara salju "dadakan." Bermain ski? Hmm sama sekali tidak bisa dilakukan disitu.

Pertemuan saya yang kedua dengan salju adalah di Eropa, tepatnya di Italia. Saya harus terbang belasan jam untuk merasakan untuk pertama kalinya butiran salju turun dan menempel di sarung tangan saya dan layaknya anak kecil, saya senang bukan main. Bermain ski? tidak juga saya lakukan saat itu karena lokasi tidak memungkinkan.

Saat saya datang ke New Zealand, salju sudah saya bayangkan. Tapi saya berpikir mesti berkendara berjam jam lamanya menuju area bersalju untuk pertama kalinya mencoba ski. Namun ternyata saya hanya perlu setengah jam saja untuk mulai meluncur di salju.

Jika melihat di peta, Silverdale, salah satu wilayah di sisi kota Auckland mungkin tampak jauh. Namun jangan bayangkan Jakarta yang perlu tenaga dan "mental tahan macet." Dari pusat kota Auckland saya melewati Auckland Harbour Bridge, masuk ke jalan tol dan hanya setengah jam saya sudah bisa turun dari mobil melihat bangunan besar memanjang di kontur yang miring. Ke arah belakang semakin tinggi dan anda akan langsung sadar mengapa saat melihat tulisan "Snowplanet"


Snowplanet adalah fasilitas ski dan snow boarding di dalam ruangan yang pertama di NewZealand. Bangunan ini memanjang 200 meter ke belakang dan lebar 30 meter dengan salju memenuhi bagian memanjang dan membukit di dalamnya.


"Have you ever experience snow?" ujar Justin, instruktur yang akan mengajarkan saya bermain ski. "Yes, but I never try skiing before," saya menjawab. "That's great," Justin justru semakin bersemangat dan menjelaskan satu persatu alat yang akan kami gunakan untuk bermain ski.

Saya mengencangkan sepatu ski yang menggenggam kuat kaki saya dan berjalan dengan canggung layaknya penguin yang saya tonton di tayangan dokumenter. Beberapa menit kemudian saya mulai bisa berjalan dengan lebih nyaman dan Justin menyodorkan papan panjang, ski, yang ternyata mengunci sepatu ski dengan hanya menekan bagian tumit. Bunyi "klak!" terdengar dan papan panjang itu sudah jadi bagian dari sepatu ski.

"Is it cold? Are you okay?," Justin memastikan saya siap untuk memulai belajar meluncur. Saya dibalut jaket dan celana tebal sehingga temperatur minus lima derajat celcius tidak masalah bagi saya. Sayapun mulai belajar jalan terlebih dahulu, belajar bergerak di dataran yang miring, hingga diajari meluncur.

Pertama kali meluncur saya terjatuh, namun terasa lembut di tengah salju. Saya kembali berdiri dan mencoba lagi. Percobaan selanjutnya saya masih terjatuh, selang beberapa detik dari jatuh saya melihat anak kecil meluncur dengan papan ski dengan begitu handalnya. Saya melihat sekeliling dan menikmati melihat banyak yang sudah sedemikian handal bermain ski, meluncur dari titik paling atas sambil terkadang bergerak ke kiri dan kanan, melompati semacam jembatan salju kecil dan mendarat mulus sambil terus meluncur dan berhenti dengan sempurna.

Bersama Justin, instruktur ski saya
Saya harus memulai dari titik bagi pemula, tempat yang dibelakangnya dipasang jaring pendek untuk menandai area inilah kami yang pemula bergerak, agar tidak mengganggu pergerakan yang lain. Saya melihat lagi ke kiri dan kanan, untuk menuju ke atas di dua tempat ada semacam crane untuk menarik pemain ski ke bagian paling atas, yang unik disini kita tidak perlu naik dan duduk, tali diikatkan ke kaitan di bagian perut dan pemain ski bisa meluncur ke atas pelan pelan dengan nyaman. Ah, betapa ingin saya mencoba ditarik seperti itu, namun saya mesti belajar ski terlebih dahulu.

My partner in travel, Ferry Rusli
Empat kali saya terjatuh di salju yang empuk dan empat kali pula saya mentertawakan diri saya. Di saat Ferry, partner saya sudah sedemikian mulus bergerak di atas papan ski, Justin masih berulang kali membantu saya berdiri setelah terjatuh. Akhirnya di percobaan kelima saya bisa bergerak mulus, meluncur dengan seru sambil memperhatikan kaki saya bergerak mulus di antara putihnya salju.

