Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label malinau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malinau. Tampilkan semua postingan

30 April 2013

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Seven Best I've Been

 
Kenikmatan utama traveling memang bukan destinasi, tapi perjalanan dan pengalaman selama bepergian. Namun, jika bicara destinasi maka ini juga akan menjadi penting karena biasanya kita mengklasifikasikan tempat (destinasi) dengan pengalaman apa yang bisa kita dapatkan.

Sejujurnya sulit untuk mengambil tujuh tempat dari sekian banyak lokasi yang selalu memberi saya pengalaman yang tak terlupakan. Namun saya merunut tujuh destinasi dengan karakteristik pengalaman berbeda dan dapat saya sebut sebagai tujuh tempat terbaik yang pernah saya kunjungi. Urutan nomor disini tidak menunjuk rangking, namun dari tujuh tempat ini bagi saya semuanya menarik dan memberikan pengalaman yang berbeda.



Bagi penyelam seperti saya, Wakatobi yang ada di Sulawesi Tenggara adalah surga bawah laut. Meski banyak penyelam dengan jam terbang tinggi biasanya mencari keunikan yang berbeda dibanding terumbu karang yang indah, bagi saya Wakatobi tetap salah satu lokasi yang akan memberikan perasaan seperti menyelam di aquarium karena jarak pandang yang begitu luas, dan keindahan terumbu karang yang luar biasa.

Bagi yang tidak menyelam pun Wakatobi indah dinikmati hanya dengan snorkeling, keindahan kontur bawah laut dengan kedalaman yang beragam ini terlihat jelas di permukaan dalam bentuk warna air laut yang beragam, bagaikan lapisan lapisan warna biru yang membuat saya selalu ingin menceburkan diri di beningnya laut Wakatobi.


Photo courtesy of Indonesia Dive Directory
Laut di Morotai mungkin tidak sebening Wakatobi, namun pulau di ujung utara Halmahera ini punya potensi yang memberikan saya sensasi bak Lara Croft yang sedang beraksi. Di dalam laut Morotai terdapat pesawat bomber dari masa Perang Dunia ke II dalam kondisi yang cukup utuh, dengan menyelami laut Morotai kita dapat menikmati peninggalan Perang Dunia ke II berupa truk militer, peluru yang berserakan, hingga beberapa pesawat bomber di lokasi yang berdekatan.

Bagi anda pecinta adventure, menyelami laut Morotai akan memberi sensasi petualangan yang luar biasa.

3. Jailolo



Jailolo bukan nama yang familiar sebagai lokasi wisata, namun kabupaten di Halmahera Barat ini punya beragam keunikan, termasuk sunset terbaik yang pernah saya lihat. Jailolo yang berupa teluk dikaruniai laut yang biru dan hijaunya bukit. Pemandangan yang kontras ini selalu memanjakan mata saat berkunjung ke Jailolo. Jika datang di saat Festival Teluk Jailolo maka anda juga dapat menikmati keunikan budaya Jailolo, mulai dari upacara Sigofi Ngolo, Horum Sasadu, hingga berbagai atraksi budaya lainnya. 

Cerita tentang Jailolo ada disini:
4. New Zealand

Hobbiton

Alam New Zealand dikenal luas melalui film Lord Of The Rings. Bukan tanpa alasan sutradara film Hollywood ini memilih New Zealand sebagai lokasi shooting Lord Of The Rings. Negara kiwi ini kaya akan alam yang mempesona, anda akan dibuat tercengang dengan kontur bukit hijau yang indah dengan pesisir pantai yang beragam, hingga pegunungan salju di wilayah selatan New Zealand.

Negara ini juga punya beberapa keunikan utama seperti Glow Worm Cave dimana anda bisa melihat ulat yang bercahaya hijau memenuhi dinding atas gua sehingga tampak seperti bintang berwarna hijau, hingga datang mengunjungi set movie buatan Peter Jackson yaitu Hobbiton yang akan membuat anda merasa ada di dalam desa para hobbit.

Saat saat tertentu udara di New Zealand cukup dingin, siapkan obat untuk flu atau batuk. Saya biasanya membawa Komix tube yang ukurannya praktis saat traveling dan tidak memenuhi tas obat saya.

Cerita tentang New Zealand ada disini:


Terletak di Pedalaman Kalimantan Timur, Malinau cukup sulit dijangkau. Namun lokasi ini memberikan sensasi menyusuri sungai dan hutan lebat Kalimantan yang indah. Anda dapat menyusuri sungai di Malinau dengan ketinting, yaitu perahu kayu yang kecil, hingga bermalam di desa suku Dayak asli disana.

