Matahari itu dibenci tapi dicinta, kita memaki saat berkeringat kepanasan, tapi menunggu sinar datang setiap harinya. Namun, matahari paling ditunggu, saat datang dan saat pergi, saat ia muncul sebersit dan menoreh garis di langit perlahan demi perlahan, atau saat ia pergi dan hilang dari pandangan kita dalam gerakan yang perlahan.
It's a love and hate relationship between human and the sun. We complaint and curse when we fell terribly hot but we wait for the sunrise to come everyday. We wait for the sun, mostly when it came and go, when it appeared bit by bit and draw beautiful lines in the sky. Also when the sun left slowly, disapearing in a slow motion.
Sunset dan sunrise, bagi saya itulah magic moments, magic light, saat alam tidak pernah berhenti mempesona kita, saat warna dan torehan garis di langit bisa berbeda setiap harinya, saat Tuhan melukis untuk manusia. For me sunsetandsunrise are the magicmoments, magiclights, whennaturenever ceases tofascinate us, whilecolorsandetchedlinesinthe skycan be totally differentevery day, when Goddraw and paints the skyforhumans.
Ini hanya sebagian yang saya temukan di tumpukan file saya yang tidak teratur, I'll add more when I find more magic moments..
These are just somethat I found inmypile ofdisorganizedfiles, I'lladdmorewhen Ifindmoremagicmoments..
Sunrise
Sunrise saat summit attack di Gunung Rinjani
Sunrise di Gunung Gede
Another sunrise during summit attack in Rinjani
Sunrise in Bromo
Sunrise di Sumbawa Besar
Sunset
Sunset saat menuju mondokan lolak, Taman Nasional Gunung Rinjani
Sunset di Plawangan 2, Rinjani
Sunset di Sembalun Lawang, Lombok
Jelang sunset di Teluk Benete, Sumbawa Barat
Sunset di Pantai Punai, Belitung Timur
Sunset di Manado
Sunset di Woobar, Seminyak, Bali
Sunset in Flores
Another sunset in Manado
Sunset di Jailolo
Langit saat sunset di Jailolo
Sunset at Arugasi Beach, Jailolo, Photo by Ferry Rusli
Glass sunset at Arugasi Beach, Jailolo, Photo by Ferry Rusli
@marischkaprue - Believe that the sun will rise another day, everyday..
Semua bilang saya beruntung punya pekerjaan yang basisnya
jalan jalan. Yes, walaupun memang
kenyataannya tidak seenak yang dibayangkan semua orang tapi tetap, yes I am lucky. Bahkan di saat saya
sudah tidak di acara traveling lagi, rupanya sampai saat ini jalan hidup dan passion saya masih di traveling, dan
kebetulan keduanya bisa sejalan, bisa terus berkeliling dan berbagi cerita :)
Nah, karena saya sudah lumayan bepergian ke banyak tempat,
biasanya yang ditanya "kemana yang paling berkesan?" hmmm, susah juga
sih, tergantung kekhususan apa di kesannya itu, misalnya alamnya? penduduknya?
makanannya? karena tiap lokasi punya cerita berbeda dan hal utama yang kita ingat,
bahkan bertahun tahun kemudian dari kunjungan kita.
Ada satu tempat yang salah satu faktor berkesannya karena
cara menjangkaunya. Yap, kesulitan justru malah jadi hal yang bikin kita ingat,
di tempat ini juga saya yakin akan ingat terus karena lokasinya susah
dijangkau.
Bayangkan, saya harus berada delapan jam di perahu kecil, dan
itupun baru menjangkau desa pertama. Hmm, tunggu dulu, mari tarik ke belakang.
Tujuan saya nama tempatnya Kapuas Hulu, Kabupaten yang lokasinya di pedalaman Kalimantan
Barat, tepatnya di ujung kanan atas perbatasan antara Kalimantan Barat dan Timur. Sesuai embel embel "pedalaman" setidaknya satu setengah hari
pasti habis di perjalanan sebelum sampai di Kapuas Hulu.
Pertama, dari Jakarta naik pesawat ke Pontianak. Kemudian
dari Pontianak naik pesawat sekitar 50 menit lagi ke kota kecil yang namanya
Putussibau. Nah, dari sinilah perjalanan naik perahu dimulai.