Saya langsung ketagihan dan meluncur berulang kali, kesenangan layaknya anak kecil, layaknya saya pertama kali melihat salju turun dari langit.

Di dinding kiri Snowplanet terdapat banner besar dengan foto pegunungan di Queenstown, wilayah di southern island New Zealand. Di foto itu ada tulisan "The only thing missing from this photo is you," Saya mendelik sambil berkata dalam hati "Yes Queenstown, saya akan meluncur disana tapi sabar menunggu saya belajar main ski dengan benar terlebih dahulu ya," kemudian saya meluncur, berhenti dengan sempurna dan memberi salam high five ke Justin sambil tertawa.

@marischkaprue - think she can be a good friend of snow

As Published on Wego Indonesia


NOTES:
  • Alamat Snowplanet di 91, Small Road, Silverdale, Auckland 0992, hanya 30 menit berkendara dari pusat kota Auckland.
  • Harga masuk dan menikmati fasilitas di Snowplanet: Paket 2 jam yaitu 34 NZD (Dollar New Zealand) untuk anak anak, 44 NZD untuk dewasa; Paket 4 jam yaitu 37 NZD untuk anak anak, 47 NZD untuk dewasa.
  • Jika ingin harga lebih murah bisa datang di hari Senin hingga Jumat khusus di pukul 10 pagi hingga 6 sore waktu setempat, di saat tersebut Paket 2 jam seharga 29 NZD untuk anak anak dan 39 NZD untuk dewasa.
  • Ada tambahan harga lagi untuk sewa alat, cek tarif rental alat selengkapnya disini.
  • Info lebih lengkap tentang apa saja yang bisa dinikmati di New Zealand, cek disini.

RELATED STORIES:
, , , , , , , , ,

Jump and Enjoy New Zealand!


Saya tiba di New Zealand dengan perasaan aneh, antara lega, capek dan senang. Lega karena akhirnya saya benar benar menjejak negara tempat setting film luar biasa indah, Lord of The Rings.

Jujur saja, dua jam sebelum berangkat ke New Zealand, saya masih geregetan dan was was menunggu visa yang tidak kunjung beres, maklum saya baru apply visa satu minggu sebelum dan tiket sudah dibooking via Wego. Dua jam sebelum berangkat ada rasa was was jika visa belum keluar, entah tiket diundur yang berarti kekacauan jadwal, atau banyak “mungkin” dan “mungkin” lain yang berkelibat di pikiran saya.
 
Dan akhirnya, dua jam sebelum jam keberangkatan pesawat, saya memegang visa dan segera bergerak ke bandara. Saya dan Ferry Rusli boarding tepat waktu, kemudian melihat rentang waktu yang harus kami lewati sebelum tiba di Negara Kiwi ini.

Dua jam dari Jakarta, saya tiba di Kuala Lumpur, Malaysia, lokasi transit sebelum perjalanan 9,5 jam menuju Auckland yang ada di pulau bagian utara di New Zealand. Cukup panjang dan saya tertidur dan terbangun berkali kali di pesawat, hingga akhirnya pesawat mendarat di Auckland.

Pasukan di Lord Of The Rings menyambut saya di Bandara Auckland

Rumah rumah klasik di Auckland
“Mulai kemarin cuaca kurang bersahabat,” saya mendengar ini berkali kali. “Minggu lalu cerah sekali, langit biru,” kali ini Pat, driver yang mengantar kami dari bandara yang mengulang kata yang beberapa kali saya dengar saat tiba di Auckland. Saya melihat bangunan bangunan rumah yang klasik, melewati daerah perumahan indah di Auckland sambil mendengar Pat bercerita, hal yang selalu ia lakukan setiap turis baru datang di Auckland.


Saat berhenti di Mount Eden, saya melihat kontur kota Auckland yang jelas meski sedang mendung :)
Beberapa kali Pat menunjuk bukit bukit yang ada di sekeliling Auckland. “Lebih dari 48 gunung berapi yang tidak aktif tersebar di daerah ini,” ujar Pat sambil menyebutkan berbagai nama gunung berapi tidak aktif yang ada di Auckland. Pat kemudian mengajak kami berhenti di Mount Eden, salah satu titik volcano tidak aktif, untuk melihat Auckland.