Pengalaman memasuki pedalaman Kalimantan adalah sensasi tiada tara yang akan saya ingat selalu.




Gunung Rinjani terletak di pulau Lombok dan merupakan salah satu gunung dengan pemandangan terbaik. Puncak Rinjani mencapai ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi alam yang memukau. Danau Segara Anak yang persis ada di bawah kaki Rinjani semakin memperindah keseluruhan landscape Gunung Rinjani.

Meski harus mendaki berhari hari, bagi saya kesulitan yang ada sepadan dengan hasilnya. Berada di puncak Gunung Rinjani adalah pengalaman yang wajib anda rasakan.

Untuk mendaki Gunung Rinjani diperlukan fisik yang prima, saya sarankan berlatih dengan jogging selama tiga kali seminggu dari rentang waktu sebulan sebelum mulai mendaki.

7. Roma

Kota yang paling terkenal dari Italia ini bertahan memegang status sebagai salah satu dari tiga kota yang paling banyak dikunjungi turis saat bertandang ke Eropa dan saat anda berkunjung ke Roma, anda akan mengerti alasannya.

Roma adalah kota dengan sisa peradaban Romawi kuno yang masih terjaga apik. Menyusuri kota Roma adalah kepuasan bagi pecinta seni dan keindahan arsitektur. Selain Colosseum, masih banyak sisi dan sudut kota Roma yang selalu menarik dan indah untuk dinikmati.

Ketujuh lokasi di atas hanya gambaran dari sekian banyak lokasi yang bisa dikunjungi di dunia ini dengan bepergian. Bagi saya setiap destinasi selalu menarik, bepergian ke lokasi baru adalah membuka gerbang pengalaman. Jadi, pastikan anda membuka gerbang anda sehingga suatu saat andapun dapat membuat daftar tujuh lokasi terbaik bagi anda.

Cerita tentang Roma, Italia ada disini:
Have fun!

@marischkaprue - addicted to traveling

22 Februari 2013

, , , , , , , , , ,

Apau Ping, Desa Kecil di Pedalaman Kalimantan



Apa yang anda bayangkan saat mendengar kata desa di pedalaman? terbelakang, tanpa fasilitas, bentukan rumah tanpa kasur? Terkadang kita yang sudah dibuai fasilitas kota besar memandang pedalaman sebagai tempat yang tidak menyenangkan, harus hidup "sulit" dan sebagainya.

Tapi justru, di pedalaman inilah saya menemukan kesenangan, sensasi yang membuat saya ingin kembali dan kembali lagi. Dan, apa benar pedalaman itu terbelakang? I'm sharing the story, as you read it now..

Lokasi yang saya datangi adalah Desa Apau Ping, yang ada di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau. Untuk sampai ke Apau Ping, layaknya pedalaman, perlu upaya dan perjalanan panjang
Dari Tarakan ke Kota Malinau mesti ditimbang sebelum naik pesawat
Berat badan juga ditimbang sebelum naik pesawat Pilatus Porter
Pilatus Porter kapasitas maksimal hanya 800 kg saja.
Jika rutenya dijelaskan secara singkat, saya dari Jakarta naik pesawat ke Balikpapan, melanjutkan penerbangan ke Tarakan, lanjut lagi penerbangan ke Kota Malinau. Tapi ini belum selesai, masih ada satu penerbangan lagi, dengan pesawat yang lebih kecil dari Kota Malinau untuk sampai ke Kecamatan Bahau Hulu.
Lapangan udara di Bahau Hulu
Penerbangan dari Kota Malinau ke Bahau Hulu hanya dapat dilakukan dengan pesawat berkapasitas 9 penumpang. Pilatus Porter nama pesawat baling baling yang membawa kami mendarat di landasan tanah beralaskan rumput, banyak cerita pesawat yang tergelincir karena medan yang sulit, namun saat penerbangan semuanya berjalan dengan mulus dan menyenangkan, bahkan saya menikmati melihat hutan Kalimantan dari pesawat.

Nah, dari landasan inilah, perjalanan sesungguhnya dimulai. Kami menggunakan ketinting, sebutan untuk perahu kayu berukuran kecil dan memanjang yang menjadi satu satunya moda transportasi menuju pedalaman di Malinau. Area Bahau Hulu masih berupa hutan luas, sehingga satu satunya cara transportasi adalah menyusuri sungai Bahau dengan ketinting.