Di Putussibau sebelum naik perahu
Camera person Dwi Judi yang ikut bersama saya saat itu
Jangan pikir perahu yang digunakan perahu besar yang nyaman,
lebarnya hanya cukup untuk duduk satu orang, namun kapasitas maksimal perahu
ini lima orang, dimana satu motoris dan satu lagi juru batu (karena di depan
dan menjaga kapal agar tidak menabrak batu). Kalau di Kalimantan Timur perahu
kecil ini disebut ketinting, terbuat dari kayu dan bentuknya ramping agar bisa
melewati jeram yang beragam di sungai sungai di Kalimantan.
Kemudian, mulailah saya dan team menyusuri sungai Kapuas
untuk sampai ke desa di ujung Kalimantan Barat itu. Perjalanan dimulai sejak pagi,
tapi setelah beberapa jam matahari sudah terasa persis di atas. Di tengah
sungai Kapuas tanpa pohon yang meneduhi, saya di awal awal cuma bisa duduk
melihat lihat pake topi yang lebar supaya tidak gosong hihi.
Area dimana Sungai Kapuas mulai menyempit :)
Untungnya kapal bergerak cukup cepat jadi rasa gerah panas
tertutup angin yang menerpa. Tapi, perjalanan delapan jam itu benar benar mati
gaya, dua dan tiga jam pertama pun saya sudah berubah ubah posisi duduk
seadanya, dari miring kiri, miring kanan, sampai pantat pegel karena alasnya
kayu, sampai akhirnya saya posisi tidur duduk dengan kepala bersandar ke
pinggiran perahu dan sialnya saat enak tidur sempat kesambit dahan di muka,
rupanya perahunya mendekati pinggiran sungai yang ada pohon pohonnya (-___-)
Di tengah hari kami menepi untuk makan seadanya di pinggir
sungai yang berbatu. Ini saat saat paling menyenangkan, sadar posisi sudah
entah dimana, sinyal sudah hilang, semua di sekeliling alam dan hutan, rasanya
tenang dan saya merasa jadi manusia kecil yang sangat beruntung di alam semesta
ini :)
Kalau melewati jeram kami harus turun dan perahu didorong
Usai makan kami lanjut lagi, terkadang kami turun dan berjalan melewati bebatuan karena
perahu harus didorong untuk bisa melewati jeram. Perjalanan ke Kapuas Hulu
berarti harus melawan arus dan berbagai jeram di sungai. Saat turun dan
melewati bebatuan beberapa kali saya jatuh terpeleset karena batunya basah dan
licin.
Setelah berbagai posisi duduk, tidur, ngobrol tidak bisa
(karena suara bising motor kapal), akhirnya delapan jam terlewati juga. Hari
sudah menggelap dan kami merapat ke desa Bungan Jaya. No, belum sampai, jadi
ini baru bermalam dulu dan besok paginya baru melanjutkan perjalanan dengan
perahu kira kira lima jam lagi.
Di Desa Bungan Jaya
Yah, kurang lebih begitu, satu lokasi saja perjalanannya
bisa memakan waktu lama sekali. Tidak cuma ke pedalaman, banyak tempat di
Indonesia yang walaupun bukan pedalaman, aksesnya sulit dan lama entah karena
tidak ada transportasi udara, fasilitas yang minim, macam macam alasannya.
Tapi, satu hal yang pasti, ini salah satu pengalaman saya
yang paling berkesan karena sulitnya minta ampun, namun saat di perjalanan anda
merasa being nowhere but just simply amazing.
Hasilnya? Selama ini sih ngga pernah nyesel ya walaupun sesulit apapun
perjalanannya pasti worth the effort, dan bahkan perjalanan sendiri pun sudah
jadi satu cerita sendiri kan :)
Duduk di perahu kecil, melewati sungai Kapuas, melihat kiri
kanan penuh hutan dan tanpa sinyal, saya merasa jadi satu titik kecil di
semesta ini dan semakin mensyukuri semua pengalaman. Demi semua rasa itu pegal
pantat bukan masalah kan? :)
@marischkaprue - dua kali ke pedalaman Kalimantan dan masih
mau lagi.
The first time I saw this place, I just stunned. Red leaves
covered the surface, branches, trees and everything look like a dreamland.
So we called it avatar world since it feels like being in Avatar world when
you're in the middle of all this.
But not as hard to reach as in the movie, this breath taking
view is only 5 minutes walking from your car drop off in Wosilimo Village,
Wamena, Papua.
The beautiful red leaves scenery is right in front of Lokale
Cave entrance. So it's beautiful inside and outside :)
Ah, don't let me write too much, here, enjoy the pictures..
Am I the only one who think this is like a scene in Avatar?
Red leaves everywhere
the forest
inside Locale Cave, believed as one of the longest cave in the world.