Saya bisa melihat dari kiri ke kanan dan menyadari betapa Auckland ada di antara Laut Tasman dan teluk Hauraki, yang membentengi Auckland dari hubungan langsung ke laut Pasifik. Auckland masa kini adalah kota modern, sejak abad 20 Auckland adalah kota dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di New Zealand, dan menjadi pusat industri.

Namun jangan bayangkan kota modern yang semrawut. Saya berjalan kaki di Auckland dan dengan mudah menyeberang jalan, seringkali mobil memberikan saya jalan meski lampu lalu lintas tidak memberi tanda merah untuk mobil. Auckland bukan hanya kota volcano, ataupun terkenal dengan tim rugby.

Tiba di Auckland dengan fisik yang lelah karena kurang tidur, tiba tiba saya ditawari satu hal: meloncat. Bukan loncat biasa, tapi loncat dari bangunan tertinggi di New Zealand, Sky Tower. Struktur setinggi 328 meter, menjulang di antara bangunan bangunan tinggi lainnya di Auckland.

Loncat dari ketinggian 192 meter? hmm..
Perangkat keselamatan dipasang dan dicek berulang kali
Otak saya sepertinya ingin menjerit jerit berkata tidak, saya bukan tipe adrenaline junkie yang mencari ketegangan. Saya suka adventure, tapi bungy jumping dari gedung tertinggi di New Zealand? Bahkan sekalipun saya belum pernah merasakan bungy jumping. Otak saya terus menerus berkata tidak.

Why not?” kata kata itu justru yang keluar dari mulut saya. Perut saya langsung lemas sendiri karena saya baru saja melewati bangunan super tinggi itu dan sadar betapa jauh jarak vertikal ke atas.

Ucapan itu seperti kontrak yang saya tidak bisa batalkan, saya menuju ke lokasi Sky Jump ,petugas mulai membantu saya memakai jumpsuit khusus untuk bungy, kabel pengaman dipasang ke tubuh saya dan yap, I’m on the lift going up. Di dalam lift saya bisa melihat betapa cepat kami menuju ke atas, ada bagian bawah lift dari kaca dan dari situ saya melihat betapa jauhnya jarak ke bawah.

Di dalam lift sambil bercanda saya berakting pura pura menggedor lift sambil berkata “Let me out! I don’t sign for this!” dan ini ditanggapi dengan tertawa oleh Ferry yang juga sudah memakai suit siap meloncat dari Sky Tower.

Di ketinggian 192 meter, lift terbuka. Meski tinggi Sky Tower lebih dari 300 meter, area Sky Jump adalah di titik 192 meter, ukuran yang tampak jauh dari angka 300, namun dari ketinggian ini gedung gedung lain tampak kecil.

“Siapa yang akan loncat duluan?” saya buru buru mengacungkan tangan, sadar kalau lebih dari 5 menit lagi saya harus menunggu maka saya kemungkinan besar akan menuju ke bawah, lewat lift alias kabur. Maka kemudian saya yang pertama mesti meloncat 192 meter. Alat dipasang dan dikencangkan, semua prosedur dilakukan dan tiba saatnya. Saya berjalan ke arah platform panjang, seperti jalur dengan ujung terbuka dan mengarah ke deretan bangunan bangunan di Auckland yang tampak kecil.

Di ujung jalur, petugas Sky Jump kembali memasang beberapa kawat penyangga hidup saya. “When I say do it, you jump!” saya mendengar sambil melihat sepatu saya sudah di ujung jalur dan melihat jarak ke bawah yang tampak sangat jauh. Dan tanpa saya sadari saya sudah mendengar “Do it!” kaki saya melangkah dan gravitasi menarik saya kencang.

Sky Tower jika dilihat dari bawah
detik detik saat meloncat dari Sky Tower
Sky Jump berbeda dengan bungy pada umumnya, disini saya ditahan dua kabel yang menjadi satu di tengah. Saat saya meloncat, gravitasi menarik saya kencang namun sebagian ditahan kabel, membuat waktu hingga ke daratan lebih lama, itu yang saya dengar sebelum saya meloncat.