Di Perjalanan, melewati bebatuan :)
Menyusuri sungai Bahau

Saat melewati jeram
Perlu waktu berjam jam menuju ke Desa Apau Ping, perjalanan juga dilakukan dengan berulang kali naik turun ketinting, karena disaat melewati jeram kami harus turun dan berjalan melewati bebatuan, kemudian ketinting akan ditarik oleh orang lokal yang jadi pengemudi dan juru batu kapal.

Melewati hutan tidak tersentuh di pedalaman Kalimantan ini benar benar menyenangkan, rasanya tenang, damai, tanpa sinyal, tanpa keributan. Saya benar benar merasa berada-entah-dimana-namun-tidak-perduli, saya sangat menikmati melihat lihat sekeliling dan sensasi dikelilingi pepohonan rimbun sambil menyusuri sungai.

Penduduk Desa Apau Ping
Ini cara tradisional menggendong bayi di Bahau Hulu :)
Apau Ping berjarak tiga jam perjalanan dari landasan udara di Bahau Hulu. Jauh dari kota besar, kehidupan di desa ini cukup sulit, meski tenang. "Harga bahan bakar 20 ribu per liter," ujar Yusuf Apoe, kepala Desa Apau Ping.

Bahan bakar ini penting bagi desa karena untuk transportasi mereka menggunakan bahan bakar untuk ketinting, juga untuk listrik yang hanya dinyalakan dari jam 7 malam hingga jam 6 pagi. "Dulu masyarakat sini banyak yang pindah ke Malaysia," tambah Yusuf Apoe. Lokasi Apau Ping memang berbatasan dengan Malaysia. Dahulu banyak warga desa yang berjalan berhari hari melewati hutan untuk sampai dan menetap di Malaysia.

Saat ini warga yang tersisa berupaya bertahan, sebagian membuat kerajinan yang dijual ke Bahau Hulu, sementara kebutuhan sehari hari didapat dari bercocok tanam.

Yusuf Apoe menjelaskan pada saya sulitnya hidup di pedalaman dengan akses transportasi yang hanya satu, ketinting. Namun ia kemudian menegaskan pada saya, bahwa masyarakat disini bahagia, cuma ia menitip satu hal, agar dibuatkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), ujarnya berharap ada bantuan dari pemerintah.

Meski bercerita tentang kesulitan di desa, Yusuf Apoe langsung mengantar kami ke lapangan tengah di desa, dimana tarian masyarakat dengan baju adat Dayak menari menyambut kami.



Bersama warga Dayak Kenyah
"Ini tarian tunggal, kami dayak Kenyah lakukan ini biasanya untuk pesta syukuran nama anak, dimana bapak dan ibu menari," ujarnya menjelaskan. Tarian semacam ini sekarang tidak hanya untuk pesta syukuran saja, namun selalu dilakukan saat hari besar ataupun saat menyambut tamu.

Yang menarik tidak hanya tarian adat, ataupun pakaian suku dayak. Alat musiknya pun tradisional dan semuanya dibuat sendiri. Kemudian ada satu hal lagi yang mengusik saya, anting anting tradisional suku dayak Kenyah diikatkan ke tali rafia, tidak lagi ke telinga mereka. Saya memperhatikan bahwa tradisi memasang anting hingga membuat telinga mereka panjang sudah tidak ada lagi. "Dahulu kami dapat penyuluhan, bahwa itu (telinga panjang) tidak baik," ujar kepala desa. Saya kemudian menyadari bahwa banyak perempuan dayak yang berumur telinganya sudah dipotong, telinga mereka yang sebelumnya panjang karena anting anting dianggap tidak baik dan dipotong agar ukurannya kembali terlihat normal.

Warga desa tertawa melihat tingkah laku kami
Saya dengan baju adat dayak Kenyah, cocok tidak? :)
Kami diajak ikut menari, kemudian berfoto bersama. Masyarakat Desa Apau Ping tertawa melihat saya dan teman teman berinteraksi dengan mereka. Tawa bahagia dan hidup yang sederhana, maybe I should learn a lot from them, sincerity, that no matter where you came from, no matter how difficult their life might seems, but open hand and hospitality are everywhere in this country.

@marischkaprue - constant traveler

Photos by Reno Permana