One more thing, don't, I meant never, never ever forget to take photos with this background! :)
Akan
jauh lebih menarik jika mengunjungi Wamena dan sekitarnya di saat
Festival Lembah Baliem. Tahun ini Festival Lembah Baliem dilakukan di
tanggal 12 Agustus - 15 Agustus 2013.
It
would be way more interesting to visit Wamena and Baliem during the
Baliem Valley Festival. This year the festival will be held on 12 August
until 15 August 2013.
Siapapun yang sudah mengalami perjalanan ke Indonesia Timur
pasti tidak menyangkal kalau dari segi pantai dan laut, Indonesia timur
jawaranya. Namun, sayangnya traveling ke Indonesia timur itu kurang bersahabat
bagi kantong. Keluhan pertama selalu karena tiket pesawat ke daerah timur itu
mahal, belum lagi untuk lokasi lokasi tertentu yang harus naik perahu, apalagi
yang sewa khusus benar benar bisa menguras kantong.
Padahal, salah satu hal yang benar benar bikin saya cinta
Indonesia Timur itu air lautnya yang bening dan warnanya variatif tapi bikin
pengen nyemplung disaat kita melihat air yang jernih.
Nah, di barat pun ternyata ada kok, dan saya yakin
sebenarnya banyak karena belum explore aja jadi belum banyak referensi lokasi
yang indahnya ya tidak kalah dengan Indonesia timur, namun kita bisa menikmati
dengan budget yang jauh lebih rendah, baik untuk transportasi maupun akomodasi.
Lokasinya di Pulau Weh, Aceh.
Deluxe room sudah AC dan warm shower bath
suasana di teras, tiduran di hammock paling bikin betah :)
Tempat saya menginap saja harga kamarnya hanya 350 ribu
rupiah per malam. Jangan bilang ini tidak murah dahulu, kalau lihat lokasinya
yang setara resort, ini jauh lebih murah dibanding sewa resort, karena sebagian
kamar persis ada di depan laut, dengan teras yang ada hammocknya, benar benar
bikin betah. Ada juga budget room yang harganya 200 ribu per malam, tapi tidak
ada AC, pilihan lain deluxe dengan harga 250 ribu per malam.
Kalau long stay, harga bisa jauh lebih murah, dari 130 ribu
sampai 180 ribu per malam, tapi ga berlaku buat kamar yang persis di depan
laut. Nah, kalau kesini, saran saya ambil kamar no 4 karena lokasinya paling
bagus :)
Berasa laut jadi kolam renang :)
Dermaga di penginapan
Banyak ikan berkeliaran di area dermaga
Yang paling menyenangkan itu dermaga di penginapan ini,
airnya jernih banget dan banyak ikan berkeliaran, mulai dari blue tang fish,
longnose butterfly, dan beragam ikan berwarna warni yang bisa kita amati dari
dermaga, dan bahkan tempat makan di penginapan.
Disini airnya jernih banget, sumpah, ciyus! :3
snorkeling atau skin dive sambil foto foto di dermaga, seru!
Pake baju renang pun santai saja karena ini daerah turis & warga sangat friendly :)
Buat yang tidak bisa diving, tetap wajib nyemplung ke laut,
bisa langsung di dermaga aja, tinggal sewa masker, fin dan pelampung, cuma 15
ribu per item per hari, atau kalau mau lebih bagus tinggal nyebrang ke pulau
rubiah di seberangnya.
Untuk makan bisa di penginapan, atau tinggal jalan kaki 10
menit sudah sampai di area yang banyak tempat makan dan pantai terbuka. Harga
makanan disinipun budget friendly.
Foto di sudut manapun hasilnya indah :)
Di depan ini tempat makan dan lobby
Oke, mari kita hitung hitungan budget. Tiket dari Jakarta ke
Banda Aceh anggap saja sekitar 1,2 juta PP (bisa lebih murah tergantung
season), kapal penyebrangan ke Sabang bisa naik kapal cepat 60 ribu (PP 120
ribu) atau kapal ferry sekitar 30 ribu (PP 60 ribu), menginap 6 hari 5 malam di
kamar terbaik 2,1 juta, expenses untuk sewa alat untuk snorkeling misalnya 4
hari terus terusan mau nyemplung 180 ribu, makan seminggu 300 ribu, tambahan
transportasi 500 ribu.