Muka saya miring ngga jelas tapi sumpah, rasanya SERU banget!
Tiga detik pertama sepertinya jantung saya kaget, dan di detik keempat saya melihat sekeliling dan merasa satu hal: seru! Adrenalin saya naik, saya tertawa senang saat meluncur dengan cepat dan tiba tiba, bam! Saya menyentuh matras merah di bagian pendaratan. Total 11 detik dari saya meloncat hingga sampai ke dasar. 11 detik yang membuat saya bersemangat, 11 detik saya disambut keseruan Auckland. Saya berdiri dan berkata dalam hati “I wanna do it again! Auckland, you Rock!”

Baru satu hari saya sampai di Auckland, saya belum menjelajah ke banyak wilayah di Auckland ataupun Northern Island di New Zealand. Tapi saya percaya, serunya Auckland, serunya Negara lokasi shooting Lord Of The Rings ini tidak hanya 11 detik. New Zealand, Bring it on!

@marischkaprue – on her way to become Lord Of The Traveling

See video when I jumped from 192 meters:



NOTES:
  •  Opsi lain menuju New Zealand adalah melalui Singapura, jalur ini jauh lebih singkat dibandingkan melewati Kuala Lumpur, Malaysia. Cek penerbangan menuju New Zealand lewat Wego disini
  •  Informasi lebih banyak tentang New Zealand bisa dicek di website Luxury NZ di web berbahasa Indonesia ini disini
  • Yang mau ke Sky Tower dan minat meloncat dari atas, informasi lengkapnya ada disini.
  • Harga untuk Sky Jump adalah 225 NZD (New Zealand Dollar), harga lengkapnya disini.
  • Tips buat yang mau loncat dari Sky Tower: Just do it, jangan lihat ke bawah sebelum beberapa detik menuju loncat, kalau kelamaan lihat makin takut hihi.
  • Setelah loncat, it's gonna be amazing and you will want to do it over and over again!

RELATED STORIES:

WOHOOOO! Giveaways again!

Helooooo! Thanks for visiting my blog, really happy to read comments in each posting, you can also share your experience in any comments sections.

Anyway, I'm lucky enough to experience New Zealand, this Kiwi land is amazing! So I have small merchandises from New Zealand for two people! Yeay! Just a small gift but hope you like it :)

Seperti biasa ada semacam "quiz", karena experience pertama saat datang di NZ adalah meloncat dari Sky Tower, dari ketinggian 192 meter, how about you answer this question:

"Jika anda mesti loncat dari ketinggian 192 meter di Sky Tower, saat loncat anda mesti teriak 3 kata maksimal, what will you scream about?" :D

Dua jawaban yang paling seru & kreatif akan dapat oleh oleh kecil dari New Zealand ^^

Oya jangan lupa tulis nama & twitter account juga di bagian komen karena pemenang akan dihubungi via twitter :)

Pemenang akan diumumkan di pertengahan bulan Juni 2013. Have fun screaming!!

HELLO!!

Sorry for taking so long, been quite busy this month but your answers are all awesome and funny! :)

Thanks udah bikin page ini makin seru, tapi cuma ada dua pemenang dan pemenangnya adalah..

JENG JENG!!

@kepikcantik dan @rotyyu 

Pemenang akan dihubungi via twitter. Again, thanks for participating dan tunggu quiz quiz berikutnya ya :D

-- Marischka Prudence


14 April 2013

, , , , ,

Why Don't You Try Diving?


Satu kebiasaan saya adalah berusaha membuat siapapun tertarik dengan diving. Mungkin saya terlalu ketagihan dengan sensasi di bawah laut, mungkin saya terlalu cinta masuk ke birunya laut sehingga bagi saya diving adalah pengalaman yang selalu bikin saya ketagihan.

Banyak pertanyaan seputar diving, mulai dari mesti bisa berenang atau tidak, bagaimana menggunakan alat diving dan masih banyak lagi seputar bernapas dan bergerak dengan alat scuba. Salah satu cara memperkenalkan diving yang paling mudah adalah dengan mencobanya. Yes, why don't you try diving? Simple, tidak perlu ke laut, cukup di kolam dan akan ada perkenalan mengenai apa itu diving, apa saja alat alatnya, dan mencoba langsung bernapas di dalam air.

Saya merencanakan membuat try dive ini secara rutin, mungkin sebulan sekali, atau setiap dua bulan, intinya di saat saya ada waktu, dan mudah mudahan yang tertarik dengan dunia diving juga bisa menyisihkan waktunya.

Jadi, untuk try dive pertama ini sudah ada sponsor, yeay! Trivali mau ikut berpartisipasi, tapi bukan berarti jadi gratis ya, hanya mengurangi biaya dan pastinya ada plus plusnya di try dive kali ini.

Try dive with me & Trivali

CLOSED (jumlah peserta sudah penuh)

Wajib daftar terlebih dahulu, tidak bisa on the spot karena harus menyiapkan alat dan tabung.

Pendaftaran hanya via email ke (closed)
Tempat terbatas, pendaftaran & pembayaran paling lambat tanggal 29 April 2013.

Walaupun hanya di kolam, mudah mudahan membuat banyak yang makin tertarik diving :)

@marischkaprue - sea lover
, , , , ,

Seven Before You Go



Dengan intensitas bepergian yang cukup tinggi, biasanya beberapa teman bertanya kepada saya mengenai kebiasaan saya packing ataupun persiapan sebelum berangkat traveling.

Jujur saja meski sudah cukup sering bepergian, terkadang masih ada beberapa hal yang terlewati dan baru disadari setelah sampai di lokasi tujuan. Inilah pentingnya persiapan sebelum bepergian.

Saya merunut tujuh hal setidaknya yang perlu dipersiapkan sebelum traveling.
  • Selesaikan pekerjaan. Ini biasanya selalu saya cek terlebih dahulu, apakah ada deadline pekerjaan yang belum selesai, listing pekerjaan yang harus dilakukan dalam jangka waktu hingga saat kita bepergian. Jika deadline pekerjaan jatuh di hari di saat kita traveling lebih baik diselesaikan lebih dahulu sebelum pergi, jadi saat traveling tidak perlu terbebani dengan “hutang” pekerjaan lagi.
  • Tiket dan booking hotel. Biasanya ini selalu saya persiapkan, jangan sampai sudah di bandara ternyata lupa membawa kode booking atau tiket dan kemudian panik menelpon orang di rumah untuk memberitahu kode booking, atau panik scrolling email untuk mencari kode booking. Lupa hal seperti ini akan sangat merepotkan, terutama saat anda datang ke bandara di waktu yang cukup pas pas an dengan waktu maksimal check in. Sementara, untuk booking hotel perlu dipersiapkan karena dengan booking hotel kita akan sangat menghemat waktu dibanding mencari hotel saat sudah sampai di lokasi tujuan, apalagi kalau ternyata high season dan banyak hotel yang penuh.
  • Uang cash, ini penting jika ke lokasi yang terbatas mesin atm, atau jika keluar negri, siapkan sedikit uang dalam mata uang setempat, untuk naik kendaraan umum dan kemudian menukar di money changer di luar bandara, karena seringkali money changer di bandara memotong lebih banyak saat penukaran.
  • Listing tujuan perjananan, bagi sebagian orang yang senang spontanitas dan traveling sendiri, menentukan listing tujuan perjalanan menjadi kurang penting. Bagi saya, tidak perlu itinerary lengkap, yang penting ada gambaran di hari pertama ke lokasi A, B atau C, hari kedua ke lokasi lain dan seterusnya. Meskipun misalnya berubah tujuannya secara spontan, dengan mengetahui atau memiliki listing tujuan perjalanan akan menghemat waktu. Bayangkan, jika dibanding satu jam anda mesti mencari informasi pilihan tujuan, akan lebih menyenangkan jika satu jam itu menjadi waktu berjalan jalan di satu lokasi wisata.
  • Traveling selalu lebih menyenangkan dengan teman. Jika anda traveling sendirian, coba cari informasi apakah di lokasi tujuan ada kenalan yang bisa bertemu dan menemani anda berkeliling, selain temu kangen anda juga dapat semacam tour guide gratis yang pastinya menyenangkan.
  • Alat alat aktivitas saat traveling penting dipersiapkan, misalnya jika anda sudah punya google atau masker dan snorkel untuk snorkeling maka sebaiknya bawa punya anda sendiri. Selain lebih nyaman menggunakan barang sendiri, ini juga akan menghemat uang, jika menyewa masker 50 ribu per hari, dengan bawa sendiri anda bisa menggunakan uang ini untuk hal lain. Begitu pula dengan sunblock, beberapa kali saya terpaksa beli sunblock baru karena ketinggalan, padahal satu botol sunblock cukup lama habisnya. Buat list barang barang utama yang dapat dibawa dan mengurangi beban biaya saat traveling.