Jadi total total, sekitar 4juta untuk all expenses berlibur
di area yang lautnya tidak kalah dengan Indonesia timur. Kalau mau lebih murah
tentu saja sharing kamar dengan teman, jadi budget bisa turun, kalau share 3
orang budget jadi 2,7 juta per orang, dan kalau mau lebih ngirit ngirit dijamin
bisa jauh lebih murah karena yang saya pilihkan itu kamar yang paling enak dan
transportasi yang paling enak juga.
Foto ini bikin semua ngiler pengen ke Pulau Weh :)
So, when you'll pack your bags and visit Weh Island? :)
@marischkaprue - work hard, travel hard.
My video: "A note from a travel junkie" sebagian besar lokasi shootingnya di Pulau Weh:
Notes:
·Penginapan: Iboih Inn, sebelum datang reservasi
dulu ke +62811-841570 atau email ke iboih.inn@gmail.com. Di lobby dan tempat makan ada wifi gratis, so far Telkomsel dan Smartfren lancar jaya sinyalnya disini jadi bisa tetep online.
·Kapal cepat dari Ulee Lhe (Banda Aceh - Pergi)
setiap hari pukul 09.30 WIB dan 16.00 WIB, untuk pulang dari Balohan (Pulau Weh
- Pulang) pukul 08.00 WIB dan 16.00 WIB.
·Kapal Ferry setiap hari dari Balohan (Pulau Weh
- Pulang) pukul 08.00 WIB, hari Senin, Selasa, Kamis, Jumat pukul 14.00 WIB
dari Ulee Lhe (Banda Aceh - Pergi), Kamis, Sabtu dan Minggu pukul 11.00 WIB dan
16.00 WIB dari Ulee Lhe (Banda Aceh - Pergi), sementara dari Balohan (Pulau Weh
- Pulang) untuk hari Kamis, Sabtu dan Minggu di pukul 13.30 WIB.
·Pilihan transportasi: Minibus, taksi, ojek atau
becak dari Balohan ke kota Sabang (20 sampai 30 ribu),ke Iboih 50 ribu per orang, sewa motor
sekitar 100 ribu per hari, sepeda 50 ribu per hari, tergantung keahlian menawar
masing masing.
·Pilihan akomodasi lain di Iboih: Yulia's
Bungalow (rate 60 ribu sampai 200 ribu per malam) telp: 0821-68564383, O'ong
Bungalow (rate 50 ribu sampai 150 ribu per malam), Fatimah Bungalow (rate 120
ribu sampai 200 ribu per malam)
Dua bulan yang lalu saya selalu mendeklarasikan diri saya
sebagai pecinta laut, divers yang senang di lautan biru, merasa nikmat di
semilir angin pantai dan selalu pulang ke Jakarta dengan proud tan (cara saya menyebut gosong akibat main di pantai dan
laut).
Ada beberapa teman saya yang senang naik gunung. Dahulu,
saya selalu bertanya pada mereka "ngapain sih capek capek naik gunung
sampai berhari hari menderita gitu." Dan kemudian, dua bulan yang lalu
hubungan saya dengan gunung dimulai.
Tim di tempat kerja saya memulai misi naik gunung, tujuan
kita salah satu gunung yang masuk dalam daftar 7 summit. Maka, saya yang belum pernah naik gunung ini mulai di
training: treadmill, jogging, naik turun tangga kantor yang 7 lantai sampai
betis berkonde dan berbagai latihan fisik lain.
Dan mulailah kami mendaki, mulai dari Gunung Gede, kemudian
selang dua minggu kami lanjut mendaki Gunung Rinjani. Dari dua lokasi ini,
terutama yang terakhir saya menemukan keasikan tersendiri. Memang, mendaki itu
capainya minta ampun, dari segi kenyamanan anggap saja hilang.
Yang paling utama adalah summit
attack, saat saya dan teman teman menuju ke titik puncak sejak dini hari.
Perjuangan panjang melewati medan yang cukup sulit ditambah angin kencang dan
udara dingin terasa tidak ada habisnya.
Namun akhirnya saya sampai di atas, langsung disambut
pendaki lain yang sudah ada disana. Semua yang dikatakan setiap pendaki yang
saya temui memang benar "Saat di atas semua rasa lelah itu hilang,"
saya menikmati dengan sangat saat momen berada di atas.
Namun, bukan hanya pemandangan yang luar biasa yang membuat
berada di puncak itu sedemikian nikmat. Jika tidak ada perjuangan, maka
keindahan di puncak hanya keindahan yang dinikmati mata. Jika tidak bersulit
sulit dahulu mendaki maka saya hanya akan merasa "Wow keren banget,"
dan bukannya "Luar biasa, ini hasilnya."