  • Obat obatan. Kadangkala kita mesti bepergian ke lokasi yang jauh dari Rumah Sakit dan apotek dan saat sakit akhirnya mencari obat menjadi hal yang sangat sulit dan melelahkan. Persiapkan obat obat dasar, seperti obat sakit kepala, obat demam, obat batuk seperti Komix dalam bentuk tube yang mudah dibawa karena kecil bentuknya, obat masuk angin, atau obat obat khusus jika anda punya penyakit yang memerlukan obat dengan resep dokter. Seperti pepatah mengatakan, sedia payung sebelum hujan, meski tentu saja kita berharap cuaca tetap cerah saat kita traveling :)
Tujuh hal di atas tadi bisa jadi gambaran apa yang sebaiknya kita perhatikan sebelum traveling, tentunya di luar packing, persiapan dana dan kamera untuk mengabadikan aktivitas seru saat traveling. Have fun, enjoy life, work hard and travel harder!

@marischkaprue – travel junkie

9 April 2013

, , , , , , , ,

Dolphin Frenzy in Bunaken



Jangan salah persepsi atas wajah lumba lumba yang seakan selalu tersenyum, menandakan mereka seakan gembira. Kalimat semacam ini yang selalu dilontarkan Ric O' Barry, aktivis perlindungan lumba lumba setiap memprotes aksi "panggung" atau pertunjukkan lumba lumba.

Menurut Ric, lumba lumba atau dolphin selayaknya selalu ada di alam liar tempat mereka ditakdirkan berada. Ini statement yang saya sangat setuju, terutama setelah bertemu gerombolan dolphin di alam liar, rasanya seru, senang, semangat, semua campur aduk saat bertemu mamalia laut ini di habitatnya.

Pertemuan saya yang sangat seru dengan dolphin ini terjadi tanpa direncanakan, karena tujuan utama kami adalah diving, jadi saya dan teman teman bertolak dari desa Tateli di Minahasa Utara sejak pukul 9 pagi, naik kapal ke arah spot spot penyelaman di sekitar Bunaken.

Salah satu dive guide menceritakan bahwa lumba lumba sering lewat daerah yang kami lalui, namun saya tidak mau berharap banyak karena sudah beberapa kali naik kapal mencari lumba lumba namun tidak bertemu. Saya yang sedang asik selonjoran di kapal sambil memperhatikan langit biru tiba tiba mendengar suara heboh, rupanya sebagian melihat dolphin dari kejauhan, langsung saya ambil kamera dan berlari ke bagian depan kapal.

Dolphin yang jumlahnya belasan terlihat di kejauhan. Saya semangat sekali melihat punggung dan sirip mamalia itu setiap kali mereka melompat sedikit ke atas mengambil udara. Dan yang terjadi kemudian sangat menyenangkan. Rombongan dolphin itu mendekati kapal, membagi kelompoknya menjadi dua bagian, ke sisi kiri dan kanan kapal, seakan mengerti belasan manusia berdesakan menunggu mereka.

Kami heboh dan berteriak teriak kesenangan melihat dolphin ini di sisi kiri dan kanan kapal, mendekat dan meloncat sesekali. Mereka seakan akan menyapa dan menghibur kita, berenang cepat menyamai kecepatan kapal, dan dengan gesit melipir ke kiri dan kanan membuat gerakan yang indah.

Kami semua hanya bisa norak kesenangan sambil terus merekam, menyapa mereka seperti anak kecil yang mendapat mainan yang seru. Kesenangan melihat makhluk ini di alam bebas tidak bisa dibandingkan dengan melihat dolphin di pertunjukkan. So again, like Ric O' Barry, I do believe that dolphins should always belong in the wild, the blue sea, and they will still be as friendly as they can, saying hello to a boat, put smiles and laughter in our face.

Thanks dolphins! We love you too!

@marischkaprue - dreaming that she can swim as fast as dolphin

See this video to feel a little bit of our excitements when dolphin frenzy happens :)

 

Photo and video by Ferry Rusli

5 April 2013

, ,

Anytime to Anyone


Hidup itu aneh, kadang waktu berjalan sangat cepat, kadang kita memperhatikan jam yang seakan tidak bergerak. Kadang kita dipenuhi berbagai hal yang harus dilakukan di satu waktu, kadang kita bingung apa yang harus dilakukan untuk mengisi waktu.

Ingat masa masa galau saya? Hmm, mungkin beberapa kali saya mengisi halaman ini dengan curhatan galau dalam kemasan renungan, sebenarnya isi sesungguhnya adalah kegalauan.

Kadang menarik melihat diri kita ke belakang, persis satu tahun lalu, di bulan yang sama saya di masa terpuruk, merasa ada hal hal yang membuat saya mempertanyakan why God slammed the door in front of me. Dan kemudian saya melihat diri saya saat ini..

Pintu yang dulu ditutup itu ternyata karena sudah ada pintu lain yang disiapkan untuk saya, hanya belum waktunya saat itu saya melihatnya.

Banyak hal yang berubah, salah satunya pekerjaan. I quit my job because I've falling in love of doing something else, walaupun tetap di ranah traveling.

Ada hal hal yang saat kita fokus mengerjakan hal lain yang sudah rutinitas jadi terabaikan, dan saat kita melepas rutinitas itu maka hal hal yang kita lewati selama ini jadi fokus kita kembali. Coba sebutkan apa aktivitas yang anda sukai namun tidak dikerjakan selalu karena alasan tidak ada waktu, pasti banyak.

Saat ini saya menata hidup saya kembali, melakukan hal hal yang saya senangi, ada hal idealis, dan ada kegiatan yang simply for the living, berusaha menyeimbangkan semua itu.

Teman saya beberapa minggu lalu posting satu tulisan "Quit your job, start traveling, falling in love and never go back," dan saya dengan bangga bisa menulis komen "I did it all!"

Lucu saat hal hal baik seringkali datang bersamaan, hidup yang tiba tiba secara runut tertata lagi setelah kita melakukan keputusan besar. I keep on traveling, I met someone during traveling and we simply falling in love and we keep on moving like there's no turning back.

Life is about choices. Bukan secara ekstrim saya rekomendasikan untuk berhenti kerja agar anda bisa melakukan hal hal yang disukai, tapi cobalah berhenti sebentar untuk melihat perubahan yang terjadi selama setahun ke belakang. Tidak puas? mungkin anda perlu sedikit berani mengambil langkah, menegaskan apa yang membuat anda bahagia dan biarkan pusaran semesta bekerja untuk anda hingga kita pun terkejut dengan hasilnya.

Do what you love, love what you do, simple happiness.

@marischkaprue - extremely in love

As published on Divemag Indonesia Magazine Vol 03 No. 034, January 2013

3 April 2013

, , , , ,

Lembeh di atas Permukaan Laut



"Siapin macro," itu kata yang selalu saya dengar berdampingan dengan runtutan cerita akan keunikan bawah laut Lembeh.

Lembeh. Nama ini juga janggal bagi mereka yang bukan penyelam. Namun, bagi divers Lembeh adalah surga, lokasi yang penuh makhluk makhluk laut yang unik, mempesona dan selalu membuat mata saya mendelik melihat foto foto yang diupload siapapun yang baru pulang dari bagian timur pesisir Sulawesi Utara itu.

Saya sudah punya sedikit bayangan. Lembeh itu penuh makhluk aneh, unik, kebanyakan pasir, secara luas tidak bagus, namun kalau melihat dengan penuh harapan di sela sela ataupun spot spot tertentu maka akan bertemu kejutan.


Jadi, saya datang ke Lembeh dengan harapan di bawah laut. Lokasi yang kurang lebih bisa dicapai dengan berkendara 90 menit dari Bandara Sam Ratulangi, kemudian naik boat kurang dari 30 menit saja untuk sampai di berbagai lokasi penyelaman.

Namun Lembeh ternyata bukan hanya punya "inner beauty," saya yang hanya punya ekspektasi di bawah laut ternyata dibuat senang melihat apa yang ada di atas permukaan. Laut biru di selat Lembeh, berpadu dengan hijaunya dataran di sekitar selat, plus beberapa pulau pulau kecil yang "duduk" di posisinya masing masing dengan indah.