Mendaki gunung itu bagaikan filosofi hidup, untuk
mendapatkan sesuatu yang besar, untuk menuju puncak kita harus berjuang, harus
mau sulit dan melewati semua proses itu, maka saat berada di puncak kita akan
lebih merasa puas dan selalu ingat perjuangan untuk ke atas, tidak takabur.
Saya bayangkan jika saya ke atas dengan instan, katakan saja
jika memungkinkan memakai helikopter, kurang dari setengah jam sudah di puncak,
lihat lihat lokasi dan sudah, tidak merasakan sebagai hal yang luar biasa, tidak akan menghargai perjuangan.
Bukannya saya apatis dengan kesuksesan instan, namun my
dear, hasil yang diperoleh dengan bekerja selangkah demi selangkah itu saya
percaya akan lebih bertahan lama, akan membentuk mental dan membuat kita sadar
diri akan jalan yang telah kita tempuh.
Di laut saya diajarkan untuk sadar sebagai bagian kecil dari
semesta yang luar biasa indah, di gunung saya diajarkan bahwa di atas bukan
berarti bisa takabur, bahwa semua ada prosesnya, dan kita tidak bisa tinggal di
puncak gunung selamanya.
As deep as ocean can
be, as high as mountain to hike, we are human meant to live on the ground with
Mother Nature. Go deep, aim high and never forget where we start. Godspeed!
@marischkaprue - not yet on top of her roller coaster life.
As published on Divemag Indonesia Vol 3 No 030, August-Sept 2012
A piece of what happened during summit attack, here in this video:
Ada teman saya yang kalau makan mesti itu itu aja, misalnya dia traveling ke satu kota yang jauh dari Jakarta, eh tapi untuk makan masih nyari fast food yang banyak di Jakarta. Hmm, buat saya itu rugi sih karena salah satu kenikmatan traveling itu mencoba makanan yang berbeda, entah cocok di lidah atau tidak, at least udah nyobain dan serunya kita bisa komparasi rasa dan tampilan makanan dengan daerah daerah lain.
Nah, di perjalanan saya ke Palembang, saya melipir ke rumah makan yang katanya asli Palembang dan enak banget, sering dikunjungin pejabat kalo dateng ke Palembang. Oke, sering dikunjungi pejabat belum tentu enak kan, jadi saya siap mencoba dan testing rasa di rumah makan ini.
Here comes the food frenzy:
Cumi saos pedes
Udang rebus
Lihat perbandingan ukuran udang ini dengan tangan :)
Ikan belida goreng khas Palembang
Ikan teri goreng, yummy!
Pepes ikan bumbu pedas
Patin kuah kuning
Udang cilik yang tidak kalah enak
sambel mangga
Daging giling yang dibalur telur terus digoreng
Srikaya pandan sebagai penutup :)
Favorit saya: ikan belida goreng khas Palembang, jangan khawatir karena tidak ada duri kecil jadi mudah makannya, pepes, udang, cumi, semuanya enak juga (dasar tukang makan). Yang ga boleh ketinggalan cicipi srikaya pandan ini juga, di tempat kecil, rasanya manis dan lembut, tidak kalah dengan dessert khas eropa :)
Di lantai dua konsep makannya lesehan
Furniture dengan ukiran Palembang mendominasi ruangan
Dari depan tampak seperti rumah makan biasa saja
Kalo makan disini, naik ke lantai atas karena konsepnya lesehan dan suasananya seperti di rumah, Pak Haji yang punya rumah makan rupanya senang mengkoleksi furniture dengan ukiran khas palembang dan gaya gaya mixed arab, seru untuk makan rame rame. Ada ruangan satu lagi yang khusus VIP dengan kursi kursi dan meja formal, ah tapi saya lebih suka di area lesehan saja.
Mari makan! :)
Kemanapun anda bepergian, cicipi masakan lokal. Memanjakan indra saat bepergian itu tidak cuma mata yang menatap tempat tempat baru, hidung yang mencium wangi laut saat berjalan di pantai, kaki yang merasakan pasir pantai, tangan yang menggenggam saat bersalaman dengan kenalan baru, namun juga lidah yang merasakan kekhasan dan excitement rasa rasa yang baru. Enjoy life, go travel and forget your frikkin' diet!
@marischkaprue - love love love love Indonesian food!
Notes:
Alamat rumah makan Mahkota Indah: Jalan Let. Iskandar 24 Ilir No 243, Palembang, gampang dicari kok rumah makannya, tapi kalau masih bingung cari jalan telp aja ke 0711-312236.