Pulau ini seperti punya "gerbang" :)
Pulau yang kecilnya penuh dengan pohon hijau

A beautiful landscape in my journey to find "inner, or maybe just unique beauty"

So please, enjoy this photos and maybe you wanna hop to Lembeh too, and don't forget to bring your diving license :)

ada pantai kecil disini, dengan pasir putih :)
Salah satu spot diving "nudi full" karena penuh dengan nudibranch
Batuannya seperti diukir
Sunset saat perjalanan kembali ke dermaga di Lembeh
Saya dan Ferry Rusli, semua foto di atas hasil jepretannya :)
@marischkaprue - never tired of nature's beauty

Photos by Ferry Rusli

NOTES:
  • Lembeh lebih menarik jika disambangi sambil aktivitas diving, pilihan operator diving: Minahasa Divers (jika ingin sekaligus diving di Bunaken) telp: +62431.825888 ext 1991 email: sales@minahasadivers.com; Yos Dive Lembeh telp melalui Lembeh Hills Resort +62438.2239296 email: info@lembehhills.com
  • Pilihan tempat menginap: Bastiano's telp: +62431.3325678, Kungkungan Bay Resort contact via www.divekbr.com , Lembeh Resort telp: +62438.30667, Lembeh Hills Resort telp
    +62438.2239296,untuk rate harga menginap silahkan langsung menghubungi resort masing masing.
  • Wanna learn diving? cek dulu disini harganya untuk pilihan mengambil license diving.

2 April 2013

, , , , , , , , ,

Cave Spa



So far, ini adalah salah satu lokasi spa dengan interior terbaik. I just love being here, terutama di ruangan yang seperti gua, cave room.






Thalasso Bali yang ada di Grand Mirage Hotel punya keunikan interior kamar, setiap ruangan spa punya tema berbeda, dari ruangan yang pencahayaannya dibuat seakan seperti barisan bintang di langit langit, hingga tampak seperti bagian gua, dengan bathtub di dalamnya. Semua ini interior yang sengaja dibuat, namun tampak rapi seperti gua, hanya berbagai peralatan dan interior spa modern ada juga di ruangan ini.



Disini saya mencoba beberapa terapi, mulai dari Fangotherapy yaitu lulur masker dari lumpur untuk detoksifikasi dan menyegarkan kulit, Shirodara dimana minyak dengan nama sama, shirodara, diteteskan perlahan lahan ke posisi di tengah dahi. Tekanan dari tetesan minyak secara perlahan ini adalah terapi untuk mengurangi tingkat stress, sambil dikombinasi dengan pijatan untuk menstimulasi sistem tubuh, saya pun hampir tertidur disini.

Terapi terakhir dan jelas jadi favorit saya adalah affusion shower massage, disini badan saya "dipijat" oleh tekanan air shower yang hangat, sambil dipijat oleh terapis. Terapi terakhir ini membuat saya meminta "injury time" sangking enaknya terapi yang satu ini :)

Harga terapi di Thalasso bervariasi, mulai dari 20 USD hingga 390 USD dengan jangka waktu terapi yang berbeda pula. Yang pasti beberapa kali disini saya hampir dan sempat ketiduran, blame the cave room.

@marischkaprue - Thinks that Batman need a spa here

NOTES:
  • Thalasso Bali ada di Grand Mirage Resort, Jl Pratama 74, Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali, Indonesia. Phone: +62361-773883, email: mail@thalassobali.com
  • Rate harga terapi: Fangotherapy USD 48++, Shirodara USD 80++, Affusion shower massage USD 68++.

17 Maret 2013

, , , , ,

10 Reasons Why You Should Try Cruising


Cruising is days of fun and relax combined. I tried cruising with Costa Cruise and spend around 5 days on Costa Victoria. So I highlighted why you should try cruising too:

  • You Have Open Ocean as Your Private View Everyday

  • When Will You Have Hotel Room Which Moves 23 Knot Per Hours?



  • The View From The Top is Amazing



  • Unlimited Supplies of Fine Dining

  • Party Happens Everyday
Party on deck 11 Rigoletto

  • Beautiful Italians on Show Everyday
"Rich and Famous" musical show on Festival Theatre

  • Because Italian Wines are Awesome

  • The Handsome Musician

  • Duty Free Shopping Areas


Bling bling on the shop
  • Because You Can Spend Money like Ocean Eleven
The Casino


With the Italian crew

@marischkaprue - cruising (hopefully) Italian style

NOTES:
  • Costa Victoria is cruising in Asia, from Shanghai, Cheju, Fukuoka and more places in Asia, visit Costa Cruise Asia for more details about the price and cruising trips.
  • For any enquiries, you can email to info-pao@costa.it
  • If you live in Indonesia, you can experience Costa with a little help from Panen Tour, +6221.3855388